All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
43. Direnggut paksa ...


__ADS_3

Setelah merasa El sudah tidak bergerak, pria itu langsung menggendongnya lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


Setelah itu ia langsung menghubungi seseorang.


Drttt ... drttt ... drttt ....


Ponsel Kai bergetar. Ia pun merogoh kantong celananya dan menatap nama kontak yang memanggilnya.


Ia langsung tersenyum lalu menjawab panggilan itu.


"Ya hallo, Bob."


"Tuan, ke mana aku harus membawa gadis ini? Ke mansion atau ke penthouse?'' tanyanya.


"Wah, ternyata cepat juga cara kerjamu," puji Kai lalu tersenyum penuh arti. Jangan bawa dia ke mansion tapi langsung ke penthouse. Jangan lupa matikan ponselnya," peringatnya


"Ok siap, Tuan."


Kali ini kamu nggak akan bisa kabur lagi dariku seperti waktu itu.


Ya, semua sudah Kai rencanakan untuk mencari tahu tempat tinggal El dan menyuruh Bob, orang kepercayaannya untuk mencari cara supaya gadis itu tidak bisa melawan ataupun kabur.


"Ayo kita lihat, Sayang. Apakah kamu masih bisa melawanku atau bisa lepas dariku? Sepertinya ini menarik," desisnya sambil menyesap sisa rokoknya dan meneguk tequilla-nya.


Sementara itu, Bob yang kini sudah berada di ruangan mewah itu terlihat sedang menggendong El menuju kamar.


Dengan hati-hati ia membaringkan gadis itu di atas ranjang


"Sepertinya tadi dia baru pulang dari acara formal. Siapapun kamu, maafkan aku. Semoga kamu tidak di apa-apa kan olehnya,'' bisik Bob sedikit merasa bersalah.


Sebelum meninggalkan El, Bob melepas tas yang masih terselempang di bahunya. Ia pun menonaktifkan ponsel milik El seperti yang diperintahkan.


.


.


.


Kembali ke B.A. Pub ...


"Hai Dan, Kai, sudah lama?'' tanya Tara yang baru tiba dengan raut wajah bahagia.


"Hmm."


"Lumayan."


Tara tersenyum lalu menatap Daniel yang kembali melanjutkan obrolannya dengan seorang gadis yang tidak asing baginya.


"Kai, tumben main ke sini? Biasanya di Bronze," tanya Tara sambil membakar sebatang rokok lalu menyesapnya.


"Cari suasana baru," jawabnya dengan santai.


"Hmm." Tara hanya ber hmm ria.


"By the way, kamu dari mana? Kelihatannya kamu seperti bhabis menghadiri acara formal,'' tanya Kai


"Nggak, hanya makan malam dengan wanita masa depanku," jawabnya dengan seulas senyum.


Mendengar ucapan Tara, lagi-lagi Kai merasa panas dan jengkel.


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Sudah berjam-jam mereka di club malam itu dan akhirnya Tara berpamitan karena ingin segera pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


Tepat jam satu dini hari, barulah Kai memutuskan pulang. Dan selama itu juga El belum terbangun karena efek obat bius dosis tinggi yang terhirup olehnya.


Sesaat setelah berada di kamarnya, ia begitu tertegun menatap El yang terlihat cantik dan elegan dengan dress yang dikenakannya, kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu.


"She's look so beautiful."


Kai menghampirinya lalu melepas flat shoes hak yang masih terpasang di kakinya. Setelah itu, ia duduk di sisinya lalu mengelus pipi dan bibir tipis gadis itu.


Lagi-lagi Kai mencium lehernya, menghirup aroma parfumnya dalam-dalam. Wangi parfum yang membuatnya tidak bisa melupakannya.


Setelah puas mencium dan menghirup wangi parfum El. Kai langsung mengecup lama keningnya lalu turun ke bibir dan melu*matnya.


"Cepatlah sadar dari tidurmu. Rasanya aku sudah nggak sabar ingin segera memakanmu,'' bisiknya di telinga El dengan suara berat menahan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun


Setelah itu, ia ke kamar mandi mengguyur tubuhnya di bawah shower hangat karena merasa tubuhnya sudah terasa lengket, bau minuman dan bau asap rokok.


Merasa sudah cukup, ia pun membalut pinggangnya dengan handuk lalu ke walk in closet untuk memakai celana pendek.


Karena merasa bosan, akhirnya ia ke teras balkon kamar.sambil menyesap rokoknya.


Tak lama berselang sepeninggalnya ...


"Sssttt ... aaww ... kepalaku,'' lirih El yang baru saja terbangun lalu memijat kepalanya.


Ia menoleh ke kiri dan ke kanan lalu menatap langit-langit kamar yang terlihat begitu mewah.


"Ini di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?"


Ia mendudukkan dirinya lalu memegang perutnya yang terasa mual.


"Sepertinya pria tadi membiusku dengan obat bius hirup dosis tinggi,'' gumamnya lalu berdiri dan bertanya-tanya siapa pria yang sedang berdiri di balkon kamar.


Dengan langkah perlahan, ia menghampirinya lalu menatap punggung pria bertatto itu.


"Permisi, maaf, kenapa aku bisa berada di sini? Dan kamu siapa?'' tanyanya.


"Akhirnya ia bangun juga."


"Kamu bahkan sangat mengenalku," sahutnya lalu berbalik dan menatapnya.


El langsung terbelalak lalu memundurkan langkahnya sembari mengepalkan kedua tangannya.


Semakin ia mundur, Kai semakin menghampirinya dengan senyum penuh arti.


"Stop there bastard!! Sebenarnya kamu ini kenapa?! Ada masalah dan dendam apa kamu denganku, huh!! Apa kamu merasa belum puas menjebloskanku ke dalam penjara selama dua tahun? Apa belum puas bagimu menghancurkan karir dan pendidikanku? Apa kamu belum puas, hah!!! Tell me why?!!!"


El menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya sembari menatap Kai dengan tatapan benci.


"Apa karena aku wanita miskin? Yatim-piatu jadi kamu seenak jidat ingin membuatku menderita sampai ke akar-akarnya?!!! Kenapa kamu nggak sekalian saja membunuhku!! Why!!" pekik El saking emosinya.


Kai sempat mengerutkan keningnya mendengar umpatan gadis itu. Namun lagi-lagi ia berfikir jika itu hanya akal-akalannya saja supaya ia bisa kabur dari kamar itu.


"Apa kamu mengira aku percaya dengan ucapanmu itua? Aku tidak akan tertipu lagi," balas Kai lalu memeluknya kemudian melu*mat bibir gadis itu dengan rakus.


Karena merasa jengkel, El langsung menggigit bibirnya. Sontak saja ulahnya itu memaksa Kai melepas tautan bibirnya.


"Ssstt .... akh," ringis Kai lalu mengusap darah di bibirnya.


Merasa belum puas, ia kembali memeluknya dan kembali melu*mat bibir gadis itu. Saking emosinya, El langsung menyundul batang hidung pria blasteran itu.


Lagi-lagi Kai meringis kesakitan lalu menyeka darah segar yang keluar dari hidung mancungnya.


"Aarghh ... sssttt." Kai menggeretakkan giginya.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik. Semakin kamu melawan maka semakin aku tertantang ingin segera membawamu naik ke atas ranjang empuk itu," ancam Kai.


"Jangan macam-macam kamu! Aku juga bisa berbuat kasar padamu!'' El balik mengancam dengan perasaan getir dan mulai was-was.


Kai seakan tidak perduli dengan ancamannya, ia malah langsung menggendongnya dan membalikkan tubuhnya lalu memegang kedua tangannya dengan posisi tengkurap agar gadis itu tidak bisa melawan.


El terus memberontak, meronta dan mengumpat marah.


"Let me go bastard!! Dasar pencundang, menjijikkan!!" teriak El penuh amarah sambil meronta.


Kai seakan tidak menghiraukan teriakkan dan umpatannya, namun langsung menindih tubuh gadis itu seraya berbisik, "Nggak sebelum aku membuatmu menderita."


Ia langsung menarik resleting gaunnya. Sejenak ia tertegun menatap tatto black rose bertangkai panjang hingga ke tulang punggungnya. Ia tidak menyangka jika El memiliki tatto di balik punggungnya.


Karena El terus-terusan memberontak, meronta dan berteriak, akhirnya ia kehabisan tenaga. Ditambah lagi, Kai yang terus menindih, dan memegang kedua tangannya. Ia tidak bisa berbuat banyak. Ingin melawan pun ia sudah tidak sanggup karena kalah tenaga.


Merasa El sudah terlihat lemas, Kai membalikkan tubuhnya sekaligus melepas gaun yang masih melekat di tubuhnya.


Seringai tipis terbit di bibir sensualnya menatap tanda jejak kepemilikkan Tara yang masih membekas di kulit putih nan mulusnya.


"Jadi .... kamu dan Tara sudah sering melakukannya, hmm? Lalu kenapa kamu menolakku pada saat itu," geram Kai.


"Tara bukan pria bastard sepertimu. Dia mencintaiku dengan tulus dan menghargaiku sebagai wanitanya," lirih El dengan suara lemah dan serak.


Merasa dirinya kini polos tanpa sehelai benang, ia hanya bisa meneteskan air matanya dan terus memohon supaya Kai melepasnya dan tidak merenggut kesuciannya.


"Please ... jangan lakukan Kai. Aku mohon padamu jangan lakukan. Please ... lepaskan aku," mohonnya sambil menangis menatap mata hazel milik Kai dalam-dalam memohon belas kasihannya.


Bukannya merasa kasihan, Kai malah semakin menambah luka dihatinya dengan berkata,


"Aku tidak akan melepaskanmu, bahkan aku akan menanam benihku di rahimmu sebanyak-banyaknya agar ia tumbuh dan membuatmu menderita. Akan aku pastikan sebulan dari sekarang kamu akan menemuiku dan meminta pertanggungjawaban dariku. Aku ingin lihat, bagaimana wajah cantik ini memohon di hadapanku."


El hanya bisa menangis mendengar ucapan pria itu tanpa mengalihkan tatapannya dari Kai.


Aku berharap dia tidak akan tumbuh, jika pun dia akan tumbuh di rahimku, maka aku akan membawanya pergi sejauh mungkin dari hidupmu dan hidup berdua saja dengannya.


"Mende*sah lah, aku ingin mendengarnya, seperti Tara yang sering mendengar suara desahanmu itu."


Ia seakan menulikan telinganya mendengar permohonan El yang terus memohon supaya jangan melakukan penyatuan.


Kai seolah tidak peduli, nafsu yang sudah menguasai dirinya terus menggerayangi tubuh gadis itu sesukanya dengan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana lalu membungkamnya dengan ciuman karena El tak henti mengumpatnya.


El hanya bisa meringis dan menangis diperlakukan sedemikian rupa.


Setelah merasa puas, barulah Kai melakukan penyatuan diri. Saat menghentakkan miliknya, ia merasa heran karena miliknya tidak langsung lolos begitu saja melainkan di hentakan ketiga.


Kai merasakan ada sesuatu yang mengalir dan terasa hangat.


What! she still virgin?


Saking sakit dan perihnya bagian intimnya, El hanya bisa meringis dan menangis lalu menatap penuh kebencian pada Kai. Saking sakitnya, El berteriak melepaskan segala kekesalan, amarah, dan kebenciannya.


"Aarrgghh ..... bastard!! Pria menjijikkan!! Aku membencimu bastard!!!'' teriaknya.


Semakin Kai memacunya, semakin dalam pula luka di hatinya, ibarat belati yang semakin lama semakin menembus jantungnya dan meninggalkan luka yang dalam dan menganga.


Bukannya mende*sah, El malah terus meringis menahan sakit dan perih di bagian intimnya.


Merasa sudah tidak sanggup menahan perih dan sakit, El memejamkan matanya sambil menangis.


Tara, maafkan aku. Kesuciannku direnggut paksa oleh pria brengsek ini. Satu-satunya yang masih aku pertahankan. Kini tidak ada yang tersisa, aku benar-benar hancur.


Setelah itu El tidak sadarkan diri dan tidak mengingat apa-apa lagi.

__ADS_1


😭😭😭😭😭


...----------------...


__ADS_2