All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
84.Cintaku tulus bukan karena simpati ...


__ADS_3

"Lun, sudah lama?" sapa Kai sekaligus bertanya.


El langsung terlonjak kaget lalu menoleh ke arah Kai.


"Nggak juga," jawabnya singkat. "Oh ya, orderan makan siangmu ada di atas meja sofa." El masih berdiri di tempat.


"Ya, terima kasih. Kemarilah sebentar dan duduk di sini," pinta Kai sembari menunjuk kursi yang ada di depan meja kerjanya.


El menyipitkan matanya dan tetap bergeming. "Nggak ah, aku nggak mau. Cepetan bayar dan aku ingin segera kembali bekerja," ketusnya.


"Aku nggak akan bayar jika kamu nggak mau menurutiku," sahut Kai dengan seringai tipis.


"I'ts ok, no matter," ucap El lalu menghampiri pintu kemudian ingin membukanya.


"Aku sudah menduganya," gumam Kai dalam hatinya.


El semakin dibuat kesal karena pintunya tidak bisa dibuka. "Maunya apa sih! Ih ... ngeselin banget!" El membatin kesal.


"Culun atau lebih tepatnya Ellin Davina." Kai menyebut dua nama itu sambil menatap punggung El yang masih membelakanginya.


Deg ...


Dengan susah payah El menelan salivanya namun sebisa mungkin ia bersikap tenang. Ia kembali memutar-mutar handle pintu.


"Pintunya nggak bakalan terbuka El, aku sudah menguncinya. Look at this key," kata Kai sambil menggoyangkan kunci yang di pegangnya.


Damn!!


El berbalik lalu menghampiri Kai yang sedang bersandar di meja kerjanya. Ia tersenyum semanis mungkin lalu menatap Kai kemudian merapikan jasnya.


"Apa kamu bisa membuktikan jika aku adalah El, Mr.Bule Bastard?" tanya El.


Setelah itu, ia pun mendaratkan bokongnya di kursi yang Kai tunjuk tadi.


"Jika aku bisa membuktikan kamu adalah El, apa yang akan kamu berikan padaku?" Kai balik bertanya lalu perlahan berjongkok di hadapan El.


El terdiam. "Oh God, gimana ini? Apa dia benar-benar sudah tahu? Tapi bagaimana bisa?" tanya El dalam hatinya.


"Aku bukanlah tipe orang yang suka berjanji. So ... to the poin," jawab El dengan perasaan getir.


Kai berdiri lalu mengambil map berwarna coklat yang ada di atas meja kerjanya kemudian memberikannya pada El.


"Buka dan bacalah, kamu akan mengerti dengan tanda yang sudah aku lingkarkan. Bandingkan," jelas Kai sambil menatap El.


El meraih map berwarna coklat itu lalu membukanya. Ia meneliti secara detail lembar demi lembar kertas yang di pegangnya.


"Bagaimana bisa dia tahu semua ini?! Kenapa aku begitu bodoh tidak mengubah nama mama dan papa hari itu? El, di sini letak kesalahanmu. Aku harus bagaimana sekarang?"


Ditengah kalut dan getirnya perasaan El. Kai menegurnya. "Bagaimana? Apa kamu masih ingin menyangkal jika kamu adalah Ellin Davina?"


"Anak dari Pak Sandoro Aditya dan Ibu Ivana. Keduanya berprofesi sebagai TNI, meninggal karena kecelakaan. Apa kamu ingin menyangkalnya, hmm?" tanya Kai.


El langsung beranjak dari tempat duduknya. Kai ikut berdiri lalu menghampiri El. Namun El berjalan mundur.


"Jangan mendekat." Buliran bening ikut lolos dari kelopak matanya.

__ADS_1


"El ... listen to me ..."


"No ...!" Aku akan teriak jika kamu mendekat," ancamnya.


Kai hanya mengulas senyum mendengar ucapan El. Alih-alih berhenti, Kai malah terus mendekat lalu memeluk wanita yang begitu ia cintai dan ia rindukan itu.


"Teriak saja, maki saja dan pukul saja aku sepuasnya jika kamu ingin, tidak ada yang akan mendengarnya karena ruangan ini kedap suara," bisik Kai.


El bergeming dalam dekapan Kai. Kakinya seolah tidak bisa menopang tubuhnya, ia merasa lemas ingin berlari pun ia tidak bisa.


"Kai," ucapnya lirihnya.


Kai sedikit mengurai dekapannya lalu menatap wajahnya. "Untuk apa kamu melakukan semua ini, hmm? Kacamata, freckless, rambut yang sengaja dibuat keriting. Untuk apa El?" tanya Kai sembari melepas kacamata tebalnya lalu menghapus freckless di wajah cantik gadis itu.


"Cukup dan akhiri ini semua," ujar Kai lirih dengan suara bergetar.


El hanya dian membisu. Lidahnya keluh, ingin menyangkal pun ia tak bisa karena semua bukti sudah terpampang jelas di depan matanya.


"El, aku menemukanmu setelah lebih dari setahun," bisik Kai dan kembali mendekapnya erat.


"Jangan menghindar dariku, jangan menghilang lagi, dan jangan pergi meninggalkanku lagi. Aku kan sudah berjanji akan menikahimu. Tapi kenapa hari itu kamu malah menghilang?"


"Please .... aku mohon, El, jangan tinggalkan aku lagi karena aku bisa gila."


Sedetik kemudian Kai langsung berlutut lalu memegang kedua kaki El. Merapatkan keningnya ke lutut gadis itu sambil menangis.


Sontak saja ulah pria bermanik hazel itu membuat El sangat terkejut.


"Kai ... jangan seperti ini." El sedikit membungkuk memegang kedua tangan kekar pria blasteran itu mengisyaratkan supaya ia kembali berdiri.


Kai mendongak lalu menggeleng. "Aku nggak akan berdiri dan akan terus berlutut seperti ini sebelum kamu berjanji padaku," ucapnya lirih.


"Kai ... aku bukan tipe wanita yang suka berjanji. Jadi aku mohon berdirilah kita bisa bicara baik-baik," pinta El lagi.


Kai bergeming dengan posisi yang sama seolah enggan. Namun El terus membujuknya. Ketika ia ingin berdiri ia mengusap perutnya.


"Akhh ... ssssttt," rintihnya disertai ringisan.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya El dengan kerutan tipis di kening.


"Ya, aku baik-baik saja," jawabnya lalu membawa El masuk ke dalam pelukannya. Mengecup lama dan dalam kening gadis itu. "Aku mencintaimu, El. Cintaku tulus bukan karena simpati, percayalah padaku."


"Aku mohon jangan tinggalkan aku Lagi. Sudah cukup aku menderita serta terpojok mencari keberadaanmu. Dan nyatanya kita begitu dekat. Dalam waktu dekat, aku akan membawamu ke Jerman untuk bertemu dengan mama. Kamu mau kan?" tanya Kai.


"Kai ... aku belum siap dan beri aku waktu, please."


"Tapi, El ..."


"Please ..."


"Baiklah," ucap Kai mengalah.


"Buka pintunya karena aku merasa sudah terlalu lama berada di sini. Aku harus kembali ke restoran," pintanya lalu mengambil kacamatanya.


Mau tak mau Kai hanya menurut lalu menghampiri pintu. Sesaat setelah pintunya dibuka, El kemudian berpamitan.

__ADS_1


"Oh ya, kamu belum membayar," kata El sembari menadahkan telapak tangannya.


"Tapi aku nggak punya duit cash adanya ini saja," sahutnya lalu mengeluarkan black card nya.


"Cih! Kamu pasti sengaja kan?" kesal El.


Kai terkekeh menatap wajah kesal gadis itu. "Nih, nanti kamu transaksi pakai ini saja di restoran," timpal Kai.


"Nggak usah, anggap saja aku yang traktir kamu hari ini. Tapi makanannya tolong dihabisin jangan ada sisa," pesan El dengan ketus. Setelah itu ia berlalu meninggalkan Kai.


Kai hanya tersenyum mendengar ucapan ketus gadis itu. "Masih saja judes."


Sedangkan El yang kini sudah berada di parkiran langsung menatap wajahnya kemudian memakai masker. "Aku terpaksa izin hari ini," gumamnya.


.


.


.


.


Kembali ke Kota A ...


Tampak Tara sudah berada di rlsalah atau restoran mewah tempat kedua orang tuanya dan Dian menunggunya.


"Maaf aku sedikit terlambat," kata Tara sesaat setelah tiba di tempat itu. Ia lalu duduk di samping Dian.


"Nggak apa-apa, Nak," sahut Pak Devan dan Bu Indira calon mertuanya.


"Dian, kenapa kamu nggak mengabariku jika kamu sudah tiba di kota ini," tanya Tara.


"Nggak apa-apa Tara. Aku tahu kamu sibuk," jawab Dian.


"Ok, kalau begitu kita langsung ke inti pembicaraan saja," kata Tara tanpa basa basi.


"Sayang, kami sudah sepakat jika seminggu lagi kalian akan menikah. Semua persiapan sudah momy atur termasuk undangan yang akan disebar dua hari lagi," jelas bu Arini.


"Akad nikah akan dilangsungkan di kediaman pak Devan. Sedangkan resepsinya akan digelar di salah satu hotel bintang lima milik Kai sahabatmu," pungkas bu Arini.


Mendengar nama Kai, Tara langsung mengepalkan kedua tangannya lalu membatin, "Kenapa harus di hotel pria brengsek itu!"


"Baiklah," ucap Tara dengan nada dingin.


"Besok ajaklah Dian fitting baju pengantin di Gloria Boutique," seru bu Arini.


"Iya Mom. Dian besok aku akan menghubungimu setelah selesai bertemu klien," kata Tara.


"Iya, nggak masalah," timpal Dian dengan seulas senyum.


Setelah itu mereka melanjutkan acara makan siang. Sementara yang lain menikmati makan siang sambil saling mengobrol, tapi tidak bagi Tara.


Perasaannya semakin kalut dan hampa. Ia seakan tak rela jika harus menikahi wanita yang tidak ia cintai. Ingatanya kembali berputar mengingat ucapan Kai beberapa bulan yang lalu.


"Jika kamu masih berharap pada El lalu meninggalkan Putri Pak Devan, itu sama saja kamu sama brengseknya dengan diriku."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2