
Di sepanjang perjalanan, El tidak banyak berbicara. Sesekali hanya melirik Kai yang terlihat fokus menyetir sambil menggenggam jemarinya.
"Ada apa hmm ..." Kai membuka suara. El hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
Tak lama berselang, mobil yang dikendarai oleh Kai berhenti tepat di depan pintu gerbang kampus.
"Sayang, aku masuk dulu ya," pamit El sebelum membuka pintu mobil. "Nanti aku akan menghubungimu."
"Baiklah. Mendekatlah," pinta Kai dan El hanya menurut. Kai langsung mendaratkan kecupan di kening dan bibirnya.
"Sudah?" El mengulas senyum lalu mengusap bibir Kai. "Selamat bekerja ya, Sayang. Semoga harimu menyenangkan," bisiknya lalu balas mengecup pipi Kai. Setelah itu, ia membuka pintu mobil lalu melambaikan tangannya.
Setelah memastikan mobil Kai menghilang, barulah ia melangkah masuk ke dalam kampus.
Hingga sampai di dalam kelasnya lalu menyapa teman-temanya seperti biasanya.
Merasa tidak mengenal sosoknya, teman kelasnya dibuat terheran-heran. El langsung terbahak menatap ekspresi teman-temannya itu.
"Guys, ini aku, Culun," jelasnya.
Teman-temannya yang ada di dalam kelas saling berpandangan sekaligus bengong.
El yang tak ingin ambil pusing menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya. Tersenyum merasa lucu menatap ekspresi teman-temannya yang menatapnya dengan heran.
.
.
.
Kai yang baru saja tiba di kantornya langsung di sambut oleh Richard.
"Richard, ini kunci rumah El. Lakukan saja seperti yang aku perintahkan semalam," tegas Kai.
"Sekarang, Tuan?" tanyanya.
"Lalu? Kamu ini," kesalnya lalu menyentil jidat sang asisten.
"Baik, Tuan." Richard menggaruk kepalanya lalu terkekeh kemudian meraih kunci rumah El dari Kai.
.
.
.
Dian kembali dibuat kesal oleh suaminya. Bagaimana tidak, Tara masih saja tertidur. Aroma alkohol kembali menyeruak dari tubuhnya.
"Apa semalam, dia minum lagi ya?" gumamnya.
"Tara, bangun!" Dian menepuk punggung suaminya. "Tara! Bangun. Kita harus siap-siap!"
Tara hanya menggeliat sedangkan Dian mendengus kesal menatap suaminya lalu mencubit perut liatnya.
"Sssst .... El, sakit Sayang." Tanpa sadar masih dengan mata terpejam sambil menahan tangan Dian di perutnya.
Dian menautkan alisnya lalu dengan cepat ia menarik tangannya. Hatinya mencelos, sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
"El? Nggak mungkin kan, El Culun?" gumamnya pelan.
__ADS_1
"Tara!" panggilnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi lalu menepuk pipi suaminya itu. Namun Tara masih saja belum peka.
"Sayang ... lima menit lagi," bisiknya lalu menarik Dian kemudian memeluknya.
Pikirnya itu El. Ia semakin mengeratkan pelukannya lalu mengendus leher istrinya.
"Tara, lepasin! Kamu bau minuman," protes Dian.
"Ck ... apa sih El. Biarkan aku memelukmu sebentar saja lagi," bisiknya.
Dian bergeming, sakit dan kecewa yang ia rasakan mendengar suaminya terus menyebut nama wanita lain.
Buliran bening langsung lolos dari kelopak matanya lalu jatuh tepat ke dada suaminya.
Merasa seperti ada air yang jatuh ke dadanya, perlahan Tara membuka matanya dan langsung kaget saat ia mendapati Dian sedang manangis dalam pelukannya.
"Dian ..." ucapnya lirih lalu mengelus kepala istrinya itu.
Dian hanya bergeming, menumpahkan air matanya. "Apa ini alasannya kamu belum mau menyentuhku?" batinnya.
"Tara, siapa El? Kenapa kamu sering menyebut namanya dalam keadaan nggak sadar? Bahkan di hari pertama pasca kita menikah, nama itu yang pertama kamu sebut. Bukan hanya itu, kamu juga memanggilnya sayang," jelas Dian dengan suara bergetar.
"Tara hanya bergeming lalu merutuki dirinya sendiri. "Apa aku menyebut namanya lagi? Sh*it!!" umpatnya dalam hati.
Bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dian padanya.
"Sudahlah, sebaiknya kamu mandi. Mungkin Momy sudah menunggu kita di bawah," serunya. "Kita harus siap-siap soalnya hari ini kita akan berangkat ke Maldives."
Tara menatapnya lekat sekaligus merasa bersalah. Memeluk wanita yang telah sah menjadi istrinya itu meski pun ia belum mencintainya.
"Maafkan aku, Dian. Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya," bisiknya. "Ini nggak mudah bagiku," lanjutnya lalu mengecup kening dan bibir Dian. Setelah itu, ia bangkit dari tempat tidur lalu ke kamar mandi.
"Aku akan cari tahu, apakah El yang kamu maksud itu adalah Culun ataukah El yang lain," ucapnya lirih.
.
.
.
Siang harinya ...
Setelah selesai mengikuti mata kuliah, El langsung memesan ojol untuk pulang ke kontrakannya.
Sambil menunggu, ia tampak termenung memikirkan Kai bahkan mengkhawatirkannya. Dari pengamatannya, ia sudah tidak pernah lagi melihat Kai merokok bahkan menyentuh minuman beralkohol.
Asik dengan lamunannya, suara klakson motor langsung membuyarkan semua lamunannya.
"Maaf, dengan Mbak Ellin Davina, ya?" tanya bang ojol.
"Iya, Bang. Tolong antar aku ke jln xxx ya, Bang," pintanya.
"Siap, Mbak," balas bang ojol lalu memberikan El helm.
Di sepanjang perjalanan, El kembali memikirkan Kai. Entah mengapa, ia merasa Kai menyembunyikan sesuatu darinya.
Beberapa menit kemudian, ia pun tiba di rumah kontrakannya.
"Terima kasih ya, Bang. Ongkosnya sudah aku bayar lewat aplikasi," kata El.
__ADS_1
"Iya, Mbak."
El kembali melanjutkan langkah kakinya ke arah rumah kontrakannya lalu mengeluarkan kunci serep.
Sesaat setelah masuk ke dalam kamarnya, ia begitu terkejut ketika mendapati ruangan itu sudah kosong dan bersih.
Seketika darahnya seolah mendidih. Ia mengepalkan kedua tangannya sekaligus merasa geram.
"What the hell!!!" geramnya. "Sayang, kamu ingkar janji. Ternyata ini alasanmu ya mengajakku menginap di apartement. Menyebalkan!"
Dengan perasaan geram bercampur emosi, El meninggalkan rumah kontrakannya menuju halte lalu kembali memesan ojol.
Sambil menunggu, tak henti-hentinya ia menggerutu kesal. Karena sudah tidak bisa menahan untuk melampiaskan emosinya akhirnya ia menghubungi Kai.
Ia semakin merasa jengkel karena Kai tidak menjawab panggilannya. Merasa belum puas, ia kembali menghubungi sampai beberapa kali, namun panggilan darinya tetap tak dijawab.
Akhirnya ia menghubungi Richard. Hanya di deringan pertama, Richard langsung menjawab panggilan darinya.
"Richard, ke mana si Mr. Bule hah!" bentaknya.
"Tu-Tan Kai, sedang ra-rapat Nona El," jelas Richard terbata.
"Gara-gara si bos, aku pun kena imbasnya."
"Beneran rapat atau memang sengaja nggak mau menjawab panggilan dariku?!" tanyanya menyelidik.
"Be-beneran, Nona El. Tuan sedang rapat," jelasnya lagi dengan terbata.
"Ya sudah ..." El langsung memutuskan sambungan telefon bersamaan tibanya bang ojol.
"Bang, tolong antar aku Gloria Abraham," pintanya.
"Baik, Mbak."
Bang ojol pun mengantarnya hingga sampai di depan gedung kantor itu. Setelah berterima kasih, ia pun melangkah cepat ingin segera melampiaskan kekesalannya pada Kai.
Sesampainya di ruang kerja sang empunya kantor, ia semakin dibuat jengkel karena Kai tidak berada di ruangan itu.
"Awas saja nanti," gumamnya lalu melepas ranselnya. Meletakkan di atas meja kerja Kai lalu menatap foto keluarga pria itu.
Lama ia menatap foto itu sebelum akhirnya ia duduk di sofa. "Ck ... Kai mana sih?! Apa dia sengaja?" gerutunya.
Karena bosan menunggu, ia pun berbaring di sofa itu dan malah tertidur.
Tiga puluh menit kemudian ...
Kai dan Candra pun masuk ke ruangan itu. Mendapati El sedang tertidur di sofa, ia hanya menggelengkan kepalanya lalu terkekeh.
"Candra, sebentar ya," Kai lalu menghampiri El. "Sayang ..." Kai mengelus pipinya lalu mengecup keningnya.
Merasa tidak enak melihat keduanya Canda memilih pamit.
"Kai, sebaiknya aku kembali ke kantorku saja. Hubungi aku jika ada yang ingin kamu tanyakan."
Kai hanya mengangguk. Sepeninggal Candra, Kai mengulas senyum menatap wajah teduh El.
"Kai bersiaplah, sebentar lagi gadis bar-bar ini akan mengamuk."
...----------------...
__ADS_1