All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
154.


__ADS_3

Sore harinya menjelang magrib, baru lah Kai dan El meninggalkan kantor.


Dan di sini lah mereka berdua, sedang berada di supermarket membeli beberapa keperluan istrinya. Dengan sabar ia hanya mengikuti ke mana pun langkah kaki istrinya melangkah.


"Sayang, apa masih ada yang ingin kamu beli," tanya Kai.


"Nggak, aku rasa ini sudah lebih dari cukup," jawab El


"Ya sudah, kita ke kasir ya," ajak Kai dan di jawab dengan anggukan kepala oleh istrinya.


Sambil menunggu giliran, Kai kembali mengelus perutnya karena merasakan mual.


"Sayang ... apa kamu merasakan mual?" tanya El seraya ikut mengusap perut suaminya dengan lembut.


"Hmm, sedikit," bisiknya lalu mengulas senyum. "Sayang aku kepengen makan mie ayam," bisik Kai sambil membayangkan makanan sejuta umat itu.


"What!!! Sayang, kamu sedang nggak bercanda kan?" tanya El seolah tak percaya. "Bukannya kamu nggak suka makan makanan seperti itu?"


"Please ... aku pengen makan di tempat kita makan saat itu," bujuknya.


El seolah tak percaya mendengar omongan suaminya. Ia berdecak kesal karena sudah malas ke warung itu. Yang ada di benak pikirannya sekarang saat ini adalah pulang dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.


Namun karena merasa kasian pada suaminya akhirnya mau tidak mau ia hanya menuruti permintaannya.


"Ini pasti ulah kalian ya? Apa kalian tahu? Daddy sangat jijik makan di warung pinggir jalan. Tapi demi kalian sekali-kali kerjain si bule itu nggak apa-apa kali ya," gumam El dalam hati sambil terkekeh.


Setelah membayar barang belanjaan. Keduanya kini kembali melanjutkan perjalanan ke warung yang di maksud.


Saat memasuki warung, El kembali terkekeh mengingat saat ia mengerjai suaminya kala itu.


"Sayang, tunggu sebentar ya, aku pesan dulu. Jangan khawatir aku nggak akan memesan yang super pedas seperti waktu itu. Tapi sesuai selera orang bule sepertimu," kata El sambil terkekeh merasa gemas.


Kai berdecak kesal sekaligus merasa gemas. Ia memperhatikan warung yang baginya jauh dari kata layak baginya.


Ia tak habis pikir, kok bisa-bisanya ia pengen makan di warung itu, padahal ia paling jijik makan di tempat seperti itu.


"Istriku yang hamil kok aku yang ngidam," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.


Pengunjung yang sedang makan di warung itu terus memperhatikan dirinya.


Tak lama berselang El menghampirinya lalu duduk di sampingnya kemudian bertanya, "Sayang, kamu pengen minum apa?"


"Samaan sama kamu saja Sayang," cetusnya.


"Ya sudah, kita pesan es teh saja ya," kata El lalu meminta mang warung membuatkan dua es teh.


Sambil menunggu, Kai terus menatap wajah istrinya lalu menggenggam tangannya.


"Sayang, apa kamu sering makan di warung seperti ini?"

__ADS_1


"Hmm ... bahkan sejak aku masih duduk di bangku SMA," jelas El.


Kai hanya manggut-manggut lalu mengulas senyum. Beberapa menit kemudian, mie ayam dan es teh pesanan mereka pun diantar lalu disajikan.


"Makasih ya, Mang," ucap El.


"Sayang, ini nggak pedas kan," tanya Kai.


"Nggak, cobain saja," jawab El.


Kai hanya mengangguk lalu mulai menyantap mie ayamnya.


"Sayang, ini enak banget," pujinya dan kembali melanjutkan makannya.


"Tentu saja enak, soalnya kamu lagi ngidam coba lagi nggak. Pasti sudah muntah."


Kai berdecak namun mengabaikan ledekan istrinya. "Ledek saja terus sampai puas," batin Kai lalu menghabiskan makanannya.


"Loh ... Sayang, kok cepat banget habisnya," tanya El.


"Aku masih pengen satu porsi lagi," pintanya tanpa rasa malu.


El melongo seolah tidak percaya. "What!!" El menempelkan punggung tangannya ke kening suaminya.


"Ck ... apaan sih Sayang. Aku nggak demam," protesnya.


"Pppfffff .... hahahaha."


Setelah hampir tiga puluh menit menghabiskan waktu di warung itu, keduanya akhirnya kembali melanjutkan perjalanan pulang ke mansion.


********


Setibanya di mansion ...


El langsung menuju kamar lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Entah mengapa ia merasa sangat lelah hari ini.


Mungkin karena bawaan janin. Tanpa mengganti pakaiannya ia malah tertidur tidak menghiraukan suaminya yang masih berada di lantai satu.


"Bi, tolong buatkan El susu ini ya. Nanti tolong antar ke kamar," pinta Kai lalu menyerahkan barang belanjaannya.


"Baik Tuan," ucap bi Aira.


Kai melanjutkan langkahnya ke arah pantry lalu mengambil segelas air kemudian membawa ke kamar.


Ia menggelengkan kepalanya saat mendapati El malah tertidur.


"Kebiasaan banget sih, pasti begini modelnya jika sudah kecapean," gumamnya lalu meletakkan gelasnya di atas lemari nakas.


Ia membuka laci lalu mengambil obatnya.

__ADS_1


"Sayaaaang ..."


Seketika Kai terlonjak. Dengan cepat ia menyembunyikan obatnya lalu menoleh. Ia mengusap dadanya sambil menghela nafasnya


"Lord ... rupanya dia hanya mengigau," ucapnya lirih lalu cepat-cepat meminum obatnya. Setelah itu ia mengelus wajah El lalu membangunkannya.


"Sayang, ayo bangun sebentar, bersihkan dulu dirimu," bujuknya.


"Ngantuk ..." bisiknya.


"Aku tahu kamu ngantuk, tapi setidaknya mandi dulu, biar tubuhmu agak enakkan," bujuk Kai lagi.


Dengan terpaksa El menurut patuh kemudian merubah posisinya menjadi duduk. Bukannya ke kamar mandi ia malah memeluk suaminya dengan gemas.


"Kenapa hmm?" bisik Kai lalu mengecup keningnya.


El menggeleng dengan jemari yang kini terus bermain di dada suaminya. Melepas satu persatu kancing kemejanya.


Kai menahan jemarinya lalu tersenyum. "Mau bercinta dulu sebelum kita lanjut mandi?" goda Kai dengan berbisik.


"Dasar mesum," ucapnya lalu terkekeh.


"Mesum sama kamu saja, Sayang," balas Kai lalu mencium bibir istrinya dengan lembut.


Bak gayung bersambut, El membalas ciuman suaminya. Awalnya biasa saja namun semakin lama Kai semakin menuntut. Namun terpaksa mereka hentikan ketika pintu kamar di ketuk.


"Damn!!!!" Selalu saja begini. Mereka datang di waktu yang nggak tepat," umpat Kai dalam hati.


Mau tidak mau ia melepaskan tautan bibirnya. Sedangkan El ia tertawa lucu mendapati wajah kesal suaminya.


"Sayang, buka pintunya aku ke kamar mandi dulu," pinta El lalu lanjut ke kamar mandi.


"Ck ... pasti bi Aira," kesal Kai lalu segera beranjak dari sisi ranjang menuju pintu.


"Tuan, saya membawakan susu untuk Nona El," kata bi Aira.


"Hmm ... makasih ya, Bi," ucap Kai sekaligus membiarkan bi Aira masuk ke kamar meletakkan nampan di meja sofa. "Oh ya, Bi, sekalian bawakan satu teko air putih ke sini ya."


"Baik Tuan."


Sepeninggal bi Aira, Kai duduk di sofa lalu menatap pigura besar foto pengantinnya.


"Sayang ... kamu terlihat sangat cantik. Tetaplah bersamaku hingga di hembusan nafas terakhirku," ucap Kai dengan lirih.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2