
Pagi harinya Jam 10.00 waktu Berlin ...
Bunda Kiara, pak Jason, mama Glori tampak bisa bernafa lega karena Damian sudah siuman dan saat ini berada di kamar VIP yang bersebelahan dengan kamar Kai.
Sedangkan El, ia tampak berada di ruangan khusus tempat suaminya masih terbaring dengan mata tertutup rapat.
"Sayang ... come on wake up ... please open your eyes," lirih El sambil menggenggam tangan suaminya. "We are waiting for you," bisiknya dengan air mata yang mulai menetes.
Sepi ...
Hening ...
Yang terdengar hanya suara ventilator yang terdengar nyaring. El kembali terisak takkalah suaminya tetap bungkam dan matanya masih terpejam.
Di sela-sela isakannya, seseorang memegang pundaknya. Seketika ia mendongak.
"Lois ... Candra?" sebutnya dengan suara serak.
"Dear ..."
"El ..."
Sahut Lois dan Candra. Keduanya menatap iba padanya. Candra melangkah ke sisi kiri bed. Menatap lekat wajah teman kecilnya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kai, my little friend, are you hear me? Aku datang menjengukmu. Please bangunlah. Apa kamu nggak ingin lihat aku menikah?" bisiknya. Air matanya langsung luruh seketika.
Sama halnya Candra, Lois juga mengatakan hal yang sama sambil menangis lalu memeluk El.
"Dear ... yang sabar ya. Kami akan terus berdoa untuk kesembuhan Kai. Aku dan Candra nggak akan menikah jika Kai belum sadar," lirih Lois dengan suara tercekat lalu mengurai pelukannya.
El hanya mengangguk. Kabar bahagia dari temannya itu ikut membuatnya bahagia namun juga sedih mengingat suaminya masih belum siuman.
"Dear ... aku dan Candra ke kamar Damian dulu ya," pamitnya dan dijawab dengan anggukan.
Sepeninggal Lois dan Candra, El kembali menatap wajah pucat suaminya. Terus seperti itu lalu menyandarkan kepalanya di sisi ranjang, berharap semoga suaminya segera membuka matanya.
.
.
.
Jauh di negeri ginseng, Vira dan Daniel kini tampak sedang berada di bandara menuju ke arah burung besi yang masih menanti para penumpangnya.
Setelah seminggu lamanya berbulan madu di negara itu, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Jerman untuk menjenguk Kai.
__ADS_1
"Daniel, aku mengkhawatirkan keadaan El dan Kai," lirihnya dengan mata berkaca-kaca membayangkan wajah sendu temannya itu.
"Bukan kamu saja, aku juga," balas Daniel.
"Aku berharap keduanya baik-baik saja. Semoga Kai secepatnya sadar," lirih Vira. "Dan ... aku nggak menyangka jika El dan Kai ternyata sudah menikah diam-diam dan menyembunyikan status pernikahan mereka."
"Aku tahu alasannya. El dan Kai sengaja menyembunyikan status pernikahan mereka karena Tara," jelas Daniel.
"Bagaimana bisa mereka semulus itu menyembunyikan status pernikahan mereka. Bahkan El dan Mike terlihat real sebagi pasangan," kata Vira.
Sedetik kemudian ia terkekeh. "Tapi akting mereka boleh juga," sambung Vira.
"Itu karena El dan Mike sudah seperti kakak adik," jelas Daniel lagi. Tapi yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Kai. Itu yang utama, kasian El dan triplets," lirih Daniel.
"Hmm ... rasanya aku ingin segera tiba di sana," timpal Vira lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
.
.
Kota A ... pukul 15. 30 waktu kota A ...
Tampak Tara sedang memasuki pintu otomatis perusahaan Kai. Mengambil langkah seribu untuk segera bertemu dengan Alex.
Bukan ingin menjalin kerjasama namun ingin segera bertemu dengan asisten Kai, semata-mata hanya ingin menanyakan rumah sakit tempat Kai dirawat di kota Berlin.
Pintu lift terbuka sekaligus membuyarkan lamunannya. Ia pun segera keluar dari kotak besi itu lalu mempercepat langkahnya menuju ruangan Alex.
Setelah berada di ambang pintu, tanpa mengetuk ia langsung memutar handle pintu. Namun harapannya untuk bertemu dengan Alex kembali membuatnya menelan pil pahit karena Alex tidak berada di ruangannya.
"Oh sh*it!!!" umpatnya merasa frustasi lalu mengusap wajahnya kasar.
Ia memutuskan keluar dari ruangan itu lalu ke ruangan Kai. Sesaat setelah berada di ruangan kerja Kai, sekelumit ingatannya kembali berputar setahun yang lalu ketika ia dan Kai adu jotos di tempat itu.
"Kai," lirihnya sambil meneliti ruanga itu tanpa ada yang ia lewati, hingga ekor matanya terarah ke meja kerja Kai.
Ia menghampiri meja itu lalu meraih frame foto Kai dan El. Foto ketika pasangan itu berfoto di sekitar Museum Inseln.
Tara mengelus foto itu sambil menatapnya lekat.
"Aku merasa seperti mendapat hukuman dari Tuhan," lirihnya. "Ketika aku ingin menemui kalian dan ingin meminta maaf, jalanku seolah buntu," lirihnya lagi lalu kembali meletakkan frame itu di tempatnya.
"Lord, please show me and give me a clue," ucapnya dengan suara tercekat.
*******
__ADS_1
Kembali ke kota Berlin ...
"Mah, kapan Kai akan membuka matanya," ucap El dengan suara tercekat dalam pelukan sang mertua.
"Sayang ... kita harus bersabar," lirih mama sembari mengelus kepalanya.
"Mah ... aku takut jika Kai nggak akan bangun," isaknya sambil mengelus perutnya lalu menatap suaminya. Benak kini memikirkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya dan calon bayinya.
El melepas pelukan mama Glori lalu, mendekat ke kepala suaminya, mengelus rambutnya lalu mengecup lama keningnya.
"Daddy triplets ... please buka matamu. Kamu sudah berjanji padaku dan triplets kita, jangan seperti ini, bangunlah," bisiknya.
Mama Glori hanya bisa menatap iba sang menantu dan tak kuasa menahan air matanya.
"Sayang ..." Mama Glori merangkul El sambil menangis. "Bersabarlah Nak. Mama yakin Kai pasti akan bangun," lirih mama sambil mengelus bahu menantunya itu. "Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu. Sejak tadi kamu sudah di sini," pinta mama.
El menggelengkan kepalanya menandakan ia tidak ingin meninggalkan suaminya. Namun karena mama terus membujuk dan mengkhawatirkan keadaannya, akhirnya El kembali ke kamar rawat dan beristirahat sejenak.
Beberapa jam berlalu, setelah merasa pikirannya agak tenang, ia ke kamar sebelah untuk melihat Damian.
Sesaat setelah berada di kamar rawat Damian. El menghampirinya lalu menarik kursi di samping bednya.
"Bagaimana dengan keadaamu Damian?" tanya El lalu menggenggam tangan iparnya.
"Seperti yang kamu lihat," lirihnya dan tetap tersenyum.
"Jangan terlalu banyak gerak dulu. Bekas sayatan diperutmu bisa terluka lagi," kata El.
"El ... bagaimana dengan Kai," tanyanya.
"Dia belum siuman," jawab El. "Kita sama-sama doakan supaya dia segera bangun dari tidurnya," ujarnya.
"Bersabarlah, Kai pria yang kuat. Kamu harus yakin dia akan bertahan dan segera bangun dari tidurnya," lirih Damian lalu perlahan mengelus kepala istri sepupunya itu.
Tak lama berselang Mike menyapa keduanya.
"Dear ... Damian ..."
"Mike ..."
"El, Vira dan Daniel sementara dalam perjalanan menuju kemari," papar Mike.
"Oh Lord, padahal mereka masih dalam rangka bulan madu," kata El.
"See ... orang-orang terdekatmu sangat menyayangi kalian berdua," kata Damian. "Aku yakin berkat doa-doa dari mereka, percayalah Kai akan segera kembali ke dunia nyata," lanjut Damian.
__ADS_1
...----------------...