All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
151.


__ADS_3

Sesaat setelah berada di pantry, bi Nita langsung menghampirinya keduanya.


"Tuan, Nona El. Apa kalian butuh sesuatu?" tanya bi Nita.


"Iya nih Bi. Tolong kupasin buahnya, nanti aku yang bikin bumbunya rujaknya."


"Apa rujaknya kurang pedas Non?"


El terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Pedas kok Bi. Hanya saja Kai nggak bisa makan rujak itu. Dia kan bule, jadi nggak kuat makan yang pedas-pedas," ledek El lalu tertawa.


Bi Nita ikut tertawa mendengar ucapan El.


"Ya sudah, Bibi bantuin kupas buahnya dulu," kata bi Nita lalu membuka kulkas dan mengambil buah itu.


Sementara El, ia terlebih dulu membuat teh jeruk untuk suaminya.


"Sayang, aku tunggu di taman ya," kata Kai setelah meraih gelas teh jeruk buatan istrinya.


El hanya mengangguk dengan seulas senyum.


*********


Kediaman Tara ...


Setelah membantu Dian membawa masuk barang belanjaan di bantu oleh asisten rumah tangga mereka, Tara terlihat sedang duduk bersandar di ruang tamu sambil memejamkan matanya.


Bayangan El masih saja memenuhi benaknya. Sekuat apapun ia membencinya namun tetap saja hatinya tidak bisa berbohong.


"Jika Kai saja bisa seikhlas itu melepasnya, harusnya aku juga bisa. Kai ada benarnya. El tidak memilih siapa-siapa di antara kami berdua. So ... apalagi yang aku harapkan darinya," gumamnya dengan hela nafas kasar.


Matanya terarah ke pigura foto pengantinnya dengan Dian. "Nggak terasa tujuh bulan sudah aku dan Dian menjalani biduk rumah tangga," lirihnya.


"Tara," tegur Dian sambil membawakannya kopi. "Ini buat kamu," kata Dian lalu duduk di sampingnya.


"Thanks," ucapnya lalu mengelus perut buncit istrinya.


Dian hanya mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Tara, aku kangen banget sama El. Sudah lama aku nggak bertemu dengannya. Walaupun kami biasa berkomunikasi lewat VC, tapi tetap saja aku merasa ada yang kurang," ucap Dian tiba-tiba.


"Apa El belum mengabarinya, jika gadis itu ada di kota ini?" gumam Tara dalam hatinya.

__ADS_1


"Tara, kapan-kapan kita ke kota X ya," cetus Dian.


Tara hanya mengangguk pelan lalu menyeruput kopinya. Entah ia benar-benar ingin ataupun tidak.


"Oh ya, aku baru ingat ... ada urusan apa ya Kai ke rumah sakit tadi? Apa kamu nggak perhatikan wajahnya terlihat pucat?" tanya Dian sedikit penasaran.


Namun pertanyaan dari istrinya itu seolah tidak di gubrisnya.


Apa peduliku dengan pria brengsek itu. Aku berharap dia segera mati dan menghilang dari hadapanku saja.


Tara membatin kesal. Entah mengapa dendamnya seakan belum padam pada ex sahabatnya itu.


"Dian, aku kembali ke kantor ya," izinnya lalu menghabiskan sisa kopinya.


"Baik lah, hati-hati di jalan," kata Dian.


"Hmm," sahutnya lalu mengecup pipi dan perut Dian kemudian berlalu meninggalkannya.


Dian hanya menatap nanar punggung tegap suaminya.


"Sampai kapan kamu akan seperti itu Tara? Sudah tujuh bulan berlalu tapi kamu tetap susah di tebak," lirih Dian dengan mata yang berkaca sambil mengelus perutnya.


Sementara itu, Tara yang kini dalam perjalanan memilih ke apartemen El.


Padahal ia sudah meminta petugas yang membersihkan apartemen waktu itu, untuk mengambil dan membuang semua benda itu. Namun tidak di lakukan melainkan hanya membersihkan benda-benda yang berserakan.


"Why ... why you come into my life? Jika akan berakhir seperti ini? Why El," ucapnya sambil menangis dan memegang dadanya.


Ia duduk bersandar menatap nanar meja rias yang sudah setahun lebih tanpa pemiliknya. Bahkan semua barang pemberian darinya masih tersimpan rapi di tempatnya masing-masing.


Ia kembali berdiri, menyentuh satu persatu barang-barang itu. Ada rasa rindu yang mendalam, ingin rasanya ia mendekap erat wanita yang masih ia cintai itu walau hanya sejenak.


Bahkan pikiran liarnya pernah tersirat ingin menculik dan ingin menyimpan benihnya di rahimnya.


Namun semuanya pupus karena ia mengira jika El benar-benar telah menikah dengan dokter Mike, yang tak lain adalah ex dosennya sendiri.


Tangisannya semakin menjadi ketika ia menyentuh jas kantor yang biasa El siapkan untuknya.


Sekelumit ingatanya kembali berputar mengingat kenangan itu. Sentuhan lembut, senyuman tulus dan pelukan hangat dari wanita itu membuat hatinya selalu menghangat dan bersemangat ketika bekerja.


Namun lagi-lagi ekspektasi selalu tak sesuai harapan. Semuanya hancur dalam sekejap mata dengan ulah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin sudah waktunya aku harus melupakan kenangan itu. Ada Dian dan calon putraku yang akan mengobati rasa sakit ini. God ... biarkan aku berdamai dengan diriku dan menerima Dian menggantikan dia di hatiku. Mudah-mudahan dengan kehadiran calon putraku cepat atau lambat bayangan El akan terkikis sedikit demi sedikit," lirihnya lalu menyeka air matanya.


********


Mansion Kai ...


Di saat Tara sedang berusaha berdamai dengan dirinya, lain halnya yang dirasakan oleh El dan Kai. Walaupun akan menghadapi segala kemungkinan terburuk sekalipun, namun keduanya tetap konsisten.


"Sayang, aku sudah membayangkan akan bermain dengan anak-anak kita di taman ini," kata Kai lalu memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


El hanya terkekeh dan merasa gemas mendengar harapan suaminya itu. Ia pun tak habis pikir dengan suaminya.


"Apa segitu senangnya kamu akan memiliki anak dariku?" tanya El.


"Tentu saja, Sayang. Bahkan aku sangat berharap kamu benar-benar hamil saat itu," aku-nya lalu membenamkan kepala El di dadanya.


"Sayangnya dia tidak ingin tumbuh dan berkembang saat itu. Karena dia tahu daddynya seorang bastard menjijikkan," sindir El lalu tertawa.


Kai berdecak kesal mendengarnya. "Ck ... tapi sekarang pria bastard dan menjijikkan itu akhirnya menjadi suamimu juga," sindirnya balik.


Alih-alih marah El langsung menggigit gemas dada liatnya lalu tertawa.


"Ssssttt ... Sayang, sakit," ringisnya lalu mengecup puncak kepala istrinya. "Sayang, kok aneh ya. Sejak kamu datang, rasa mual, pusing dan rasa ingin muntah ku seketika menghilang," jelasnya.


Ia berlutut lalu mengusap dan mencium perut El yang masih rata lalu berbisik, "Kamu nggak ingin jauh-jauh ya dari Daddy. Sepertinya Daddy harus mengikuti keinginan kalian berdua."


Kai mendongak menatap lekat wajah istrinya yang sedang tersenyum.


El menangkup wajah rupawan itu lalu mengecup kedua mata suaminya lalu turun ke bibirnya.


"Sayang, aku berharap mata indah ini akan menurun ke anak-anak kita nantinya," bisiknya lalu memeluk prianya dengan erat.


Kai tersenyum seraya mengelus punggungnya.


"Jika dia cowok, dia pasti setampan dirimu ..."


"Dan jika dia cewek, dia pasti secantik dan setangguh dirimu," sambung Kai.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya 🀭☺️ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih ☺️πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2