All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
75. Aku membencimu!!!


__ADS_3

Begitu ia masuk ke dalam ruang kerja Candra. Ia langsung mendaratkan bokongnya di sofa sambil senyum-senyum sendiri.


Candra menatapnya heran. "Kai, ada apa? Kelihatannya senang banget,'' tanya Candra.


"Nggak apa-apa. Oh ya, sebelum kita membahas masalah pekerjaan, aku ingin membahas tentang karyawan mamamu. Culun maksudku."


"Culun? Apa aku nggak salah dengar? Seorang player sepertimu tertarik dengan gadis sepertinya?"


"Itu dulu Candra, aku sudah berubah. Entahlah, dia mengingatkanku pada El. Dari caranya berbicara dengan ketus, tatapannya, sikapnya yang selalu dingin nggak menyukaiku, memakiku dengan sebutan bastard dan aroma parfumnya semuanya sama," tutur Kai.


Candra hanya geleng-geleng kepala menatap teman kecilnya itu lalu bertanya, "Jadi ... nama gadis itu, El?"


"Hmm ... tepatnya Ellin Davina. Oh ya, Cand, setahuku kamu juga rektor di Universitas X. Apa Culun kuliah di kampus itu?"


"Nggak, padahal dia lulus tes di kampus X dengan nilai sempurna. Sepertinya dia mendaftar di beberapa kampus saat itu. Saat ini dia kuliah di Universitas W," jelas Candra.


Kai hanya mengangguk pelan sembari mengusap dagunya.


"Honestly, sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, dia terkesan misterius. Sebenarnya aku cukup penasaran dengannya. Jika di perhatikan dengan lekat, gadis itu sebenarnya cantik alami."


"Ya, aku juga melihatnya seperti itu," sahut Kai.


.


.


.


Sementara El yang sudah sampai di parkiran motor, terlihat sangat kesal dan tak berhenti menggerutu.


"Ngeselin banget. Rasanya aku pengen jadi El sehari saja supaya bisa memaki si bule bastard itu sepuasnya."


Ia pun memasang helm di kepalanya lalu memacu motor matic itu hingga tiba di restoran.


"Lun! Kemarilah sebentar," panggil temannya sesaat setelah El masuk ke dalam restoran.


Ia pun menghampiri temannya itu lalu bertanya dengan nada ketus, "Ada apa?"


"Mau nggak sebentar malam kita clubbing? Hitung-hitung aku yang traktir.sebagai rasa terima kasihku padamu."


El tampak berpikir. Jika boleh jujur, ia juga sangat merindukan tempat seperti itu. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kakinya di tempat itu.


"Baiklah, tapi aku nggak janji, kita lihat saja nanti. Namanya? Maksudku, apa nama barnya?"


"Bronze Bar cabang," jelas Dinda.


El hanya mengusap tengkuknya sambil menyeringai.


"Aku rasa nggak ada salahnya aku menginjakkan kakiku di tempat itu. Lagian sudah lama aku nggak clubbing. Ok baiklah, aku akan ke sana tapi dengan identitas El yang asli. Aku rasa si bule bastard itu pasti akan ada di sana. Aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memaki dan mengumpatnya sepuas hatiku biar aku bisa sedikit lega."


Tik .... Tik .... Tik ....


Dinda menjentikkan jarinya karena El tampak melamun. "Ada apa? Jangan lupa datang ke sana. Alamatnya di jln xxxxxx," jelas Dinda.


"Kita lihat saja nanti," sahut El. "Sehabis pulang kerja, aku langsung ke salon dulu untuk meluruskan rambutku."


.


.


.

__ADS_1


Tepat jam lima sore, akhirnya El berganti shift.


El meraih helmnya yang berada di atas loker lalu menentengnya keluar hingga ke parkiran. Tujuannya kini tentu saja ke salah satu salon langganannya.


Setelah kurang lebih satu jam memacu kuda besinya, ia pun tiba di salon langganannya.


Ketika ia mendorong pintu salon, tampak owner salon si wanita jadi-jadian langsung menyapanya.


"Oh my Dear, pasti rambutnya mau di rombak lagi ya?" ujarnya dengan nada yang dibuat-buat sehalus mungkin.


El yang mendengarnya langsung merasa gemes lalu mencubit perut si wanita jadi-jadian itu. Jeny versi wanita tapi dipanggil Junaidi versi cowok.


"Aaaaawwww ... Lun, apa siiiihh sakit tahuuu," pekiknya dengan suara manja sembari mengelus perutnya.


El langsung terbahak mendengar suara mendayu wanita jadi-jadian itu.


"Miss Jeny, tolong lurusin lagi rambutku. Terus besok harus di keritingin lagi," perintahnya.


Jeny mengerutkan alisnya merasa heran. "Tapi kenapa, Dear?"


"Nggak apa-apa. Udah ah ... ikuti saja apa yang aku perintahkan," kata El lalu duduk di kursi yang kosong.


"Ok, Dear." Miss Jeny pun mulai beraksi.


Dua jam berlalu ...


Setelah selesai dengan urusan rambutnya, ia pun membayar lalu segera meninggalkan salon itu. El kembali memacu motornya hingga tiba di rumahnya.


Begitu sampai di rumah, ia langsung mengambil handuk lalu ke kamar mandi. "Ish, bau banget obat rambutnya," gerutu El.


Ia tidak peduli dengan ucapan Miss Jeny supaya rambutnya jangan dikeramas dulu.


Dirasa sudah cukup dan merasa dirinya sudah benar-benar fresh, El membalut tubuhnya dengan handuk lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Aku ke sana jam-jam sepuluh saja. Aku masih ada waktu tiga jam dari sekarang. Pokoknya malam ini aku ingin memaki si bule bastard itu sepuasnya," celetuknya dengan perasaan geram.


Tiga jam kemudian ...


El sudah tampak anggun dengan gaun hitam selutut press body lengan panjang. Ia padukan dengan sepatu sneaker karena lebih simple.


Setelah memasukkan dompet, rokok plus korek api dan ponselnya ke dalam tas selempangnya, ia pun memakai masker.


Begitu ia sampai di halte, bersamaan pula dengan taksi online yang dipesannya tadi sudah tiba.


"Bang, langsung ke Bronze Bar, ya," pinta El sesaat setelah masuk ke dalam mobil.


Bang supir hanya mengangguk lalu mulai mengendarai kendaraannya itu menuju bar yang dimaksud. Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di club malam itu karena jalanan sudah terlihat senggang.


"Terima kasih ya, Bang." El turun dari taksi itu lalu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembusnya pelan.


Perlahan El melangkah masuk ke dalam club malam itu. Senyumnya langsung mengembang ketika memandangi suasana club'.


Tempat yang lekat dengan para ladies, musik yang menghentak keras, cahaya temaram dan pantulan lampu disko yang berputar menjadi ciri khasnya.


"Oh God ... ini duniaku sebelumnya," gumam El dengan senyum tipis. Ia menuju ke meja bartender lalu duduk di salah satu kursi.


Sebelum memesan minuman, El membakar rokoknya lalu menyesapnya dalam-dalam. Sontak saja kehadirannya itu mencuri perhatian beberapa pria.


"Bro, wiski please," pintanya.


"Ok ..." sahut sang bartender.

__ADS_1


Bartender itu pun meletakkan gelas sloki di depan El lalu menuang wiski itu. El kembali menyesap rokoknya sembari memutar cairan berwarna kecoklatan itu lalu memasukkan satu biji es batu kecil ke dalamnya.


El kembali memutarnya sebelum akhirnya ia meneguknya. Dari arah pintu masuk, Kai dan Candra yang baru saja tiba ikut bergabung di meja bartender itu.


Kai mengerutkan alisnya ketika ia duduk bersebelahan dengan El. "Aroma parfumnya ...." Kai tidak melanjutkan kalimatnya namun melirik lalu menatap lekat wanita yang ada di sampingnya.


El kembali menuang minumannya lalu meneguknya hingga tandas. Terus seperti itu hingga satu botol wiski habis lalu ia kembali memintanya.


Kai cukup terkejut menatapnya meneguk minuman itu dan kembali memintanya. Ia langsung menahan tangan gadis itu yang kembali ingin meneguk wiskinya.


"El ... apa itu kamu?" tanyanya seraya menangkup wajah gadis itu.


El bergeming lalu menepis kedua tangan besarnya kemudian melanjutkan minumnya.


"El!! Apa kamu sudah nggak waras?!" sentaknya.


Candra langsung menoleh lalu menatap keduanya dengan heran.


"El, kamu bisa mabuk jika terus meneguk minuman itu," bisik Kai.


Tak bisa lagi menahan dirinya, Kai langsung memeluk El lalu mencium aroma parfum yang begitu kuat di leher gadis itu. Candra hanya bisa melongo menatap keduanya.


El memberontak, meronta dalam pelukan Kai lalu berteriak, "Lepaskan aku bastard! Aku membencimu, jangan menyentuhku! Kamu brengsek, menjijikkan!!!"


Dengan perasaan geram, ia mendorong dada Kai lalu memukulnya tanpa henti. Melampiaskan semua kekesalannya.


"Stop it, El! Whatever. Pokoknya aku nggak akan melepaskan kamu lagi. Aku akan segera menikahimu secepatnya," bisiknya di telinga El.


"Nggak!! Aku nggak sudi menikah dengan pria bastard sepertimu. Aku membencimu! Kamu Pria bejat, jahat!!!" maki El.


Ia berteriak sekeras yang ia mampu sambil terus meronta. Mengeluarkan semua amarah, unek uneknya serta emosi yang ia pendam sejak beberapa hari.


Beberapa pria ingin menghampiri Kai seolah ingin menghajarnya. Namun dengan lantang ia mengancam, "Jangan coba-coba mencari masalah denganku. Dia istriku!! Jangan campuri urusan rumah tanggaku. Mengerti kalian?!!!!" bentaknya dengan tatapan membunuh.


"Lepasin nggak?!" El masih meronta minta di lepaskan. Mau tidak mau Kai melepasnya.


El menempelkan keningnya di atas meja bartender karena mulai merasa pening. Ia kembali meneguk sisa wiskinya lalu menarik jaket Kai karena hampir terjatuh.


Candra yang sejak tadi hanya menjadi penonton dibuat bertanya-tanya, siapa gadis cantik itu. Ia merasa tidak asing dengan wajahnya.


"El, kamu mabuk," bisiknya seraya menahan tubuh gadis itu yang mulai sempoyongan. "Bro, tolong tagihan minumannya masukkan ke dalam tagihanku," pesan Kai. "Candra, aku pulang duluan."


Candra hanya mengangguk seraya menaikkan jempolnya.


Tanpa pikir panjang Kai memilih menggendong El keluar dari club malam meski gadis itu terus meronta.


Setelah mendudukkannya di kursi mobil, Kainmemasangkan seat belt lalu menatap wajah El lekat. "El, katakan di mana rumahmu biar aku mengantarmu pulang."


"Aku nggak punya rumah bastard, aku gelandangan setelah kamu merenggut segalanya dariku, aku sudah nggak punya apa-apa lagi selain diriku yang tidak berguna ini," racaunya dengan senyum sinis menatap Kai.


Kai mengerutkan keningnya. "El, maafkan aku. Aku menyesal dan merasa sangat bersalah padamu. Jujur saja aku mencintaimu dan akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu."


"Bullshit, dengan semua omonganmu itu," sanggah El.


"Katakan, di mana rumahmu biar aku mengantarmu pulang," tanya Kai lagi.


"Aku nggak punya rumah, sekalipun kamu ingin membuangku atau membunuhku silakan saja. Karena aku sudah nggak berharga nggak punya siapa-siapa lagi selain diriku sendiri," ucap El lirih.


Kai menghela nafas kasar. Merasa percuma bertanya dan tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya ia memutuskan membawa gadis itu ke apartemen miliknya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2