
Beberapa menit kemudian ....
"Mr. Bule!"
Kai menggelengkan kepala lalu menoleh. "Hmm, sudah? Kemarilah."
El kembali melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kai lalu menatap manja padanya.
"Mau mencoba sesuatu hal baru nggak?" tanya El.
Alis Kai terangkat sebelah. "Maksudmu?"
"Gimana kalau kita naik motor, ganti suasana baru dan nggak melulu naik mobil?" cetus El.
Kai menatapnya dari atas hingga ke bawah yang saat ini mengenakan dress floral sepaha.
"Nggak jika kamu seperti ini," protesnya disertai gelengan kepalanya.
"Why?"
"Karena, aku nggak mau kamu menjadi imajinasi liar dari pria lain selain diriku," akunya.
El menatap dalam manik hazel Kai. Dalam benaknya ia berpikir, ternyata seorang player sepertinya menyimpan sisi lain. b6ahkan ia tidak rela jika wanitanya menjadi tatapan liar dari pria lain.
"Benarkah?"
"Yes ... one hundred percent," tegas Kai lalu merengkuhnya. "Sebentar lagi Richard akan menjemput kita."
"Kalau begitu, aku ganti celana dan kemeja saja."
"Ngga usah, Sayang. Aku sekalian ingin mengajakmu dinner," timpalnya. "Honestly, aku lebih suka jika kamu sering menggunakan dress seperti ini. Terlihat lebih anggun dan elegan."
Kai membenamkan wajahnya ke ceruk leher El lalu menghirup dalam-dalam aroma parfumnya.
"Wangi parfum inilah yang membuatku nggak bisa melupakanmu sejak pertama kali kita bertemu waktu itu," bisiknya.
El hanya bergeming dalam rengkuhan kai. Sedetik kemudian suara klakson mobil menyadarkan keduanya.
"Ayo ... itu pasti Richard," ajaknya.
"Bentar, aku ambil ranselku dulu di kamar. Kamu duluan saja," pinta El.
Saat Kai berada di ambang pintu, alisnya bertaut.
"Candra? Mau apa dia ke sini?" gumamnya. "Candra? Ada apa kamu ke sini?"
"Lalu? Kamu sendiri ngapain di rumahnya Culun?" Candra balik bertanya.
"Ak ...."
"Sayang ... aa ...." ucapan El terjeda sekaligus memotong kalimat Kai. Ia terkejut saat melihat Candra. "Kalian ngapain?" tanyanya menatap heran.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Candra menatap lekat wajah El. Ia memperhatikan gadis itu dari bawah hingga ke atas.
Apa dia ini benar-benar Culun?
"Candra! ada apa? Kok bengong?" tanya El dengan seulas senyum.
Candra hanya bisa tertegun dan kehilangan kata-kata menatap gadis itu. Tak lama berselang Richard menghampiri mereka.
__ADS_1
"Tuan, Nona El, Pak Candra?" sapanya.
"Richard ... mobil biar sama aku saja. Kamu pulang bawa motor El," perintahnya.
"Baik, Tuan."
"Sayang ... motor kamu biar dibawa sama Richard saja," pinta Kai dengan maksud tersembunyi.
"Baiklah," ia pun memberikan kunci motor beserta kunci rumah. "Helmnya ada di dalam rumah ya, Richard," katanya.
Richard hanya mengangguk takjim. Setelah itu Kai dan El sekalian berpamitan meninggalkannya dan Richard.
.
.
.
Di sepanjang perjalanan, Kai tampak terus tersenyum dan sesekali melirik El.
"Mr. Bule, bagaimana kalau kita dinner di warung pinggir jalan saja," cetus El lalu melipat bibirnya menahan tawa.
Kai langsung menginjak rem sehingga membuat jidat gadis itu terhantuk.
"Awww .... sayang! Kamu apa-apaan sih!" kesalnya sambil mengusap jidatnya.
"Lagian, ngapain sih dinner di warung pinggir jalan?" protes Kai. "Kamu ingin mengerjai aku lagi ya, seperti di kota A."
Tawa El langsung pecah mendengar ungkapan Kai. "Aku nggak segila itu sayang," sahutnya sambil mengusap jidatnya.
"Maaf ... sudah membuat jidat ini terhantuk," sesalnya lalu mengecupnya.
"Nggak apa-apa. Bagaimana .... mau nggak?" tanya El lagi.
"Bagaimana jika kita belanja saja, nanti aku yang masak di apartemen," lanjutnya menawari.
"Keburu lapar, sayang," melasnya. "Please ..." mohon Kai.
"Baiklah." El mengalah.
Kai melajukan kendaraannya ke salah satu restoran mewah di kota itu.
Sesaat setelah berada di restoran ....
Keduanya tampak memesan makanan masing-masing. Sambil menunggu, Kai terus saja menatap El.
"Sayang ... ."
"Hmm ... ."
"Aku ingin, kamu tinggal di apartemen saja," pinta Kai.
"No ... ingat perjanjian kita," tegas El.
"Baiklah ... tapi jangan salahkan aku jika aku akan sering menginap di rumah kontrakanmu itu," ancamnya. "Apa kamu ingin kita di liput media? Otomatis gosip akan tersebar luas. Apa kamu tidak ingin menjaga citraku sebagai calon suamimu?"
El tampak berpikir. "Cih ... beraninya mengancam. Kamu kan bisa membayar mereka untuk tutup mulut."
"Sayang, nggak usah dibahas ... nanti aku pikirkan lagi," pungkas El.
__ADS_1
Kai hanya bergeming, namun ia masih tampak memikirkan cara untuk membujuk sekaligus memboyong gadis itu tinggal bersamanya.
Bagaimana caranya agar aku bisa membujuknya sekaligus dalam waktu dekat ini dia mau menikah denganku. Tidak mudah membujuknya bahkan ancamanku pun di tanggapi dengan santai. Sayang .... please .....
Tak lama berselang makanan dan minuman pesanan keduanya pun di sajikan di atas meja.
"Terima kasih, Mbak," kata El dengan seulas senyum.
Waiter hanya menunduk takjim lalu meninggalkan keduanya.
"Sayang ... ayo kita makan dulu, lagian aku juga sudah lapar," kata El. Ia kembali menatap Kai. "Sayang, ada apa? Mau disuapin?" tanyanya lagi.
"Nggak sayang," jawabnya.
Keduanya pun mulai menyantap makanannya dengan lahap hingga selesai.
Setelah melakukan transaksi, keduanya pun keluar dari restoran itu.
.
.
Setibanya di apartemen ....
El langsung mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu lalu menyandarkan kepalanya karena merasa sedikit pusing.
"Sayang ... apa kamu baik-baik saja?" tanya Kai seraya mengelus kepalanya.
"Kepalaku sakit," bisiknya sambil memijat pangkal hidungnya. "Apa kamu punya obat pereda nyeri?" tanyanya.
"Ada ... dan obat ini malah sangat manjur," bisiknya dengan nada sensual tepat di telinga El.
Tanpa curiga El balik bertanya, "Apa?"
"Aku."
"Maksudmu?"
"Sakit kepalamu akan langsung sembuh jika kita berhubungan intim," bisiknya lagi lalu mengecap leher jenjan El.
El langsung melotot tajam lalu mencubit perut Kai sekuatnya. Tak pelak cubitan itu langsung membuatnya meringis.
"Ssssttt ...."
"Dasar om om mesum!" kesalnya. Ia langsung bangkit lalu meninggalkan Kai yang terlihat meringis lalu tertawa. Memandangi punggung El yang sudah menjauh.
"Wajah kesalnya itu selalu saja membuatku gemes. Gadis bar-barku," desisnya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Tak lama berselang, bel pintu berbunyi. Dengan cepat Kai menghampiri pintu lalu membukanya.
"Tuan, ini ponsel yang Anda minta. Kartunya sudah langsung dipasang," jelas Richard.
"Hmm ... thanks ya, Richard. Masuklah dulu," tawar Kai.
"Nggak usah, Tuan."
"Richard ... motor El, kamu parkir di resort mama. Nanti kamu bawa saja salah satu mobilku yang ada di resort itu," perintah Kai.
"Baik, Tuan ... oh ya, ini kunci rumah Nona El." Richard menyerahkan kunci itu pada Kai. Setelah itu ia pun berpamitan.
__ADS_1
Kai langsung tersenyum penuh arti. "Sayang .... maaf, aku terpaksa melakukan ini. Kali ini kamu nggak akan bisa berkutik," gumamnya.
...----------------...