All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
37. Ancaman Tara


__ADS_3

Sambil menggeliat kecil, perlahan El membuka matanya. Ia tampak mengerutkan alisnya.


"Perasaan semalam sepertinya aku memeluk Tara deh? Atau aku hanya bermimpi? Ck ... sudah lah," desisnya lalu turun dari ranjang.


Setelah membersihkan wajahnya. Ia pun turun dan ingin ke pantry.


Tara? Jadi semalam dia beneran tidur di kamarku?


"El," sapa Tara yang sedang berada di pantry.


El kembali melanjutkan langkahnya dan menghampiri Tara yang sedang meletakan kopi di atas meja.


"Semalam apa yang membuatmu dalam sekejap langsung bersikap dingin, hmm," tanya Tara lalu memeluknya.


El hanya menggelengkan kepalanya dalam pelukannya.


"Kamu nggak ngantor hari ini?" tanya El sambil menangkup wajah pria itu.


"Ngantor, tapi sebentar lagi," jelasnya dengan seulas senyum.


"Ya udah, aku buatkan kamu sarapan ya," tawar El lalu melepas tangannya dari wajah Tara.


"Hmm ... bolah deh El."


"Aku buatkan nasi goreng aja ya biar cepat."


Tara hanya mengangguk.


Setelah itu El membuka kulkas, lalu mengambil beberapa bahan masakan untuk campuran nasi goreng.


Dengan cekatan ia meracik semua bahan tersebut.


Tara hanya memperhatikannya sambil senyum-senyum sendiri.


Ternyata dia cukup cekatan didapur. Sepertinya dia sudah terbiasa memasak.


Tak butuh waktu yang lama bagi El untuk membuat nasi goreng.


Begitu selesai, ia mengambil piring lalu menyajikan nasi goreng itu di depan Tara.


"Ini nasi goreng spesial buatan El untuk Pak Tara," katanya lalu meletakkan nasi goreng buatannya di depan Tara.


"Thanks ya, El."


"Iya, terima kasih juga untuk kopinya. Ayo di santapnmumpung lagi hangat. Habis ini kamu lanjut mandi, biar aku siapkan baju kantormu," cetusnya lalu menyeruput kopinya.


Senyum Tara kembali terbit di wajah tampannya mendengar ucapannya. Ia pun menyantap nasi goreng buatan gadis itu hingga tak tersisa.


"El, aku baru tahu jika kamu itu pintar masak."


"Nggak pintar amat Tara, cuman bisa lah." El lalu tersenyum.


Setelah selesai sarapan dan meneguk kopinya hingga tandas, Tara langsung ke kamar mandi. Sementara El, ia masih membereskan wadah bekas piring dan gelas lalu mencucinya.


Setelah jam berlalu ...


El terlihat bingung setelah menyiapkan baju kantor lalu menatap Tara.

__ADS_1


"Tara, dasinya nggak ada."


"Nggak apa-apa El. Aku jarang mengenakan dasi kecuali si Pak boss," sahut Tara lalu terkekeh.


"Sini, aku bantuin pasang kancingnya," tawar El lalu menghampiri Tara dan membantunya.


Senyum Tara kembali mengembang. Ia terus menatap wajah polos gadis yang sedang mengancingkan kemejanya hingga selesai.


"Tara."


"Hmm."


"Semalam kamu minum laginya?" tanya El sambil menatapnya.


"Hanya dua gelas El," aku Tara lalu mengelus pipinya.


"Tara, jika boleh aku sarankan, mulai sekarang kamu jangan terlalu banyak minum lagi. Itu tidak baik untuk kesehatanmu." Ia menasehatinya.


"Kamu mau kan berjanji padaku."


"Ok, bu dokter. I'm promise," sahut Tara lalu mencuri satu ciuman.


"Ckk ... Taraaa ...." kesalnya.


Tara hanya terkekeh dan mengabaikan wajah kesalnya lalu memakai jas berwarna navy senada dengan celananya.


"Kemarilah," pintanya sambil merentangkan kedua tangannya.


El menghampirinya lalu memeluknya.


Setelah berada di depan pintu, Tara seolah berat ingin meninggalkannya.


"Ada apa?" tanya El karena pria itu masih menatapnya dan belum beranjak.


Tara bergeming. Sedetik kemudian ia membelai wajah El hingga ke belakang tengkuknya. Ia tersenyum dan semakin mendekatkan bibirnya lalu mencium bibirnya.


Awalnya hanya ciuman biasa namun semakin lama ia semakin menuntut. Tara semakin memperdalam ciumannya, hingga merasa pasokan nafasnya mulai habis, barulah ia melepas tautan bibirnya lalu menyatukan keningnya dengan El.


"Maaf, aku tidak bisa untuk tidak mencium bibir tipismu ini. Sepertinya aku sudah kecanduan," bisiknya.


"Sudah ah ... nanti kamu terlambat. Buruan berangkat," desak El lalu melepasnya.


"Hmm ... baiklah."


.


.


.


Setibanya di kantor, ia disapa langsung disapa oleh beberapa karyawan dan menatapnya kagum.


Tara hanya mengabaikan dan terus melangkahkan kakinya ke arah lift khusus.


Sesaat setelah berada di ruang kerjanya, ia mulai mengatur schedule dan kembali menyiapkan beberapa berkas sebelum membawanya ke ruang kerja sahabatnya itu.


Baru saja ia berdiri, Kai sudah masuk ke ruangannya.

__ADS_1


"Waah, kamu terlihat sangat berbeda hari ini." Kai menatapnya kagum.


Tara hanya mengulas senyum. "Ada apa Kai?" tanyanya.


"Aku cuman mau bilang untuk satu minggu kedepan aku nggak masuk kantor," jelas Kai lalu duduk di hadapannya.


"Why?"


"Aku akan ke Jerman besok sekaligus melepas rindu dengan mamaku. Jadi selama seminggu ini kamu yang akan menghandle semua urusan kantor."


"Ok, nggak masalah. Sebelum ke Jerman, apa kamu tidak ingin bersenang-senang dulu dengan Bella?" tanya Tara dengan senyum smirknya.


Kai hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah bosan bermain dengannya dan yang lainnya. Aku hanya penasaran dengannya," kata Kai mengambang lalu menyesap rokoknya.


"Maksudmu DENGANNYA? Siapa yang kamu maksud? Jangan macam-macam kamu, Kai!" Tara terlihat emosi.


"Kamu tahu benar siapa dia. Setelah menampar dan mempermalukanku lalu semalam sudah membuatku juniorku kesakitan, itu semakin membuatku tertantang," ucap Kai dengan santainya tanpa memperdulikan ekspresi Tara.


Tara mengepalkan kedua tangannya.


"Lalu apa untungnya di kamu?" Sambil menggeretakkan giginya.


Kai hanya bergeming. Terus menyesap rokoknya tanpa memperdulikan sahabatnya yang terlihat kesal.


"Dengarkan aku baik-baik, Kai. Sedikit saja kamu menyakitinya, maka kamu harus siap menerima konsekuensinya. Sudah cukup dua tahun kamu merampas semuanya darinya," ancamnya.


"Wow ... wow ... calm down, Bro. Kenapa kamu langsung emosi. El bukan siapa-siapamu lalu Clara mau kamu ke manakan, hmm," sindir Kai.


Tara menggelengkan kepalanya lalu tersenyum sinis menatap Kai.


"El memang bukan siapa-siapaku. Meskipun hubunganku tanpa status dengannya, kamu bisa lihat sendiri betapa nyamannya dia ketika bersamaku. Clara .... i don't care about her. Dia juga bukan wanita baik-baik. Apa bedanya dia dengan wanita yang biasa kamu tiduri. Bukankah kalian juga biasa bermain dibelakangku? So .... kapan pun aku mau, aku bisa melepasnya untukmu," jelas Tara sambil tersenyum sinis.


Kai terhenyak sekaligus cukup terkejut mendengar ucapan Tara barusan.


Tanpa keduanya sadari, Clara yang sejak tadi berada di balik pintu hanya bisa menutup mulutnya ikut tak percaya mendengar ucapan sang kekasih.


Tahu dari mana Tara jika aku dan Kai biasa bermain di belakangnya? Apa karena itu Tara sering menolakku ketika aku menginginkannya?


"Satu hal yang harus kamu tahu Kai. Aku tidak seperti dirimu. Aku akui kita sama-sama player, sama-sama bad boy, tapi aku tidak akan menyentuh wanita yang sudah menjadi milik sahabatnya sendiri. Sudahlah, ini semua bukan sepenuhnya salahmu karena kita sama-sama tahu, Clara menganggap se*ks bukan hal yang tabu tapi sudah biasa baginya."


Tara menghela nafasnya.


"About El, dia gadis yang sangat menyukai kebebasan. Jika dilihat, dia memang seperti bad girl tapi sebaliknya. Dia sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Makanya aku peringatkan padamu, sedikit saja kamu menyentuh dan menyakitinya, maka kamu harus berhadapan denganku," tegasnya penuh penekanan dan ancaman.


Ruangan itu kembali hening ...


Clara yang sejak tadi berada di balik pintu, akhirnya masuk lalu menyapa keduanya namun terlihat canggung.


"Sayang ... Kai, rupanya kalian di sini."


"Clara," desis keduanya.


"Ya sudah, sebentar lagi kita ada meeting dengan klien. Sebaiknya kita ke sana sekarang." Ia menatap Clara. "Sayang ... sebaiknya kamu kembali ke butik saja," pintanya dengan santai lalu meninggalkan ruangan itu yang kini menyisakan Clara dan Kai.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2