All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
60. Memikirkan rencana ...


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Tara masih betah duduk di kursi bartender sambil sesekali menenggak minumannya.


Ia terus memperhatikan suasana club malam, para gadis yang asik bergoyang di dance floor. Ia tersenyum miris.


Entah mengapa pikirannya tiba-tiba saja melayang ke sosok sahabatnya. Ralat sahabat karena Tara sudah tidak menganggap Kai sahabatnya melainkan musuh.


Selain itu, ia juga sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi. Begitupun dengan Kai, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kerjasama mereka.


"Kai? Ke mana pria brengsek itu? Sejak terakhir kali dia ke club ini, dia sudah nggak pernah terlihat lagi. Bahkan ini sudah tiga bulan berlalu ... apa dia ..."


Tara tidak melanjutkan ucapannya melainkan tampak berpikir.


"Tara," sapa Daniel sambil menepuk pundaknya.


Ia langsung menoleh. Ia pasti sudah menebak jika Daniel akan menyusulnya.


"Oh ya, Dan. Apa kamu tahu Kai di mana? Soalnya sejak terakhir kita bertemu malam itu, dia sudah nggak pernah terlihat lagi?"


"Setahuku, Kai belum lama ini baru pulang dari Jerman."


"Kenapa?"


"Aku dengar dari asistennya, dia sekalian berobat karena livernya sudah parah. Tapi sekarang sudah membaik. Dokter menyarankan supaya dia berhenti mengkonsumsi alkohol," jelas Daniel.


"Pria brengsek itu, pantasnya dia mati saja," makinya dengan perasaan dongkol. "Apa lagi yang kamu ketahui selain berita tadi?" tanyanya sedikit penasaran.


"Kalau nggak salah, saat ini dia sedang menjalin kerjasama dengan Aryatama Group. Satahuku ... Kai sedang membangun sebuah rumah sakit di Kota X, kini sudah berjalan selama dua bulan terakhir. Mereka menarget rumah sakit itu akan rampung 3 tahun kedepan," jelas Daniel.


"Aryatama Group? Bukankah CEO-nya itu Candra?"

__ADS_1


"Hmm ... aku dengar-dengar, Kai membangun rumah sakit itu untuk El."


Tara terdiam dan tampak berpikir. Ia seakan tidak rela jika El akan jatuh ke pelukan Kai. Ia menggenggam gelas yang ada di tangannya hingga retak.


"Damn!! Impossible!!"


.


.


.


Penthouse Kai ...


Sejak tadi ia terus melamun di teras balkon kamarnya sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ada di manakah El? Apakah dia sehat dan baik-baik saja?


"Oh God, tolang tunjukkan aku di mana keberadaan gadis itu? Beri aku kesempatan. Aku nggak akan pernah bias merasa tenang sebelum mendapat maaf darinya," harap Kai.


Sudah tiga bulan berlalu sejak itu pula setiap malam ia tidak bisa tidur dengan tenang, selalu merasa gelisah, cemas karena ia terus-terusan dihantui perasaan bersalah terhadap El.


Selama itu pula lah, Kai rutin berkonsultasi ke psikolog dan psikiater untuk mengatasi kecemasannya itu.


Karena merasa sudah lelah dengan pikirannya sendiri. Akhirnya ia kembali ke kamarnya. Ia meraih obat penenang yang biasa ia minum sebelum tidur. Setelah meminum obatnya, barulah ia berbaring lalu memejamkan matanya.


.


.


.

__ADS_1


.


"Hooaammm ... sudah jam berapa ini? Oh God, badanku pegal banget." El mendudukkan dirinya lalu melepas kaca mata tebalnya.


Ia menatap jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul 01:35 dini hari. Ia pun beranjak dari kasurnya lalu ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu ia mengganti pakaiannya.


"Kalau sudah terbangun jam segini, auto nggak bisa tidur sampai pagi," gumamnya.


El menatap pantulan dirinya di depan kaca panjang yang ia beli setelah menerima gaji pertamanya. Ia merasa lucu menatap dirinya dengan model rambut keriting.


"Sudah tiga bulan ... sukurlah, aku bisa sedikit merasa tenang karena sudah tidak ada lagi yang mencari ku," bisiknya lalu mengikat rambut keritingnya.


El kembali memakai kaca mata tebal itu lalu duduk di depan meja laptopnya kemudian mengerjakan tugas kuliahnya.


Karena sebelumnya El sudah tahu semua materinya, tanpa hambatan ia mengerjakan tugas kuliahnya dengan baik. Tak jarang pula ia berbagi ilmu kepada teman kelasnya.


Setelah selesai mengerjakan tugas kuliah, El kembali ke dapur lalu membuat kopi. Begitu kopinya selesai di seduh, ia kembali lagi ke kamarnya lalu duduk di dekat jendelanya.


Sambil menyeruput kopi, ia kembali berpikir. Tanpa kendaraan yang ia miliki, aktifitasnya cukup terbatas. Ia pun, memikirkan rencana untuk ke kota A dan ingin membawa motornya ke kota X lewat jalan darat meskipun akan membutuhkan waktu satu hari. Ia juga memikirkan cara supaya ia tidak bisa terlacak lewat CCTV apartement.


Setelah memikirkan dengan seksama dengan menyusun rencana secara matang, El memutuskan akan ke Kota A setelah libur semester.


"El, bersabarlah hanya tiga bulan lagi, itu tidak akan lama. My Baby, tunggu aku ya, kita akan kembali beraktivitas seperti biasa lagi," gumamnya dengan menyemangati dirinya sendiri . Ia tersenyum membayangkan motor kesayangannya itu.


El kembali memejamkan matanya lalu menghela nafasnya dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia kembali teringat akan sosok Tara yang begitu baik dan tulus mencintainya.


Namun, karena ulah Kai, ia harus melepas pria baik itu dan memilih menjauh. Saat wajah Kai tiba-tiba muncul di ingatannya, secepat kilat ia langsung membuka matanya.


"Damn!!!" umpatnya. Ia langsung merangkak ke tempat tidurnya lalu berbaring di kasur tipisnya.

__ADS_1


"Aku yakin, seiring dengan berjalannya waktu, aku pasti bisa melupakan semuanya. Yang harus aku lakukan sekarang adalah fokus untuk belajar dan bekerja," ucap El lalu memejamkan matanya.


...----------------...


__ADS_2