
Sesaat setelah berada di dalam kamar, Kai menghampiri El lalu duduk di sisinya.
Ketika tangannya terulur ingin mengelus pipinya ia kembali meringis merasakan sakit dan perih di perut.
"Ssstttt ..... kenapa beberapa hari belakangan ini, sakitnya kambuh lagi?" gumamnya.
Ia memilih berbaring lalu menatap wajah teduh El lalu mengecup keningnya.
"Lord, berapa lama lagi aku bisa bertahan? Berapa lama lagi aku bisa menatap wajahnya dan anak-anakku nantinya?"
Kai semakin membawa El masuk ke dalam pelukannya.
.
.
.
Jauh dari Kota X ...
Tara dan Dian tampak masih berada di kediaman pak Mulia dan bu Arini. Di sela-sela menikmati makan malam, Bu Arini tiba-tiba bertanya, "Tara, Dian, apa kalian sudah memikirkan ke mana kalian akan berbulan madu?"
Dian dan Tara saling berpandangan. "Kami berencana ke Maldives, Mom?" sahut Dian.
"Benarkah?" Dian dan Tara hanya mengangguk.
Sedangkan pak Mulia, ia hanya menatap anak dan menantunya itu bergantian. Merasa ada yang tidak beres dengan putra semata wayangnya itu.
"Momy, akan siapkan tiketnya," cetus Bu Arini.
"Iya, Mom," jawab keduanya sambil mengangguk.
Setelah menuntaskan makan malam, mereka ke ruang tamu untuk bersantai sejenak.
"Dian, Mom, Pah ... aku ke rooftop dulu, soalnya aku pengen merokok sebentar di atas," izinnya lalu bangkit dari sofa.
"Mau aku temani?" tawar Dian.
"Nggak usah, nanti kamu batuk jika terkena asap rokok," kata Tara dengan senyum tipis.
"Ya sudah, kalau begitu aku di sini saja sama momy."
Sepeninggal Tara, pak Mulia menatap menantunya. "Dian ... apa kalian baik-baik saja, Nak?" tanya pak Mulia menyelidik.
Dian langsung menundukkan pandangan wajahnya.
"Dian ..." Momy ikut menatapnya lalu mengelus tangannya. "Sayang ... katakan saja jika Tara bersikap kasar padamu?" timpal bu Arini.
__ADS_1
"Mom, Pah, kami baik-baik saja. Hanya saja tadi pagi aku dan Tara sedikit berdebat," jelas Dian.
Pak Mulia mengerutkan keningnya. "Berdebat? Berdebat karena apa, Nak?" tanya pak Mulia lagi.
Dian pun menceritakan perdebatan kecil yang terjadi diantara dirinya dan Tara tadi pagi tanpa ada yang ia sembunyikan.
Baik pak Mulia maupun bu Arini, keduanya cukup terkejut mendengar penjelasan dari menantunya itu.
Ruangan itu kembali hening, sebelum akhirnya Dian berpamitan untuk ke kamar. Sepeninggal Dian, bu Arini tampak bingung.
"Pah ... Mama jadi curiga, gadis itu menghilang hanya karena Kai," tebaknya. "Mungkin saja ia sengaja menghilang untuk menghindari Tara tanpa memberi kabar," lanjutny menebak-nebak.
"Jangan menyimpulkan sesuatu tanpa tahu akar permasalahannya seperti apa, Mah," tegas pak Mulia. "Bukannya Papa membela El. Tapi Papa bisa membedakan watak seseorang. El gadis yang baik. Jika mama berpikir dia mengincar harta, mama salah besar," tegasnya lagi. "Bahkan gadis itu nggak menampakkan dirinya saat resepsi pernikahan Tara dan Dian melainkan hanya Kai saja," pungkas pak Mulia.
Bu Arini terdiam namun terlihat kesal. Suaminya selalu saja membela gadis itu.
"Jika dia nggak mengincar harta, lalu apa?" tanyanya. "Bahkan papa tahu benar siapa almarhum papa Kai. Beliau miliarder dan pebisnis paling berpengaruh di Kota ini bahkan perusahaannya berpusat di luar negeri."
"Jelas papa tahu Mah. Karena kami berteman," sahut pak Mulia. "Beliau orang baik dan juga dermawan. Sudahlah, Mah, papa nggak suka mama berprasangka buruk tentang El."
Bu Arini kembali bergeming sembari menatap suaminya yang terlihat bangkit dari tempat duduknya.
Sedangkan Tara, sedari tadi ia terus menyesap rokoknya sambil melamun. Namun, suara sang papa seketika membuyarkan semua lamunannya.
"Tara."
"Ada masalah apa kamu dan Kai?" tanya papanya. "Setahu papa, kalian bersahabat. Lalu kenapa kamu menolak hadiah tiket honeymoon darinya dan El."
Tara tersenyum miris mendapat pertanyaan dari papanya. Sebelumnya ia memang tidak pernah menceritakan apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka bahkan memilih bungkam.
"Apa kamu pernah bertemu El sebelumnya?" Pak Mulia kembali memberondongnya dengan pertanyaan.
Mau tidak mau Tara menceritakan kejadian yang terjadi seminggu yang lalu termasuk saat resepsi pernikahannya berlangsung.
Lagi ... Pak Mulia begitu terkejut mendengar penjelasan darinya. Ia menatap menghunus tajam putra semata wayangnya itu bahkan matanya menyiratkan kemarahan.
Tanpa aba-aba, pak Mulia langsung melayangkan dua tamparan yang cukup keras ke wajah tampan putranya itu. Tara langsung tertunduk sembari memegang pipinya yang terasa panas dan perih.
"Apa papa pernah mengajarkanmu untuk bersikap kasar pada wanita?!!! Bahkan sampai mengeluarkan kata-kata yang nggak pantas?!!! Apa Papa pernah mengajarkanmu seperti itu, hah!!!" bentaknya karena tidak bisa menahan emosi. "Papa benar-benar kecewa padamu Tara!" lanjutnya lalu memegang dadanya.
"Papa!" Tara seketika panik. Apalagi ia tahu, papanya memiliki riwayat penyakit jantung.
Pak Mulia mengangkat satu tangannya seraya menggelengkan kepala, mengisyaratkan jika ia tidak butuh bantuan.
Pria paruh baya itu perlahan-lahan menarik nafasnya demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya. Saking kecewanya ia pada putranya, ia pun berlalu meninggalkan tempat itu.
Sementara Tara, ia hanya bergeming menatap nanar punggung papanya yang kini sudah menjauh meninggalkanya.
__ADS_1
.
.
.
"Kai ... Sayang, kamu kenapa?" bisik El menatap Kai yang terlihat gelisah bahkan berkeringat. "Sayang ..." El menepuk pipinya lalu mengusap keringat di wajahnya
Perlahan Kai membuka matanya.
"Apa kamu baik-baik saja," tanya El masih sambil mengusap keringat di wajah Kai. "Apa kamu mimpi buruk? Bahkan wajahmu terlihat pucat."
"Sayang," ucap Kai dengan lirih lalu merubah posisinya menjadi duduk. "Aku baik-baik saja."
"Kamu nggak menyembunyikan sesuatu kan dariku? Beberapa hari ini, aku perhatikan wajahmu tampak pucat. Apa kamu sakit?" tanya El dengan suara bergetar menahan tangis.
Kai menggelengkan kepalanya lalu mengecup singkat bibir El.
El langsung memeluknys dengan erat lalu menangis. "Jujurlah padaku. Sebenarnya kamu sakit apa? Aku janji ... aku yang akan merawatmu," ucapnya di sela-sela tangisnya dalam pelukan Kai.
"Kamu ingin tahu aku sakit apa?"
El mengangguk lalu melerai pelukannya.
"Aku sakit ingin segera menikah denganmu," kelakarnya lalu terkekeh sekaligus mengalihkan topik pembicaraan. El langsung memukul dadanya.
"Mungkin karena aku lelah dan kurang istirahat saja. Makanya wajahku terlihat pucat," bohongnya.
"Really?" tanya El. Ia melepas jaket juga kaos yang masih membalut tubuh Kai. "Ayo kita ke kamar mandi," ajaknya sembari mengelus rahang Kai yang sudah mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
Kai tersenyum penuh arti lalu menggodanya. "Apa kamu ingin kita bermain hot di dalam sana?"
"Sayaaang, no, aku ingin mencukur brewokmu ini. Soalnya geli saat kamu menciumku."
Kai langsung tertawa merasa gemas. "Hmm ... baiklah." Ia hanya pasrah mengikuti keinginan El.
Sesaat setelah berada di kamar mandi, Kai mendudukkan El di atas meja wastafel sambil menatapnya.
Dengan telaten, El mengoles sabun khusus ke rahang Kai lalu perlahan mencukur bulu-bulu halus di wajahnya dengan hati-hati hingga selesai.
Ia pun tersenyum setelah membersihkan wajah Kai lalu memeluknya. "Sudah," bisiknya. Kai mengulas senyum sambil memegang paha mulus El.
El kembali melepas pelukannya lalu menatap lekat manik hazel Kai. Tangannya terangkat menyentuh mata indah itu.
"Sayang."
...----------------...
__ADS_1