
El terus melangkah hingga sampai ke kelasnya.
"Syukurlah aku belum terlambat," desisnya lalu duduk di salah satu kursi yang kosong. Tak lama setelah ia duduk, dosen mata kuliahnya juga tampak baru memasuki kelas.
Beberapa menit kemudian setelah dosen mengabsen, pelajaran pun di mulai. El tampak fokus mendengar dan sesekali hanya mengangguk dan tersenyum.
Bukan tanpa alasan, semua materi yang sedang dijelaskan oleh dosennya, semuanya sudah pernah ia pelajari dan tentu saja ia sudah menghafalnya.
Bahkan saat sesi tanya jawab ia tampak sangat antusias menjawab pertanyaan dari sang dosen.
Meninggalkan El yang sedang berada di kampus, mama Glori yang kini sedang berada di ruang tamu tampak sedang bersantai dan mengajak sang asisten mengobrol.
Bahkan ia tampak tersenyum saat bibi menceritakan kejadian tiga bulan yang lalu saat memergoki keduanya bertengkar.
"Kai ... Kai ... putraku satu-satunya," desisnya membayangkan wajah tampan putranya itu.
Ia juga tak menyangka jika putranya itu bisa seposesif sekarang. Apalagi sejak istrinya hamil dia sangat menjaga El. Bahkan tak membiarkannya melakukan apapun kecuali harus menemaninya dan mengikuti keinginannya.
"Pah, Kai persis seperti dirimu saat aku mengandungnya. Jika saja papa masih hidup, kebahagiaan ini akan semakin terasa dengan kehadiran calon cucu-cucu kita," gumam mama Glori dalam hatinya.
"Oh ya, Bi. Saya siap-siap dulu, soalnya saya mau ke perusahaan sekalian ingin menjemput El nantinya."
"Baik, Nyonya," kata bibi.
Setelah itu mama Glori kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.
.
.
.
Siang harinya di rumah sakit Kota A ...
Tampak Kai sedang berada di ruangan praktek Mike.
"Mike, selama tiga bulan terakhir, sejak mengalami morning sickness, perutku ikut merasa perih bahkan sering merasakan mual dan pusing setelah memuntahkan isi perutku," jelasnya.
"Apa kamu rutin meminum obatmu?" tanya Mike.
"Hmm ..." Sambil mengangguk. "El sepertinya mulai curiga, apalagi dia sering memergokiku meringis di sertai keringat jika sakitnya mulai kambuh," lirih Kai sambil membayangkan wajah penuh kekhawatiran dari istrinya itu.
"Kai ... aku kan sudah bilang, El itu calon dokter. Lambat laun dia pasti akan tahu. Sebaiknya kamu jujur saja padanya," saran Mike.
"Aku nggak tega Mike," lirihnya lagi dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak sanggup melihat El menangis," lanjutnya.
Mike hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar lalu menepuk pundaknya.
__ADS_1
"By the way ... bagaimana dengan kehamilannya?"
"Baik dan dia terlihat sedikit chubby," jawab Kai membayangkan wajah istrinya dan perubahan bentuk tubuhnya yang mulai naik.
"Bukan cuman El, tapi kamu juga," timpal Mike lalu terkekeh. "By the way, sekali lagi selamat ya, Bro. Ternyata sekali isi, langsung tiga," kata Mike.
"Thanks Mike. Bahkan aku berharap jika El hamil anak kedua, aku ingin kembar lagi. Biar rumah kami ramai dengan anak," imbuhnya.
Mike hanya menggelengkan kepalanya sekaligus kagum pada suami temannya itu.
"Bisa jelaskan alasanmu, Kai?"
"Karena aku dan El sama-sama anak tunggal. Jadi aku ingin memiliki anak yang banyak," aku-nya kemudian tergelak.
"Hmm ..." gumam Mike sambil manggut-manggut.
"Oh ya, Mike. Aku sekalian pamit soalnya masih ada urusan di kantor. Kemungkinan minggu depan El dan mamaku akan ke kota ini. Jemput lah El nanti, biar nggak ada yang curiga," ujarnya.
"Bagaimana dengan mamamu?"
"Mama akan dijemput Alex," jelasnya.
"Ok siap," kata Mike. "Oh ya, ini resep obatmu aku menambah satu resep lagi. Tebus lah di apotik."
"Ok. Thanks ya," ucap Kai lalu beranjak dari kursi kemudian meninggalkan ruangan itu.
Sesaat setelah menebus obatnya, Kai melangkah melewati bagian administrasi. Tanpa sengaja ia kembali berpapasan dengan Dian dan Tara yang baru akan masuk.
"Tara, Dian," tegurnya dengan seulas senyum. Senyumnya semakin lebar saat menatap putra ex sahabatnya itu dalam gendongan Dian.
"Kai ..." Dian balas menegurnya. "Sedang apa kamu di sini?" lanjut Dian bertanya.
"Aku habis konsultasi dengan dokter Mike, suaminya El," jawab Kai dengan santai seolah itu beneran.
"Selamat ya, buat kalian berdua atas kelahiran putra pertama kalian," ucap Kai dengan tulus lalu menatap bayi tampan itu dengan senyum.
"Terima kasih, Kai," ucap Dian. Sedangkan Tara hanya diam dan menyimak pembicaraan keduanya.
"Boleh aku gendong sebentar? Aku juga berharap istriku segera hamil," kata Kai penuh harap ingin menggendong bayi mungil itu.
"Tidak ..." Suara berat yang keluar dari mulut Tara seketika menyirnakan senyum Kai. "Bahkan aku nggak Sudi pria brengsek seperti dirimu menyentuh putraku. Aku nggak mau di ketularan brengsek dan bejat sepertimu," pungkas Tara dengan tatapan penuh benci menatap ex sahabat sekaligus boss-nya itu.
Bugh ...
Kai merasa dadanya seperti terkena hantaman batu besar. Ucapan tanpa permisi bercampur kebencian yang terucap dari Tara seketika membuat dadanya sakit.
Ia tak menyangka jika Tara masih saja menyimpan dendam dan membencinya.
__ADS_1
Kai hanya mengangguk kecewa dan tak menjawab melainkan ia langsung berlalu meninggalkan keduanya.
Sepeninggal Kai, Dian menoleh ke arah suaminya.
"Kamu apa-apaan sih Tara?! Apa salahnya jika Kai ingin menggendong Bara. Apa segitu bencinya kamu padanya?" sentak Dian tak kalah kesalnya.
"Jadi kamu membela pria bajingan itu?"
"Bukan membela. Apa kamu nggak mendengar dia bilang apa tadi? Dia juga berharap jika istrinya segera hamil," jawab Dian.
"Aku berharap istrinya nggak akan pernah bisa hamil. Jika istrinya hamil, itu sama saja akan muncul penerus pria brengsek, bajingan dan bejat sepertinya," pungkas Tara.
Dian menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata kejam suaminya. "Dendam mu sudah membutakan mata hatimu dan pikiranmu. Segitu piciknya caramu berpikir." Setelah selesai mengucapkan kalimatnya Dian langsung meninggalkan Tara yang masih berdiri di tempat.
Sambil berjalan Dian menatap putra mungilnya.
"Sayang, Mama berharap kamu tidak seperti papa. Jadi lah pria yang baik dan jangan jadi pria pendendam seperti papa," lirihnya lalu mengecup putranya.
Sedangkan Kai yang saat ini dalam perjalanan, tampak termenung. Sesekali Alex meliriknya dari kaca spion tengah mobilnya.
"Tuan ... apa Anda baik-baik saja?" tanya Alex.
Kai mengulas senyum. "Ya, aku baik-baik saja Alex," jawabnya. "Maaf selama tiga bulan ini aku cukup merepotkanmu bahkan kamu harus terus berbohong demi aku dan El."
"Tidak masalah Tuan, itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai asisten Anda," timpalnya. "Bagaimana dengan, Nona El, Tuan?"
"Dia juga baik dan sehat."
"Syukurlah, saya ikut bahagia dan senang, karena sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah," ucap Alex dengan tulus.
"Thanks ya, Lex," ucap Kai.
"Sama-sama Tuan."
"Lex, sebelum ke kantor tolong antar aku ke makam mertua ku," pintanya.
"Baik Tuan."
Alex terus melajukan mobilnya ke arah makan yang di maksud. Sedangkan Kai ia hanya mengulas senyum.
.
.
.
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1