All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
33. Apa ini cinta yang sebenarnya ...?


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Tara mendapati El yang terlihat gelisah bahkan terlihat mondar-mandir.


"El ..." sapanya lalu memeluk gadis itu.


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja," bisiknya lalu memeluk El.


"Maaf Tara, tadi aku sedikit berlebihan. Aku terpaksa melakukanya karena aku nggak ingin dia menggangguku lagi," jelas El lalu menangis.


"Aku sudah tahu, El," sahutnya lalu mengelus punggungnya.


Setelah merasa cukup tenang. El menatap manik hitam Tara dalam-dalam lalu menangkup rahang tegasnya.


"Tara, maukah kamu berjanji padaku?" tanyanya. ''Apapun yang akan terjadi kepadaku, tetaplah jadi pelindungku," lirihnya di sela tangisnya.


"Aku janji," bisiknya.


Sementara itu, Kai yang kini berada di kamarnya terlihat begitu kesal.


"Sebelum aku memilikimu, jangan harap kamu bisa lepas begitu saja," tekadnya. "Ok baiklah, kita lihat saja nanti," desis Kai dengan senyum penuh arti.


*****


Sorenya, El masih tertidur dengan nyenyaknya di kamar resort. Beberapa menit kemudian perlahan membuka matanya, menggeliatkan tubuhnya.


"Duuuh .... tubuhku terasa seperti ingin remuk," lirihnya. "Ini pasti karena tadi bermain di wahana itu," pungkasnya lalu melihat sekeliling mencari keberadaan Tara.


El mengulas senyum lalu bergumam,


"Siapapun kamu wahai kekasih hati Tara. Maaf, hari ini aku pinjam kekasihmu sebentar. Kebetulan saat ini, si bastard itu ada di sini. Menyebalkan!!" kesal El.


Ia menoleh ke arah jendela kamar. Senyumnya langsung terbit di wajah cantiknya.


"Sudah sore rupanya," desisnya lalu menyisir rambutnya dengan jarinya.


Setelah itu, ia meraih ponselnya lalu menghampiri pintu lalumeninggalkan kamar.


Sambil berjalan, ia tampak ingin menghubungi Tara, namun ia urungkan dan baru menyadari jika ponsel pria itu dalam mode pesawat.


El kembali menggenggam ponselnya lalu melangkah. Namun seseorang dengan sengaja menabrakny hingga membuatnya hampir terjatuh. Namun dengan sigap pria itu kembali menariknya lalu memeluknya.


"Aku menangkap, Sayang," bisiknya tepat di telinga El.


Sontak saja mata El membola. Dia tahu benar siapa pemilik suara yang sedang memeluknya. Sebisa mungkin El bersikap santai dan tenang.


"Lepaskan aku, bastard!! Sebelum Tara melihatmu," bisik El lalu mendorong dada liat pria blasteran itu.


Namun Kai tidak mengindahkan ucapan El. Ia bahkan tidak ingin melepaskan gadis itu dan malah menatap wajahnya lekat kemudian menatap matanya dalam-dalam seolah ia ingin memiliki El.


"Jika aku nggak mau melepasmu, kamu bisa apa hmm ..." bisiknya masih menatap mata El lalu turun ke bibirnya dan ingin me*lu*ma*t bibir tipis itu. Seperti yang di lakukan Tara di hadapannya tadi siang. πŸ˜‚


El hanya bergeming menatap manik hazel Kai. Sedetik kemudian ia tersadar. Tak ingin larut menatap bola mata indah pria blasteran itu, ia tak kehabisan akal dan berpura-pura memanggil Tara.


"Sayaaang." El ingin tertawa namun ditahannya.


Sontak saja Kai langsung melepas pelukannya. Sedangkan El, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan langsung berlari kecil lalu menoleh sambil mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya ke arah Kai.


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


"What the hell!! Ah .... gadis licik. Dia mengelabuiku lagi," kesal Kai. Ia malah ikut menyusul El yang tampak berlari kecil ke arah pantai.


Tara yang tampak berdiri dan menikmati suasana pantai, langsung terkejut ketika El memeluknya dari belakang sambil terkekeh.


"El ..."


"Tara ... jangan berbalik, biarkan aku memelukmu seperti ini," pintanya. "Kai mengejarku. Biarkan saja dia melihat kita seperti ini," sambungnya.


Tara mengulas senyum. Namun jauh dalam sudut hatinya ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan sepanjang hari ini bersama El.


Hari-harinya terasa berwarna dan bermakna. Tanpa sadar, El malah membuat hatinya semakin terjebak di antara dirinya dan Clara.


Tara memegang kedua tangan El yang melingkar di perutnya sambil tersenyum.


Lagi-lagi Kai merasa kesal dan geram menyaksikan keduanya dengan begitu mesranya.


"Oh God .... aku merasa sudah nggak waras karena El," desis Kai sambil mengepalkan kedua tangannya. Namun entah mengapa ia seolah tidak ingin beranjak dari tempatnya.


"Ayo ... kita menyusuri bibir pantai ini hingga ke ujung," bisiknya.


El hanya mengangguk lalu melepas sepatunya sambil menenteng alas kakinya itu.


Keduanya tampak bak sepasang kekasih yang terlihat begitu bahagia, sesekali mereka terlihat tertawa lepas dan saling bercanda ria.


Dari kejauhan Kai terus saja memperhatikan keduanya bak penonton yang tidak ingin melewatkan adegan romantis. πŸ˜‚πŸ˜‚


Ia tampak berpikir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Kenapa El bisa sedekat itu dengan Tara. Bahkan terlihat bak pasangan kekasih. Apakah El benar selingkuhan Tara? Apalagi dalam dua tahun terakhir, Tara sering mengabaikan Clara. Jika di lihat-lihat, Tara sangat menyayangi El. Entahlah ... Kai hanya bisa menebak-nebak.


"Apa aku yang sudah keterlaluan, berlebihan sampai harus memenjarakannya? Apa karena itu El nggak menyukaiku? Ataukah karena ucapanku waktu itu?" Kai kembali hanya bisa menebak-nebak.


Beda perlakuannya dan Tara. Jika ia bersikap arogan dan angkuh, menegur El dengan kasar bahkan mengancamnya. Tapi perlakuan Tara sebaliknya, ia malah bersikap santai dan ramah pada El waktu itu.


Namun saat mengingat El membohonginya, seketika itu juga ia kembali merasa jengkel dan geram.


"Tapi siapa dia? Sudah berkali-kali aku mencari tahu data dan informasinya, tapi kenapa sampai sekarang aku tidak bisa mengaksesnya."


Bahkan orang yang aku percaya saja menyerah termasuk Daniel. Sepertinya ada seseorang yang menutup akses data pribadinya. Tapi siapa?" pungkas Kai dan tampak bingung.


Kai kembali tersenyum penuh arti menatap El dari kejauhan. Gadis itu tampak menyandarkan kepalanya di pundak Tara sambil memeluknya menatap matahari yang sebentar lagi akan terbenam.


Lagi-lagi darahnya seolah mendidih, hatinya panas diselimuti api cemburu.


"Aku penasaran ... seperkasa apa Tara di atas ranjang menjamah tubuhmu itu? Sehingga kamu sebegitu lengket dengannya," gumamnya.


Yaaa si Kai insecure.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…..Padahal apa yang dipikirkan sama sekali bertolak belakang.


"Oh damn!!! Hanya membayangkannya saja ... sssttt ... oh sh*it!!" umpat Kai yang merasakan miliknya sudah mulai bereaksi.


Kembali ke El dan Tara.


"El."


"Hmm."


"Apa kamu memang menyukai suasana seperti ini?" tanya Tara sembari mengelus punggungnya.

__ADS_1


El hanya mengangguk.


"Kapan-kapan kita ke sini lagi ya," cetus Tara.


Lagi-lagi El hanya mengangguk lalu memejamkan matanya dan semakin erat memeluk Tara.


Tara hanya tersenyum merasakan pelukan El yang semakin erat. Ia mendaratkan satu kecupan di puncak kepala gadis itu.


El, sebenarnya perasaan apa ini? Perasaan ini sangat berbeda saat aku bersama dengan Clara. Aku malah sangat nyaman saat bersamamu. Tatapan matamu, sentuhan lembutmu dan pelukan hangatmu selalu sukses membuat jantungku berdetak kencang. Apa ini CINTA yang sebenarnya?


Tara menatap El yang sedang memejamkan matanya. Dengan perlahan ia menangkup pipinya.


"Ada apa?" tanya El lalu membuka matanya.


Tara tidak menjawab melainkan semakin mendekatkan wajah dan bibirnya lalu mencium bibir tipis gadis itu bahkan melu*matnya. El seakan terbuai. Namun sedetik kemudian ia tersadar dan langsung memeluk Tara.


"Tara ..." bisiknya. Tara membalas pelukannya.


El, mungkin aku jatuh cinta padamu.


Tara membelai rambut panjang El lalu mengendus lehernya sambil berbisik,


"Maaf, aku nggak bisa mengendalikan diriku."


El hanya mengangguk dan memaklumi. Apalagi dia tahu jika Kai sejak tadi terus saja menatap mereka dari kejauhan.


"Ini sudah hampir malam. Sebaiknya kita pulang," ajak Tara lalu berdiri dan menarik kedua tangan El.


El hanya menurut dan menggandeng lenganya lalu melangkah bersama sambil menenteng sepatunya.


.


.


.


Sesampainya mereka di apartemen El ...


"El, jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan menghubungiku. Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat menikmati weekend kita. Aku pamit ya."


"Hmm ... kamu langsung pulang ya. Nggak usah ke bar lagi malam ini. Istirahatlah karena aku tahu kamu pasti lelah," pesan El dengan seulas senyum.


Tara hanya mengangguk lalu menatap El dengan senyum menggoda.


"Apa kamu tidak ingin mencium kekasih seharimu ini, hmm?" godanya lalu terkekeh.


"Tara! Tadi itu cuma acting. Jika nggak begitu pasti aku diganggu terus sama si bastard itu," kata El.


"Beneran nggak mau?" Tara semakin mendekat ke arahnya.


El mendorong Tara ke arah pintu dan pria itu malah tersenyum.


"Baik lah, aku pulang sekarang dan sampai ketemu besok, ya."


El hanya mengangkat jempolnya dan memastikan Tara benar-benar meninggalkannya.


"Dasar player ..." gumamnya lalu menutup pintu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2