
Setelah selesai dengan berkasnya yang menumpuk, Kai menghela nafasnya lalu kembali bersandar di di kursi kerjanya lalu meraih ponselnya.
"Sejak tadi El belum menghubungiku bahkan nggak mengirim pesan sama sekali. Apa dia masih tertidur ya?" gumam Kai dengan senyum tipis.
Tak lama berselang, pintu ruangannya kembali dibuka dan terlihat Alex sedang menenteng paper bag berisi box makanan.
"Tuan, ini makanan pesanan Anda," kata Alex.
"Hmm ... Alex, tolong antar aku pulang. Entah mengapa aku merasa sangat lelah," pinta Kai.
"Baik, Tuan." Ia pun kembali menenteng paper bag itu lalu mengekori sang CEO dari belakang.
Sesaat setelah berada di loby kantor, Kai langsung menuju kendaraannya membuka pintu mobil dan langsung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.
Kenapa aku merasa lelah banget hari ini?
Sambil membatin ia memejamkan matanya sembari mengusap perutnya yang terasa perih.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat," kata Alex yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Aku merasa lelah dan perutku terasa perih," ucapnya dengan suara pelan.
"Apa mau saya antar ke rumah sakit dulu Tuan?" tanya Alex yang merasa khawatir melihat sang boss.
"Nggak perlu Alex, antar aku pulang saja. Soalnya obatku ada di kamar," pintanya.
Alex hanya mengangguk lalu mulai menjalankan kendaraan roda empat itu menuju penthouse.
Saat dalam perjalanan, Kai terus memejamkan matanya dan sesekali mengusap perutnya.
Tiga puluh menit kemudian kendaraan yang di kendarai oleh Alex pun memasuki area parkir.
"Lex, thanks ya. Semua pekerjaan di kantor tolong kamu handle. Satu jam lagi ada klien yang akan menemuiku. Aku serahkan semuanya padamu," ucapnya.
"Baik Tuan," Sahut Alex.
Setelah memastikan Kai masuk ke kotak besi itu, baru lah Alex kembali melajukan kendaraannya kembali ke kantor.
Sedangkan Kai yang masih berada dalam lift, menyandarkan punggungnya di benda besi itu.
"El ngapain ya?" tanyanya sambil tersenyum membayangkan wajah istrinya. Istri bar-bar, pemberontak dan kadang bersikap absurd. Sungguh sifatnya itu membuatnya gemas dan selalu kangen.
Ting ......
__ADS_1
Pintu lift terbuka sekaligus membuatnya sadar dari lamunannya. Ia pun keluar dari benda itu dan menghampiri pintu unitnya lalu memasukkan password.
Kerutan tipis tampak jelas di wajahnya saat mendapati ruangan luas itu sama sekali tidak ada aktifitas bahkan suara.
Ia menghampiri pantry dan masih mendapati no paper bag makanan semalam masih tidak berpindah tempat.
Ia pun meletakkan paper bag makanan yang dibawanya ke atas meja lalu masuk ke kamar.
Seketika perasaannya langsung khawatir saat menatap El masih tertidur dengan pulasnya. Dengan langkah cepat ia menghampirinya lalu duduk di sisi ranjang lalu mengelus kepala sang istri.
"Sayang ..." bisiknya sambil menepuk-nepuk pipinya. "Sayang ..." ia kembali berbisik lalu menggigit kecil telinganya. Karena tak kunjung membuka matanya Kai menggigit bibirnya.
Alih-alih membuka matanya, El hanya menggeliat kecil. Merasa El tidak merespon, Kai hanya menggelengkan kepalanya lalu membuka laci nakas lalu mengambil obatnya.
Sebelum mengeluarkan beberapa biji pil, ia melirik El. Takut kalau-kalau istrinya itu memergokinya. Bukan tanpa alasan jika El tahu obat apa yang diminumnya dia pasti ketahuan sedang sakit.
Setelah menelan obatnya ia melepas jasnya dan memilih ke lantai dua tepatnya di rooftop sambil mencari angin segar.
Dari ketinggian tempatnya berada sekarang, Kai dapat melihat kesibukan kota A, gedung-gedung pencakar langit nan megah sungguh satu pemandangan yang benar-benar menakjubkan.
Sedangkan El yang masih berada di kamar baru saja membuka matanya sambil memijat kepalanya yang terasa mau pecah.
"Ssssttt .... kepalaku," lirihnya lalu meraba ke samping berharap sang suami ada di sebelahnya. Namun orang yang ia cari justru tidak berada di tempat.
"Jam berapa ini?" desis El lalu perlahan bangkit dari tidurnya. Matanya langsung terbelalak saat menatap jam dinding telah menunjukkan jam satu lewat tiga puluh menit. "Oh God ..." lirih El lalu segera beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi.
"Loh ini kan, jasnya Kai? Apa dia sudah pulang? tapi di mana dia?" tanya El pada dirinya sendiri.
Saat ia ke pantry lagi-lagi ia bertanya-tanya saat mendapati dua paper bag makanan yang masih utuh.
"Kapan dia pesan makanan? Tapi di mana si Mr. Bule itu? Apa di lantai dua?''
Langkah kakinya akhirnya membawanya ke lantai Dian dan mencari keberadaan suaminya di setiap sudut ruangan namun tak menemui sosoknyang dicarinya itu sampai akhirnya langkahnya terhenti di pembatas kaca rooftop.
Senyumnya mengembang saat mendapati sang suami sedang berbaring di kursi santai dengan kedua tangannya dijadikan bantal.
Dengan langkah pelan ia menghampiri prianya hingga berada di atas kepalanya lalu menatap wajah lekat tampan pria blasteran itu.
"Rupanya dia tidur," desis El lalu mendaratkan kecupan lama di kening suaminya lalu turun ke bibirnya.
"Sayang ... sudah bangun?" bisik Kai lalu membuka matanya kemudian tersenyum. "Kemarilah," pintanya dan mengisyaratkan supaya El duduk di atas pahanya.
"Maaf ... aku baru bangun," ucapnya seraya mengalungkan kedua tangannya ke punggung leher Kai. "Kenapa nggak membangunkan ku?" tanya El dan menyatukan keningnya dengan Kai.
__ADS_1
Kai berdecak. "Ck ... sudah, tapi kamu seperti putri tidur saja nggak merespon," jelasnya.
"Maaf ... " bisiknya lalu memeluk erat suaminya dan menghirup aroma maskulin di ceruk lehernya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Lagian kamu sepertinya terlalu lelah. Aku sempat khawatir jika kamu sakit?" akunya seraya mengelus punggung istrinya dengan sayang.
"Sayang, apa kamu sudah makan?" tanya El.
"Belum, aku menunggumu."
"Kenapa nggak duluan saja. Ini bahkan sudah menghampiri jam dua sore."
"Nggak apa-apa Sayang," kata Kai lalu mengecup keningnya.
Hening sejenak sebelum akhirnya Kai menggodanya.
"Apa kamu ingin seperti ini terus? Mau menggodaku ya?"
El menggeleng sambil menulis dengan jari telunjuknya di dada suaminya dengan membuat tulisan abstrak.
"Sayang ..."
"Hmm ..."
"Besok kita ambil penerbangan pagi ya," cetus Kai.
"Ok .."
"Apa kamu masih kuat melanjutkan perjalanan besok?" tanya Kai.
"Sure, because you are always beside me," ucapnya pelan lalu mengelus rahang tegas Kai. "Ayo kita turun. Perutku sudah lapar," ajaknya seraya berdiri dari pangkuan suaminya.
Sesaat setelah berada di pantry, El membuang paper bag makanan yang dipesan semalam dan menata makanan yang baru saja Kai bawa dari kantornya tadi.
Selesai menata makanan, El dan Kai pun menyantap makan siang mereka yang sudah terlambat.
Setelah selesai makan siang keduanya kembali beristirahat sambil mengobrol kecil. Suara tawa El sesekali terdengar karena terus-terusan meledek dan mengejek suaminya sampai akhirnya ia puas baru lah ia berhenti.
Bukannya kesal atau marah, Kai malah merasa lucu dan gemas dengan sikap istrinya itu. Ia terus menatap lekat wajah cantik wanitanya sambil membatin.
"Lord ... rasanya aku ingin hidup seribu tahun lagi supaya bisa tetap menatap wajah cantik nan menggemaskan istriku."
*
__ADS_1
*
*