
El baru menyadari jika Daniel sudah tidak ada di sampingnya. Ia mengerutkan alisnya lalu bertanya.
"Tara ... Daniel mana? Perasaan tadi dia di sini?"
"Kenapa mencari yang nggak ada, sedangkan aku ada bersamamu," protes Tara.
El memutar bola matanya malas lalu terkekeh. "Emang nggak boleh nyari yang nggak ada?" El balik bertanya dan mendapat tatapan penuh arti dari Tara. "Kamu kenapa sih? Kok tatapanmu itu seolah-olah ingin melahapku saja," sambung El.
"Jika iya, kenapa, hmm ... lagian kita hanya berdua di sini. Lihat ... aku sudah mengunci pintunya," bisik Tara dengan seringai penuh arti.
"Tara! Apa kamu sudah nggak waras, hmm? Sana ah, dasar player," kesal El lalu mendorong dadanya lalu tertawa.
Ting...
Menandakan notifikasi pesan. Tara hanya mengabaikan karena ia sudah tahu itu pasti dari Clara.
Tara langsung terkekeh mendengar ucapan El lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia pun menghampiri sofa lalu mendaratkan bokongnya. Tara membuka pesan dari Clara. Ia hanya tersenyum memandang foto hot sang kekasih lewat layar ponsel.
Entah seperti apa kelanjutan hubungan kita.
Tara kembali menatap El yang masih berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Ia pun bingung dengan perasaannya pada gadis cantik itu.
Jika El tahu siapa aku sebenarnya, apa dia masih mau berteman dengan ku?
Sedangkan El, ia tampak berfikir. Sejak pagi hari, ia bertanya-tanya, kenapa dia bisa berada di kamar VIP. Padahal jika dipikir-pikir harusnya ia di rawat di kamar umum biasa.
El menoleh ke arah Tara yang masih menatapnya. Pandangan mata keduanya bertemu. Tara yang mendapat tatapan penuh tanya dari El, segera mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu mengusap tengkuknya.
Dalam keheningan, El masih menatap wajah tampan pria itu dan seperti mengingat wajah seseorang yang pernah ia rawat ketika masih magang di rumah sakit itu.
"Tara? Who are you? Sepertinya wajahmu tidak asing dengan salah satu pasien yang pernah aku rawat. Mirip dan persis dengan wajahmu. Yang membedakan kalian adalah usia," ungkap El dan masih menatap Tara.
Tara langsung gelagapan mendapat pertanyaan dari El.
"Ma-maksud mu, El?" tanya Tara terbata disertai rasa gugup.
"Maksudku, kamu mirip dengan salah satu pasien yang pernah aku rawat di ruangan ini? Dia seorang konglomerat di Kota ini. Namanya Pak Mulia dan istrinya Bu Arini," jelas El dan kembali menatap langit-langit kamar.
Jadi yang merawat Papa saat itu adalah El ?
"Tapi sudah lah, ngapain juga di pikirkan," celetuknya pelan lalu kembali memejamkan matanya.
Ruangan itu kembali hening. Sebelum akhirnya El memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian ia kembali tertidur.
__ADS_1
Karena merasa El sudah tidak bersuara, Tara menghampiri gadis malang itu. Ia menggenggam jemarinya lalu mendaratkan kecupan di keningnya.
"Jika aku mengatakan, aku adalah anak dari Pak Mulia dan bu Arini, apakah kamu masih mau berteman denganku?" tanya Tara kepada El yang tidak mungkin mendengar dan menjawab pertanyaan darinya.
"Entah mengapa aku takut jika kamu menghindar dan menjauhiku, seperti kamu menghindar dan menjauhi Kai hanya karena dia orang berpengaruh," desis Tara lalu mengelus pipi El.
Bermacam-macam pertanyaan muncul dibenaknya, hingga pada akhirnya ia kembali ke sofa lalu membaringkan tubuhnya dan akhirnya tertidur.
.
.
.
Sementara Kai yang masih betah berada di meja bartender, seakan tidak peduli dengan hingar bingar club malam tersebut.
Tiba-tiba saja ia teringat akan ucapan Tara tadi pagi.
Cinta dan benci itu saling berkaitan dan perbedaanya sangat tipis. Aku jadi takut, jika kebencian dan dendam yang ada di dalam hatimu berubah jadi cinta. jika itu terjadi maka kita harus bersaing secara sehat.
"Impossible! Mana mungkin aku akan jatuh cinta pada gadis angkuh itu!! Huh, Sebaiknya aku pulang saja," gerutunya.
Setelah melakukan transaksi, Kai keluar dari club' malam itu. Ia langsung menghampiri mobilnya dan memilih ke penthousenya.
*******
Ia langsung menyalakan shower air dingin. Mengguyur tubuhnya yang terasa panas karena efek minuman yang sudah terlalu banyak ia teguk.
Setelah merasa puas, Kai kembali ke kamar lalu ke walk in closet. Mengenakan celana pendek rumahan dengan bertelanjang dada.
Sesaat setelah berada teras balkon kamarnya, ia memandang keindahan Kota A dari atas ketinggian gedung mewah itu.
Ting ...
Suara pesan notifikasi masuk begitu saja di ponselnya.
Kai kembali ke kamar lalu meraih ponselnya di atas meja sofa. Saat membuka pesan, ia hanya tersenyum tipis.
Dengan lincahnya ia mengetik nomor rekening dan mentransfer sejumlah uang ke nomor tersebut.
"Wanita seperti ini, semuanya sama saja. Yang diincar hanya duit, duit dan duit."
Kai kembali menghela nafasnya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size nan empuk itu Ialu memejamkan matanya.
Namun wajah El langsung terbayang di benaknya. "Damn!!! Kenapa harus dia?" gerutunya.
__ADS_1
ππππ
.
.
.
.
Pagi harinya ...
El tampak sudah tampak siap di jemput dan kembali ke lapas. Dengan berat hati, Tara harus melepasnya.
"Bersabarlah lah, El. Waktu tidak akan terasa terus berlalu. Aku yakin kamu bisa," ucap Tara menguatkan El.
El hanya tersenyum lalu mengangguk. Sebelum mengikuti langkah sipir wanita yang akan membawanya. El mencepol asal rambutnya lalu memakai maskernya supaya tidak ada yang mengenalinya di rumah sakit itu.
Saat sudah berada di pintu keluar rumah sakit, Daniel memanggilnya. "El, tunggu sebentar."
El mengarahkan pandangannya ke depan. "Ada apa, Dan?" tanya El.
"Ini untukmu. Aku tahu kamu pecandu rokok, tapi jika bisa kurangi, ya. Permen ini bisa sedikit mengurangi kecanduan mu pada rokok," jelas Daniel menasehati El.
"Terima kasih, Daniel."
Daniel jmengacak rambutnya karena gemas.
"Daniel, rambutku berantakan jadinya," omel El lalu mencepol kembali rambutnya.
Daniel terkekeh melihat wajah kesal gadis itu.
"Ya sudah, masuk gih. Aku dan tante Karin akan sering menjengukmu nanti."
"Terima kasih, Daniel. Tolong rahasiakan ini dari tante Karin. Kasian nanti dia ikut khawatir," pesan El lalu memeluk Daniel.
"Iya, nggak usah khawatir. Kalau begitu masuklah, Bu sipir sudah menunggumu," bisik Daniel lalu melepaskan pelukannya.
El mengangguk lalu masuk ke dalam mobil kemudian melambaikan tangannya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Tara sejak tadi terus memperhatikan keduanya.
Lagi-lagi ia merasa cemburu melihat keduanya. Sedetik kemudian ia pun menghampiri Daniel.
"Dan, nggak ngantor hari ini?" tanya Tara basa basi.
__ADS_1
"Ngantor lah. Tadi aku cuma sempatkan waktu ke sini untuk El. Sudah ah, aku langsung ke kantor saja. Lagian El sudah dibawa lagi ke lapas," ucap Daniel lalu meninggalkan Tara yang masih diam di tempat.
...----------------...