All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
70. Apa masalahmu ...!!!


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Tara hanya bungkam, tatapannya dingin dan penuh dengan amarah. Tangannya terlihat terus terkepal.


"Tara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Daniel sambil meliriknya namun Tara hanya bergeming tidak menjawab


Tak berapa lama, keduanya pun tiba di kantor Kai. Sebelum turun dari mobil, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembusnya dengan kasar.


Dengan langkah panjang, ia menuju pintu otomatis kantor Kai. Daniel dengan setia, mengekornya dari belakang.


Sejatinya Daniel merasa sangat khawatir dengan kondisi Tara yang sedang tidak baik-baik saja. Ia takut jika Tara sampai berbuat nekat.


Begitu lift yang mengantar keduanya terbuka. Tara langsung menuju pintu ruangan kerja Kai. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu itu lalu menghampiri Kai yang sedang terlihat sibuk dengan berkasnya.


Tanpa aba-aba, ia langsung mencengkeram jas sahabatnya itu lalu mendaratkan bogem mentah ke wajahnya.


"What the fu*ck!!!" umpat Kai dengan rahang mengetat.


Tara hanya diam dan kembali menghajarnya. Karena sudah terpancing emosi, akhirnya Kai ikut membalas pukulan Tara tanpa ampun. Kembali lagi ruangan itu menjadi arena adu jotos keduanya.


Karena keduanya tidak ada yang mau mengalah akhirnya Daniel dan Alex memisahkan keduanya.


"Pergilah saja kamu neraka!!! Pria brengsek menjijikkan!!!" maki Tara dengan suara berat baritonnya. Ia kembali ingin menghajar Kai namun tertahan oleh Daniel.


Kai mengusap bibir dan hidungnya yang mengeluarkan darah.


"Apa masalahmu, Tara!! Tiba-tiba datang dan langsung menghajarku. Bukankah kita sudah tidak punya urusan bisnis lagi, huh!!" bentak Kai tak kalah jengkel.


"Daniel, lepasin!!" pinta Tara dengan nada dingin


"Ta--tapi Tara." Daniel terbata. "Aku bilang lepaskan!! Jangan membantah!! Dan kamu." Tara menatap tajam ke arah Alex. "Tinggalkan ruangan ini, aku masih punya urusan dengan pria brengsek itu!!" bentak Tara.

__ADS_1


Mau tidak mau, Daniel dan Alex meninggalkan ruangan itu yang terlihat seperti habis terkena gempa berskala besar.


Ketika keduanya sudah berada di luar ruangan, Alex menatap Daniel dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa dengan mereka berdua?" tanya Alex.


Daniel mengangkat bahunya lalu menaikkan kedua alisnya. "Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya dengan cara mereka sendiri. Kita nggak usah ikut campur."


Sementara, Kai dan Tara kembali berhadapan. Kai tersenyum miris sembari mengusap bibirnya.


"Ada apa, Tara? Bukankah kamu bilang, masih ada urusan denganku?" sindirnya.


"Rupanya kamu masih bisa tersenyum. Apa kamu tahu? Jika saja bukan karena ulah bejatmu, El tidak akan meninggalkanku apalagi meninggalkan kota ini? Dasar manusia laknat menjijikan!" maki Tara dengan begitu geramnya.


"Ya ... aku manusia laknat, brengsek menjijikan, bejat, dan aku mengakuinya. Lalu apa masalahmu?" sahut Kai dengan santai.


"Aku sadar karena aku hanya seorang manusia biasa, pendosa dan bukanlah Malaikat. Ia menatap Tara. "Aku memang bersalah, aku khilaf dan terlalu egois bahkan terlalu terobsesi dengan gadis seperti El."


Tara bergeming lidahnya keluh mendengar ucapan Kai bahkan ia tak punya kata balasan untuk menimpali ucapan pria blasteran itu.


"Caraku memang salah, aku mengakuinya. Awalnya aku sangat membencinya. Dari sekian banyak wanita, hanya dia yang berani menentangku serta menolakku. Hal itu yang membuatku marah, benci dan dendam padanya."


"Namun tetap saja hatiku tidak bisa berbohong jika aku mencintai gadis pemberontak itu. Bukankah kamu pernah mengatakan padaku, antara cinta dan benci saling berhubungan dan perbedaannya sangat tipis? Itu benar adanya, Tara."


"Tadinya aku membenci namun benci itu berubah menjadi cinta. Sejak kejadian malam itu, aku sangat menyesal telah menodainya. Asal kamu tahu, sampai detik ini aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak sebelum menemukannya," Pungkas Kai.


Tara hanya mematung sambil mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Tara, sekalipun kamu membunuhku, tetap saja tidak bisa merubah keadaan. Bukankah kamu sudah bertunangan dengan Putri pak Devan? Jika kamu masih berharap pada El lalu meninggalkan Putri pak Devan, itu sama saja kamu sama brengseknya dengan diriku," tegas Kai.

__ADS_1


Tara merasa kesal mendengar ucapan kai. Ia pun menghampiri Kai lalu kembali meninju perutnya tanpa ampun hingga membuat Kai tersungkur.


Kai hanya meringis dan menahan sakit sembari memegang perutnya. "Teruskan saja hingga kamu merasa puas. Tapi perlu kamu ingat, sampai kapanpun aku akan tetap mencari El dan akan bertanggungjawab padanya," ucap Kai dengan suara lirih menahan sakit.


Mendengar ucapan kai, Tara semakin naik pitam dan kembali ingin menghajarnya, namun ia urungkan karena Kai sudah tidak sadarkan diri.


Akhirnya Tara meninggalkannya begitu saja. Setelah berada di luar ruangan, ia meminta Alex segera mengurus boss nya itu.


"Segera urus boss mu itu, sebelum dia benar-benar meninggal dengan membawa penyesalannya," ucap Tara dingin lalu segera meninggalkan tempat itu.


.


.


.


Di tempat yang berbeda ...


Setelah singgah membeli bunga, El langsung menuju makam kedua orang tuanya. Ia meletakkan dua kuntum mawar putih di atas pusara Mama dan papanya.


El mengelus batu nisan keduanya bergantian lalu menyapanya. "Mah, Pah, aku datang lagi ke rumah kalian ini. Aku berjanji setelah lulus kuliah, aku akan ke sini lagi membawakan toga dan ijazah sarjanaku untuk kalian. Mah, Pah, doaku tak pernah putus untuk kalian berdua. Terima kasih sudah membesarkan aku dan tumbuh menjadi gadis yang tangguh. Aku mencintai dan menyayangi kalian."


Setelah itu ia berpindah tempat ke pusara tante Karin. Ia tersenyum lalu meletakkan satu lagi mawar putih di atas pusara itu. "Tante Karin, terima kasih karena selama ini tante sudah memberikan aku kasih sayang dan selalu membelaku setelah kepergian Mama dan Papa. Aku pamit." El mengelus batu nisan tante Karin lalu beranjak dari tempat itu.


Setelah menatap lama ketiga pusara yang jaraknya tidak terlalu berjauhan, dengan perasaan sedih dan diiringi air mata El meninggalkan ketiga makam itu lalu menghampiri motornya.


Ketika ia akan memakai helmnya, dadanya tiba-tiba merasakan nyeri. "Aduh! Ada apa ini? ucapnya lirih. Ia memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembusnya pelan. Namun tiba-tiba saja wajah Kai langsung muncul di benak pikirannya


"Kai?" lirihnya sembari membuka matanya. "Ada apa ini? Kenapa wajah pria bastard itu tiba-tiba saja terbayang?"

__ADS_1


Sejenak ia mengeluarkan rokok dan pemantiknya. Ia memilih duduk sebentar sambil menyesap rokoknya hingga tuntas.


"Ck, kenapa dadaku tiba-tiba merasa sesak begini? Ada apa ini? Kok perasaanku nggak enak ya?"


__ADS_2