
Setibanya di depan pintu gerbang kampus, El memeluk Kai. "Sayang, aku masuk dulu ya. Jika kamu ingin menjemputku, hubungi aku dulu biar kamu nggak menunggu lama."
"Ok, Sayang."
Setelah memastikan mobil Kai meninggalkan kampus, barulah El melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Oh God, sebulan lagi? Sejujurnya aku belum siap. Bahkan aku juga belum siap menjadi seorang ibu. Tapi kenapa Kai begitu antusias ingin segera memiliki anak? Oh, my Bastard."
.
.
.
Sementara Kai yang baru saja tiba di kantor langsung disambut oleh Richard.
"Richard, tolong siapkan tiket pesawat untuk penerbangan sore," perintahnya.
"Baik, Tuan. Apa Nyonya dan Tuan Damian akan berangkat bersama Anda?"
"Nggak, mungkin besok," jelas Kai.
"Ok, oh ya, Tuan. Sekitar jam sepuluh nanti, Pak Candra akan mengajak Andra ke lokasi proyek."
"Hmm?"
Keduanya kembali berpisah lalu memasuki ruangannya masing-masing.
Sesaat setelah duduk di kursi kerjanya, Kai bergumam, "Rasanya berat banget ingin meninggalkanmu sore ini."
Setelah itu ia mulai memeriksa email yang masuk. Memulai aktifitas seperti biasa sambil memeriksa berkas-berkas penting lalu membubuhkan tanda tangannya.
********
Beberapa jam kemudian ia menghentikan aktifitasnya sejenak ketika pintu ruangannya diketuk.
"Candra?!"
"Kai? Apa kamu sedang sibuk?" tanya Candra.
"Nggak juga, Candra. Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Kai sekaligus menutup laptopnya.
"Hmm ..."
Ketika keduanya telah berada di parkiran, Kai meliriknya lalu bertanya, "Candra, apa El menemuimu kemarin?"
"Ya, dia hanya ingin pamit sekaligus berterima kasih. Jangan khawatir, aku nggak macam-macam kok padanya meski aku ingin," kelakar Candra lalu tergelak.
Kai ikut tergelak. "Kamu belum tahu saja dia seperti apa, jika kamu nekat macam-macam padanya.".
"Maksudmu?" Candra penasaran.
"Dia itu gadis bar-bar," sambung Kai. "Sudahlah nggak usah dibahas."
Keduanya sama-sama tertawa merasa lucu. Setelah itu Candra mulai melajukan kendaraannya menuju lokasi proyek.
.
.
.
__ADS_1
Tiba di lokasi proyek, Kai langsung tersenyum memandangi bangunan rumah sakit itu yang masih dalam proses pembangunan.
"Sayang, sebentar lagi mimpimu akan segera terwujud."
Candra hanya tersenyum mendengar gumannya. Keduanya kembali melanjutkan langkah ke bangunan itu sekaligus menyapa para pekerja bahkan sesekali mengajak mereka berbincang santai.
Setelah beberapa jam lamanya berada di lokasi proyek, akhirnya Kai mengajak Candra kembali ke kantor.
Begitu keduanya tiba di depan gedung kantor Gloria Abraham, Kai mengajak Candra mampir sejenak. Namun rekan bisnisnya itu menolak karena harus bertemu klien di kantornya.
Sesaat setelah Kai, membuka pintu ruangan kerjanya, ia langsung melepas jasnya lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Perasaan, aku nggak ngapa-ngapain di lokasi proyek, tapi kok aku seperti capek banget ya?" ucapnya lirih lalu memejamkan matanya.
.
.
.
"Sudah jam dua sore," gumam El saat menatap layar ponselnya.
Ia segera mengemasi bukunya setelah dosen meninggalkan kelas. Sebelum beranjak dari tempat duduknya ia memesan makanan dan ojol.
Sesaat setelah berada di halte kampus, ia memilih membuka media sosialnya.
Senyum tipis seketika terbit dibibirnya. Menatap Dian dan Tara di linimasa berandanya. Tak lupa ia mengucapkan kata-kata manis untuk pasangan pengantin baru itu di kolom komentar.
"Kalian layak bahagia. Tara, aku berharap kamu nggak akan menyia-nyiakan gadis sebaik Dian."
Tak lama berselang ojol pesanannya pun tiba lalu menyapanya.
"Mbak Ellin Davina ya?"
"Siap, Mbak."
Begitu El mengenakan helm, barulah bang ojol kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor yang dimaksud hingga mereka tiba di tempat itu.
Setelah berterima kasih, El kembali mengayunkan langkah kakinya ke arah pintu otomatis lalu menuju lift khusus.
Sesaat setelah berada di lantai ruangan Kai, ia pun mengetuk pintu lalu membukanya.
"Sayang." El menghampiri Kai yang masih saja tertidur. "Kasian, ternyata seorang CEO bisa lelah juga ya."
El menatap lekat wajah lesu prianya itu lalu mengelus rahangnya kemudian memanggilnya. Namun tak direspon.
Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya El memutuskan duduk di kursi kerja Kai dan iseng mengutak atik laptopnya.
Matanya langsung melotot. "What!! Apa sistem keamanan perusahaannya nggak pake sandi hingga bisa bocor begini?!"
"Jika seperti ini terus perusahaanya bisa bisa gulung tikar," sambung El sambil mengutak-atik benda itu.
Ia pun mulai melacak kode rahasia sistem yang membuat sistem keamanan perusahaan Kai bocor.
Dengan keahlian yang ia miliki, tak butuh waktu yang lama ia sudah bisa mengetahui siapa dibalik penyusup itu.
El hanya bisa menggelengkan kepalanya saat tahu siapa yang sudah mengacaukan sistem keamanan perusahaan.
"Oh God, Tara, apa sebenci itu kamu pada Kai?" gumamnya.
Mau tidak mau ia mulai memasang lalu mengganti kode rahasia tersulit. Sesekali ia melirik Kai yang masih tampak tertidur.
__ADS_1
Setelah selesai mengunci semua sistem keamanan perusahan, El tersenyum puas.
"Sayang maaf, gara-gara diriku perusahaanmu pun sampai kena imbasnya."
El beranjak dari kursi kerja itu lalu menatap keluar sambil termenung.
"Aku berharap hubungan persahabatan kalian akan kembali terjalin baik seperti dulu. Sayang, dibalik sikap arogan serta gemarnya dirimu bergonta-ganti bed partner, aku yakin pasti ada alasannya."
"Sayang, kenapa kamu nggak membangunkanku?" bisik Kai sambil memeluknya dari belakang.
Tak langsung menjawab melainkan gadis itu menyandarkan kepalang di dada.
"Aku nggak tega. Lagian kamu terlihat sangat lelah," kata El. "Sayang ... maafkan aku, karena aku, kamu dan Tara akhirnya bermusuhan?"
"Bukan salahmu, Sayang. Aku sudah mencoba berbaikan dengannya tapi dia menolak bahkan membenciku."
El membalikkan bandanua. Membenamkan wajahnya di dada bidang Kai lalu menghirup aroma parfum maskulinnya.
"Sayang," bisik Kai.
"Hmm ... "
"Jam enam sore aku akan berangkat ke kota A. Sekalian akan mengurus semua berkas-berkas kita termasuk paspormu," jelas Kai. "Rasanya berat banget ingin meninggalkanmu."
"Nggak apa-apa, Sayang," sahut El. "Ada mama dan Damian yang menemaniku."
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu.
"Itu pasti kurir yang mengantar makanan," bisik El lalu melerai pelukannya.
Ia pun menghampiri pintu lalu membukanya.
"Mbak, ini pesanannya." Bang kurir langsung memberikan paper bag makanan itu pada El.
"Makasih ya, Bang. Ini duitnya kembaliannya buat Abang saja," kata El dengan seulas senyum.
"Makasih, Mbak." Bang kurir lalu meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal bang kurir, El kembali menghampiri meja sofa. Menata makanan sekaligus mengajak Kai menyantap makan siang mereka yang sudah terlambat.
.
.
.
Sore harinya ...
Tiga puluh menit sebelum pesawat take off, El, mama Glori dan Damian tampak menemani Kai di bandara sambil mengobrol santai.
"Sayang ... nggak apa-apa kan kamu aku tinggal?" kata Kai.
"Nggak apa-apa, Sayang. Lagian aku nggak sendirian, ada mama dan Damian," balas El.
"Damian, Mah, aku titip El ya," pesan Kai.
"Siap, Bro," sahut Damian sambil mengangkat jempolnya.
"Sudah, berangkat gih," seru mama Glori.
"Iya, Mah." Kai memeluk mama Glori, Damian lalu El bergantian. Setelah itu ia akhirnya meninggalkan ketiganya dengan perasaan berat sekaligus terpaksa.
__ADS_1
...----------------...