
Keesokan harinya ....
El sudah terlihat sibuk di pantry membuat sarapan bahkan telah menyediakan teh hangat di atas meja untuk suaminya.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia pun menatanya dengan rapi di atas meja lalu kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya.
"Sayang ... wake up," bisik El lalu menyatukan keningnya dengan Kai.
"Sudah mulai nakal ya," desis Kai lalu membalikkan tubuh El yang berada di atasnya dengan cepat.
"Aakhh, sayang!" pekik El lalu tertawa.
"Bagaimana? Apa Om-om ini sudah membuatmu takluk dengan pesonanya," ucap Kai dengan narsis. "Bukankah Om-om ini lebih menantang daripada yang masih seumuran denganmu?" sambung Kai lalu mengecup singkat bibir istrinya lalu membawanya duduk di atas pahanya saling berhadapan.
"Pppfffff .... ha.ha.ha ..." tawa El langsung pecah menatap wajah suaminya lalu memeluknya dengan gemas.
"I love you my bastard man, my uncle, and my bad boy," ungkap El lalu mengeratkan pelukannya.
"I love you too my lovely wife," balas Kai seraya mengelus punggung El dengan sayang. "Mandi bareng yuk," bisiknya.
Tahu maksud suaminya, El seketika ingin mengurai dekapannya namun dengan cepat Kai mendekapnya lebih erat lalu berbisik, "Aku janji nggak akan macam-macam karena aku tahu kamu masih lelah."
"Beneran? Nggak modus kan? Promise me first," pinta El.
"Yes, i'm promise,"jawab Kai lalu menggendongnya seperti anak koala menuju kamar mandi.
"Sayang, sebelum ke bandara, kita singgah sebentar di apotik ya," pinta El.
"As you wan't," bisik Kai lalu melepas gaun tidur El kemudian menyalakan shower.
Seperti janjinya, Kai benar-benar tidak melakukan apapun meskipun lagi-lagi ia harus menahan hasratnya.
"Sayang ..." bisik Kai dengan suara berat.
"Maaf ..." ucap El seraya memeluknya dengan erat dan terus mengelus punggung tegapnya hingga ia merasa sesuatu yang sejak tadi menegang kembali meleyot. "Ayo ..." ajak El lalu mengurai pelukannya.
"Hmm ..."
Keduanya kembali ke kamar.
"Sayang ... aku ke pantry dulu," kata Kai.
El hanya mengangguk lalu menghampiri ranjang untuk merapikan tempat tidur. Setelah itu, ia ke walk in closet untuk mengenakan pakaian sekalian menyiapkan pakaian Kai.
__ADS_1
Selesai berpakaian dan berdandan ala kadarnya El menyemprotkan parfum favoritnya. Dan kembali ke kamar membawa pakaian suaminya lalu meletakkan di atas ranjang.
Ia pun menuju pantry menghampiri suaminya yang sedang duduk di kursi meja makan sambil menyeruput tehnya.
"Maaf ... aku hanya membuat sandwich dan salad buah untukmu," bisik El lalu memeluk Kai dari belakang lalu mengecup pipinya.
"Nggak apa-apa, sayang. Kemarilah," pintanya mengisyaratkan jika ia ingin El duduk di pangkuannya. "Apapun yang kamu masak hasil dari tangan ini aku tetap menyukainya. Asalkan jangan beri aku racun," kelakar Kai.
"Bahkan di benakku pernah terbersit ingin meracunimu saat itu, saking bencinya aku pada dirimu," aku El lalu memeluk Kai. Sedetik kemudian ia menangis merasa menyesal.
"Sayang ..." Kai mengelus punggungnya. "Aku rasa itu wajar-wajar saja. Mengingat serentetan perlakuan buruk ku padamu. Tapi jika saat itu kamu benar memberiku racun lalu aku benar-benar meninggal apa kamu nggak menyesal?" tanya Kai.
"Meski terbersit, tapi aku juga nggak tega," lirihnya. "Jelas aku akan menyesal karena aku sudah menghilangkan nyawa seseorang dan selamanya aku akan di cap pembunuh," akunya dengan suara yang tersengal-sengal. "Honestly aku takut kehilanganmu," pungkasnya sambil terisak.
Mata Kai ikut berkaca-kaca mendengar penuturan istrinya.
"Sudah ... dasar cengeng ... jadi seperti ini ya sikap asli mu," ledek Kai mencairkan suasana.
"Menurut mu?"
"Kamu tetap wanita pemberontak, ketus dan bar-bar," tutur Kai. "Ya sudah, mau pakai baju dulu, setelah itu kita tunggu Alex," kata Kai.
"Hmm." El mengurai pelukannya lalu beranjak dari pangkuan suaminya.
"Terima kasih, sayang," gumamnya lalu segera mengenakan pakaian casual pilihan El.
Beberapa menit kemudian ia meraih ponselnya dan tas tangan El lalu membawanya keluar.
"Makan yang banyak, biar badan ini berisi sedikit," bisik Kai lalu mengecup puncak kepala istrinya.
El hanya terkekeh mendengar permintaan suaminya. Keduanya kembali melanjutkan sarapan hingga selesai. Sambil menunggu Alex, El membersihkan semua wadah bekas makanan mereka berdua lalu merapikannya kembali.
"Sayang kemarilah," pinta Kai.
"Ada apa?" El menghampirinya lalu duduk di sofa bersisian kemudian menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Aku ingin, memakaikan kalung ini yang nggak sempat aku berikan saat kita di Jerman," jelas Kai. "Ini hadiah kecil dariku untukmu."
El hanya mengangguk dan membiarkan Kai memakaikan kalung itu di lehernya lalu berterima kasih.
"Semoga kamu menyukainya," harap Kai.
"Tentu saja aku menyukainya. Oh ya, kado perhiasan dari mama, aku simpan di sini saja ya," cetus El.
__ADS_1
"Sebaiknya bawa saja sayang," usul Kai dan hanya dijawab dengan anggukan.
Tak lama berselang keduanya pun meninggalkan ruangan mewah itu, setelah Alex menelfon jika ia sudah berada di depan gedung mewah itu menunggu mereka.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, Kai meminta Alex singgah di apotik untuk membeli obat pencegah mabuk udara.
Setelah singgah sebentar di apotik mereka pun kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di bandara.
"Alex ... Aku dan El lanjut ke dalam ya. Kamu sudah tahu kan, akan menjawab apa jika ada yang menanyakan seputar tentang diriku? Dan satu lagi, untuk seminggu ke depan urusan kantor aku serahkan padamu," jelas Kai.
"Baik, Tuan dan hati-hati dijalan. Semoga selamat sampai di tujuan," kata Alex.
"Terima kasih ya, Lex," balas Kai.
Alex hanya mengangguk takjim. Setelah memastikan Kai dan El sudah tidak terlihat baru lah ia kembali ke mobil dan melanjutkan kendaraannya ke arah kantor.
Saat dalam perjalanan ke kantor, Alex sempat berpikir kenapa boss-nya itu memilih menikah diam-diam di luar negeri dan memilih menutup rapat dan menyembunyikan perihal penyakit yang ia idap.
Semua pertanyaan itu sekaligus muncul di benaknya. Namun jauh di dalam sudut hatinya ia merasa iba sekaligus kagum akan sosok Kai.
"Tuan, semoga pernikahan Anda dan Nona El selalu di selimuti kebahagiaan dan di jauhi dari isu miring. Saya juga mendoakan semoga tuan bisa sembuh," doa Alex dengan hela nafas kasar.
Sedangkan El dan Kai keduanya kini sudah duduk di kursi pesawat kelas bisnis.
"Sayang ... are you ready to fly again with me?" bisik Kai yang terlihat membenamkan dagunya di puncak kepala istrinya.
"Yes," sahutnya seraya mengelus lengan suaminya.
Kai kembali mengeluarkan ponselnya lalu memotret dirinya dan El yang sedang membelakanginya.
Setelahnya ia meng-upload foto itu ke medsosnya dengan caption 'MY LOVELY'.
Biarkan mereka semakin penasaran siapa wanita di foto ini.
Kai mengulas senyum dan merasa puas karena ia seolah bermain tebak-tebakan.
*
*
*
Jangan lupa berikan like, komen, vote and gift jika berkenan ya π€βΊοΈ Satu like, vote, coment sudah cukup membuat author semangat apalagi jika diberikan gift. Terima kasih βΊοΈπ₯°πππ
__ADS_1