All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
76. Tidurlah denganku malam ini


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, El terus saja memaki dan mengumpatnya. Namun Kai seakan menulikan telinganya dan sama sekali tidak menghiraukan ucapan gadis itu.


"Maki dan umpat saja sepuas yang kamu inginkan. Aku menerima dan mengakui semuanya," ucap Kai dengan pasrah.


"Damn!!! Kenapa aku begitu ceroboh meneguk wiski hingga satu botol. Rasanya aku pengen muntah."


El memegang perutnya kerena merasa mual ditambah lagi kepalanya yang semakin terasa pening.


Belum sempat ia meminta Kai menepikan mobilnya di bahu jalan, ia sudah muntah di dalam mobil mewah itu.


Sontak saja Kai mengerem mendadak dan membuat kepala gadis itu terbentur.


"Aawww .... sssttt." El meringis lalu mengusap Keningnya.


"El, kamu nggak apa-apa? tanya Kai khawatir." Ia menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan, meraih tissue lalu membersihkan muntahnya yang mengenai gaunnya. Merasa El tidak baik-baik saja ia keluar dari mobil dan memapahnya keluar.


El langsung berlari ke arah selokan lalu kembali memuntahkan isi perutnya. Sedangkan Kai dengan telaten memijat tengkuknya.


"Kenapa sih, kamu minum jika akhirnya akan seperti ini?!! Kamu menyiksa dirimu saja!" omel Kai.


El hanya bergeming dan terus memuntahkan isi perutnya. Setelah merasa enakkan, ia kembali berdiri tapi ia tidak bisa mengimbangi tubuhnya dan hampir jatuh namun dengan sigap Kai menahannya.


Sebelum mendudukkannya di kursi mobil, Kai melepas jaketnya lalu membersihkan sisa muntahan di dalam mobil.


El hanya memperhatikannya dan merasa sedikit bersalah. Setelah itu, ia kembali meraih tisu lalu membersihkan gaunnya "Biar aku saja," ucapnya lirihnya.


Kai hanya menggelengkan kepalanya. Ia kembali melajukan mobilnya hingga sampai di apartemennya.


"Ayo, kamu menginap di apartemenku saja malam ini. Besok aku akan mengantarmu pulang," ujarnya sambil merangkul pinggang ramping gadis itu karena tidak bisa berjalan seimbang.


Sesaat setelah berada di dalam lift El mengeluh sambil memijat keningnya. "Kai, kepalaku sakit banget."


Kai tidak menjawab melainkan ia membenamkan kepala gadis itu di dadanya lalu mengelus punggungnya. Tanpa sadar El melingkarkan kedua tangannya ke pinggang pria bertubuh tinggi tegap itu.


Sudut bibir Kai melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman. Ada perasaan bahagia yang ia rasakan karena El mau menyentuhnya. Entah El sadar atau tidak hanya dia yang tahu.


Ting ...


"El, ayo," ajaknya sesaat setelah pintu lift terbuka.


Setelah menekan password pintu, keduanya pun masuk ke ruangan itu.


El langsung mendaratkan bokongnya di sofa lalu menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Lagi-lagi ia merasakan mual lalu kembali memuntahkan isi perutnya lalu mengenai tubuh Kai yang sedang berjongkok melepas sepatunya.


Kai hanya bisa menggelengkan kepalanya dan langsung melepas kaosnya kemudian membersihkan muntahnya.


"Maaf," sesal El dengan lirih.


"Nggak apa-apa. Tunggu aku sebentar di sini ya. Aku ganti baju dulu. Jangan kabur lagi seperti waktu itu," pesan Kai.


Pria blasteran itu pun segera naik ke lantai dua. membersihkan dirinya di kamar mandi.


Beberapa menit kemudian ...


Kai kini jauh lebih fresh. Hanya mengenakan celana pendek rumahan dan bertelanjang dada. Ia mengambil salah satu baju kaosnya untuk El.

__ADS_1


Ia kembali ke lantai satu lalu menghampiri El yang terlihat lemas. Melepas gaunnya lalu mengganti dengan baju kaos miliknya.


El hanya bisa pasrah namun diam-diam ia kembali merasa bersalah pada pria itu. Pria yang sering di makinya dengan menjulukinya bastard.


Setelah itu, Kai meninggalkannya lalu memilih ke pantry.


Niat hati ingin memaki habis-habisan pria itu, namun berujung merasa bersalah. Terlebih lagi pria blasteran itu sama sekali tidak menghiraukan semua umpatan dan kata makian yang ia lontarkan padanya.


Ia malah melihat sisi baik dan perhatiannya padanya. Sama sekali tidak merasa jijik membersihkan muntahannya.


"Aku merasa terjebak."


El kembali menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Tak lama kemudian, Kai menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


"Ini ... kopi hitam tanpa gula. Minumlah, ini akan mengurangi sakit kepalamu," tawar Kai.


El meraihnya cangkir berisi kopi itu lalu meneguknya sedikit demi sedikit hingga tandas.


"Thanks, Kai," bisiknya dan di jawab dengan anggukkan kepalanya.


"Tidurlah di kamarku. Aku akan tidur di kamar bawah," suruhnya.


El bergeming lalu menatap dalam-dalam manik hazelnya. Ruangan itu kembali hening.


Kai balas menatap manik hitamnya.


"El, percaya atau tidak dirimu, aku benar-benar mencintaimu." Kai mulai membuka suara.


"Aku mulai menyadari perasaanku sejak pertemuan kita di club malam itu. Aku tahu kamu sangat membenciku. Aku akui, aku ini jahat, bejat, brengsek dan sangat menjijikkan bagimu. Aku tidak masalah dengan semua makian dan umpatan itu yang kamu tujukan padaku."


El hanya bergeming. Air matanya mulai menetes di pipi. Sekelumit ingatannya kembali berputar mengingat serentetan perbuatan kejam pria itu padanya. Ia terisak mengenang kejadian malam kelam itu.


"Kenapa kamu melakukannya, Kai? Kenapa? Kamu menghancurkan semua impianku lalu dengan teganya kamu merenggut paksa kesucianku. Lalu apalagi yang kamu inginkan dariku sekarang?" cecar El disertai isak tangis.


"Maafkan aku. Aku akan bertanggungjawab dan akan menikahimu secepatnya," balas Kai.


Kai mulai berjongkok di hadapannya sambil menggenggam erat kedua tangan El.


Lagi ... El bergeming. Air matanya semakin mengalir deras. Hatinya masih merasakan luka dan sakit. Ia juga bingung dengan perasaannya.


"El, dengarkan aku. Sejak kejadian malam itu, aku terus saja dihantui rasa bersalah bahkan hanya ingin tidur saja aku nggak bisa tenang. Aku terus memikirkanmu, bagaimana keadaanmu dalam keadaan berbadan dua. Aku sangat khawatir dan cemas. Maafkan aku, ucapanku serta semua kesalahan dan perbuatan bejatku padamu malam itu. Aku sungguh-sungguh memohon padamu sekarang. Tolong maafkan aku, El," tutur Kai sambil meneteskan air matanya.


"Lalu mengapa di malam itu saat aku memohon padamu, kamu nggak menghiraukan permohonanku? Kamu seakan menulikan telingamu dan tetap melakukan penyatuan. Yang lebih menyakitkan ketika kamu mengatakan ingin membuatku semakin menderita dengan menanam benihmu di rahimku."


El menjeda kalimatnya lalu menyeka air matanya. Hatinya begitu sakit saat mengingat kejadian malam itu.


"Bahkan benihmu pun enggan tumbuh di rahimku. Mungkin dia tahu jika ia tumbuh dan berkembang, ia akan menyusahkanku," sambung El sambil terisak.


Kai langsung mendekapnya erat mendengar ungkapan gadis itu. Ia hanya bisa menyesali perbuatannya dan bertekad akan segera menikahinya, mempertanggung jawabkan semua kesalahan dan perbuatannya.


Ruangan itu kembali hening. Yang terdengar hanya suara isak tangis El.


Beberapa menit berlalu ...


"Sebaiknya sekarang kamu tidur. Aku janji nggak akan macam-macam. Besok, sebelum mama berangkat ke Jerman, aku akan mengurus segala kebutuhan dan mempersiapkan pernikahan kita."

__ADS_1


El hanya bergeming dalam pelukannya sekaligus merasa getir. Ia tidak menjawab ya ataupun tidak.


"Aku belum siap, aku masih ingin mengejar cita-cita dan impianku. Oh God ... bagaimana caranya aku keluar dari apartemen ini. Aku tidak ingin terjebak."


"Ayo, aku antar ke kamar. Kamu bisa jalan kan?'' ajak Kai kemudian mengurai dekapannya lalu menyeka sisa-sisa air mata di pipi El.


El hanya mengangguk lalu beranjak dari sofa. Sambil menapaki tangga, ia mulai memutar otak bagaimana caranya ia bisa keluar dari apartemen malam ini.


Begitu berada didalam kamar, ia duduk di sisi ranjang.


"El, tidurlah. Aku juga akan segera tidur," ucap Kai.


Setelah itu, ia meninggalkan kamar. Sedangkan El, ia hanya menatap punggung tegap Kai.


Sepeninggal Kai, El langsung melepas kaosnya lalu ke kamar mandi kemudian membasuh wajahnya yang terasa begitu lengket. Setelah itu, ia berbaring sembari menatap langit-langit kamar mewah itu.


Ia mencoba memejamkan matanya tapi tetap saja ia tidak bisa tidur dan merasa gelisah. Ia menatap jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit.


Akhirnya ia memilih bangkit dari pembaringannya lalu ke balkon kamar. Hembusan angin yang begitu terasa menerpa sekujur tubuhnya seketika membuatnya merasa nyaman.


Lama ia berada di balkon itu dan tampak melamun.


Sama halnya El, Kai juga tidak bisa tidur dan terus memikirkan gadis itu. Ia memutuskan naik ke kamarnya untuk memastikan. Pikirnya mungkin saja El sudah tidur.


"Sebaiknya aku melihatnya dulu. Mungkin dia sudah tidur," gumamnya. Ia pun menaiki tangga hingga sampai di depan pintu lalu membukanya.


Keningnya langsung mengerut tipis karena hanya mendapati baju kaos yang tergeletak di atas kasur.


Namun pandanganya teralih ke arah pintu balkon yang terbuka. Ia pun melangkah namun langkahnya terhenti ketika menatap gadis itu hanya mengenakan dalaman bra sport dan short pendeknya.


Dengan susah payah, Kai menelan salivanya menatap tubuh mulus dan kulit seputih susu milik El. Kontras dengan tatto yang menghiasi punggung hingga ke tulang punggungnya.


Damn!!!!


Hasratnya langsung terpancing namun sebisa mungkin ia menahannya. Perlahan ia menghampiri El lalu memeluknya dari belakang kemudian mengecup punggung gadis itu.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah larut kamu bisa masuk angin nanti," bisik Kai.


El menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum.


"Nggak akan masuk angin. Soalnya aku sudah terbiasa seperti ini sejak dulu. Lagian aku merasa gerah efek wiski tadi," jelasnya.


Ia berbalik lalu menatap wajah tampan pria blasteran itu lalu mengelus rahang tegasnya, mata indahnya lalu turun ke bibir sensualnya. Sontak saja ulahnya itu semakin memancing hasrat Kai.


Kai semakin mendekatkan bibirnya lalu ingin melu*mat bibir tipis gadis itu namun El menahan dengan jarinya.


"Tidurlah denganku malam ini. Temani aku dan aku ingin kamu memelukku sepanjang malam hingga pagi menjelang," bisiknya.


"Aku takut nggak bisa mengendalikan diriku."


"Aku yakin kamu bisa," sahut El dengan niat tersembunyi lalu mengecup pipi dan bibirnya singkat.


Kai tidak tahu jika El sudah merencanakan sesuatu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2