All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
23. Dilema ...


__ADS_3

Setibanya Tara di kantor. Ia masih terbayang-bayang wajah sendu El dan suara pilu tangisannya. Tara bisa melihat sosok rapuh gadis malang itu.


"El, bersabarlah hanya sebentar saja lagi kamu berada di tempat yang tidak seharusnya itu," lirih Tara.


Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena mendapat kabar dari Daniel, jika tante Karin sudah meninggal dan sudah berada di rumah duka.


Tara tampak serius menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah mengatur jadwal Kai yang sebentar lagi akan bertemu dengan kliennya di salah satu restoran mewah.


Setelah mengatur jadwal pertemuan Kai, Tara bergegas masuk ke ruang kerja sang CEO. Namun sang empunya ruangan belum menampakkan batang hidungnya.


Karena malas menunggu, akhirnya Tara memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Saat sudah berada di luar ruangan, Kai baru saja tiba.


"Wah Pak CEO, tumben hari ini telat padahal sebentar lagi Bapak harus bertemu dengan klien," ucap Tara dengan nada bercanda.


"Cih, ngomongnya biasa saja, Tara. Oh ya, apa Bella sudah menyiapkan berkas yang ingin aku bawa?"


Tara hanya mengangkat bahunya.


"Kalau itu, urusannya Bella bukan aku. Kamu tanyakan sendiri padanya, lagian dia kan yang sering menemanimu bertemu klien," jawabTara dengan santai.


"Hmm."


Setelah itu, Kai menemui Bella di ruang kerjanya yang hanya bersebelahan dengan ruang kerja Tara.


"Bel, apa kamu sudah siapkan berkas yang akan kita bawa sebentar?" tanya Kai.


"Iya Pak, semuanya sudah saya siapkan. Dari tadi saya sudah menunggu kedatangan Bapak. Setelah ini kita langsung bertemu klien di Restoran xxxx.


"Ok. Kalau begitu kita berangkat sekarang," kata Kai lalu mengajak Bella.


"Baik, Pak."


Kai dan Bella pun sama-sama keluar dari ruangan itu dan menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai bawah.


Sementara itu, Tara yang masih betah berada di ruangannya hanya sesekali menghisap rokok yang ada di sela jarinya.


Ia meraih ponselnya lalu membuka galeri fotonya. Ia terus tersenyum menatap foto kebersamaannya dengan Clara, wanita yang sudah mengisi hatinya lima tahun terakhir.


Aku nggak tahu seperti apa kelanjutan hubungan kita, Ra. Aku merasa hatiku masih terganjal sesuatu.


Tara terus menggeser layar benda pipih tersebut, hingga akhirnya ia menatap foto kebersamaannya dengan El. Foto yang ia abadikan saat pertama kali bertemu di club malam tempat gadis malang itu bekerja.

__ADS_1


Gadis ini, entah mengapa saat bersamanya, aku merasa sangat nyaman dan bisa membuat suasana hatiku menghangat. Bahkan aku takut kehilanganya.


Tara terus mengusap wajah El di layar ponselnya. Menatap senyum manis dan pelukan gadis malang itu.


Drrttt ..... drrtt ..... drrtt


Ponselnya bergetar dan nama kontak Daniel muncul di layar ponselnya.


Seketika senyum Tara yang sejak tadi terus mengembang di wajah tampannya, sirna begitu saja. Ia langsung menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari Daniel.


"Ya, hallo Daniel."


"Aku sudah di kantor. Sebaiknya kamu segera kemari. Aku sudah memastikan Kai sudah berada di restoran itu dengan kliennya."


"Bagus .... aku segera ke sana sekarang."


Tut ... tut ... tut ...


Tara memutuskan panggilan telfon. Ia pun beranjak dari kursi kerjanya dan keluar dari ruangannya.


"Semoga Clara tidak mencariku di sini. Aku tidak tahu apa yang akan Kai katakan padanya nanti," gumamnya.


Begitu ponselnya mati, Tara mulai melajukan mobilnya membelah jalan kota yang sudah mulai dipadati oleh kendaraan umum lainnya.


Akibat terjebak macet, Tara terpaksa membutuhkan waktu yang agak sedikit lama untuk tiba di kantornya.


Beberapa menit kemudian setelah tiba di kantornya, tara langsung menghampiri lift khusus untuk membawanya naik ke lantai tempat ruangannya dan Daniel berada.


Sementara itu, Daniel yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Tara, hanya menatap ke luar jendela.


"Dan?" sapa Tara lalu menepuk bahu asistennya itu.


"Ah Tara, kamu sudah datang? Kita duduk di sofa saja," kata Daniel.


Tara hanya mengangguk lalu meghampiri sofa dan mendaratkan bokongnya.


"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?" tanya Daniel lalu duduk di single sofa.


"Dan, aku ingin kamu lakukan transaksi jual beli rumahnya El. Sekalian carikan El satu unit apartment untuk tempat tinggalnya nanti setelah ia bebas. Aku merasa El sudah tidak akan aman jika dia masih tinggal di sana," jelas Tara.


"Maksudmu? Kita yang beli rumahnya gitu?!" tanya Daniel sedikit kaget.

__ADS_1


"Iya, tapi atas nama orang lain. Pokoknya nama siapa saja yang penting rumah itu statusnya sudah terjual," perintah Tara tidak ingin dibantah.


"Tapi ..... apa yang akan kita katakan padanya nanti setelah dia tahu rumahnya sudah terjual?"


"Kamu tenang saja Dan, nanti aku yang bicara pada El. Dia pasti mau mendengarkanku. Aku tidak mau Kai terus menganggunya," jelas Tara lalu menyandarkan kepadanya di sandaran sofa.


Tara menghela nafasnya lalu melanjutkan kalimatnya.


"Tadi saat aku meninggalkan kantor, diam-diam Kai mengikutiku sampai ke rumah tante Karin. Bahkan saat kita ke pemakaman dia masih saja membuntuti kita," ungkap Tara lalu memejamkan matanya.


Daniel hanya manggut-manggut lalu mengusap dagunya.


Hening .... hening .... hening ....


Akhirnya Daniel kembali membuka suara.


"Tara, aku sangat berharap kamu segera duduk di kursi kebesaranmu itu," kata Daniel.


Tara hanya diam dan masih tampak menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Aku khawatir Dan, El akan menjauhiku jika dia tahu siapa aku sebenarnya," balas Tara.


"Lalu?"


"El sangat menjaga jarak dengan orang-orang seperti diriku. Lihat lah Kai, El lebih rela menjalani hukumannya hanya karena dia tidak ingin diganggu olehnya. Dia menyukai kebebasan," jelas Tara.


"Bagaimana dengan hubunganmu dengan Clara?"


"Entah lah Dan, sejujurnya aku juga bingung" sahut Tara lalu menunduk.


Ruangan itu kembali hening sebelum akhirnya Tara beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan Daniel.


Sesaat setelah berada di ruanganya, Tara berdiri dan menatap ke luar jendela. Ia terus memperhatikan gedung-gedung tinggi yang ada di kota itu.


"El and Clara, dua pilihan yang membuat diriku dilama," bisik Tara. "Tapi hati dan perasaanku tidak bisa berbohong jika aku sangat nyaman ketika bersama El. God, bantu aku," ucap Tara sedikit frustasi sambil menyugar rambutnya.


Tara menghampiri kursi kebesarannya lalu mendudukkan dirinya di benda empuk itu. Menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi itu sambil memejamkan matanya.


Entahlah apa yang Tara pikirkan.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2