
Pagi harinya ...
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, biasanya El akan bangun lebih awal. Tapi kali ini ia masih tampak tertidur lelap di bed pasien sang suami.
Sedangkan Kai sejak tadi, ia sudah terlihat fresh dan sudah mengganti pakaiannya dengan baju yang jauh-jauh hari telah disiapkan El untuknya.
Sejak tadi pula ia terus menatap wajah istrinya sambil mengelus perutnya.
"Maafkan aku, Sayang. Betapa khawatirnya dirimu padaku. Setiap hari aku mendengarmu berbicara padaku, suara tangisanmu dan genggaman tanganmu. Namun aku tidak bisa membuka mataku apalagi menggerakkan tubuhku," desis Kai lalu mengecup lama kening dan perut istrinya.
Clek ....
Terdengar suara pintu dibuka olah seseorang. Perlahan Kai memutar tubuhnya lalu menatap ke arah sumber suara. Seketika matanya berkaca-kaca melihat sang mama dan sepupunya.
"Mama ... Damian ..." lirihnya seraya merentangkan kedua tangannya ingin memeluk keduanya.
"Sayang ..."
"Kai, my cousin. Akhirnya kamu siuman juga," lirih Damian lalu merangkulnya begitu juga mama Glori. Keduanya menangis bahagia.
Untuk sesaat ketiganya larut dalam perasaan haru biru. Sementara El masih tertidur.
"Paman, dan bunda ..."
"Mereka sudah berangkat ke kota A kemarin," kata mama.
Kai menelirik sepupunya. Bagaimana denganmu?" tanya Kai.
"Sejauh ini aku sudah membaik," jawab Damian lalu tersenyum mengelus punggung Kai.
"Syukurlah," lirihnya lalu menoleh sejenak ke arah El yang masih terlelap.
__ADS_1
"Sayang, mama membawa makanan untukmu. Sebaiknya kamu sarapan dulu," tawar mama lalu menghampiri meja sofa kemudian menata makanan yang di bawanya.
Setelah selesai menata makanan, Kai dan Damian menghampiri meja sofa lalu duduk bersama.
"Sarapanlah, Nak. Nggak usah khawatir. Mama sudah menyiapkan makanan untuk El sekaligus susunya," jelas mama yang mengerti dengan raut wajah Kai yang terus menatap istrinya dari sofa tempatnya duduk.
.
.
.
Sementara, di hotel tempat Tara dan Dian menginap, keduanya ikut merasa bahagia setelah mendapat kabar jika Kai sudah sadar dari Mike.
Rona wajah bahagia kini tergambar jelas di wajah Tara. Ia seperti tidak sabaran ingin segera menjenguk ex boss-nya itu.
"Son ... uncle Kai sudah sadar. Kita akan bertemu dengannya," kata Tara sambil memegang jemari mungil putranya.
Ia menoleh ke arah Dian lalu menghampirinya.
Dian menatapnya sambil mengangguk. "Kita berdoa saja semoga El dan Kai mau memaafkan mu, terutama El," tutur Dian. "Ucapan dan hinaan yang kamu lontarkan padanya tentu saja membuatnya terluka bahkan itu sama saja kamu menuduhnya tanpa tahu yang sebenarnya," sambung Dian. "Apapun itu aku yakin, El pasti akan berbesar hati mau memaafkan mu," kata Dian sekaligus memberi semangat pada suaminya.
"Terima kasih, Dian," lirihnya lalu memeluk istrinya sambil menangis.
"Tara, apa kamu tahu? Jujur saja aku sangat kecewa padamu tapi aku bisa memaklumi. Sebelum kamu menjelaskan hubungan kalian, El sudah lebih dulu menjelaskan semuanya padaku. Hanya saja aku diam dan menunggu waktu yang tepat supaya kamu berkata jujur," aku Dian. "Tapi terlepas dari semua kejadian ini, harusnya kita bersyukur karena kamu sudah menyesali dan mengakui semuanya."
Tara hanya bergeming. Apa yang istrinya katakan memang benar adanya.
"El ... Kai ... maafkan aku. Aku sangat berharap kalian mau memaafkan aku. Jangan biarkan aku terjebak dalam penyesalan seumur hidup," batin Tara.
"Tara ... kita akan menjenguk Kai setelah kita makan siang," cetus Dian lalu mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah," jawabnya.
.
.
.
Setelah selesai sarapan, mama Glori menghampiri El lalu mengelus kepala sang menantu dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, tidak mengapa kamu tertidur sepuasnya. Mama tahu kamu pasti kurang tidur selama beberapa hari ini karena terus mengawasi putra mama," lirih mama merasa sedih.
"Kai, sedikitpun El nggak pernah melewatkan waktunya berada di sisimu. Mama sempat khawatir dengan kandungannya, belum lagi saat ia belajar sambil mengawasimu. Perasaan mama terasa bercampur aduk," lirih mama lalu mengelus perut El.
"Maafkan aku, Mah," ucap Kai lalu beranjak dari sofa menghampiri sang mama lalu memeluknya sambil menangis.
"Aku mendengar, Mah. Suara dan tangisan kalian, tapi aku nggak bisa membuka mata," kata Kai. "Sebelum aku sadar, aku sempat bertemu papa di suatu tempat. Pokoknya tempat papa itu indah banget. Aku bahkan seakan tidak ingin pulang."
Mama Glori mengelus punggungnya dengan sayang.
"Jika kamu nggak pulang, itu artinya kamu nggak akan kembali lagi ke dunia nyata," bisik mama bahkan kini air matanya mulai menganak sungai.
"Sebelum mataku terbuka, papa sempat menitipkan salam buat mama. Dia titip salam sayang dan cintanya pada mama. Papa mengatakan dia sangat mencintai dan menyayangi kita. Apa mama tahu? Saat aku bertemu papa, papa terlihat seperti kakakku saja. Aku seperti melihat diriku sendiri," tutur Damar.
Mama Glori hanya bisa, menjadi pendengar. Jauh dalam sudut hatinya ia sangat merindukan sosok suaminya itu.
"Mama juga sangat mencintai papa, Nak," desis mama dengan air mata yang kini sudah meleleh.
"Mah, Kai ... apapun itu, saat ini aku hanya bisa mengucap syukur karena, Kai sudah benar-benar kembali ke dunia nyata. Tadinya aku ikut merasa khawatir. Yang terpenting saat ini adalah kamu selalu menjaga kesehatan mu Kai," sambung Damian lalu merangkul Tante dan sepupunya itu.
"Dan Yang terpenting sekarang adalah proses pemulihanmu," sambung Damian lagi.
__ADS_1
Ruangan itu kembali hening sejenak. Ketiganya masih larut dalam perasaan bahagia. Sementara El masih saja terlelap.
...----------------...