All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
103. Kekesalan Tara ...


__ADS_3

Saat pagi mulai menyapa, perlahan-lahan Kai membuka matanya dan merasakan tubuhnya terasa berat seperti ditindih.


Ia sedikit menundukkan kepalanya dan langsung tersenyum mendapati El yang kini berada di atas tubuhnya.


"Sayang." Ia mengelus rambut serta punggung El dengan sayang lalu mengecup puncak kepalanya.


Alih-alih membangunkannya, ia malah membiarkan gadis itu masih dalam posisi yang sama.


Kai kembali mengelus punggungnya lalu tersenyum lebar. Tak lama berselang El menggeliat kecil sembari meraba-raba seperti mencari sesuatu. Kai langsung meraih jemarinya lalu mengecupnya.


"Sayang," apa kamu ingin seperti ini terus?" bisik Kai.


Alih-alih menjawab El semakin membenamkan wajahnya ke ceruk leher sang calon suami sembari semakin erat memeluknya.


"Biarkan seperti ini dulu sebentar," bisiknya.


Lagi ... sudut bibir Kai mengukir senyum. Bahkan sangat menikmati setiap sentuhan gadis itu. Pikirnya, kapan lagi El mau seperti itu jika bukan inginnya sendiri.


Setelah merasa puas, barulah El turun dari tubuh besar Kai.


"Sepertinya kamu cukup nyaman berada di atas tubuh om mesum ini?" goda Kai lalu terkekeh. "Jangan salahkan jika yang di bawah sana sudah bangun."


El ikut terkekeh lalu membalasnya, "Bukankah om, om sepertimu sudah sangat berpengalaman dan lihai jika berurusan dengan ranjang?"


El balik menggodanya lalu menggigit bibir bawahnya. Namun dengan gerakan secepat kilat, ia langsung beranjak dari tempat tidur itu lalu menjauhi Kai.


Mendengar ucapan bernada menggoda itu, ditambah lagi El menggigit bibir bawahnya, Kau merasa gemas dan seolah ingin menerkamnya detik itu juga.


Namun ia tak bisa melakukannya karena gadis itu sudah menjauh darinya sambil terbahak kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Gemes banget sih," gumamnya sambil menggelengkan kepala.


Sedetik kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya lalu menyingkap tirai jendela. Menggeser pintu lalu keluar ke balkon sembari merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.


Memejamkan matanya sambil menghirup udara pagi sebanyak mungkin.


"Sayang, hari hariku terasa semakin hidup, berarti, walau pun baru seminggu kita bersama. Aku merasa seperti sudah bertahun-tahun bersamamu."


Sedangkan El yang baru saja selesai mandi, menatap punggung tegap Kai lalu mengulas senyum. Ingin rasanya ia memeluk prianya itu, namun ia urungkan.


Tak ingi mengambil resiko karena takut mereka akan kebablasan. Apalagi saat ini ia hanya mengenakan handuk.


El memutuskan masuk ke walk in closet lalu mengenakan salah satu baju kaos milik Kai.


"Sayang," tegur El yang kini sudah berada dibingkai pintu balkon.


Kai langsung menoleh dengan senyum berbalut tatapan lembut seraya merentangkan kedua tangannya. Mengerti jika Kai ingin memeluknya, tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sayang, makasih untuk semua waktumu untukku," bisik Kai. "Setiap hari aku ingin seperti ini."


Dalam dekapan Kai, El mengulas senyum lalu menatap manik hazelnya. Menyentuh mata itu lalu berbisik, "Bola mata ini indah banget. Sayang, aku berharap salah satu anak kita akan memiliki bola mata indah sepertimu."


Mendengar ucapan El, Kai langsung tersenyum sekaligus merasa bahagia.


"Sebaiknya kamu mandi. Aku akan menyiapkan pakaianmu lalu akan menyiapkan sarapan," seru El.


"Baiklah."


********


Setelah selesai membuat sarapan dan menyeduh teh, El kembali menghampiri Kai yang sedang mengenakan pakaiannya.


"Sayang, biar aku bantu," tawarnya.


Dengan telaten ia membantu Kai mengenakan pakaian semi formal yang telah ia siapkan tadi. Beberapa menit kemudian ...


"Sudah ... kamu terlihat sedikit lebih muda," canda El lalu terkekeh.


Sesaat setelahnya keduanya kini sedang berada dimeja makan sambil menyantap sarapan yang telah El sajikan.


Tepat di jam delapan pagi, keduanya akhirnya meninggalkan penthouse.


.


.


.


Pasangan pengantin baru itu tampak sedang berdebat hanya karena tiket honeymoon yang dihadiahkan El untuk mereka.


"Dian, apa kamu mengira jika aku nggak mampu membawamu ke Maldives?! Kenapa kamu menerima kado itu dari El dan Kai, hah!," kesalnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.


"Tara kamu jangan salah paham dulu. El yang menawariku bahkan dia juga yang merekomendasikan tempat itu untuk kita honeymoon," jelas Dian.


Tara bergeming dengan perasaan dongkol.


"Tara, kado itu dari El untukku. Aku nggak tahu ada masalah apa kamu dan Kai tapi tolong hargai pemberian mereka. El adalah temanku bahkan kami sudah seperti saudara," pungkas Dian dengan perasaan kecewa.


Kebencian seketika menyelimuti hatinya kini. Ketika ekor matanya terarah ke kotak kecil berisi tiket paket honeymoon dari El dan Kai. Dengan perasaan dongkol Tara mengambil kotak kecil itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah.


"Kita tetap akan honeymoon di sana tapi tidak menggunakan tiket dari Kai dan El," tegasnya dengan nada dingin, seolah tidak ingin dibantah.


Setelahnya Tara langsung meninggalkan Dian yang masih bergeming di tempat.


Seketika hati Dian langsung mencelos, kecewa, sakit serta merasa tidak dihargai. Ia menunduk lalu menangis.

__ADS_1


Baru dua hari mereka sah dalam ikatan pernikahan, namun Tara seolah tidak menghargainya bahkan sikapnya terkesan dingin padanya. Dian mengusap air matanya lalu ke dadanya.


"Sepertinya aku harus banyak bersabar dalam menghadapi sikap moody Tara," ucapnya dengan lirih. 😒😒


.


.


TPU Kota A ....


Sebelum benar-benar kembali ke kota X, El mengajak Kai menyekar makam kedua orang tuanya.


Setelah singgah sebentar membeli bunga di Monic Flower, kini keduanya sudah berada di TPU kota.


"Sepertinya El memang sangat menyukai bunga mawar," gumam Kai dalam hatinya.


"Sayang, ini pusara mama dan papaku," ucapnya lirih seraya berlutut lalu meletakan dua kuntum mawar di ke dua pusara itu.


Ia kemudian memeluk kedua batu nisan pusara itu lalu menangis. Setelah mengirim doa ia dan Kai berpindah tempat ke pusara tante Karin.


Ia juga meletakkan sekuntum mawar di makam itu lalu mengirim doa.


"Sayang, jangan bersedih cepat atau lambat kita pasti akan kembali lagi ke kota ini. Sebaiknya kita ke bandara sekarang.


*******


"Alex, untuk seminggu ke depan semua urusan kantor, aku percayakan padamu," tegas Kai.


"Baik, Tuan."


"Ya sudah aku dan El berangkat dulu," pungkas Kai.


"Baik, Tuan," sahut Alex sembari menunduk takjim.


Setelah memastikan sang majikan benar-benar sudah menghilang dari pandangan matanya, barulah ia mengayunkan langkah menuju ke arah mobilnya.


Sementara El dan Kai terus melangkah ke arah pesawat yang akan membawa keduanya ke Kota X.


Setelah keduanya duduk di kursi masing-masing, El langsung menyandarkan kepalanya di bahu Kai sembari memeluk lengannya.


...----------------...


...Thanks for all readers yang masih setia dengan kisah El dan Kai, thanks juga yang sudi mampir dan memfavoritkan novel ini dan memberi like serta hadiah dengan sukarela....


...Dukungan dari kalian begitu berarti bagi author pemula sepertiku. Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan dan letak tanda baca....


Terima kasih readers terkasih πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2