
Sepeninggal Kai, Tara tampak semakin frustasi lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Suara gadis culun itu? Tatapan mata menghunus tajam? Kenapa aku seolah-olah melihat gadis culun itu seperti El?"
Tara segera meninggalkan Resort itu lalu menghubungi Candra. Tujuannya saat ini adalah bar miliknya.
.
.
.
.
Setibanya di bar, Tara langsung duduk di salah satu kursi meja bartender lalu memesan minuman.
Sambil menunggu Candra, ucapan gadis culun itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.
"Pak ..." Lamunannya langsung membuyar ketika sang bartender menegurnya.
"Letakkan saja botol wiskinya di sini," pinta Tara.
"Baik, Pak," sahut bartender.
Tara langsung meneguk minuman itu dengan sekali teguk. Merasa kurang, ia kembali menuangnya dan kembali meneguknya.
Tak lama berselang bahunya ditepuk oleh Candra. "Bro, apa kamu baik-baik saja?" tanya Candra lalu duduk di sebelahnya.
Tara hanya bergeming sambil memutar-mutar cairan berwarna coklat yang ada di dalam gelasnya.
"Candra, apa Kai memang menetap di Kota ini?"
"Nggak, hanya saja dia sering bolak-balik dari Kota A dan X. Itupun hanya untuk memantau perkembangan projek rumah sakit yang saat ini pembangunannya masih berjalan," jelas Candra.
"Seminggu sekali dia ke kota ini. Setelah itu, dia kembali lagi ke Kota A bahkan masih sibuk mengurus perusahaannya yang berpusat di Jerman. Memangnya kenapa?" Candra balik bertanya.
"Nggak apa-apa. Apa dia masih sering datang ke tempat ini?" selidik Tara.
"Hanya sekali-kali saja. Kai sudah berubah, Tara. Jangankan wanita, minuman dan rokok saja dia sudah nggak sentuh. Jika dia ke tempat seperti ini dia hanya menghibur diri saja," jelas Candra dengan seulas senyum.
Tara tersenyum sinis seolah tidak percaya mendengar ucapan Candra, yang seolah-olah membela mantan boss nya itu.
"Apa Kai pernah bertemu dengan seorang gadis di bar ini?" selidik Tara lagi ingin memastikan.
Candra mengerutkan kening tampak berpikir.
"Ya, mereka sempat bertengkar bahkan gadis itu terus memaki serta mengumpatnya. Sehari setelah itu, Kai mengatakan padaku, gadis itu malah menghilang dan nggak bermalam di apartemennya," jelas Candra apa adanya.
Tara tampak berpikir lalu membatin, "Jika El menghilang malam itu lalu ke mana dia sebenarnya?"
Tara semakin tampak frustasi. Kembali meneguk minumannya bahkan pikirannya semakin kalut dan kacau.
Candra menggelengkan kepala melihat Tara yang terus meneguk minumannya.
"Tara, sudahlah, dari tadi kamu terus meneguk minuman keras itu," kata Candra
Namun ucapan temannya itu ia anggap seperti angin lalu saja.
.
.
.
Sementara itu, El yang sejak tadi sudah sadar, tampak sedang berdiri di teras balkon kamar Resort sambil menyesap rokoknya.
__ADS_1
Air matanya kembali menetes mengingat ucapan Tara yang secara tidak langsung menghina juga merendahkannya. Ia tersenyum miris.
"Oh God, sekarang mataku baru terbuka lebar. Aku baru sadar jika dia juga nggak ada bedanya dengan yang lainnya. Tega menghinaku serta merendahkanku."
Ia mendongak menatap langit yang kini sudah bertabur ribuan bintang. Hatinya mencelos, sedih sekaligus sakit seperti dihunus pedang.
"Oh God, kuatkan aku."
Kai yang sejak tadi memperhatikannya, melangkah pelan menghampirinya lalu mengelus punggungnya.
"Kai ..." ucapnya lirih.
"Maaf, gara-gara aku, kamu harus mendengar ucapan yang sangat menyakitkan dari Tara," sesal Kai.
Ia merengkuh tubuh El masuk ke dalam dekapannya.
"Aku nggak menyangka, jika kamu bakal menamparnya seperti yang pernah kamu lakukan padaku dua tahun yang lalu. Maafkan aku." Kai semakin mendekapnya erat dengan perasaan bersalah.
"Sayang, hubungan kita kedepannya nanti pasti nggak akan berjalan mulus. Pasti ada saja batu sandungan yang akan menghalangi. Apakah kamu sudah siap menghadapinya bersamaku?" tanya Kai sembari menatap lekat wajah calon istrinya itu.
"Ya, aku sudah siap. Aku juga nggak akan peduli apapun tanggapan orang-orang tentang dirimu," sahut El.
"Terima kasih." Kai mendaratkan kecupan yang cukup lama di kening El. "Sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Kai lalu mengurai dekapannya.
.
.
.
.
"Candra, apa kamu mengenal gadis yang bernama Culun? Salah satu karyawan mamamu?" tanya Tara.
"Ya, gadis itu sedikit misterius bahkan terkesan judes juga ketus padaku dan Kai. Dia selalu menjaga jarak dengan orang-orang seperti kita," jawab Candra sambil terkekeh mengingat gadis itu.
"Apa dia dan Kai ada hubungan khusus?" selidik Tara penasaran.
Candra menggelengkan kepalanya. "Nggak. Meski pun gadis itu terlihat culun tapi teman-teman kerjanya sangat menyukai kepribadiannya," tutur Candra.
Tara tampak merenung mencermati serta menelaah ucapan Candra barusan.
"Kenapa aku merasa jika kepribadian gadis itu sama persis seperti El?"
"Sudahlah, dari tadi kita terus saja membahas gadis itu," celetuk Candra. "Oh ya, kapan kamu dan Dian akan menikah? Jangan lupa undang aku, Bro," kata Candra dengan sembringah sembari menepuk pundak temannya itu.
"Seminggu lagi," timpal Tara.
"Congratulations, Bro."
Tara hanya mengangguk lalu kembali meneguk sisa minumannya.
********
Malam semakin larut, Tara harus menelan kekecewaan karena orang kepercayaannya tidak bisa menemukan El. Pupus sudah semua rencananya untuk memberi pelajaran pada gadis malang itu.
Mau tidak mau, akhirnya ia menghentikan total pencariannya karena tenggat waktu yang sudah melebihi satu tahun.
.
.
.
Apartemen Kai ...
__ADS_1
Sementara itu, El yang baru saja membersihkan dirinya kini tampak lebih segar. Ia pun tampak menghampiri Kai yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Kai ... mandilah, aku sudah selesai," saran El lalu duduk di sampingnya.
"Iya ... sebentar lagi soalnya tanggung kerjaanku hampir selesai," sahutnya pelan dan tampak masih serius mengutak-atik laptopnya.
Setelah selesai, ia pun menutup laptopnya lalu meletakkannya begitu saja di atas kasur lalu mengulas senyum menatap wajah polos El.
"Mau aku bikinkan kopi atau teh?" tawar El.
"Teh saja." Kai mengelus pipi mulus El sejenak lalu menuju kamar mandi.
Entah mengapa, El merasa iba menatap wajah lesu Kai yang tampak sedikit pucat. Ia pun segera beranjak lalu menuju pantry untuk menyeduh teh.
Setelah selesai menyeduh teh, El kembali menapaki anak tangga hingga sampai di kamar. Ia meletakkan teh buatannya itu di atas meja sofa lalu meraih rokoknya menuju balkon kamar.
El memandangi gedung-gedung tinggi yang sejajar dengan tempat ia berdiri saat ini. Tampak lampu-lampu yang kini menerangi setiap gedung yang ada di segala penjuru kota. Bahkan masih saja ada kendaraan yang masih membelah jalan kota.
Tiba-tiba ia tersentak kaget ketika Kai mengecup punggung bekas bogeman Tara yang sudah tampak berwarna keunguan.
"Maaf," bisik Kai lalu memeluknya dari belakang. "Ini pasti sakit."
"Nggak apa-apa, sakitnya hanya sementara," balas El lalu kembali menyesap rokoknya.
Kai meraih sisa rokok yang masih terselip di selah jari lalu mematikan apinya. Setelah itu, ia membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya.
"Sayang, apa kamu perokok aktif?"
"Hmm, sejak kedua orang tuaku meninggal. Dan itu semakin parah saat aku bekerja di bar," jelas El dengan seulas senyum.
"Apa kamu juga peminum aktif?" El menggelengkan kepalanya.
Setelah itu hening sejenak. Sebelum akhirnya Kai kembali membuka suara.
"Ayo masuk, apa kamu nggak kedinginan hanya berpakaian seperti ini?" tanya Kai, padahal ia juga hanya bertelanjang dada.
El terkekeh lalu mengelus dada bidang nan liat Kai tepat pada tatto bergambar naganya.
"Lalu dirimu? Apa nggak kedinginan hanya bertelanjang dada?" El balik bertanya.
"Ada kamu yang bakal menghangatkanku," balas Kai lalu mengulas senyum.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Habiskan tehmu selagi masih hangat."
El mendahului Kai masuk ke kamar. Tak lama kemudian Kai menyusul lalu menggeser pintu kaca besar itu.
"Kai, aku kangen banget dengan dokter Mike dan temanku Lois," ucap El tiba-tiba.
"Jika mereka nggak sibuk, aku akan mengajak mereka ke sini menemuimu," sahut Kai.
El hanya mengangguk pelan lalu berbaring. "Habiskan tehmu setelah itu todurlah. Besok kan kamu harus ke kota A," kata El.
"Baiklah," timpal Kai lalu meneguk tehnya sedikit sedikit
Tiga puluh menit berlalu ...
Kai menghampirinya El yang kini sudah tertidur dengan posisi tengkurap. Mengelus memar di punggung lalu turun ke bekas luka jahitannya.
"Sayang, maafkan aku. Semua ini gara-gara sikap egoku," bisik Kai. Setelah itu ia memperbaiki posisi tidur El.
Memandangi wajah teduhnya sembari mengelus pipinya dengan sayang lalu mengecup kening dan bibirnya.
Ia pun ikut berbaring lalu membawa El masuk ke dalam pelukannya.
"Kaaaai," ucap lirih El karena merasa terusik.
__ADS_1
"Tidurlah, aku hanya ingin memelukmu," bisik Kai lalu ikut memejamkan matanya.
...----------------...