All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
155.


__ADS_3

Malam harinya pukul sembilan malam ...


Jika El sudah tertidur dengan nyenyak di dada suaminya, namun sebaliknya dengan Kai, ia masih belum bisa memejamkan matanya.


Dengan gerakan pelan ia memperbaiki posisi tidur istrinya. "Have a nice dream, Sayang," bisiknya seraya mengecup kening dan bibirnya.


"Sebaiknya aku mengirim pesan saja sama mama, lagian jika aku menelfon sekarang, di Jerman masih subuh," gumam Kai.


Ia meraih ponselnya yang ad di meja nakas lalu mengirim foto USG dengan menyematkan pesan.


βœ‰οΈ : Mah, berbahagialah, sebentar lagi mama akan memiliki tiga cucu sekaligus. El sedang hamil triplets.


Begitulah kira-kira pesan yang di kirim Kai untuk sang mama. Setelah itu ia memilih ke ruang kerjanya.


Setelah berada di ruang kerjanya, ia membuka laptop untuk mengecek email sekaligus memeriksa proyek pembangunan rumah sakit yang di perkirakan akan selesai kurang lebih satu setengah tahun mendatang.


Kai tidak menyangka jika target dari pembangunan rumah sakit itu akan rampung kurang dari tiga tahun seperti yang di targetkan oleh Candra.


"Sayang, sebentar lagi rumah sakitmu akan segera rampung. Aku yakin jika kamu yang memegang kendali, pasti semua urusan di rumah sakit ini akan berjalan sesuai dengan jalan pikiranmu," gumamnya sambil tersenyum.


"Setidaknya impianmu untuk membantu banyak pasien yang kurang mampu akan terwujud di sini. Aku akan melengkapi fasilitas rumah sakit ini dengan alat-alat canggih yang akan aku datangkan langsung dari Jerman."


"Aku yakin, anak-anak kita pasti akan memiliki jiwa sosial yang tinggi seperti dirimu. Aku jadi teringat papa. Sewaktu beliau masih hidup, papa juga suka melakukan kegiatan amal," ucap lirih Kai mengenang sosok sang papa.


Setelah puas berada di ruang kerjanya, ia kembali lagi ke kamar. Menatap lekat wajah teduh sang istri yang tampak tenang. Ia mengulas senyum lalu mengelus pipinya dengan sayang.


"Delapan bulan dari sekarang, aku sudah nggak sabar menggendong anak-anak kita," bisiknya sambil membenamkan kepalanya di atas perut El.


"Sayaaaang, kamu kok belum tidur," tegur El dengan suara serak lalu mengelus rambut suaminya.


"Aku belum ngantuk," sahutnya lalu mengecup perut istrinya kemudian merangkak mengungkungnya.


"Kenapa? Apa ada masalah di kantormu?" tanya El seraya mengelus rahang tegas suaminya.


"Nggak sayang ... semuanya baik-baik saja," bisiknya lalu kembali berbaring di samping istrinya. Tidurlah ini sudah larut.


.


.


.


Bronze Bar ....


"Sial!!! Bisa-bisanya Kai membentakku bahkan tak segan mengusirku," maki Valerie lalu meneguk minumannya.


Tak lama berselang, Tara terlihat menghampiri meja bartender lalu duduk di samping Valerie.


"Nic, seperti biasa," pintanya.

__ADS_1


Merasa mengenal suara berat itu, Valerie melirik.


"Tara," sebutnya. "Apa kabar, Bro," tegurnya seraya menepuk pundak Tara.


Tara mengerutkan keningnya lalu menoleh ke samping. "Vale ... sendiri saja?" tanyanya.


"Hmm ..." sahutnya lalu menyesap rokok.


"Tara, ini minumanmu," kata Nico lalu meletakkan gelas dan botol minuman pesanannya.


"Thanks," ucapnya. Nico hanya mengangguk.


"Apa kabar Vale? Setelah sekian lama kita bertemu lagi,"


Valerie menghembus asap rokoknya dengan kasar lalu kembali meneguk minumannya.


"Bad news," balasnya. "Kai baru saja menolak proposal yang baru ingin aku ajukan padanya," jelas Valerie dengan pesimis.


"The reason?" tanya Tara.


"Aku datang terlambat dari jam yang sudah disepakati. Aku mengira dia akan menerima penjelasanku tapi ternyata, dia langsung mengusirku bahkan langsung meninggalkanku," ungkapnya.


Tara bergeming. "Ternyata dia masih kejam seperti biasanya. Sifatnya nggak berubah sama sekali," gumam Tara dalam hatinya merasa penasaran.


Tara menatap Valerie dengan senyum sinis.


"Bagaimana jika kita bekerjasama," tawar Tara.


"Bekerjasama untuk merusak hubungannya dengan wanita pemilik cincin yang bersamanya," sinis Tara.


"Maksudmu gadis berambut keriting itu?" cecar Valerie.


Alis Tara saling bertaut. "Gadis berambut keriting?" ia balik bertanya.


"Hmm ... enam bulan yang lalu saat aku ke kantornya, ia memperkenalkanku dengan seorang gadis berambut keriting. Kai mengatakan jika gadis itu adalah calon istrinya. Dan secara tidak sengaja aku sempat berpapasan dengan mereka saat aku menginap di hotel milik Kai yang ada di Jerman," ungkap Valerie.


"Lalu?"


"Sepertinya Kai dan gadis itu menginap di hotel yang sama. Apalagi Kai terus saja merangkul pinggang gadis itu," lanjut Valerie.


"Enam bulan yang lalu? Itu kan saat El, Kai, dokter Mike dan dokter Lois bersama?"


Tara membatin merasa sedikit curiga. "Tapi nggak mungkin, melihat dokter Mike dan El kemaren keduanya tampak mesra."


"By the way, kenapa kamu ingin menghancurkan hubungan Kai dengan wanitanya," selidik Valerie.


"Karena aku membencinya," ucapnya dengan rahang mengetat.


"Apa rencanamu? Jujur saja aku juga ingin membalasnya," kata Valerie dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Menjebak Kai tidur bersama seorang gadis bayaran lalu menyebar foto syur mereka. Aku yakin dalam sekejap, berita gosip pasti akan terus menyorotinya," ucap Tara dengan sinis.


"Aku yakin, saham perusahaannya juga pasti akan menurun drastis," pungkas Tara dengan senyum puas.


"Aku rasa idemu cukup brilian untuk menjatuhkannya," timpal Valerie.


Keduanya sama-sama tersenyum puas sekaligus memikirkan cara untuk menjebak Kai nantinya.


Sedangkan orang yang ingin di jebak, malah sedang tertidur pulas disamping istrinya.


.


.


.


Pagi harinya ....


Sama seperti hari-hari kemarin, Kai mengalami morning sickness. Sejak tadi ia terus memuntahkan isi perutnya bahkan terlihat lemas dan pucat.


"Sayang ... perutku sakit," keluhnya dengan suara lirih.


"Yang sabar ya," bisik El sembari mengelus punggungnya.


"Mandilah. Setelah itu kamu istirahat. Pokoknya hari ini aku melarangmu ke kantor," tegas El.


"Tapi sayang ..."


"Noooo ... tetaplah di sini bersamaku," pinta El lalu memeluknya dengan manja.


"Sayang ..."


"Hmm ..."


"Aku pengen kita pulang sekarang ke kota X."


Sepasang mata El langsung membola lalu melepas pelukannya. "What!!! Sayang, apa aku nggak salah dengar?" kesal El lalu memukul dada suaminya.


"Please, aku ingin menghabiskan waktu kita di resort mama. Pokoknya kita berangkat hari ini juga," tegas Kau seolah tak ingin dibantah.


"Sayang!!!" El kesal bukan kepalang. Mau tidak mau ia hanya mengikuti keinginan konyol suaminya itu.


Satu jam kemudian ...


Kini keduanya telah berada di bandara.


"Alex, siapa pun yang menanyakan tentang keberadaanku, katakan saja pada mereka jika aku sudah berangkat ke Jerman," pesan Kai.


"Baik Tuan," jawab Alex.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2