All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
64. Aku akan cari tahu ...


__ADS_3

Setelah tiba di Hotel xxxx, El kembali memasang kacamata tebalnya dan memakai masker.


"Bang, ini ongkosnya dan kembaliannya buat Abang saja."


"Ini kebanyakan, Mbak," kata bang supir.


"Nggak apa-apa, Bang. Itu rezeki buat Abang. Doain aku saja semoga kuliahku lancar," balas El lalu turun dari mobil.


El memasuki Hotel xxxx lalu segera check in. Setelah mendapat kartu akses, ia pun menuju kamarnya.


Begitu masuk ke dalam kamar hotel, ia langsung melepas ransel, kacamata dan maskernya. Merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah hingga ia kembali tertidur.


.


.


.


.


Rumah sakit Kota A ...


Ketika Kai memasuki rumah sakit, semua mata tertuju ke arahnya, pria tampan nyaris sempurna itu, seakan tidak peduli dengan tatapan mendamba para wanita dan staf rumah sakit.


Ia terus melewati bangsal hingga sampai di ruang praktek dokter Mike Spesialis bedah sekaligus spesialis penyakit dalam.


Tok ... tok ... tok ...


Dokter Mike yang sedang membaca riwayat penyakit beberapa pasiennya, langsung mengarahkan matanya ke arah pintu yang di ketuk. Ia tersenyum setelah tahu siapa yang berada dari balik pintu itu.


"Mr. Kai, long time no see. How are you, Sir?" sapa dokter Mike dengan seulas senyum, ia kemudian mengulurkan untuk berjabat tangan.


"Sepertinya aku kurang baik, Dok." Kai menyambut uluran tangan dokter Mike, kemudian ia duduk di kursi.


Kai terdiam sejenak karena ekor matanya tak sengaja tertuju ke arah rak buku dan frame foto yang tersusun rapi di atas bufet dokter Mike. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri bufet itu.


Dokter Mike hanya menatap Kai dengan heran. "Ada apa Mr. Kai?" tanyanya.


Kai tidak menjawab melainkan ia meraih salah satu frame foto kebersamaan El, Lois dan dokter Mike yang sedang tersenyum lengkap dengan jas dokternya.

__ADS_1


"Dokter Mike, seberapa dekat kalian dengan El? Apa dia dulunya magang di rumah sakit ini?" tanya Kai.


"Cukup dekat, kami sering menghabiskan waktu bersama bahkan sebelum saya divorce dengan istri saya. El, salah satu mahasiswi saya. Dia merupakan seorang gadis yang sangat pintar dan sangat berprestasi."


"Ya, dia pernah magang di rumah sakit ini bahkan banyak pasien menyukai kepribadiannya yang lembut, ramah, telaten. Dia bekerja dengan sangat profesional.


"Tapi maaf, karena keegoisan Anda, dia gagal meraih gelar sarjananya. Padahal saat itu hanya tinggal dua bulan saja lagi dia akan wisuda. Tapi semuanya ... boomm!!! You destroyed all her dreams, Mr. Kai."


Kai terpekur, terdiam mematung mendengar penuturan dari dokter Mike. Ia mengusap foto gadis itu yang sedang tersenyum. Ia kembali meraih salah satu foto El yang sedang memeluk Bryan anak dokter Mike.


"That's my son, Bryan. Sisi lain dari gadis itu, dia sangat menyayangi anak-anak dan juga lansia. Bahkan, El biasa mengunjungi panti jompo hanya untuk menghibur lansia di sana dan memberikan pelayanan gratis. Mungkin karena gadis itu sudah tidak punya siapa-siapa," jelas dokter Mike dengan wajah sendu.


Kai membisu dan hanya menjadi pendengar setia dokter Mike. Lagi-lagi ia terkejut mengetahui sisi lain gadis itu. Gadis yang membencinya, terlihat bar-bar ketika berhadapan dengannya, bersikap ketus dan selalu menunjukkan rasa tidak sukanya pada dirinya.


"Mungkin kita sudah terlalu jauh membahas sosok El, sehingga kita lupa membahas tentang tujuan Anda datang kemari," sambung dokter Mike.


Kai kembali meletakkan frame foto di rak bufet lalu kembali duduk di kursi.


"Dok, aku tiba-tiba merasakan nyeri diperut ku. Apa itu memang biasa terjadi?" tanya Kai.


"Iya." Sedetik kemudian dokter Mike menatap curiga padanya. "Apa Anda kembali mengkonsumsi alkohol?"


"Tidak, Dok. Aku sudah tidak pernah menyentuh minuman itu lagi. Bahkan aku mengikuti semua saran darimu."


.


.


.


.


Penthouse Kai ...


Kai berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Ia kembali teringat akan ucapan dokter Mike tadi.


"El, jika aku menemukan dirimu, aku tidak akan melepasmu lagi. Aku sudah bertekad akan tetap menikahimu. Aku akan menebus semua kesalahanku padamu. Aku tidak peduli jika kamu akan membenciku. Aku akan tetap berusaha menaklukkan hatimu."


Kai kemudian bangkit dari pembaringanya lalu menuju balkon kamarnya. Ia menatap Kota A dari atas ketinggian tempatnya berdiri. Ia kembali teringat gadis berambut keriting, berkacamata tebal, yang bernama Culun.

__ADS_1


"Aku akan cari tahu tentang gadis itu. Entah mengapa sifat dan kepribadiannya sama persis dengan El. Apalagi ketika dia menatapku lalu mengatakan aku bastard. Hanya El yang berani mengucapkan kata itu."


Kai menghela nafasnya pelan. Setelah kejadian malam itu, ia sudah tidak tertarik lagi untuk menyewa bed partner.


.


.


.


Sore harinya di Kota X, apartemen Tara ...


Bu Arini menghampiri putranya yang tampak melamun diruang tamu apartement.


"Tara," tegur Bu Arini.


"Ya, Mom." Tara menoleh sekilas lalu meraih rokoknya.


"Momy harap kamu akan menepati janjimu. Sampai kapan kamu mau mencari El? Bahkan ini sudah lewat enam bulan. Tapi tetap saja, kamu belum bisa melacak keberadaan gadis itu," sindir sang momy.


Tara merasa kesal mendengar sindiran momynya. "Jika Mommy mengira El seperti gadis-gadis lain yang gampang dilacak keberadaannya, Momy salah besar. El cukup smart. Hingga keberadaan tak terlacak," tegasnya sembari menghembus asap rokok dengan kasar.


Bu Arini langsung terdiam mendengar ucapan putranya yang terdengar seperti menyindirnya balik.


"Don't worry, Mom. Aku akan menepati janjiku seperti keinginan Momy. Tapi jangan salahkan aku, jika aku tidak bisa menjadi suami yang baik bagi Dian," sambungnya dengan santai.


"Tara! Kamu be ....."


"Nggak usah protes, Mom. Ini kan.yang Momy inginkan?!" tegas Tara memotong cepat kalimat sang momy.


Mommy Arini langsung meninggalkan Tara yang masih duduk dengan santainya di sofa sambil terus menyesap rokoknya.


Pak Mulia yang sejak tadi menyimak pembicaraan antara putra dan istrinya, menghampiri Tara yang sudah berdiri lalu ke teras balkon.


"Tara?" sebut Pak Mulia sembari menepuk bahunya.


"Pah." Ia langsung memeluk papanya. Tara merasa hanya papanya yang mengerti dirinya.


"Tara? Kamu masih punya banyak waktu, Nak. Papa hanya ingin memberimu sedikit nasehat. Dian gadis yang baik dan tidak ada salahnya kamu menjalaninya dulu. Bukankah kamu sudah sering menolak perjodohan dari Momy? Jika kamu dan El memang benar-benar tidak berjodoh, terimalah Dian masuk ke dalam kehidupanmu."

__ADS_1


Tara hanya bergeming mendengar nasehat sang papa. Namun tetap saja, ia masih belum bisa menerima Dian masuk ke dalam kehidupannya.


...----------------...


__ADS_2