
Bandara Kota X ...
"Richard, tolong antar aku ke kantor dulu ya. Setelah itu kamu antar El ke kontrakannya," perintahnya.
"Baik, Tuan."
"Sayang, malam ini kamu menginap di apartemen saja," pinta Kai.
El berdecak. "Ck, nggak ah!"
"Bisa nggak sih, sehari saja nggak membantah," protes Kai.
"Bagaimana aku nggak ngebantah, kamunya selalu saja ngotot," sindir El.
Kai terkekeh. "Baiklah, sayang. As you want," ucapnya mengalah.
"Sayang."
"Hmm." Kai langsung meliriknya.
"Aku minta uang cash dong."
Seketika otak Kai langsung memunculkan ide. Seringai tipis penuh arti kembali terbit di bibirnya.
"Boleh, tapi ada syaratnya."
El kembali berdecak kesal. "Please, jangan pakai syarat dong Sayang," rayunya dengan wajah memelas.
Kai merasa gemas menatap wajah memelas El, apalagi sikapnya yang terkesan manja.
"Mau apa nggak?" tanyanya lagi.
"Syaratnya pasti yang aneh-aneh, iya kan?!" kesal El.
Kai terkekeh. "Syaratnya nggak aneh-aneh kok Sayang. Beri aku satu ciuman saja," pintanya.
Saking gemasnya, El mengigit kecil dada liat pria itu lalu memeluknya dengan erat.
"Ssssttt, Sayang, jangan memancing," bisiknya.
"Aku nggak memancing, hanya gemas." El mengecup pipi dan juga bibir Kai lalu kembali memeluknya.
Kai mengulas senyum merasa bahagia. Mengelus punggung calon istrinya itu dengan sayang lalu membenamkan bibirnya di puncak kepalanya.
"Sayang, kamu butuh uang berapa?" tanya Kai, masih sambil mengelus punggung gadis itu.
"Tiga ratus saja untuk pegangan di kantong," jelasnya.
"Baiklah. Apa segitu cukup?" tanya Kai.
"Hmm."
.
__ADS_1
.
.
Sejak tadi ponsel milik El terus saja bergetar di ruang kerja Daniel. Namun sang empunya ruangan tak ada di tempat itu.
"Ck ... El ke mana sih?! Kenapa ponselnya nggak di angkat." Dian menggerutu kesal.
"Ada apa?" tanya Tara tiba-tiba.
"Sejak tadi aku menghubungi El tapi dia nggak menjawab panggilan dariku," jelas Dian.
Tara terpekur sembari membatin, "Sial!! Aku lupa mematikan ponsel itu."
"Aku berangkat ke kantor dulu," pamitnya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Dian.
Lagi ... Dian hanya bisa menghela nafasnya dengan sikap acuh suaminya itu.
********
Sementara itu, Daniel yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya seketika mengerutkan kening menatap ponsel El yang masih tergeletak di atas meja sofa.
Ia pun mendaratkan bokongnya lalu meraih ponsel itu kemudian memeriksanya.
"Banyak banget panggilan dan pesan yang masuk?"
Karena penasaran, Daniel kembali mengutak-atik benda pipih itu. Sama halnya Tara, ia cukup penasaran dengan kontak yang diberi nama My Bastard.
Ia terkejut saat mengetahui pemilik nomor tersebut. Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi nomor itu.
"Ya Hallo," kata Kai.
Sejenak Daniel terpekur mendengar suara Kai dari seberang telepon.
"Kai? Apa itu beneran kamu?" tanya Daniel membuka suara.
Seketika alis Kai saling bertaut. "Ya."
"Ini aku Daniel. Kamu lagi di mana? Apa El bersamamu?" cecar Daniel.
"Daniel?" sebut Kai "Ya El sedang bersamaku kebetulan kami baru saja tiba di kota X."
Kai memandangi El yang sedang tertidur sambil memeluknya. Ia pun mengalihkan ke panggilan video.
Dari seberang layar, Daniel bisa melihat jelas wajah El yang begitu nyaman memeluk Kai. Ia juga seolah tak percaya jika gadis itu kini sedang bersama pria yang tadinya begitu ia benci.
"Daniel, nanti kita bicara lagi," tegur Kai.
"Ok, hubungi aku di nomorku saja," pesan Daniel.
"Ok." Kai memutuskan panggilan lalu kembali menatap wajah El yang masih betah memejamkan matanya.
"Richard, kamu duluan saja. Aku nggak tega membangunkan El," perintahnya sesaat setelah mobil yang dikendarai Richard diparkir diarea parkiran khusus.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Richard pun meninggalkan keduanya di dalam mobil itu.
"Nasib nasib jadi jomblo. Hanya bisa ngelus dada melihat kemesraan si boss dan pacarnya."
Richard senyum-senyum sendiri meninggalkan parkiran lalu menuju ke arah pintu otomatis gedung kantor.
Sementara Kai, ia hanya membiarkan El dan tetap menunggunya.
"Sayang apa kamu tahu? Aku seperti bermimpi saat ini. Aku nggak menyangka jika kamu mau memaafkanku sekaligus menerimaku. Bahkan semakin hari sikapmu malah semakin manja. Aku jadi teringat saat kamu masih membenciku. Jangankan memelukku berbicara saja kamu begitu kasar bahkan sering memaki dan mengumpatku."
Kai mengulas senyum lalu mengelus pipi mulus El lalu meletakkan dagunya di puncak kepalanya.
"Saat itu, aku bisa melihat ketika kamu menatapku, kamu seolah-olah merasa jijik saat aku menyentuhmu. Jujur saja aku sangat membenci tatapanmu waktu itu. Tapi itu bukan salahmu melainkan salahku."
Matanya mulai berkaca-kaca mengingat sikap arogannya pada gadis itu. Lamunannya seketika membuyar ketika merasakan gerakan kecil di dadanya.
Jemari lentik El terulur mengelus rahang tegas Kai lalu sedikit mendongak. "Kenapa nggak membangunkanku?"
"Aku nggak tega," balas Kai.
Manik keduanya saling bertatap. Tangan yang tadinya menempel tepat di rahang tegas Kai beralih ke alisnya, turun ke mata lalu ke hidung kemudian berakhir ke bibir.
"Kenapa menatapku seperti itu?"Bagaimana? Apa perlu kita bercocok tanam di mobil ini sekarang? Biar kita segera memiliki anak," bisiknya lalu membenamkan bibirnya ke leher jenjang El.
El langsung melotot sekaligus merasa kesal lalu berkata, "Dasar mesum!"
"Sayang, ayo lah. Aku rasa bercinta di dalam mobil nggak ada salahnya. Setidaknya bisa memberikan sensasi berbeda ketimbang bercinta di atas ranjang empuk," goda Kai sambil meraba paha mulus El.
"Aku rasa kamu sudah nggak waras!!" kesalnya lalu menahan tangan nakal Kai yang semakin liar.
Tak kehabisan akal, Kai kembali menggoda El dengan membaringkan tubuhnya di kursi mobil lalu mengungkungnya.
"Sayang, hentikan!!" geram El sekaligus merasa panik karena Kai mulai menyingkap dressnya ke atas. "Dasar om om mesum!!"
Kai langsung tertawa mendengar ucapan yang terdengar kesal dari wanitanya itu. Sedetik kemudian ia merapikan dress lalu kembali membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Jangan panik begitu Sayang, bukankah kita sudah pernah melakukannya?" bisik Kai.
"Ya, kita memang pernah melakukannya tapi dengan cara pemaksaan. Sama saja kan kamu memperkosaku," sindir El dengan wajah kesal lalu mencubit perut pria blasteran itu sekuatnya.
"Aaaww .... ssssttt ..... sakit Sayang .... ampun ... ampun ... sudah, ini sakit banget," mohonnya sambil memegang tangan El yang masih mencapit kulit perutnya.
"Rasain ... apa kamu lupa waktu itu kita harus berkelahi dulu. Jika saja saat itu aku nggak dalam pengaruh obat bius ditambah lagi posisiku yang tidak memungkinkan, aku yakin kamu sudah aku lumpuhkan. Tapi siapa yang menyangka jika kamu cukup licik," sindir El lagi.
"Maaf aku terdesak. Jika nggak begitu aku nggak bisa memilikimu seperti saat ini," ucapnya dengan santai lalu terkekeh.
"Cih dasar bastard licik." El memutar bola matanya malas.
"Ya sudah, biar aku yang mengantarmu pulang." Kai melepas pelukannya lalu meraih dompetnya. "Ini duitnya."
"Makasih ya Sayang," ucap El lalu mengambil uang itu dari Kai. "Nggak usah mengantarku. Kamu sudah terlanjur berada di sini, aku naik taksi saja."
"Baiklah. Jangan lupa hubungi aku jika kamu sudah tiba di kontrakanmu ya," pesan Kai dan dijawab dengan anggukan oleh El.
__ADS_1
...----------------...