
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi El masih belum bisa memejamkan matanya. Sebentar-sebentar ia berbalik karena merasakan gelisah.
Akhirnya ia kembali mendudukkan dirinya lalu menyandarkan punggungnya. Saat memejamkan matanya, malah wajah Kai yang terbayang.
"Sh*it!!! What the fu*ck! Di saat aku merasakan gelisah seperti ini kenapa wajah pria bastard itu yang tiba-tiba muncul. Impossible!!!" umpatnya.
El tertunduk lalu kembali menangis. Ia kembali menggosok-gosok seluruh tubuhnya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri.
"I hate you! I hate you! I hate you bastard!" El mengumpat, mengulang kata itu sambil terisak.
"Why? Why him? God ... katakan padaku kenapa harus pria bastard itu?" El bertanya pada dirinya sendiri.
Ia menghampiri jendela kamarnya lalu duduk termenung sambil memeluk lututnya.
"Kai, sebenarnya ada apa denganmu? Apa sebenarnya yang kamu cari? Wajah tampan mata indah dan memiliki segalanya dan tidak kurang satu apapun. Kamu cukup berkuasa di kerajaan bisnis, kaya raya dan begitu banyak wanita yang menggilaimu. Tapi kenapa kamu menghancurkan hidupku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Jika saja kamu seperti Tara, mungkin saja saat ini kita akan berteman. Tapi kamu pria angkuh yang selalu menganggap segala sesuatu itu bisa di beli dan bisa di bayar dengan uang. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu. Aku berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Ia terus menangis, sekelumit ingatannya kembali berputar mengingat awal mula ia dan Kai berseteru.
"Tara, kamu pria yang baik, sudah cukup dua tahun kamu selalu membelaku, melindungiku dan menyemangatiku. Mungkin sudah seharusnya aku juga melupakanmu. Aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mempertemukanmu dengan wanita yang sederajat denganmu. Biarlah aku cari jalanku dengan caraku sendiri."
Ia masih betah duduk di dekat jendela kamarnya hingga akhirnya ia lelah lalu berbaring, menatap langit-langit kamar lalu memejamkan matanya hingga akhirnya ia pun terlelap.
*******
Pagi harinya ..........
Drttt .... drttt .... drttt .....
Sejak tadi ponsel El terus bergetar. Tapi sang empunya ponsel belum juga terbangun dari tidurnya.
Seseorang yang sejak tadi menghubunginya, merasa sedikit kesal.
__ADS_1
"Kenapa ponselnya nggak di angkat?" Candra kembali menghubungi nomor gadis itu namun tetap tidak di jawab.
El yang baru saja bangun, perlahan-lahan mendudukkan dirinya lalu merenggangkan otot-ototnya karena merasa pegal.
Tidak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Ia pun meraih ponselnya yang terletak di meja laptopnya. Saat tahu kontak yang memanggil, ia langsung mematikan ponselnya.
"Cih, kurang kerjaan banget sih, nih orang. Nggak capek apa nelfon terus?" bisiknya. Ia berdiri lalu mematikan semua lampu di rumahnya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. El sudah bisa menebak jika itu pasti Candra.
Dan benar saja, tak berselang lama pintunya di ketuk lalu Candra memanggilnya. Namun ia tidak menyahut melainkan hanya diam.
"Lun, apa kamu ada di dalam?'' tanya Candra sambil mengetuk pintu. Tiga kali Candra memanggilnya namun El tetap diam.
"Mas, mungkin Mbak Lun sudah berangkat kerja. Biasanya kalau orangnya ada, pintunya langsung di buka," kata tetangga El.
El langsung mengusap dadanya karena merasa tertolong dengan penjelasan tetangganya itu.
"Oh, begitu ya." Candra cengengesan.
Beberapa menit kemudian setelah berpakaian dan membuat sarapan, ia pun menyantap makanannya sambil mengutak atik laptopnya.
Ia memutuskan menghapus semua foto-fotonya bersama Tara termasuk di ponselnya dan hanya menyisakan fotonya dan orang tuanya saja.
"El, lupakan mereka semua dan di sinilah tempatmu sekarang, tempat di mana tidak ada satupun yang mengenali dirimu kecuali orang yang baru mengenalmu," bisiknya sekaligus menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
Rumah sakit Kota A ...
__ADS_1
Tampak Kai sedang termenung dan melamun di atas bed pasien sambil memegang dada dan perutnya. Namun lamunannya seketika membuyar ketika pintu kamar di ketuk lalu seseorang menyapanya.
"Good morning Mr. Kai," sapa Dokter Mike.
"Morning too Dokter Mike," jawab Kai.
Mike menghampirinya yang masing berbaring dengan wajah pucat.
"Mr. Kai, saya sarankan sebaiknya mulai hari, Anda berhenti minum. Masalahnya adalah, jika Anda mengkonsumsi minuman beralkohol secara terus-menerus, maka Anda bisa saja akan mengalami sirosis. Penyakit ini terjadi ketika organ hati sudah rusak parah dan mengeras karena dipenuhi jaringan parut. Ketika liver mengalami sirosis, fungsi hati pun akan terganggu."
Dokter Mike menjeda sejenak kalimatnya sebelum melanjutkan penjelasan penyakit yang di akibatkan, jika Kai tidak mau berhenti minum. Apalagi semalam dia sempat muntah darah.
''Mr. Kai, sirosis tidak seperti perlemakan hati dan hepatitis, sirosis tidak bisa disembuhkan. Namun dengan berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, Anda dapat mencegah terjadinya kerusakan hati yang lebih parah. Saya ingatkan sekali lagi Mr. Kai, penderita sirosis biasanya perlu menjalani transplantasi hati untuk bisa bertahan jika itu terpaksa di lakukan, tergantung dari kondisi pasien," jelas dokter Mike, panjang lebar untuk mengingatkan Kai supaya berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol.
Kai hanya diam mendengar penjelasan dari Dokter Mike. Ia pun bertanya apa yang perlu ia lakukan untuk menghindari candunya terhadap minuman beralkohol.
Di tambah lagi dirinya yang sedang frustasi mencari tahu keberadaan El, yang sampai sekarang belum ada kabar yang valid dari orang kepercayaannya.
Dokter Mike menghela nafasnya dan ikut prihatin dengan pria blasteran itu. Ia terlihat seperti sudah tidak memperdulikan penampilannya yang sedikit berantakan dan brewokan.
"Mr. Kai, mulai sekarang, terapkan pola hidup sehat dan carilah aktivitas yang bisa mengalihkan keinginan Anda untuk mengonsumsi minuman beralkohol, seperti melakukan hobi Anda, berolahraga, ikut kegiatan sosial, atau berkumpul bersama keluarga," jelas Dokter Mike sekaligus memberikan saran.
Lagi-lagi Kai hanya terdiam lalu memejamkan matanya. Ia kembali membayangkan wajah El wanita yang saat ini masih ia cari lalu sang mama wanita yang begitu ia sayangi dan saat ini memilih tinggal di Jerman.
El, di mana sebenarnya kamu berada? Izinkan aku menebus semua kesalahanku padamu. Setiap malam aku juga tidak bisa tidur hanya karena terus-menerus merasa sangat bersalah padamu.
"Mr. Kai, untuk satu minggu ke depan, Anda harus menjalani perawatan di rumah sakit ininsampai kondisi kesehatan Anda benar-benar membaik baru saya akan izinkan Anda pulang ke rumah."
"Baik lah, Dokter Mike. Aku ikuti saja saran darimu," ucap Kai.
Setelah itu, Dokter Mike meninggalkan kamar rawat Kai.
Sepeninggal dokter Mike Kai memejamkan matanya, memikirkan gadis itu. Apakah ia baik-baik saja atau sebaliknya.
__ADS_1
"Maafkan aku, El."
...----------------...