All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
73. Kesal, jengkel, geram ...


__ADS_3

Satu Minggu kemudian .....


Sepulangnya dari Kota A, El kembali beraktifitas seperti biasanya. Ia tampak tersenyum saat membaca pesan yang dikirimkan padanya barusan.


"My baby, aku akan menjemputmu di dermaga sekarang," ucapnya girang. Ia pun mengganti pakaiannya lalu memesan ojol.


Setelah bersiap-siap, ia pun meraih helmnya lalu menentengnya keluar. Berjalan kecil ke arah halte dengan senyum yang mengembang membayangkan motornya yang sebentar lagi akan ia jemput.


Lima belas menit berlalu ...


"Dengan Mbak Culun, ya?" tanya Bang ojol yang baru saja tiba sembari memandangi El.


El mengangguk pelan lalu tersenyum. "Bang, antar aku ke dermaga xxx, ya," pintanya dan dijawab dengan anggukan oleh Bang ojol.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lama, akhirnya mereka pun sampai di dermaga yang dimaksud. El langsung tersenyum menatap motornya yang sudah terparkir gagah.


"Bang, terima kasih ya, ongkosnya sudah aku bayar di aplikasi."


"Iya Mbak."


El kembali merogoh kantong celananya lalu memberikan uang tips untuk bang ojol.


"Nggak usah, Mbak." Bang ojol menggoyangkan tangan ke kiri ke kanan mengisyaratkan jika ia menolak.


"Nggak apa-apa, Bang. Aku ada rezeki lebih, jadi kita bagi dua." Akhirnya bang ojol mau menerima uang darinya.


"Terima kasih ya, Mbak."


El mengangkat kedua jempolnya. Setelah itu ia menghampiri motornya lalu menyapa orang yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Maaf, aku sedikit telat."


"Nggak apa-apa, El," ucapnya.


El langsung membelalakkan matanya lalu menoleh ke kiri dan ke kanan juga ke belakang. Ia takut kalau-kalau ada yang mendengar. Ia pun berbisik ke arah pria itu. "Jangan memanggilku El, tapi Culun."


Pria itu hanya mengangguk. "Oh ya, ini kunci motormu."


"Ok ... thanks ya," ucap El seraya meraih kunci motornya dengan senyum sembringah. Tujuannya kini adalah ke salah satu resort untuk menikmati sunset.


.


.


.


Setibanya di tempat tujuannya. Ia memarkir motornya lalu melepas helmnya kemudian kembali memasang kaca matanya.


Lagi-lagi senyumnya mengembang di wajah cantiknya. Ia terus melangkahkan kakinya ke arah butiran pasir putih.


Selangkah demi selangkah dan pasti. Akhirnya ia mendaratkan bokongnya di hamparan pasir putih itu.

__ADS_1


"Oh God ..... sudah lama banget aku nggak menikmati sunset," gumamnya.


Menatap ke arah matahari yang mulai berwarna jingga. Menarik nafasnya dalam-dalam sambil menghirup udara dan bau khas laut lalu memejamkan matanya.


"Oh God ... aku merasa jiwaku damai, tenang dan sejuk," ucap El dengan lirih.


Seseorang dari kejauhan yang sejak tadi memandanginya menyipitkan matanya dengan seringai tipis penuh arti.


Dengan langkah kecil, perlahan tapi pasti, ia menghampiri gadis berambut keriting itu yang tampak sedang membakar rokoknya.


Saking asiknya El memandang matahari itu sambil menikmati hisapan rokoknya, ia tidak menyadari pria itu sudah berdiri di sampingnya.


Ia pun ikut duduk di hamparan pasir putih itu lalu berbisik tepat di telinga El. "Tampak indah bukan? Apa kamu menyukai keindahannya?"


Sontak saja El langsung menoleh ke arah pria itu dan hampir saja bibir keduanya bersentuhan. Raut wajah El langsung berubah kesal.


"Kamu ...!!" El mendorong pria itu.


Ya, siapa lagi yang selalu membuat El kesal dan benci menatapnya kalau bukan seorang Kai. Pria bastard, menjijikan dan brengsek menurutnya.


Ia kembali membuang muka, lalu mematikan api rokoknya. "Kenapa sih! Harus bertemu si bule bastard ini di sini? Mengganggu kesenanganku saja. Cih menyebalkan!!!"


Kai hanya tersenyum menatap wajah kesal gadis itu. Ia ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengannya. Menatap ke arah ufuk barat tempat di mana matahari akan menenggelamkan dirinya.


"Maaf, jika sudah mengganggu kesenanganmu. Aku tahu di dalam hatimu kamu pasti sedang mengumpat ku, kan?" Kai mengulas senyum lalu menatap El yang masih bergeming.


El mengerutkan alisnya lalu menoleh ke arah Kai. "Kok, dia bisa tahu sih? Menyebalkan!! Kenapa dia nggak beralih profesi saja menjadi paranormal."


Kai hanya mengulas senyum mendengar ucapan ketus El. "Apa kamu sudah lupa, kalau kita sudah berteman?" tanya Kai.


El hanya mengangkat bahunya dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah barat. Ia memeluk kedua kakinya dan terlihat cuek.


Sedangkan Kai terus menatapnya. "Kenapa aku merasa, seolah-olah berbicara dengan El?"


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kai.


"Hmm."


"Selain bekerja, apa kamu kuliah?"


"Hmm."


"Sudah lama? Emm ... maksudku sudah lama kuliahnya?"


"Hmm." Lagi-lagi El hanya menjawab singkat dengan kata 'hmm'.


"Jurusan?"


"Kedokteran."


Kai terdiam sejenak dan tampak berpikir. "Jika benar gadis ini adalah El. Aku akan terus mendekatinya dengan cara lembut. Sepertinya nggak gampang mengorek informasi darinya. Entah mengapa instingku mengatakan jika dia adalah El." Gumam Kai dalam hati.

__ADS_1


"Kita masih berteman kan?" lanjut Kai.


"Hmm."


"Mau nggak jika malam ini aku yang traktir makan?"


"Thanks ... next time saja," sahut El.


Keduanya kembali terdiam dan sama-sama menatap matahari yang sedikit lagi akan benar-benar tenggelam.


Setelah matahari itu benar-benar tenggelam, tempat itu mulai di terangi oleh lampu-lampu yang terdapat di beberapa titik. El kembali membakar rokok lalu menawarkan pada Kai.


Kai hanya menggeleng dan kembali mengulas senyum. Sedangkan El seakan tidak memperdulikannya yang terus menatapnya.


"Si bastard ini kenapa sih?! Dari tadi dia terus saja menatapku. Ihh ... rasanya aku pengen melempar pasir ke matanya itu. Dasar menyebalkan!!!"


"Apa kamu perokok aktif?" Kai kembali bertanya.


"Kamu ini ingin bertanya atau ingin mengintrogasi ku, hah!" bentak El. "Jika aku perokok aktif ... memangnya kenapa?! Apa kamu punya solusinya?!" tanya El dengan begitu kesalnya.


Ia kembali menyesap rokoknya dalam-dalam menghembus asapnya dengan kasar lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Kai.


Kai ikut berdiri dan mengejarnya lalu menangkap pergelangan tangannya.


"Ada apa dengan mu, Mr. Bule?!! Bisa nggak sih, kita nggak bertemu layaknya orang asing yang nggak saling kenal!!" bentak El.


Deg ...


"Kalimat itu?"


Tangan Kai seketika terangkat ingin melepas kacamata tebal El. Namun secepat kilat gadis itu menahan tangan besarnya.


"Jangan ... atau aku akan menghadiahkanmu satu bogem mentah di wajah tampanmu ini," bisik El sambil menepuk rahang tegas Kai.


"Silakan saja ... aku ingin merasakan bagaimana rasanya bogem mentah dari gadis cantik sepertimu," tantang Kai dengan senyum tipis.


"Kamu!!" El merasa geram lalu menghempas tangan Kai kemudian meninggalkannya begitu saja.


Lagi-lagi Kai hanya tersenyum menatap punggung gadis itu. "Gadis bar-bar namun selalu membuatku tertantang. Aku akan cari tahu tentang dirimu," gumam Kai.


Sementara El yang sudah berada di atas motor, terlihat begitu kesal. "Sial!! Semuanya menjadi kacau gara-gara si bastard itu! Lagian kenapa sih, harus bertemu dengannya di sini?!"


El mulai memacu motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan resort itu.


Kesal ...


Jengkel ...


Geram ...


Semua menjadi satu. Seperti itulah yang El rasakan saat ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2