
Di mansion ...
Begitu mendengar suara mobil Kai memasuki pekarangan mansion, mama Glori langsung beranjak dari tempat duduknya menuju pintu utama.
Ketika melihat Kai dan El, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Anak ini, benar-benar ya," gumam mama.
"Mah," sapa Kai dan El bergantian.
Bukannya menjawab, mama Glori langsung menjewer telinga mereka berdua.
"Awww ... Mah ... sakit," keluh El namun ia terkekeh melihat wajah kesal sang mertua.
"Mah ... lepasin, sakit tahu," protes Kai.
"Kalian ini ya ... jika mau ke penthouse, apa salahnya kabari mama dulu. Ini hampir seharian nggak kasih kabar, mama sampai khawatir," omel mama lalu melepas jewerannya.
"Lupa Mah," bela Kai sambil mengusap telinganya yang terasa panas.
"Maaaah ... kok Mama tega sih jewer telinga mamy triplets. Gimana jika mereka ngambek karena tahu grandma-nya menjewer mamy-nya," kelakar El lalu memeluk Mama Glori dibarengi dengan tawanya.
Mendengar ucapan El mama Glori ikut tertawa. "Lain kali jangan seperti itu lagi," nasehat mama. "Istirahatlah ini sudah larut, besok kalian harus mengantar mama ke bandara."
Seketika raut wajah El menjadi sedih. Ia menatap Kai. "Sayang ... malam ini aku mau tidur sama Mama ya," pintanya.
"Tapi kan, tadi kamu sudah janji," protes Kai.
"Pleeeeease ..." mohonnya dengan wajah memelas.
Kai hanya bisa mendesah kasar, tadinya ia sudah merasa senang karena El bakal memberinya jatah preman namun tertunda karena keinginan istrinya yang ingin tidur bareng dengan sang mama.
"Ya sudah, aku juga ikut tidur dengan Mama, jadi kita tidur bertiga. Apalagi setelah ini, Mama bakal lama ke kota A," jelas Kai lalu mengelus punggung sang mama. "Boleh ya, Mah," pinta Kai.
"Boleh," jawab mama dengan senang hati.
Setelah menutup pintu, ketiganya menuju kamar mama Glori.
"Sayang, sebelum tidur minum susunya dulu ya, Nak," kata mama. Ia kembali ke pantry untuk membuatkannya susu.
" Iya, Mah," lirih El lalu berbaring kemudian menatap wajah suaminya.
"Ada apa," tanya Kai lalu duduk di sisinya seraya meletakkan kepala El di atas pahanya.
"Aku merasa sedih saja. Soalnya mama akan kembali ke Jerman besok," lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang, tenanglah. Sebulan sebelum kamu lahiran mama akan datang," kata Kai menghiburnya sambil mengelus perutnya.
Tak lama berselang, terlihat mama kembali ke kamar sambil membawakannya segelas susu coklat.
__ADS_1
"Sayang, ini minumanlah, ini nggak panas hanya hangat soalnya mama campur dengan air dingin," jelas mama dengan seulas senyum.
"Terima kasih ya, Mah," ucap El lalu perlahan mendudukkan dirinya dan meraih gelas.
Setelah meneguk susunya hingga tandas ia kembali berbaring.
"Tidurlah, Nak. Ini sudah larut," perintah mama dan El hanya mengangguk.
Beberapa menit berlalu ketika El sudah terlelap, mama Glori dan Kai terlihat masih duduk di sofa yang terdapat di kamar itu.
"Sayang, setelah mama kembali, tolong perhatikan dan jaga baik-baik istrimu. Apapun yang dia inginkan turuti saja," pesan mama.
"Iya, Mah," lirih Kai lalu memeluk sang mama.
"Mama menyayangi kalian berdua termasuk triplets yang sedang tumbuh kembang di rahimnya."
Kai hanya mengangguk. "Mah, sebaiknya kita juga tidur sekarang," ajak Kai. "Tapi aku dekat El saja, mama di ujung," cetus Kai.
"Nggak boleh ... nanti kamu macam-macam lagi sama El. Mama ditengah jadi pengantara di antara kalian berdua," protes mama merasa gemas.
Kai hanya bisa menghela nafas dengan kasar.
"Ini semua gara-gara mamy triplets. Padahal dia sudah janji. Dia pasti sengaja," dumal Kai dalam hatinya.
**********
Setelah selesai packing dan sarapan, Kai membantu sang mama memasukkan koper ke bagasi mobil.
"Nyonya, hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai di tujuan," ucap bi Aira
"Iya, Nyonya. Kami selalu menantikan kehadiran Nyonya di rumah ini lagi," timpal bi Nita.
"Terima kasih ya. Saya titip anak dan menantu saya," ucap mama Glori seraya menepuk lengan bi Nita dan bi Aira lalu tersenyum. "Ya sudah, saya berangkat dulu," pamit mama Glori lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan mama Glori memasang seat belt, Kai mulai melajukan kendaraannya menuju bandara.
Di sepanjang perjalanan, El yang duduk di kursi belakang tampak sedih.
"Mah, berjanjilah jika mama akan segera kembali ke kota ini," pinta El.
"Iya, Sayang. Mama nggak akan membiarkanmu melahirkan tanpa mama," kata Mama lalu menoleh kepadanya. "Sayang, selama mama nggak ada, jaga baik-baik kandunganmu. Ingat makan makanan yang bergizi dan susu hamil mu jangan lupa rutin diminum," lanjut mama.
El hanya mengangguk seraya mengelus bahu sang mertua. Jika ia di beri pilihan, El tidak ingin mertuanya itu kembali ke Jerman. Namun karena harus mengurus bisnisnya dan mengontrol perusahaan pusat, mau tidak mau ia haris rela ditinggal lagi oleh mama Glori.
Kurang lebih satu jam mengendara, akhirnya mereka tiba juga di bandara. Setelah mengeluarkan koper mama Glori, Kai membantu sang mama mendorong benda beroda itu masuk ke ruang tunggu.
Beberapa menit kemudian, El tampak memeluk Mama Glori lalu menangis. Ia seolah berat berpisah dari mertuanya itu setelah tiga bulan lebih bersamanya.
__ADS_1
"Sayang ... sudah, jangan menangis Nak. Triplets pasti ikut sedih jika kamu seperti ini," bisik mama sambil mengelus punggungnya.
"Sayang," tegur Kai dan ikut merasa sedih melihat istrinya yang seolah tak ingin melepas pelukannya dari mama Glori.
Setelah merasa cukup tenang, barulah El melepas pelukannya dari mama Glori.
"Mama, masuk dulu ya. Ingat jaga kesehatanmu dan kandunganmu," pesan mama lalu mengelus pipinya.
"Iya, Mah. Sampaikan salamku buat Damian dan keluarga di sana," pesan El.
"Iya." Mama Glori menoleh ke arah Kai lalu memeluk putra semata wayangnya itu dengan erat dan kembali melepas sebelum akhirnya mama meninggalkan keduanya.
Beberapa menit kemudian, kini keduanya dalam perjalanan menuju kantor. Tak banyak yang mereka bicarakan karena El terlihat banyak diam.
"Sayang ..."
"Hmm ..."
"Biar Alex yang mengantarmu ke rumah Dian," usul Kai.
"Nggak usah Sayang, aku bareng Vira saja. Aku sudah mengirim pesan tadi. Aku sekalian ingin mengajaknya membeli sesuatu untuk baby Bara," jelas El.
"Baik lah, tapi kamu harus hati-hati ya," pesan Kai.
"Hmm ..."
"Jam berapa kamu rencana ke sana?"
"Agak siang, aku ingin menemanimu sebentar di kantor. Boleh ya," pinta El.
"Boleh dong, hari-hari juga boleh," kata Kai dengan sembringah.
Tak lama kemudian mereka tiba juga di kantor.
Sesaat setelah berada di dalam lift, Kai terkekeh menatap istrinya yang kini melepas kacamata hitam dan maskernya.
"Salah siapa coba?" ledeknya.
"Ck ..." decak El lalu mencubit perutnya.
.
.
.
Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1