All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
99. Hal yang membuatku takut adalah kehilangan orang yang aku cintai ...


__ADS_3

"Sayang, ayo." Kai merangkul pinggang ramping gadis itu. "Kita ke restoran dulu. Apa kamu suka makan seafood?" tanya Kai.


"Suka tapi aku masih kenyang," jawabnya.


"Ya sudah kita ke kamar saja dulu sambil menunggu sore hari."


"Ide yang bagus menurutku," sahut El dengan seulas senyum.


Keduanya kembali mengayunkan langkah hingga sampai di kamar khusus Kai yang ada di resort itu. Setelah menekan password pintu, keduanya langsung masuk ke kamar itu.


Sesaat setelah berada di dalam kamar, El langsung mengarahkan langkah kakinya ke arah balkon.


"Laut dan pantai, aku sangat menyukainya," ucapnya sembari menutup mata menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang bertiup menerpa wajah serta tubuhnya.


"Biar aku tebak, kamu pasti sangat menyukainya," bisik Kai sesaat setelah berada tepat dibelakangnya.


El hanya mengangguk pelan lalu membalikkan badan menghadapnya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang nan liat prianya.


"Aku baru tahu ternyata dibalik sikap bar-bar, dingin dan ketusmu itu, ternyata kamu juga bisa bersikap manja seperti ini," bisik Kai lalu membenamkan dagunya di puncak kepala wanitanya.


El hanya tersenyum lalu berkata, "Kepada siapa lagi aku harus bermanja-manja selain dirimu? Karena saat ini yang aku miliki hanya kamu dan mamamu."


Mendengar ungkapan yang terucap dari El, Kai merasa terenyuh sekaligus merasa bersalah.


Hening sejenak ...


" Sayang." El membuka suara sekaligus memecah keheningan yang tercipta.


"Hmm," sahut Kai lalu mengecup keningnya.


"Hal yang sangat membuatku takut adalah kehilangan orang-orang yang aku sayangi dan aku cintai," ucap El dengan lirih.


"Aku berjanji nggak akan pernah meninggalkanmu kecuali maut yang akan memisahkan kita," bisik Kai. "Aku ingin kita hidup bahagia kelak bersama anak-anak kita. Aku ingin memiliki anak yang banyak darimu. Secara, kita berdua kan sama-sama anak tunggal."


El langsung terkekeh mendengar penuturan sang calon suami. Masih menyandarkan kepalanya di dadanya.


Keduanya sama-sama mengarahkan pandangannya ke arah yang sama. Ke arah hamparan pasir putih dan air laut yang berwarna biru.


Hening ...


yang terdengar hanyalah suara deburan ombak kecil dan tiupan khas angin semilir yang menerpa keduanya.


.


.


.


Sore harinya kini keduanya terlihat sedang berada di salah satu restoran sambil menikmati seafood pesanan Kai. El hanya terkekeh menatapnya yang begitu lahap menyantap makanan yang tersaji.

__ADS_1


"Waahh ... sepertinya kita bakalan memiliki anak yang banyak," celetuk El.


"Benarkah?" tanya Kai dengan sembringah.


"Hmm, apa kamu memang sangat menyukai makanan seafood?"


"Ya."


"Pantasan saja." El tidak melanjutkan ucapannya namun langsung tergelak.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Kai sambil memasukan daging lobster ke mulut.


"Soalnya seafood itu salah satu makanan penambah ghairah," jelas El. "Semakin sering kamu mengkonsumsinya maka semakin bertambah dan meningkatnya pula libidomu."


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Kai langsung tersedak makanannya mendengar ucapan El yang lolos begitu saja dari bibir tipisnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya El sembari menepuk-nepuk punggungnya. "Nih minum dulu."


Kai langsung meneguk air yang di sodorkan padanya hingga tandas. Setelah itu, ia pun menoleh ke arahnya El.


Seringai penuh arti terbit di sudut bibirnya lalu berbisik, "Harusnya kamu juga ikut makan, sayang. Biar kita sama-sama berghairah dan seimbang bermain panas."


El langsung mencebikkan bibir dengan mata menyipit lalu mencubit perutnya dengan gemas. "Huh! Dasar om om mesum!"


Kai kembali membalas. "Om ini yang akan me ...."


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, El langsung menjepit bibirnya.


"Hmm, baiklah. By the way, aku sudah selesai." Kai membersikan kedua tangannya dengan serbet makanan lalu mengajak El meninggalkan restoran itu.


Keduanya tak menyadari jika sedari tadi, Tara terus memperhatikan keduanya dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk.


Ia seolah tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Ia pun tersenyum sinis sekaligus merasa miris.


Kedua tangannya terkepal kuat. Entah mengapa hatinya begitu sakit melihat keduanya yang terlihat bahagia.


Tak lama berselang Dian menghampirinya lalu menyapanya.


"Tara, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kesal?" tanya Dian lalu duduk di sampingnya.


"Nggak apa-apa," sahutnya lalu mengajak Dian menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja.


"Dian."


"Ya, ada apa?"


"Bisa aku bertanya sesuatu padamu?"


"Tentu saja."

__ADS_1


"Maaf jika aku bertanya tentang temanmu, Culun."


"Culun?" Dian terkekeh mengingat temannya itu. "Tentu saja boleh. Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja," kata Dian.


"Apa kalian sudah lama berteman?" tanya Tara.


"Iya, sejak pertama kali dia pindah dan bertetangga denganku," jawab Dian apa adanya.


"Jujur saja aku cukup terkejut saat tahu wajah aslinya ternyata cantik banget. Dia gadis yang baik dan ceria namun kadang bersikap absurb."


Tara hanya tersenyum tipis. "Dia memang cantik, lembut dan penyayang," gumamnya dalam hati.


Dian akhirnya menceritakan semuanya tentang gadis itu tanpa ada satupun yang ia tutupi Sedangkan Tara hanya menjadi pendengar.


"Aku sudah menduganya."


Beberapa menit kemudian ...


Dian menggandeng lengan suaminya sambil mengayunkan langkah ke arah Pantai. Sesaat ketika mereka hampir sampai di hamparan pasir putih itu, Dian menghentikan langkahnya.


"Itu kan, Culun? Tapi kok, dia nggak memakai kacamata tebalnya lagi? Cantiknya," ucap Dian pelan tapi masih bisa didengar oleh Tara.


Ia pun mengarahkan pandanganya ke arah yang sama dengan Dian. Hatinya mencelos ketika menatap pasangan sejoli itu.


"Tara, ayo kita sapa mereka berdua," cetus Dian sembari menarik lengan kekar suaminya.


"Lun!!!" panggil Dian.


El yang terlihat sedang memeluk Kai, perlahan menoleh ke arah sumber suara. "Dian?" ia tersenyum lalu melambaikan tangannya.


Tanpa perencanaan yang tak terduga mereka kembali bertemu. Kai tersenyum sinis menatap Tara yang tak kalah sinis balik menatapnya. Ketegangan kembali tercipta diantara kedua pria itu.


"Lun? Tu ..." ucapan Dian seketika tertahan.


"Panggil Kai saja," sahut Kai cepat sekaligus memotong kalimat Dian. "Soalnya aku dan Tara adalah sahabat. Kamu dan El adalah teman. So ... nggak perlu formal begitu." lanjutnya dengan santai. "Bukan begitu Tara?"


Kai mengulas senyum sembari memandangi Tara yang terlihat tak suka padanya.


Mendengar ucapan frontal dari Kai, Tara merasa geram dan merasa dongkol.


"Benarkah?" tanya Dian seraya menatap suaminya.


Tanpa mengucap sepatah kata,Tara hanya mengangguk sekaligus mengiyakan ucapan kai walau dalam keadaan terpaksa. Namun menatap kesal pria blasteran itu.


El hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap tengil Kai yang seolah memancing emosi ex asistennya itu.


"Sayang ... aku dan Dian pengen ngobrol sebentar. Kalian lanjutkan saja obrolannya," kata El dengan seulas senyum lalu menggandeng tangan Dian kemudian meninggalkan kedua pria itu.


"Sayang ...? Panggilan itu terdengar tulus dan nggak dibuat-buat," gumam Tara dalam hatinya dengan perasaan iri sekaligus cemburu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2