All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
88. Ada hubungan apa mereka ...?


__ADS_3

Pagi harinya ...


ketika Kai membuka matanya, ia langsung panik ketika tidak mendapati El sudah tidak berada disampingnya.


Dengan tergesa-gesa ia bangkit dari tidurnya dan mencari keberadaan gadis itu, takut kalau-kalau ia pergi meninggalkannya lagi.


Kai segera masuk ke kamar mandi lalu ke walk in closet, bahkan ke ruang fitness, namun El tidak berada di ruangan itu.


Seketika rasa takut kehilangan kembali menyelimuti dirinya. Ia pun berlari kecil menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti ketika mendapati El berada di pantry sedang membuat sarapan.


Ia langsung mengelus dada menarik nafasnya pelan seraya menghampiri El kemudian memeluknya dengan erat.


"Sayang, kamu membuatku panik. Aku mengira jika kamu pergi meninggalkanku lagi. Please, jangan tinggalkan aku lagi. Aku takut kehilanganmu," bisik Kai.


El bisa merasakan tetesan air mata Kai yang jatuh di pundaknya. Ia pun berbalik kemudian menatap lekat manik hazelnya.


Ia menggelengkan kepala lalu berkata, "Nggak, aku nggak akan pergi nggak akan menghilang lagi seperti waktu itu."


"Duduklah, aku sudah membuat teh hangat dan juga sarapan untukmu," pintanya dengan suara lembut. "Sarapanlah dulu, aku akan menyiapkan baju kantormu."


Kai bergeming menatap wanitanya yang sejak tadi terus berbicara padanya. "Berjanjilah padaku jika kamu akan terus mendampingiku walau dalam keadaan apapun diriku," pinta Kai.


"Aku janji. Sebaiknya kamu sarapan, aku ke atas dulu sekaligus ingin menyiapkan pakaianmu. Ingat, habiskan sarapannya jangan ada sisa!"


"Sempat-sempatnya mengancam," gumam Kai sesaat setelah El meninggalkannya.


Ia terkekeh sambil menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi meja makan.


Satu jam berlalu ...


El yang sudah tampak rapi sedang duduk di sofa yang ada di walk in closet sambil memainkan ponselnya menunggu Kai.


Tak berselang lama, orang yang sejak tadi ditunggunya pun muncul. Tanpa basa basi Kai langsung duduk di sampingnya.


"Sudah pakai CD belum?" tanya El to the poin lalu terbahak.


Kai berdecak lalu tersenyum penuh arti. "Apa perlu aku menjawabnya? Bagaimana jika belum?Apa kita harus melakukan ritual dulu?"


"Cih! Dasar om om mesum." El memutar bola matanya malas sembari menahan dada bidang Kai.


Mendengar El menyebutnya Om mesum, Kai terkekeh. "Biar om om begini, aku masih perkasa loh di atas ranjang," bisiknya lalu ingin melu*mat bibir El. Namun lagi-lagi gadis itu menahan dengan jarinya.


Karena tak ingin meladeni Kai, El beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil setelan jas yang sudah ia siapkan untuk Kai.

__ADS_1


"Kemarilah, aku akan membantumu mengenakan pakaian ini," pinta El.


Kai hanya menurut. "Sebentar aku pakai celananya dulu," ujarnya.


Setelah selesai mengenakan celananya, ia menatap El yang dengan telaten memakaikannya kemeja lalu memasangkan kancingnya.


Seketika tangannya terangkat lalu menangkup wajah cantik El lalu perlahan menautkan bibirnya.


Merasa El tidak menolak, ia pun seperti menuntut. Awalnya hanya ciuman lembut dan biasa saja namun semakin lama Kai semakin menuntut bahkan tangannya mulai nakal dan menjalar ke mana-mana.


El mulai terbuai ketika Kai menyesap lembut leher dan tulang selangkanya. Hingga suara desa*hannya lolos begitu saja.


El malah melingkarkan kedua tangannya ke punggung leher Kai. Sudut bibir Kai kembali melukis senyum ketika suara desa*han El kembali lolos begitu saja dan terdengar merdu di telinganya. Suara yang begitu ingin ia dengar dari gadis pembangkangnya itu.


Ting tong ... ting tong ....


Suara bel pintu seketika menyadarkan keduanya. Kai menyatukan keningnya dengan El lalu tersenyum. Keduanya sama-sama mengatur nafas yang saling memburu menahan hasrat yang tadinya mulai menggebu.


"Maaf, aku nggak bisa mengendalikan diriku," bisik Kai lalu mengecup bibir El. "Itu pasti Richard," bisik Kai lalu lagi lalu meninggalkannya.


Sepeninggal Kai, El langsung memegang dadanya lalu kembali mengatur nafasnya.


"Jantung ini kenapa berdebar sekencang ini?" Gumam El .


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kai.


El mengarahkan pandangannya ke arah Kai. "Nggak apa-apa, kemarilah. Aku ingin memelukmu sebentar."


Kai langsung membawanya masuk ke dalam pelukannya lalu mengecup keningnya.


"Kai, apa kamu bisa merasakan betapa kencangnya detak jantungku? Hanya kamu yang bisa membuatnya berdebar sekencang ini," aku El.


Kai semakin mendekapnya erat wanitanya itu lalu membenamkan bibirnya di puncak kepala.


"Ya, aku merasakannya," bisik Kai lalu mengurai dekapannya. Melonggarkan pelukannya lalu menatap lekat wajah El kemudian berkata, "Sayang, aku sangat mencintaimu."


"Sudah ya, kenakan jasmu sekarang, Richard sudah menunggu sejak tadi. Aku akan ikut mengantarmu ke bandara," pungkasnya lalu merapikan jas Kai yang sudah terpasang di tubuh tegap nan atletisnya.


"Baiklah dengan senang hati, Sayang," balas Kai.


Keduanya pun meninggalkan ruang ganti itu. Setelah berada di kamar, El menghampiri meja sofa lalu memasukkan laptop milik Kai ke dalam tas kerjanya.


"Kai, ayo," ajaknya lalu mengulas senyum. Keduanya pun menuruni tangga lalu menghampiri Richard yang sejak tadi sudah menunggu.

__ADS_1


.


.


.


Kini mereka sudah tiba di bandara Kota X. Keduanya pun turun dari mobil. El langsung terkekeh ketika Kai menautkan jemarinya dengannya.


"Posesif banget sih, Om," ledek El. Kai langsung berdecak kesal.


"Yang kamu sebut Om itu, calon suamimu tahu!" kesalnya sekaligus merasa gemes.


Lagi-lagi El langsung tergelak mendengar ucapan sang calon suami. Sambil menunggu pengumuman pemberangkatan, keduanya tampak mengobrol dan sesekali tertawa lepas.


Kai bahkan seakan tidak ingin melepas tautan jemarinya dari El. Sesekali Kai juga mengusap punggung El dengan sayang.


Gelagat keduanya tak lepas dari perhatian Tara yang baru saja tiba di bandara itu. Setelah gagal menemukan El, ia juga harus segera kembali ke kota A karena harus fitting baju pengantin.


Beberapa menit kemudian, terdengar pengumuman jika pesawat yang akan ditumpangi Kai akan segara take off.


"Sayang, aku berangkat ya. Oh ya, password pintu sudah aku ganti dengan tanggal lahir kamu. Mungkin aku agak lama pulangnya soalnya aku harus ke Jerman," jelasnya.


"Tapi nggak usah sedih, aku akan menghubungimu nanti," sambungnya lalu membelai wajah El.


"Baiklah ... hati-hati ya jangan terlalu capek kerjanya. Makannya harus tepat waktu," pesan El.


"Hmm."


Sebelum melanjutkan langkahnya, Kai memeluk El sejenak lalu mengecup kening dan bibirnya singkat. Dengan terpaksa ia pun meninggalkan El.


Lagi-lagi Tara dibuat terheran-heran sekaligus bertanya-tanya.


"Ada hubungan apa mereka? Sepertinya Kai sangat menyayanginya meski pun gadis itu jauh dari tipe Kai."


Tara ikut menyusul Kai yang terlihat sudah menjauh. Ia melewati El begitu saja dan memandangnya dengan tatapan sinis.


"Apa gadis berkacamata tebal ini adalah kekasihnya Kai?"


El seakan tidak peduli dengan tatapan sinis dari Tara yang menatapnya aneh. Ia pun melangkah dengan santai menghampiri Richard yang sejak tadi sudah menunggunya di mobil


"Richard, langsung antar aku ke rumah saja ya," pinta El sesaat setelah masuk ke dalam mobil.


"Baik, Nona El." Richard kemudian mulai melajukan mobilnya menuju tempat tujuan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2