
Sesaat setelah berada di depan pintu rumah kontrakannya, Dian memanggilnya.
"Lun! Baru pulang ya?"
Ia mengulas senyum seraya mengangguk. "Hmm ... Ada apa sih? Kelihatannya kamu lagi bahagia banget, apa mama papamu sedang berkunjung kemari?"
Dian tak menjawab melainkan mengajaknya ke rumah gadis itu. Sontak saja sikap Dian itu membuatnya bingung.
"Aku ingin mengenalkan mu dengan seseorang, lebih tepatnya calon suamiku."
"Really? Berarti, mama papamu sekarang ada di rumah dong. Kok kamu nggak bilang-bilang sih?Tapi Dian, apa nggak apa-apa ... soalnya aku masih mengenakan seragam kerja. Apa kata mereka nanti?"
"Nggak apa-apa, Lun. Dari tadi aku memang menunggumu."
El menghela nafas. Sesaat setelah keduanya berada di bingkai pintu, El kembali mematung sekaligus membuat Dian merasa heran.
"Ada apa, Lun?" tanya Dian.
Entah ia harus menjawab apa. Belum hilang rasa terkejutnya dengan kehadiran Kai, kini ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Tara dan kedua orang tuanya di Kota itu.
Yang membuatnya getir adalah rumah Dian dan kontrakannya hanya berjarak dua rumah. Ia akut jika sampai penyamarannya terbongkar.
Oh God, kenapa mereka bisa ada di Kota ini? Kai ada urusan apa dia di sini? Sedangkan Tara, jelas-jelas dia adalah calon suami Dian.
"Nak Lun, Dian, kalian ngapain bengong di situ? ayo masuk," tegur mamanya Dian.
El tersenyum getir lalu membetulkan kacamata tebalnya. "Iya, Tante."
Ia melangkah maju lalu menyapa orang yang sudah dikenalnya itu dengan sedikit canggung.
"Selamat malam, Bapak, Ibu, Mas," sapanya lalu sedikit merunduk. "Maaf, jika aku kurang sopan, apalagi masih mengenakan seragam kerja. Maklum aku baru pulang kerja."
Deg ...
Tara langsung mengerutkan keningnya sembari menatapnya lekat. Ia merasa tidak asing dengan suara gadis itu.
Namun secepat kilat ia menepisnya. Pikirnya tidak mungkin itu adalah El. Apalagi gadis itu mengenakan kacamata tebal, rambut keriting dan wajah yang dipenuhi dengan bintik-bintik coklat.
Suaranya kok, seperti tidak asing? Dia mengingatkanku pada El. Tapi nggak mungkin, mana mungkin gadis ini adalah El.
"Selamat malam juga, Nak. Tidak apa-apa, kami memaklumi kok," kata Pak Mulia.
"Lun, kenalin, ini Tara calon suamiku," kata Dian.
El hanya mengulas senyum sembari menunduk. Tak lupa ia memberi selamat pada Dian dan Tara.
Ia melirik Tara sekilas. Ada kesedihan bercampur rasa syukur. Ia merasa Dian dan Tara adalah pasangan yang cocok.
__ADS_1
Dian gadis yang baik, terpelajar dan sederajat dengan Tara. El bersyukur karena doanya untuk Tara supaya dipertemukan dengan jodoh yang baik akhirnya terkabulkan.
"Aku berharap pernikahan kalian akan berjalan lancar. Tara, rasanya aku ingin memelukmu walau hanya sebentar," gumamnya dalam hati.
Karena ia merasa sudah cukup memperkenalkan diri, akhirnya ia pun berpamitan.
"Lun, biar aku antar sampai depan pintu."
"Nggak usah, Dian. Kamu lanjut saja ngobrolnya. Oh ya, aku ingin segera mendengar kabar baik itu secepatnya," bisik El lalu terkekeh.
Sesaat setelah berada di ambang pintu, lagi-lagi ia menubruk seseorang dan hampir terjengkang kebelakang namun dengan sigap orang yang ditabraknya langsung memeluknya.
"Hati-hati," bisik pria itu lalu melepasnya.
"Maaf." El menatap pria itu.
"Kamu temannya Dian, ya?" tanyanya dan dijawab dengan anggukan.
"Sepertinya, kamu juga pernah menabrak ku sebelumnya. Apa kamu tidak mengingatnya" tanyanya lagi.
El kembali mengingat-ingat dan juga merasa tidak asing dengan wajah pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Iya. Kalau aku nggak salah, malam ketika aku pulang kerja di dekat halte," jawab El lalu terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenalin, aku Diandra, kakaknya Dian. Panggil Andra saja." El hanya mengangguk lalu mengulas senyum.
Setelah itu El kembali melanjutkan langkahnya sambil berpikir karena merasa wajah Andra tidak asing baginya.
Setibanya ia dikontrakkannya, ia duduk di tembok pembatas sambil mengingat-ingat. El membulatkan matanya setelah mengingat.
Ya dia adalah pria yang sempat menolongnya ketika keluar dari penthouse milik Kai di Kota J kala itu.
"Oh my God, dunia ini ternyata sangat kecil," bisiknya lalu melepas kacamata kemudian memijat pangkal hidungnya. Ia tak menyadari jika Andra masih memperhatikannya dari kejauhan.
"Gadis itu terlihat cantik tanpa kacamata tebalnya. Coba dia pakai softlens saja daripada memakai kacamata tebal itu," gumam Andra yang masih memandangi gadis itu.
"Kak, ngapain sih masih berdiri didepan pintu?" tegur Dian sekaligus menyadarkannya.
"Nggak apa-apa, Dian." Andra menghampiri adiknya lalu ikut bergabung di ruang tamu. "Dian, temanmu tadi kerja di mana?"
"Maksud kakak, Culun?'' tanya Dian.
Andra, Tara, Pak Mulia dan Bu Arini langsung tertawa mendengar nama itu.
"Dia kerja di Cecilia Restoran."
"Cih, kok ada ya nama seperti itu? Mungkin orang tuanya kehabisan ide kali ya," celetuk Andra masih sambil tertawa.
__ADS_1
Dian hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan sang kakak. "Ya mau bagaimana lagi, kenyataannya memang itu kan namanya."
.
.
.
Pagi harinya ...
El sudah tampak rapi dan terlihat sedang menunggu ojol di halte tempat ia biasa menunggu bis.
Ia hanya membawa ransel yang berisi laptopnya. Sambil menunggu, ia membalas satu-persatu pesan dari teman kerjanya. Dibalik maskernya ia terus tersenyum.
Tin .... tin .... tin ....
Suara klakson motor mengagetkannya. "Dengan Mbak Culun, ya," tanya Bang ojol sambil menatapnya.
"Iya, Bang." El berdiri lalu meraih helm dari tangan Bang ojol. "Bang langsung ke bandara X, ya."
"Siap, Mbak," kata Bang ojol seraya mengangkat kedua jari jempolnya.
Disepanjang perjalanan menuju bandara, El terus membayangkan motor kesayangannya dan ingin segera menziarahi makam orang tuanya dan tante Karin.
Satu jam kemudian, El akhirnya mereka tiba juga di bandara. Setelah melepas helmnya, ia pun berterima kasih. "Bang, ongkosnya sudah aku bayar lewat aplikasi, ya."
Bang ojol kembali mengangkat jempolnya. Setelah itu, ia buru-buru masuk ke dalam bandara karena pesawat yang akan ia tumpangi sebentar lagi akan take off.
Setelah melewati pemeriksaan, ia dipetbolehkan melanjutkan langkahnya ke arah pesawat yang masih menunggu penumpang.
Sesaat setelah berada di dalam pesawat, ia mencari nomor tempat duduknya. Lagi-lagi ia terkejut karena harus satu pesawat dengan Kai.
Sedari tadi, pria blasteran itu sudah duduk dengan tenang di dekat jendela pesawat dan tampak melamun.
Entah takdir apa yang kembali mempertemukan keduanya. Nomor kursi pesawat gadis itu tepat bersebelahan dengan Kai.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, was-was, khawatir dan takut, El terpaksa harus rela duduk berdampingan dengan Kai.
Kai yang terlihat melamun perlahan-lahan menoleh ke arahnya karena merasa sangat mengenal aroma parfumnya. Dengan spontan ia menyebut nama El dengan lirih.
"El."
El yang baru saja ingin mendaratkan bokongnya langsung menoleh dan otomatis mata keduanya saling bertemu.
"Ah, maaf. Aku mengira kamu gadis yang sedang aku cari," ucap Kai lalu mengulas senyum.
"Nggak apa-apa, Pak," timpal El lalu membuka topi bundarnya kemudian menyugar rambut keritingnya.
__ADS_1
Kai terus menatapnya, sedangkan El malah terlihat cuek padahal perasaannya tidak lah baik-baik saja. Sebenarnya ia khawatir, merasa gugup dan takut.
...----------------...