All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
163.


__ADS_3

Ketika dalam perjalanan menuju kantor Kai, sesekali Mike meliriknya lalu mengulas senyum. Entah mengapa ia merasa gemas melihat El yang terlihat chubby.


"El ... sepertinya kamu bakal lebih chubby dari ini nantinya. Selama kamu hamil, apa Kai doyan makan?" tanya Mike.


"Menurutmu? Hahaha ... jangan dibilang, aku sampai uring-uringan dibuatnya. Apalagi jika pengennya makan tengah malam, ngeselin nggak tuh," jelas El sambil geleng-geleng kepala.


"Huahahaha ... yang sabar ya, Dear." Mike terbahak. "Yang penting kalian sehat-sehat terus," ucap Mike.


"Hmmm ..." Hening sejenak sebelum El kembali membuka suara. "Mike ... kamu kan, spesialis penyakit dalam. Apa Kai pernah memeriksakan kesehatannya padamu? Beberapa kali aku mendapatinya sering meringis sambil mengusap perutnya. Apalagi sebelumnya dia peminum dan perokok aktif," cecar El.


Mike bergeming dan tetap fokus menyetir.


"Aku sudah menduga, suatu saat El pasti menanyakan ini." Mike membatin lalu melirik El.


"Aku sempat ingin memeriksakan kesehatannya tapi dia menolak. Kai bilang, dia hanya kecapean," lanjut El lagi.


Bersamaan dengan selesainya kalimat El, kendaraan yang di kemudiannya pun berhenti tepat di depan gedung kantor Kai.


Sebelum keluar dari mobil, terlebih dulu El memakai kacamata hitam dan masker juga topi bundar. Baik El maupun Mike keduanya sama-sama tertawa.


"Kita sudah seperti punya skandal saja El," kelakar Mike lalu tertawa.


"Nikmati saja ..." sahut El dengan santai. "Thanks ya, Dear. Aku masuk dulu," izin El lalu membuka pintu mobil.


Setelah memastikan Mike telah menjauh, barulah ia melangkah menghampiri pintu otomatis kantor.


Sesaat setelah ia berada di depan pintu ruangan Kai, perlahan ia memutar handle pintu lalu sedikit mengintip.


"Serius banget sih, Pak CEO-nya," gumam El lalu tersenyum menatap suaminya yang terlihat serius membaca salah satu berkas.


"Daddy ... we come for you," sapa El lalu melepas kacamata, masker dan topi bundarnya.


Tak pelak sapaan manja yang menyapa gendang telinga Kai, seketika langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Sayang," lirihnya lalu meletakkan berkas yang sedang dipegangnya ke atas meja lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Aku merindukanmu ... sangat," bisik El dan langsung memeluknya dengan erat.


"Bukan kamu saja, aku juga," ia balik bersisik seraya mengelus punggung istrinya dengan sayang. Setelah itu ia mengurai pelukannya lalu mendudukkan El di atas meja kerjanya.


Kai kembali menatapnya lalu mengelus dan mengecup lama perut El. "Kalian nggak nakal kan, di dalam sini," bisiknya.


"Nggak daddy, kami nggak nakal," jawab El menirukan suara anak-anak sambil mengelus rambut suaminya lalu tersenyum.


Kai ikut tersenyum lalu menegakkan badannya, memberi kecupan di kening lalu turun ke bibir El dan sedikit melu*mat kecil kemudian melepas.


Saking rindunya El pada Kai, ia kembali memeluknya dan menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulin suaminya itu.


"Sayang," bisik Kai.


"Hmm ..."


"Ayo kita duduk di sofa saja," cetus Kai lalu menurunkannya dari meja. "Apa kamu ingin sesuatu sayang?" tanya Kai setelah keduanya duduk di sofa.


"Nggak. Aku hanya menginginkanmu," godanya.

__ADS_1


"Jangan menggodaku," bisik Kai dan El langsung tertawa.


"Aku hanya bercanda," balasnya seraya membenamkan kepalanya di dada Kai sambil melepas dua kancing kemejanya lalu tangannya menyusup mengelus dada bidang suaminya.


Kai hanya mengulas senyum lalu mengecup puncak kepalanya. Beberapa menit kemudian, tangan yang sejak tadi mengelus dadanya perlahan terjatuh.


"Sayang," bisik Kai.


"Biarkan aku tidur seperti ini sebentar," pintanya.


"Bagaimana jika berbaring saja di pangkuanku," cetus Kai namun El menggeleng. "Ya sudah. Tidurlah," desis Kai lalu mengelus perutnya.


Selang beberapa menit kemudian, Kai membaringkannya di atas sofa lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


***********


Tiga puluh menit kemudian ketika El terbangun, ia mendapati ruangan itu sepi bahkan suaminya tidak berada di ruangan itu.


"Kai ... ke mana dia," desis El lalu meraih jas suaminya yang menutupi pahanya. Tak lama berselang pintu dibuka.


"Sayang, kamu sudah bangun." Kai menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


"Hmm ... sayang, pulang yuk. Atau kita jalan-jalan sebentar," usulnya.


"Kamu pengen kemana?" tanya Kai seraya mengelus pipinya.


"Terserah kamu," jawab El.


"Bagaimana jika kita ke penthouse saja," usul Kai.


"Boleh deh, Sayang. lagian sudah lama kita nggak ke sana. Tapi kita belanja dulu ya sebelum ke sana. Aku ingin masak-masak," pinta El.


"Ok, as you wan't sayang."


Setelah memakai kacamata hitam dan masker, lagi-lagi El terkekeh. "Sayang, aku sudah seperti buronan saja."


"Buronan wartawan dan ..." Kai mengatupkan bibirnya menahan ucapanya.


"Dan Tara selanjutnya orang-orang terdekat kita. Benar kan?" sambung El lalu memeluk gemas suaminya.


Tadinya Kai mengira jika istrinya itu bakal mengamuk lagi tapi perkiraannya salah.


"Yuk kita berangkat sekarang," ajak El lalu menarik lengan kekar suaminya supaya berdiri.


Kai hanya menurut lalu memakaikan jas-nya ke tubuh istrinya.


.


.


.


.


Di swalayan, Kai terus mengikuti langkah kaki istrinya. Senyumnya terus saja terukir di wajahnya memperhatikan istrinya.

__ADS_1


"Sayang, kamu pengen aku masakin apa nanti?" tanya El.


"Terserah kamu saja, Sayang. Apapun yang kamu masak aku suka," jawab Kai.


"Ok ..."


Setelah memilih beberapa sayuran dan daging-dagingan, El kembali mengajak suaminya ke kasir untuk membayar belanjaan.


Begitu selesai membayar belanjaannya, Kai membawa barang belanjaan itu ke arah mobilnya,


"Sayang, aku tunggu di mobil ya," kata Kai.


"Baiklah," sahut El lalu berhenti sejenak karena ponselnya bergetar. Saat menatap layar ponselnya ia menghela nafas. "Dian," lirihnya lalu menggeser tombol hijau.


"Ya Hallo, Dian," jawab El.


"El, lagi ngapain?" tanya Dian basa-basi.


"Aku lagi di swalayan belanja," jawabnya.


"El, kapan kamu akan ke berkunjung ke rumahku? Apa kamu nggak ingin bertemu dengan putraku?"


El mengulas senyum membayangkan wajah tampan bayi mungilnya itu. Bara Atmaja Mulia itulah nama putra Dian dan Tara.


"Baiklah, besok aku akan berkunjung," janjinya.


"Beneran? Apa kamu akan berangkat besok ke kota A?" tanya Dian dengan semangat.


"Nggak, aku sudah di kota A. Share saja alamat rumahmu. Aku pun sudah nggak sabar ingin menggendong putramu itu," aku-nya lalu terkekeh.


"Baiklah," kata Dian.


"Ya sudah, aku tutup dulu ya, soalnya suamiku sudah menunggu. Ntar dia ngambek lagi," kelakar El.


"Baiklah, janji ya, kamu akan datang besok. Jangan lupa hubungi aku nantinya," pesan Dian.


"Siap Nyonya Tara."


Suara kekehan Dian terdengar dari seberang telepon, sebelum akhirnya ia memutuskan panggilan telepon.


Sambil menghela nafasnya ia kembali melanjutkan langkahnya. Baru saja beberapa langkah. ....


Bruuukkk ....


El hampir terjungkal, namun dengan sigap pria itu menahan tubuhnya.


"Hati-hati ..."


Mata El langsung membulat saat mendengar suara khas berat yang begitu di kenalnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2