
"Ya Tuhan!!!! Mimpi apa aku semalam, Mike? Apa ini beneran nyata atau hanya mimpi?" tanya Lois seolah tak percaya sesaat setelah mereka berada di parkiran.
Mike menggelengkan kepalanya melihat kelakuan temannya itu.
"Tentu saja ini nyata dan bukan mimpi," jawab Mike lalu terkekeh.
"Mike, bagaimana jika sebentar malam kita ajak El clubbing," cetus Lois dengan sembringah.
Mike menaikkan alisnya sebelah menatap Lois.
"Boleh juga. Tapi jangan senang dulu. Masalahnya, Kai belum tentu mengizinkannya," timpal Mike seolah tidak yakin.
"Kai pasti mau, kita lihat saja nanti," kata Lois. "Sudah ah ... aku duluan." Lois berlalu meninggalkannya.
"El ... congrats my Dear," ucap Mike lirih lalu mengulas senyum kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama berselang Kai terlihat sedang menghampiri mobilnya.
"Tuan, apa Anda akan kembali ke kantor?" tanya Alex sesaat setelah Kai duduk di sampingnya.
"Nggak, Lex. Langsung antar aku pulang. Aku butuh istirahat."
Alex hanya mengangguk kemudian mulai mengendarai. Tak ada pembicaraan yang tercetus dari keduanya melainkan suara musik yang terdengar.
Senyum Kai terus terukir mendengar lirik lagu Shane Filan, beautiful in white.
"Sayang aku sudah bisa membayangkan, betapa anggunnya dirimu mengenakan gaun pengantin. Rasanya aku sudah nggaak sabar menanti hari itu tiba," batin Kai.
.
.
.
.
Sesaat setelah berada di penthouse ...
Senyum Kai semakin mengembang sempurna. Sambil melangkah, ia melepas satu persatu kancing kemejanya.
Melepas kemeja yang tadinya membalut tubuhnya. Merogoh saku celana mengeluarkan ponsel lalu meletakkan kedua benda itu di atas meja sofa.
Kai langsung naik ke sofa santai itu di lalu mengungkung El yang sedang tertidur dengan pulasnya.
Menatap lekat wajah wanitanya itu lalu mengecup bibirnya turun ke lehernya.
"Sayang," bisik Kai lalu mengelus pipi dan bibir El.
Perlahan El membuka matanya. "Sayang, kamu sudah pulang?" Ia mengelus dada liat Kai tepat di gambar naganya.
"Hmm."
"Ada apa?" tanya El dengan lembut. Ia mengelus rahang tegas Kai lalu mengelus bibirnya.
Kai tidak menjawab melainkan menahan jemari wanitanya itu lalu kembali mencium bibirnya. Awalnya hanya ciuman biasa namun ketika El membalas ciumannya, Kai semakin menuntut lalu memperdalam ciumannya.
Merasa pasokan nafasnya akan habis, barulah keduanya melepas tautan bibirnya. Menyatukan kening dengan dengan nafas yang kini sama-sama memburu.
"Sayang, aku menginginkanmu. Ayo kita melakukannya sekarang," bisik Kai lalu menyesap leher jenjang El kemudian meremas pelan buah ranum gadis itu.
El hanya bergeming. Mengulas senyum sekaligus membiarkan Kai menggerayangi tubuhnya tanpa protes. Namun tetap saja ulah Kai itu, membuatnya terpaksa menahan hasratnya
Merasa El tidak protes atau menolak, Kau berdecak kesal lalu berhenti dengan sendirinya.
__ADS_1
El langsung mengulas senyum lalu memeluknya yang sedang berada di atas tubuhnya.
"Sudah kuduga, dia nggak akan mau melakukannya jika aku hanya diam dan nggak protes sama sekali," batin El.
"Sayang, kok berhenti?" bisik El manja lalu melipat bibirnya menahan tawa.
"Ck, nggak apa-apa," balas Kai lalu mendudukkan dirinya.
"Kenapa aku merasa jika El nggak memberontak, aku seolah nggak tertantang. Tapi saat ia protes dan terus menolak justru malah membuatku semakin menginginkannya," gumam Kai dalam hatinya.
Kai menatap El yang masih berbaring lalu mengelus wajahnya. Sedetik kemudian El ikut mendudukkan dirinya.
Melingkarkan kedua tangannya ke perut dengan kepala bersandar di dada prianya. Keduanya kini sama-sama memandang ke arah yang sama lewat dinding kaca ruangan mewah itu.
"Sayang."
"Hmm." Kai mengecup kening lalu meletakkan dagunya di puncak kepala wanitanya itu.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya El tiba-tiba.
"Tentu saja aku sangat mencintaimu. Justru karena itu aku ingin berkomitmen dengan menikahimu," jawab Kai.
"Benarkah?"
"Hmm ... Sayang, jujur saja aku bukanlah pria yang mudah jatuh cinta. Jauh sebelum bertemu denganmu, aku pernah mencintai seorang wanita, tepatnya teman kampusku."
"Lalu?"
"Dua tahun setelah lulus kuliah, aku mulai sibuk mengurus perusahaan papa. Dan hubungan kami masih berlanjut hingga hampir menikah."
Kai kembali mengecup puncak kepala El lalu mengelus pipinya.
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya El pura-pura tidak tahu.
"Sayang." El langsung memeluknya dengan erat. Tanpa Kai melanjutkannya ceritanya, ia sudah tahu.
"Aku memergokinya sedang melakukan hubungan intim dengan temanku sendiri di apartemennya," jelas Kai.
"Maaf, jika aku kembali membuka luka lama," balas El lirih.
Kai menggelengkan kepalanya lalu mengelus punggung calon istrinya itu dengan sayang.
"Sejak saat itu, aku membalas semua perbuatannya dengan menjadikan wanita hanya sebagai pemuasku. Bahkan menganggap mereka sama saja dengan mantanku itu."
Kai kembali menjeda kalimatnya sembari menghela nafas pelan.
"Sayang, tadinya aku bukanlah pria arogan, angkuh, kejam dan berpikir semuanya bisa dibayar dengan uang. Semua sifat itu jauh dariku. Karena sebuah pengkhianatan yang membuatku berubah."
El tetap bergeming sekaligus tetap menjadi pendengar setianya.
"Namun setelah bertemu denganmu, duniaku kembali jungkir balik. Hanya karena tertantang dengan wanita bar-bar sepertimu."
"Kamu satu-satunya wanita yang berani menatap nyalang mataku bahkan sampai mempermalukanku di depan umum. Semakin hari aku semakin penasaran bahkan saat kamu berada dalam penjara pun aku masih mengawasimu."
"Tadinya aku berpikir jika kamu akan menyerah, tapi malah sebaliknya. Sejak saat itu penilaianku berubah dan kamu berbeda dengan wanita lainnya. Maafkan aku."
El langsung memukul dadanya karena merasa kesal.
"Kamu jahat! Bisa-bisanya ya kamu mengawasiku. Kurang kerjaan banget!!"
Kai terkekeh lalu memegang kedua tangan wanitanya itu.
"Aku mencintaimu, Sayang. Maafkan aku," bisik Kai. "Kamu wanita spesial dan unik. Tetaplah seperti ini, Sayang. Sejak kamu berada di sisiku hari-hariku terasa lebih hidup serta bermakna."
__ADS_1
Tak lama berselang ponsel Kai bergetar.
"Sebentar siapa tahu itu Richard," tebak Kai.
El hanya mengangguk lalu ikut beranjak kemudian menuju kamar. Sedangkan Kai menghampiri meja sofa.
"Daniel?" ucapnya kerutan tipis dikening.
"Ya, Hallo Daniel. Ada apa?"
"Nggak apa-apa, tadi aku dan Tara nggak sengaja melihatmu di restoran xxx. Sepertinya kalian terlihat pembicaraan serius," tanya Daniel penasaran.
"Nggak juga, hanya sekedar bisnis dan nggak ada yang serius," bohong Kai.
"Gitu ya. Aku hanya berpikir jika El ikut bersamamu."
"Kebetulan, El memang lagi ada urusan dengan Mike. Jadi saat ini dia memang lagi ada di kota ini," jelas Kai.
"Apa aku boleh bertemu dengannya?" ujar Daniel penuh harap.
"Aku sih, nggak masalah tapi itu tergantung dari El saja. Nanti aku tanyakan dulu. Jika dia setuju aku akan memintanya menghubungimu lewat ponselku."
"Baiklah, aku tunggu ya."
"Ok, Dan."
Kai memutuskan panggilan sembari menghela nafasnya kasar.
Sedangkan El tampak sembringah setelah mendapat DM dari Lois.
Ia pun langsung menghubungi temannya itu. Hanya di deringan pertama Lois langsung menjawab panggilannya.
"El, aku dan Mike ingin mengajakmu clubbing malam ini," tawar Lois dari seberang telepon.
"Boleh, tapi di bar mana? Aku akan mengajak Kai juga," balas El.
"Tempat biasa," jawab Lois cepat.
"Bagaimana jika di B.A pub saja," usul El.
"Baiklah. Kita bertemu di sana jam sembilan ya," pesan Lois.
"Ok. Aku akan menghubungimu nanti."
"Ok Dear," jawab Lois lalu memutuskan panggilan.
Karena sudah terlanjur berada di kamar dan malas untuk keluar, El menghubungi Kai yang sedang berbaring.
Mendengar ponselnya kembali bergetar, Kai kembali menghampiri meja sofa.
Saat tahu nama kontak yang memanggil, ia tidak menjawab melainkan langsung melangkah ke arah kamar.
"Sayang, ada apa?" tanya Kai sesaat setelah berada di dalam kamar.
"Sayang, Lois dan Mike mengajakku clubbing malam ini. Boleh ya," bujuknya dengan manja. "Aku nggak sendiri soalnya kamu harus ikut."
Kai tampak berpiki. "Boleh sayang, tapi di bar mana?'' tanya Kai.
"B.A. pub."
"Kebetulan, Daniel juga ingin bertemu denganmu. So ... kita sekalian bertemu di sana saja," kata Kai.
...----------------...
__ADS_1