All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
59. Emosi Tara ...


__ADS_3

Tiga bulan kemudian ...


Setelah menjalani perawatan selama seminggu di rumah sakit Kota A, Kai memutuskan pulang ke Jerman sekaligus melanjutkan pengobatan dirinya atas saran dokter Mike.


Akibat dari mengkonsumsi alkohol dalam jangka waktu yang panjang, ia hampir saja kehilangan nyawa karena minuman itu.


Ketika menjalani perawatan di negara asal sang mama, ia akhirnya menceritakan dan mengakui semua kesalahan dan perbuatannya yang telah ia lakukan pada pada El.


Tak pelak, pengakuannya itu justru membuat sang mama begitu murka padanya sekaligus kecewa. Mama Gloria bahkan mengancamnya tidak akan mau bertemu dengannya lagi jika ia tak mencari dan bertanggung jawab pada gadis itu.


Setelah sebulan lebih berada di Jerman, Kai kembali lagi ke Kota A setelah kesehatannya berangsur membaik.


Ia kembali menjalani aktifitas di kantornya seperti biasa. Selain itu ia masih terus berusaha mencari tahu keberadaan El yang sampai kini belum menemukan titik terang.


"El ... sebenarnya kamu ada di mana? Bagaimana keadaanmu? Bagaimana jika saat ini kamu sedang mengandung anakku? Lalu biaya dari mana jika kamu akan memeriksakan kandungan dan kesehatanmu?"


Pertanyaan beruntun itu terus memenuhi pikirannya hingga membuat air matanya tiba-tiba mengalir mengingat gadis itu.


Tok ... tok ... tok ...


Ketukan pintu seketika membuatnya tersadar dari lamunan panjangnya. Ia pun menoleh lalu mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Alex." Ia berucap lirih lalu menghampiri sang asisten.


Keduanya pun duduk di sofa ruangan itu.


"Tuan, proyek pembangunan rumah sakit di Kota X, sudah dua bulan berjalan tanpa hambatan. Saya sudah menghubungi pak Abichandra sebagai arsiteknya sekaligus yang bertanggung jawab penuh dengan proyek itu, Tuan," terang Alex sambil meletakkan map yang dibawakan ke atas meja.


"Hmm."


"Apa Tuan ingin memantau proyek itu langsung?" tanya Alex.


Kai hanya mengangguk. "Besok siapkan semua keperluan yang aku butuhkan. Lusa nanti aku akan ke Kota X. Kebetulan sudah lama aku tidak mendatangi kota itu."


"Baik, Tuan." Alex menunduk takjim. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu berpamitan kemudian meninggalkan ruangan itu.


.


.

__ADS_1


.


Kantor Tara, ruang meeting ...


Sejak meeting dimulai hingga selesai, Tara tampak tidak fokus karena melamun. Hingga Daniel menepuk bahunya.


"Tara," tegur Daniel.


"Ya, Daniel? Ada apa?" Ia tersentak lalu menoleh ke arahnya.


"Meeting sudah selesai, klien kita sudah selesai mempresentasikan semua proposal mereka," kata Daniel dengan berbisik.


"Sudah selesai ya? Kalau begitu, aku serahkan semuanya padamu, tolong pertimbangkan presentasi yang menurutmu terbaik. Aku langsung ke ruang kerjaku. Aku percayakan semuanya padamu." Ia langsung beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari ruang meeting itu.


Sesampainya di ruang kerjanya, ia langsung melepas dasi dan jasnya lalu melemparnya di atas sofa dengan perasaan geram.


Merasa belum puas, ia mengambil asbak yang berada di atas meja lalu membantingnya hingga benda itu langsung pecah berserakan di lantai.


"Aarrgghhh ... sebenarnya ada di mana dirimu, El? !! Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apakah kamu masih hidup ataukah sudah mati!!! Ia berteriak dengan emosi meluap-luap.


Tak sampai di situ, ia kembali menghambur semua berkas yang ada di atas mejanya. Hingga membuat ruangan-ruangannya itu kini berantakan.


Ia marah, geram sekaligus merasa frustasi karena sang momy terus-terusan memojokkan El. Bu Arini merasa kesal karena sampai detik ini gadis itu masih belum ada kabar sama sekali.


Terus seperti itu, bahkan ia tidak menyadari sejak tadi Pak Mulia terus memperhatikannya di depan pintu ruang kerjanya. Ia pun menghampiri sang putra lalu menepuk pundaknya.


"Tara, apa yang terjadi di sini? Kenapa ruangan ini tampak berantakan?" tanya Pak Mulia.


Ia bergeming tak menjawab bahkan ia terus mengarahkan pandangannya ke depan.


"Papa tahu apa yang yang kamu rasakan dan kamu pikirkan. Berusahalah dan temukan El secepatnya jika kamu nggak mau di jodohkan. Jujur saja, papa juga nggak setuju dengan keputusan Mommy." Pak Mulia menatapnya yang hanya bergeming di tempat.


Tak berselang lama, Daniel yang saja membuka pintu, merasa sangat terkejut mendapati ruangan itu yang terlihat sangat berantakan. Ia langsung menghubungi OB untuk segera datang membersihkan ruangan itu.


"Tuan, Tara," sapa Daniel sambil membawa proposal salah satu klien yang berhasil mencuri perhatiannya.


Keduanya menoleh ke arah Daniel.


"Ini proposal salah satu klien yang menurutku paling bagus.'' Daniel meletakkannya di atas meja kerja. Setelah itu, ia langsung meninggalkan keduanya.

__ADS_1


.


.


.


Malam harinya ...


El baru saja selesai mengikuti kelas kuliah malam. Ia dan beberapa temannya tampak berjalan bersama menuju halte.


Sambil menunggu bis, mereka terlibat obrolan kecil. Tak jarang El dan beberapa temannya saling bercanda dan tertawa karena sifat konyol gadis itu.


Tidak lama kemudian, bis yang ditunggu pun sampai. Setelah berpamitan, El menaiki bis itu lalu duduk dekat jendela. Senyumnya kembali terbit di bibir tipisnya.


"Finally, aku bisa kembali aktif kuliah. Semoga kuliahku berjalan mulus dan aku bisa lulus dengan IPK sempurna." El bergumam dalam hatinya.


"Jujur saja, aku jatuh cinta dengan Kota ini. Aku ingin mengabdi di kota ini saja setelah aku menjadi dokter," gumamnya.


Sudah tiga bulan lebih ia menetap di Kota X. Ia merasa hidupnya begitu tenang. Ditambah lagi dengan tetangga dan teman-temannya yang begitu baik padanya. Ia merasa seperti memiliki keluarga baru.


Tak lama kemudian, bis yang di tumpanginya berhenti di halte tujuan. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya lalu membayar ongkos. El yang sudah mengenal dekat bang supir, merasa sedikit terbantu jika ia harus kuliah malam.


"Terima kasih ya, Bang. Tetap semangat, kita sama-sama pejuang rupiah," kata El sambil mengulas senyum lalu mengangkat kedua tangannya menyemangati bang supir.


"Sama-sama, Lun. Aku juga berterima kasih karena setiap hari kamu selalu memberi semangat kepadaku," timpal bang supir yang sudah menganggap El seperti adiknya sendiri.


Ia pum melambaikan tangannya sesaat setelah ia turun dari bis itu. Ia pun mulai melangkah kecil sambil menghitung langkahnya. Kebiasaan yang sejak dulu tidak bisa di hilangkannya.


Asik menghitung langkahnya, El kembali menubruk seseorang. Ia pun mendongak menatap pria itu sambil membetulkan kaca mata tebalnya karena melorot.


"Ah, maaf, aku nggak sengaja," ucapnya.


"Nggak apa-apa," balas pria itu.


El hanya mengangguk lalu mengerutkan keningnya karena merasa pernah bertemu dengan pria itu.


"Sepertinya aku pernah bertemu dengan pria itu. Tapi di mana ya?" Ia bertanya-tanya sendiri.


Sesaat setelah di depan pintu kontrakannya, ia langsung membuka pintu. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya lalu menyalakan kipas. Karena merasa lelah, ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur lipatnya.

__ADS_1


Ia menghela nafasn lalu memejamkan matanya. Tanpa terasa ia malah ketiduran.


...----------------...


__ADS_2