All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
78. Sedikit melunak ...


__ADS_3

Setibanya di halaman rumah kontrakan El, Dian masih terlihat penasaran.


"Dian, thanks ya," ucap El lalu turun dari mobil kemudian meninggalkanya begitu saja.


Sedangkan Dian hanya bisa menatap punggung temannya itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih berutang penjelasan padaku El."


Setelah itu, ia kembali melajukan mobilnya ke arah rumahnya.


Keesokan harinya ...


Ketika Kai membuka matanya, sudut bibirnya langsung melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman. Ia berpikir jika El, sudah bangun dan sedang berada di pantry.


Ia pun bangkit dari tidurnya lalu ke kamar mandi. Ketika ia kembali, alisnya langsung bertaut menatap selembar kertas yang terdapat di atas meja nakas.


Kai meraihnya lalu membaca surat itu.


Dear Mr. Bule Bastard. Jangan marah jika kamu sedang membaca surat ini tapi tersenyumlah. Jika kamu marah wajahmu akan terlihat jelek dan tampak akan semakin tua.


Maaf aku pergi tanpa menunggumu bangun. Terima kasih atas ketulusanmu dan perhatianmu malam ini. Tadinya aku begitu sangat membencimu, tapi hatiku sedikit melunak ketika mendengar ungkapan bijakmu barusan.


Terima kasih, karena kamu ingin menjadikanku sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anakmu. Tapi maaf, aku belum siap karena aku masih ingin bebas. Dan yang terakhir, jaga kesehatanmu Mr. Bule Bastard. Aku pergi ...


"What the hell! Eeeeeel ... " Kai merasa geram setelah membaca surat itu.


Ia langsung ke walk in closet lalu menatap wajahnya di depan kaca. "Apa aku sudah setua itu, El?" Kai mengelus wajahnya lalu tersenyum. "Again, dia berhasil mengelabuiku dan menipuku."


Kai kembali memandangi dirinya dari pantulan kaca lalu memejamkan matanya. Sudut bibinya kembali mengukir senyum. Mengelus rahang dan juga bibirnya.


"Sentuhan lembutnya, belaiannya serta tatapan matanya berhasil membuatku nggak berkutik. Aku seakan terhipnotis. Jika kita bertemu lagi, aku nggak akan melepasmu lagi. Never El."


Kai tampak berpikir dan menelaah kembali beberapa kalimat yang seolah tidak asing baginya.


"Mr. Bule ...? Bastard ...? Kalimat itu sama persis seperti yang Culun ucapkan?" ucapnya lirih. Sedetik kemudian ia kembali tersenyum karena El sedikit melunak. "Semoga seterusnya kamu akan terus melunak."

__ADS_1


Sementara di rumah kontrakan El, ia masih tampak tertidur. Mungkin karena efek minuman yang di teguknya semalam.


Matahari semakin terik dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh lima menit. El menggeliat kecil lalu perlahan membuka matanya.


"Sssttt .... Damn! Kepalaku rasanya mau pecah," keluhnya sembari memijat kepalanya turun ke pangkal hidungnya. Ia kembali membenamkan wajahnya ke bantal dan terus meringis.


Dengan terpaksa ia mendudukkan dirinya. Ia meraih tas kecilnya yang tergeletak begitu saja lalu mengeluarkan ponselnya.


"Sebaiknya hari ini aku izin kerja saja." El kemudian menghubungi bu Amanda jika hari ini ia izin tidak masuk kerja. Setelah itu, ia kembali berbaring.


Menatap langit-langit kamarnya lalu kembali mengingat ucapan Kai semalam.


"El, aku tahu, aku sudah menorehkan luka di hatimu dan aku tahu kamu masih membenciku. Tapi, jika kamu ingin membenciku bencilah diriku sewajarnya saja, bisa jadi aku yang kamu benci ini menjadi orang yang sangat kamu cintai. Jika kamu masih mencintai Tara, maka cintailah dia sewajarnya saja, bisa jadi dia akan menjadi orang yang kamu benci."


"Oh God ... di balik sikap angkuh dan arogannya, ternyata dia juga bisa berkata bijak," gumam El. "Sebenarnya apa yang membuat dirinya seperti itu?"


Kantor Tara ...


Ia tampak begitu kesal setelah mendapat kiriman video dari salah satu orang suruhannya di Kota X.


Ia langsung menghubunginya. Hanya di deringan pertama panggilannya langsung terhubung.


"Ya, hallo, Pak," jawabnya cepat.


"Apa kamu yakin, gadis itu pergi dengan pria brengsek itu!" gertak Tara.


"Iya, Pak. Sebelumnya mereka sempat bertengkar. Saat kami ingin mendekat pria itu malah mengancam dan mengatakan jika gadis itu adalah istrinya. Jadi kami tidak berani mendekat Pak," jelasnya.


"Lalu?"


"Mereka berdua keluar dari bar lalu ke apartemen mewah Pak. Mungkin saja itu apartement pria itu."


Tara semakin naik pitam sekaligus meradang. Ingin rasanya ia membunuh Kai detik itu juga.


"Sepertinya, gadis itu menginap di apartemen pria itu Pak, apalagi ia terlihat sudah mabuk."

__ADS_1


Bertambah lah, kekesalan Tara mendengar penjelasan orang suruhannya itu.


"Apa kalian nggak punya otak hah!!! Kenapa kalian diam saja dan nggak langsung meringkus gadis itu sejak ia masuk ke dalam bar. Apa saja yang kalian lakukan!!! Dasar bodoh!!" gertak Tara.


"Bb--bukan begitu Pak, kami sudah mendekat tapi pria itu dan temannya langsung mendekatinya," jelasnya dengan terbata.


Tanpa pikir panjang di balut dengan emosi yang sudah membara, Tara langsung membanting ponselnya dan kembali menghambur semua benda yang ada di atas meja kerjanya.


"Damn!!! What the fu*ck!!!" makinya lalu tersenyum miris. "Apa sekarang kamu beralih profesi menjadi wanita murahan dengan menjajahkan tubuhmu itu, huh!!! How much?!! I will pay for it!!" sambungnya dengan begitu kesalnya.


Ia menghampiri dinding kaca lalu menatap jauh keluar sembari berpikir. Tidak lama kemudian pintu ruang kerjanya di buka tanpa di ketuk.


Mata Bu Arini dan Pak Mulia langsung terbelalak seakan ingin lepas dari cangkangnya, mendapati ruangan itu berantakan.


"Tara! Apa yang sedang terjadi di sini?! Kenapa ruanganmu berantakan begini?!" pekik Bu Arini dengan perasaan kesal.


Tara hanya bergeming. Sedetik kemudian ia membuka suara. "Tolong tinggalkan aku sendiri," pintanya dengan lirih tanpa menoleh sedikit pun.


"Kamu apa-apaan sih Tara! Mommy dan Papa sengaja ke sini karena ingin mem ..."


"Enough, Mom!!!" potongnya setengah membentak. Ia merasa. "Aku bilang, tinggalkan aku sendiri!!! Jangan membuatku seperti orang yang nggak waras," bentaknya lagi.


Ia sudah tidak peduli dengan tatapan menghunus dari Bu Arini yang sedang menatapnya marah.


Setelah itu, Tara langsung berlalu begitu saja meninggalkan momy dan papanya.


Baik momy dan papa keduanya begitu terkejut dengan sikap arogan Tara barusan. Keduanya kembali tersentak ketika Tara keluar lalu membanting pintu dengan keras.


Sepeninggal Tara, bu Arini langsung menangis. Ia tidak menyangka jika Putranya itu akan bersikap arogan dan tidak sopan padanya, bahkan sudah berani membentaknya.


"Pah ..." Bu Arini seolah tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Mah, sudahlah sepertinya Tara sedang tidak baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang menggangu pikirannya," kata Pak Mulia seraya merangkul sang istri lalu mengelus punggungnya.


Pak Mulia kembali memindai seluruh ruangan sang putra yang terlihat sangat berantakan, hingga ekor matanya terpaku pada benda pipih milik sang putra.

__ADS_1


"Apa Tara baru saja menerima panggilan yang membuat suasana hatinya kacau? Kenapa putraku tampak begitu marah, bahkan sudah berani bersikap tidak sopan pada mommynya."


"Pah, ayo kita pulang saja, mama ingin beristirahat di rumah. Hati mama sakit banget dengan sikap Tara. Mama kecewa padanya. Sebelumnya dia nggak pernah seperti ini pada mama," tutur bu Arini sambil terisak.


__ADS_2