
Siang harinya pukul 12.30 ...
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, baik Kai dan El kini sedang berada di ruang praktek Mike.
"El, Kai ... jika kalian sudah benar-benar siap menjalani operasi transplantasi hati, aku sudah siap membedah kalian," lirih Mike. "Aku hanya butuh tanda tangan sebagai tanda persetujuan dari pihak kalian," terangnya.
"Aku rasa, tidak ada alasan untuk tidak siap menjalani operasi ini. Aku hanya menunggu kedatangan mama saja," jelasnya.
Kai menautkan alis lalu meliriknya. "Maksudmu?" tanya Kai.
"Mungkin mama akan tiba sebentar lagi. Soalnya semalam, bunda memberitahuku jika mama dan Damian sementara dalam perjalanan kemari," jelas El lagi.
"Aku yang menghubungi mamamu Kai," sambung Mike.
Kai hanya bisa mendesah. Gara-gara dirinya semuanya jadi panik dan khawatir.
"Sayang ... jangan menyalahkan dirimu," desis El.
"Maaf ... aku sudah menyusahkan kalian bahkan membuat kalian semua khawatir," imbuhnya.
"Nggak apa-apa, Kai," ucap Mike. "Yang terpenting sekarang adalah semoga operasi kalian berjalan sukses. Aku memikul tanggung jawab pada kalian saat berada di meja operasi.
Jauh dalam sudut hati Mike, ia tidak ingin jika El menjadi pendonor, bukan tanpa alasan, dalam keadaan hamil tentu saja itu sangat beresiko.
"Lord ... aku berharap ada seseorang yang bisa menggantikan El sebagai pendonor. Aku takut terjadi sesuatu pada janinnya," batin Mike.
"Mike ... aku dan El kembali ke kamar dulu," izinnya dan hanya dijawab dengan anggukan kepala.
Sama halnya dengan Mike, Kai juga sangat khawatir jika El menjadi pendonornya apalagi istrinya itu dalam keadaan hamil.
Sesaat setelah berada di kamar rawat.
"Sayang, istirahatlah sebentar," pinta Kai dan menyuruhnya berbaring di bed pasien.
"Hmm ... kepalaku sedikit berat," aku-nya. "Temani aku sampai aku tertidur," pintanya yang kini sudah berbaring.
Kai hanya menurut. "Kemarilah," bisik Kai lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
Sesekali Kai memejamkan matanya sambil menahan nafas karena menahan perih di perutnya.
Lord perih banget. Rasanya aku nggak tega jika El menjadi pendonor, itu sangat beresiko pada triplets kami. Lord aku tidak ingin mereka kenapa-kenapa.
Kai sedikit menunduk menatap wajah istrinya lalu mengelus perutnya.
"Sayang ..." panggil Kai. Namun El tak menjawab. "Cepat juga tidurnya," bisiknya lalu memperbaiki posisi tidur istrinya. "Maaf aku tinggal sebentar," desisnya seraya mengecup kening dan perut istrinya sebelum akhirnya ia kembali ke ruang praktek Mike.
********
Setelah mengetuk pintu, Kai menghampiri Mike yang saat ini terlihat sedang membaca riwayat penyakit Kai dan memperhatikan hasil rontgennya.
"Mike," tegur Kai.
__ADS_1
"Ah Kai," balasnya lalu memijat pangkal hidungnya. "Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini," tebaknya.
"Ya, kamu benar," jawab Kai lalu duduk di sofa sambil mengelus perutnya.
"Apa kamu sudah meminum obatmu?"
"Hmm."
Hening sejenak ...
"Mike, apa kita bisa menunda operasinya? Honestly, aku nggak mau jika El menjadi pendonor apalagi dia sedang hamil."
"Sejak awal, aku memang nggak setuju karena itu sangat beresiko," sahut Mike sambil memijat keningnya karena memikirkan betapa nekatnya El.
Keduanya kembali terdiam dan sama-sama memikirkan solusinya.
Sementara di kamar rawat, mama Glori dan Damian tampak menghampiri bed pasien.
"Ke mana Kai?" lirih mama Glori seraya mengelus kepala El lalu ke perutnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak ingin mengganggu tidur sang menantu, mama Glori mengajak Damian ke ruang praktek Mike.
"Damian, sebaiknya kita ke ruang praktek Mike saja," ajak mama.
"Iya, Mah," kata Damian.
Dengan terpaksa mama Glori dan Damian meninggalkan El yang sedang tertidur.
Sesaat setelah berada di ambang pintu ruang Mike, mama Glori mengetuk pintu lalu membukanya.
"Mama, Damian," sebutnya.
"Tante, Damian."
"Sayang ..." lirih mama lalu menghampirinya dan langsung memeluk putra satu-satunya itu.
"Mah ..." desis Kai sambil mengelus punggung mama Glori yang bergetar karena menangis.
"Mama nggak bisa tenang selama dalam perjalanan ke sini. Mama sangat mengkhawatirkan kalian. Mama takut jika sampai terjadi sesuatu pada kalian," ungkap mama dengan tersengal-sengal.
"Mah ..." lirih Kai.
"Mama sudah bilang padamu saat itu supaya kamu mau di operasi, tapi kamu enggan. Lalu jika sudah seperti ini, apa kamu nggak memikirkan istrimu dan anak yang sedang di kandungnya?"
Kai hanya bungkam. Ia mengerti dengan perasaan sang mama.
"Maaf, Mah," bisiknya.
Sedetik kemudian mama Glori mengurai pelukannya lalu menatap Mike.
"Mike, tante ingin Kai di operasi secepatnya. Kamu pasti sudah tahu separah apa sakitnya Kai," lirih mama.
__ADS_1
"Tante ... Kai memang sudah setuju di operasi tapi ...." Mike menggantung kalimatnya.
"Tapi kenapa?" sanggah Damian seolah tahu keraguan sang dokter. "Apa belum ada pendonor?" tebak Damian.
Mike kembali melirik Kai yang kini tampak tertunduk lesu.
"Nggak Damian," kata Mike.
"Then."
"Pendonornya El," kata Mike lalu menunduk.
Mengetahui jika El yang akan menjadi pendonor hati untuk Kai, mata mama Glori dan Damian seketika melebar sempurna.
"What?!! Apa dia sudah nggak waras!!" ucap Damian sedikit terkejut.
"Nggak ... nggak ... mama nggak setuju. Itu sama saja membahayakan dirinya dan janinnya," protes mama.
"Aku juga nggak setuju Mah. Tapi El memaksa," lirih Kai.
"Aku nggak mau calon ponakanku sampai kenapa-kenapa," sarkas Damian.
Baik Mike, Kai dan mama Glori langsung menatapnya.
"Kai, kenapa kamu nggak berterus terang padaku saat kamu berobat ke Jerman waktu itu,"cecarnya.
Kai hanya diam seribu bahasa. Ia merasa serba salah.
"Aku yang akan menggantikan El menjadi pendonor hati untukmu," tegas Damian. "Aku nggak mau istrimu dan calon ponakanku kenapa-kenapa. Cukup hanya aku yang mengalaminya," lirih Damian.
Seketika ia teringat mendiang istri dan anaknya.
"Percayalah, kehilangan orang-orang yang kita cintai, itu sangat menyakitkan. Kamu bahkan tahu sendiri bagaimana rasanya kehilangan ayah," lanjut Damian lalu menghampiri sepupunya itu.
"Damian ..." Kai menatapnya lekat.
"Kai, jangan menolak, pikirkan El dan calon bayi kalian. Jika El nekat, tidak menutup kemungkinan kalian akan kehilangan triplets," tegas Damian.
"Aku setuju dengan Damian," sahut Mike.
"Mama juga," sambung mama. "Tapi kamu harus izin dulu pada bunda dan papamu , Nak," saran mama.
"Mereka pasti setuju, Mah. Apalagi ini menyangkut dengan nyawa. Bukan satu tap lima," tambah Damian.
Setelah berbincang-bincang di ruang praktek itu, dan memutuskan tanggal yang tepat untuk melakukan operasi transplantasi hati, Kai, Damian dan mama akhirnya pamit untuk kembali ke kamar rawat Kai.
Sepeninggal Kai, Damian dan mama Glori, Mike langsung mengelus dada lalu menghela nafas lega.
"Thanks Lord ... Damian kamu hadir di waktu yang tepat. Semoga operasinya berjalan lancar."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, dengan meninggalkan like, vote, komen, gift jika berkenan. ππ
Bantu like, vote and rate, readers terkasih telah ikut mempromosikan karya author. Thanks ππ