
Tara segera meninggalkan ruangan itu tanpa memperdulikan kaca yang berserakan di lantai.
Sesampainya ia di ruang control CCTV, ia meminta salah satu petugas untuk memeriksa CCTV kejadian semalam di area parkir dan lift apartement.
Setelah mendapat rekaman itu, Tara langsung mengepalkan kedua tangannya sekaligus kecewa karena tidak bisa melihat jelas wajah pria itu karena memakai hoodie, topi dan masker.
"El, kenapa kamu sama sekali gak curiga dengan penampilan pria brengsek itu! Padahal kamu cukup jeli dan selalu hati-hati jika bertemu dengan orang asing," geramnya dengan tangan mengepal.
Setelah itu, ia pun keluar dari ruangan itu lalu kembali ke mobil kemudian segera ke apartemennya.
Ia terlihat begitu frustasi, kacau dan ingin segera melampiaskan amarahnya.
Sesampainya di apartemennya, ia ingin ke unit Daniel namun terpaksa ia urungkan dan kembali melanjutkana ke unitnya.
Setelah menekan akses, ia pun masuk ke ruangan itu dan langsung menuju mini barnya lalu mengambil wiski kemudian menuangnya ke dalam gelas.
Saat hendak meneguknya, tiba-tiba saja suara El serasa tergiang-ngiang di telinganya.
"Tara jangan minum lagi, ya. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Seketika itu juga, Tara membatalkan niatnya. Dengan perasaan geram, ia langsung melempar gelas serta botol wiski itu hingga membuat kedua benda itu hancur berkecai di lantai.
"Lalu ... di mana dirimu, El? Aku bisa gila tanpamu," ucapnya frustasi lalu mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Setelah itu ia memilih meninggalkan mini barnya lalu ke kamar lalu menatap foto yang ada di meja nakas sisi ranjangnya.
"El ... aku tetap akan mencarimu. Aku pasti bisa menemukanmu. I don't care, apapun keadaanmu aku tetap menerima dirimu apa adanya."
"Aku juga bukan pria baik-baik, bahkan kamu sangat mengenalku seperti apa. Walaupun kamu tahu aku seorang player saat itu, kamu sama sekali nggak mempermasalahkannya tapi justru menasehatiku."
"Kamu hanyalah korban, El," pungkasnya sambil menangis sembari mengusap foto gadis itu yang sedang tersenyum sambil memeluknya.
.
.
.
Sementara itu, El yang sejak tadi sudah tiba di Kota X, tampak sedang mencari penginapan untuk menginap beberapa malam.
Ia tampak bertanya kepada beberapa orang yang di temuinya di kota itu. Setelah mendapat penginapan untuk mengistirahatkan dirinya ia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang.
Perjalanan udara yang memakan waktu kurang lebih dua jam lamanya, membuatnya cukup lelah di tambah lagi kondisi tubuhnya yang tak mendukung.
"Oh God, tubuhku serasa ingin remuk. Perihnya masih terasa. Setelah ini aku harus mencari obat pereda nyeri. Tara, seperti apa aku tanpa dirimu setelah ini? Maafkan aku pergi tanpa pamit," bisiknya lalu memejamkan matanya bersamaan dengan dua kristal bening yang ikut jatuh dari bola matanya.
Masih segar dalam ingatannya tentang kejadian semalam. Tangisnya kembali pecah mengingat perbuatan Kai.
__ADS_1
Lama ia menumpahkan air matanya dan memikirkan bagaimana nasibnya kedepannya kelak. Ia merasa kini dirinya seperti terombang-ambing di lautan lepas tanpa jelas.
Hingga akhirnya ia memilih memejamkan matanya. Tak lama berselang ia pun tertidur.
*****
Tak terasa hari sudah berganti malam. Namun El belum tersadar dari tidurnya panjangnya. Entah itu karena efek jet lag atau kelelahan. Entahlah hanya dia yang tahu.
Saat ia tersadar, ia kaget karena kamar yang ditempatinya begitu gelap. El meraba-raba kasur mencari ranselnya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia langsung membuka ransel lalu mengambil ponselnya.
Ia pun menyalakan senter ponselnya lalu mencari saklar lampu kemudian menekan benda itu dan kembali mendudukkan dirinya.
"Sebaiknya aku mandi dulu. Setelah ini aku ingin mencari obat pereda nyeri. Pria brengsek itu benar-benar membuatku tak berdaya. Oh God ... aku takut benget jika sampai hamil anak dari pria bastard itu," desisnya sambil mengelus perutnya.
Tiga puluh menit kemudian ...
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, ia pun keluar lalu mencari apotik terdekat. Begitu selesai membeli obat, ia singgah di salah satu warung pinggir jalan lalu memesan makanan.
Setelah selesai memesan makanan, El kembali berjalan dan mencari counter ponsel untuk membeli kartu baru.
"Di sinilah akan aku mulai hidup ku yang baru. El, tetap semangat dan berjuanglah kamu pasti bisa. Lupakanlah semua yang terjadi semalam," tuturnya menyemangati dirinya sendiri.
...----------------...
__ADS_1