All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
131. Selamat datang di kota Berlin ...


__ADS_3

Pagi harinya ...


Kai meraba kesamping namun sosok yang dicarinya sudah tidak berada disisinya.


Ia pun membuka mata lalu menatap langit-langit kamar. Tak lama berselang terdengar pintu kamar mandi dibuka.


Ia pun menoleh lalu mengulas senyum.


"Sudah bangun?" tanya El yang terlihat sedang menghampirinya.


"Hmm." Ia mengangguk lalu mengubah posisinya menjadi duduk kemudian bersandar di sandaran kepala ranjang.


El duduk berhadapan seraya mengelus ukiran gambar di dadanya dengan lembut. Telunjuknya terus mengikuti lingkaran gambar naga itu lalu memeluknya.


"Terlihat macho banget," bisik El lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Kai.


Kai tersenyum seraya mengelus punggung wanitanya itu lalu mengecup keningnya.


"Sayang, apa boleh aku membuka lilitan handukmu?" goda Kai.


"Bukankah kamu sudah sering melihatnya. Silakan saja?" El terkekeh kemudian mendongak.


Tak ada jawaban melainkan Kai kembali mendaratkan kecupan di kening wanitanya.


"Sayang, perjalanan kita akan memakan waktu kurang lebih 15 jam. Semoga kamu nggak akan bosan selama berada di dalam pesawat," bisik Kai.


"Selama kamu berada di sampingku," bisik El balik.


Kai kembali mendekapnya dengan perasaan bahagia.


"Sebaiknya kamu mandi. Aku akan menyiapkan pakaianmu. Setelah itu kita sarapan," seru El.


Dengan patuh Kai hanya menurut.


Beberapa menit berlalu ...


"Sayang, apa kamu nggak takut jika ada wanita lain yang melirikku? Aku merasa seperti kembali muda," kata Kai.


"Nggak. Sekali-kali tampil beda dengan outfit casual nggak ada salahnya kan. Biar nggak kelihatan seperti om-om," ledek El lalu terkekeh.


Kai langsung berdecak kesal. " Ck, ledek saja teruuus. Om om begini tapi kamu tetap cinta kan?"


El terkekeh lalu memeluknya dengan gemas. "Sayang, aku cuma bikin sandwich."


"Nggak apa-apa, Sayang," balas Kai lalu mengurai pelukannya.


Mendudukkan dirinya di kursi lalu meneguk teh hangatnya.


"Sayang, apa kamu berhenti merokok?" tanya Kai.


"Ya tapi belum sepenuhnya," aku El. "Kenapa?"


"Nggak apa-apa, Sayang. Justru aku mendukungmu," timpal Kai.

__ADS_1


El mengulas senyum. "Habiskan sandwichnya juga tehnya ya, Sayang," pinta El dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Kai.


Setelah itu, El kembali ke kamar kemudian mendorong koper kecilnya ke ruang tamu.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Kai lalu berdiri dari tempat duduknya.


Menghampirinya dengan senyum bahagia lalu mengelus wajah calon istrinya itu.


*********


Di bandara, dari kejauhan tampak Lois dan Mike sudah menanti kedatangan pasangan calon pengantin itu. Keduanya segera mempercepat langkah menghampiri mereka.


"Mike, Lois, maaf sudah membuat kalian menunggu," sesal El.


"Nggak apa-apa, lagian kami belum terlalu lama kok," sahut Lois.


El mengulas senyum lalu berbisik, "Bagaimana jika kamu dan Mike sekalian menjadi pengantin."


"Ishh! Kamu apa-apaan sih! Nggak ah!" tolak Lois.


"Beneran nggak mau? Nggak tertarik? Duda lebih hot juga berpengalaman loh," goda El lalu tertawa.


Lois melirik Mike sekilas. Tak bisa ia pungkiri jika sang dokter spesialis itu memang tampan juga hot.


"Sayang, Lois, ayo," ajak Kai. Ia kembali menoleh ke arah Alex. "Lex, aku percayakan perusahaan padamu."


"Baik, Tuan. Oh ya, ini dokumen serta berkas penting Tuan dan Nona El," kata Alex sekaligus menyerahkan map yang dipegangnya kepada Kai.


"Thanks ya, Alex. Kami berangkat sekarang," pamit Kai kemudian menepuk pundak sang asisten.


Kai hanya mengangguk lalu. Setelah itu ia kembali mengajak El, Mike dan Lois meninggalkan area tunggu menuju pesawat yang sudah menanti mereka.


Sesaat setelah berada di dalam pesawat, El memilih duduk berdekatan dengan Lois sedangkan Kai berdekatan dengan Mike.


Tepat di jam 10 pagi, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya take off dari kota A menuju bandara kota Berlin.


"Mike mungkin kita akan tiba di bandara Berlin kurang lebih jam delapan malam besok. Mudah-mudahan saja El nggak bosan," ucapnya sembari terkekeh lalu melirik gadis itu.


"Nggak masalah, Kai. Jika El merasa bosan biarin saja," balas Mike ikut terkekeh.


Setelahlah lima jam mengudara, El terlihat mulai gelisah serta merasakan sedikit pusing.


"Lois kepalaku mulai pusing," keluh El sembari memijat keningnya.


Lois menggelengkan kepala lalu melirik Kai.


"Kai, sebaiknya kita tukar tempat duduk saja," saran Lois.


"Baiklah," sahut Kai.


Keduanya akhirnya berpindah tempat duduk.


Sesaat setelah duduk di samping El, Kai menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Sayang, jika aku tahu akan selama ini perjalanan yang kita ditempuh, mending kita nikah di kota X saja," ucapnya lalu menyandarkan kepala di pundak Kai.


"Demi mama, Sayang," bisik Kai lalu mengecup puncak kepala calon istrinya itu.


Sedangkan Mike dan Lois yang duduk bersebelahan dengan Kai dan El, hanya mengulas senyum memandangi keduanya.


"Mike, aku benar-benar nggak habis pikir. Unik juga perjalanan cinta mereka berdua. Diawali dari rasa benci akhirnya jadi cinta," tutur Lois.


"Benar juga ya. Tapi aku salut banget dengan perjuangan Kai meluluhkan hati El. Kamu tahu sendiri kan, dia seperti apa," kata Mike.


Lois hanya mengangguk sembari menatap Mike.


"Ada apa?" tanya Mike.


"Ah, nggak apa-apa," jawab Lois sedikit gelagapan lalu cepat-cepat mengarahkan pandangannya ke depan.


********


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan serta membosankan bagi El, akhirnya mereka tiba juga di bandara kota Berlin.


"Finally ..." El menghela nafas, bersandar sejenak sambil memejamkan mata. "Sayang, rasanya aku ingin segera merebahkan tubuhku di atas ranjang."


Kai, Lois dan Mike terkekeh mendengar keinginan gadis itu.


"Ternyata gadis-gadis bar-bar sepertimu bisa tumbang juga ya, El," ledek Lois lalu tertawa.


El hanya berdecak. "Ck ... sudah ah, ayo kita turun," ajaknya.


Ke-empatnya pun mulai menuruni anak tangga pesawat. Mempercepat langkah mereka hingga sampai ke ruang tunggu. Menghampiri mama Glori juga Damian yang sudah menunggu sejak tadi.


"El, apa pria itu saudara kembar Kai?" tanya Lois.


"Bukan, sepupunya," jawab El.


"Mirip banget."


"Awalnya aku juga berpikir seperti itu," timpal El.


"Sayang," sapa mama Glori lalu memeluknya sesaat setelah langkahnya berhenti tepat di depan mama Glori.


"Damian, kenalin ini Mike dan Lois," kata Kai memperkenalkan keduanya. "Mike dan Lois ini, teman El sekaligus yang akan menjadi saksi pernikahan kami."


"Hai, selamat datang di kota Berlin," ucap Damian dengan seulas senyum. "Senang bisa bertemu dengan kalian."


"Ya ampun ganteng banget. Apa bedanya dengan Kai," gumam Lois dalam hati.


Mike dan Lois mengulas senyum sembari mengulurkan tangan lalu menjabatnya.


"Capek ya, Sayang?" tanya mama Glori.


"Bukan hanya capek Mah tapi sampai bosan," jawab El.


Mendengar keluhan gadis itu, mereka langsung tertawa. Setelah itu mama Glori mengajak mereka menghampiri mobil yang sejak tadi sudah menunggu mereka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2