
Saking nyenyaknya tidur El, ia tak menyadari jika hari sudah mulai gelap.
Sedangkan Tara yang sejak tadi sudah terbangun hanya bisa menatap wajah gadis itu yang terlihat teduh dan tenang.
"Kasian .... aku nggak bisa bayangkan betapa menderitanya kamu selama mendekam di penjara itu. Tapi aku salut padamu, sedikitpun kamu nggak pernah mengeluh," gumamnya.
Tara kembali ke bawah lalu duduk di sofa. Tidak lama kemudian, seseorang membuka pintu.
Ia pun menoleh. "Daniel?"
"Tara! Kamu gimana sih?! Tadi Clara datang mencarimu di apartemenku. Katanya kamu nggak ada di apartemenmu," omel Daniel dengan kesalnya
"Biarkan saja dan tinggalkan, Dan," sahutnya dengan santai.
"Kamu nggak lagi bercanda kan,Tara?! Kamu tahu kan, dia itu wanita nekat! Honestly aku males hadapi perempuan kek dia," akunya merasa jengkel.
Tara hanya bisatertawa mendengar omelan Daniel.
"By the way ... kamu bawa apaan sih?"
"Makanan. Aku juga membawa surat-surat penting El. Oh ya, aku sudah mentransfer uang ke nomor rekeningnya.
"Hmm ... god job, Dan," pujinya.
"Lalu ... di mana El? Kenapa aku nggak melihatnya ada di sini?" tanya Daniel
"Masih tidur."
"Benarkah?"
"Hmm."
Daniel meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja lalu ikut duduk disamping Tara.
Sementara El, ia baru saja tersadar dari tidurnya.
"Oh God ... rupanya sudah malam," desisnya. "Baru kali ini aku tidur senyenyak ini," lirihnya. Ia pun bangkit dari tempat tidur lalu melangkah ke arah balkon kamar. El menatap keindahan kota A dari teras balkon kamarnya. "Aku mencintai kebebasan."
Lama ia berada di balkon kamar itu dan akhirnya memilih turun ke ruang tamu. Ketika melihat Tara dan Daniel sedang asik menonton. Ia langsung tersenyum jahil.
Dengan langkah perlahan ia menghampiri kedua pria itu.
"Doorrrrrrrrrr ......" El mengangetkan keduanya.
"El!!!!" pekik keduanya serentak.
"What the hell!!!" geram Tara "Bagaimana kalau kami mati mendadak," kesal Tara menatapnya.
El terbahak dan terlihat cuek. Setelah puas tertawa, ia pun duduk di single sofa lalu mencepol rambutnya asal.
__ADS_1
Tara dan Daniel hanya bisa melongo menatapnya.
"Ada apa? Kenapa menatapku begitu? Awas ilernya jatuh," ledeknya lalu terkekeh.
Tara dan Daniel langsung mengusap bibirnya.
Merasa dikerjai oleh El, Tara dan Daniel langsung melemparnya dengan bantal sofa.
"Apaan sih?! Emang nggak boleh ya, menatap dirimu?" tanya Daniel.
"Boleh sih ... tapi nggak gitu juga, Bro. Lihatnya biasa saja," sindirnya. "Oh ya, aku mau pulang. Mana kunci rumahku," desaknya.
"Sebaiknya kamu makan dulu El. Lagian kamu belum makan sejak pagi," cetus Tara sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Tapi aku nggak lapar. Aku hanya menginginkan kunci rumahku," desaknya lagi.
"El, dengarkan aku dan Daniel," pinta Tara. "Tapi kamu harus berjanji dulu," lanjut Tara.
"Apa?"
"Jangan marah atau emosi."
"Baiklah aku janji," kata El.
Tara menghela nafasnya sebelum berbicara.
"El maafkan aku dan Daniel. Sebenarnya rumahmu sudah kami jual dan uangnya kami pakai untuk beli apartemen ini," bohong Tara.
"El, dengarkan aku. Jika kamu tinggal di situ, kamu nggak akan aman. Apa kamu mau berurusan lagi dengan Kai?" jelasnya. "Eeee ... maksudku Tuan Kai Intezar Abraham," pungkasnya.
Seketika mata El langsung membola.
"Aku baru tahu jika dia itu Kai Intezar Abraham," lirih El. "Aku hanya sering mendengar namanya, tapi nggak tahu orangnya. Bukankah dia itu CEO di Perusahaan Kai Abraham? Pria casanova, player dengan sejuta pesona?" tanyanya lagi. "Bahkan para gadis tergila-gila padanya? Sayangnya, aku nggak tertarik padanya. Huh!!! Pantasan saja."
"Hmm ... kamu tahu kan, dia seperti apa?" sahut Tara. "Nggak perlu aku jelaskan, kamu sudah tahu Tuan Kai itu terkenal kejam dan licik," imbuhnya lagi. "Coba ingat? Apa yang sudah membuatnya marah padamu sehingga kamu harus mendekam di penjara?" tanya Tara yang terlihat serius menatap El.
El bergeming. Bahkan dia tahu benar, apa yang membuatnya masuk penjara.
"Cih ... menjijikkan," decih El.
"El ... tinggal lah di sini," pinta Tara.
Gadis itu masih tampak berpikir. "Tunggu!! Harga rumahku nggak mungkin bisa membeli apartemen mewah ini," selidik El. "Jika harus membayar cicilan perbulan, aku nggak mampu," tegasnya lagi. "Apa kalian sudah gila, hah!! Aku nggak mau!" tambahnya sedikit emosi "Hidupku sudah susah, bahkan untuk makan saja sekarang, aku harus segera mencari pekerjaan," pungkasnya.
Hening sejenak ....
Hingga Daniel membuka suara.
"El ... memang uang dari hasil dari penjualan rumahmu tidak cukup untuk membeli apartemen mewah ini," jelas daniel. "Tapi aku dan Tara punya sedikit uang simpanan untuk menambah dan mencukupi. Jadi, masalah cicilan, kamu nggak usah khawatir. Apartemen ini sudah kami bayar lunas," jelas Daniel lagi sedikit berbohong.
__ADS_1
El masih saja tidak percaya. "Jika kalian ingin membelikan aku apartemen, kenapa bukan apartemen yang fasilitasnya sederhana saja? Kenapa harus apartment mewah? Ini nggak masuk akal," selidiknya lagi. "Maaf Daniel, Tara, cukup sudah aku selalu dihina dengan sebutan ja*lang . Apalagi sekarang aku hanya pengangguran," lirihnya. "Please, aku nggak mau tinggal di sini. Aku ingin hunian yang sederhana saja namun nyaman untukku," tegasnya.
Daniel dan Tara hanya bungkam dan tertunduk mendengar ucapan El.
Ternyata tidak semudah itu meyakinkan dirimu. Kamu cukup cerdas dalam melihat dan menilai sesuatu.
Tara menghela nafasnya. "El ... tinggal lah di sini. Lagian kami sudah terlanjur membeli apartemen ini untukmu," bujuk Tara. "Kami hanya ingin memberi kenyamanan dan ingin melindungimu dari Tuan Kai. Kami khawatir jika dia mengganggumu lagi," jelas Tara dengan berpura-pura memasang wajah memelas.
"Tara benar El. Apa kamu nggak kasihan pada kami yang sudah bela-belain keluarkan uang tabungan kami hanya untukmu?" Daniel menimpali ucapan Tara sambil memberi kode kepadanya.
El terenyuh dan merasa bersalah. Apalagi saat menatap wajah memelas keduanya.
Huh .... finally dia mau percaya juga.
"Ok fine ... tapi aku mau ambil semua bajuku di sana," cetusnya.
"Bajumu sudah aku bawa ke sini sebulan yang lalu. Apa kamu nggak perhatikan di walk in closet?" tanya Daniel.
El hanya menggelengkan kepalanya. "Aku nggak memperhatikan," sahutnya. El menyipitkan matanya menatap penuh selidik pada kedua pria itu. "Aku jadi curiga ... baju dan semua dalaman baru itu, kalian sudah persiapkan untuk pacar atau selingkuhan kalian. Jangan bilang kalian sudah gantian main di kasur itu?" selidiknya lagi. "Eewwww ... menjijikkan," kata El merasa jijik mengingat ranjang yang baru saja di tidurinya tadi.
"Tara mungkin saja tapi aku nggak karena aku bukan seorang player," tegas Daniel lalu menoleh ke arah Tara.
Tara hanya cengengesan mendapat tatapan dari Daniel.
"Honestly, aku nggak pernah main di sini," aku Tara.
"Ya sudah, sebaiknya kita makan dulu. Setelah selesai makan, kalian boleh pulang," tegas El.
Setelah selesai menata makanan, ia pun mengajak keduanya makan bersama.
"Thanks ya, Daniel, Tara. Aku merasa sangat berhutang budi pada kalian berdua," kata El.
Keduanya hanya mengangguk lalu mengulas senyum.
Beberapa menit kemudian setelah selesai menyantap makan malam, mereka kembali ke ruang tamu.
"El, semua berkas penting milikmu, buku rekening serta kartu SIM dan ATM-mu ada di dalam tas ransel ini," kata Daniel.
"Thanks, Dan."
"Sama-sama, El, kami sekalian pamit," kata Daniel lagi.
El hanya mengangguk lalu mengantar keduanya sampai di depan pintu.
"Dan, besok belikan El ponsel baru sekalian dengan kartunya," pesan Tara sesaat setelah keduanya berada di parkiran apartemen.
"Baiklah. oh ya, aku langsung ke B.A. Pub ... kamu?"
"Sebaiknya aku ke Bronze saja. Clara pasti ada di sana," sahut Tara.
__ADS_1
...----------------...