
Jauh dari kota Berlin, tepatnya di kota X. Terlihat Candra sedang menyambangi kantor Kai. Berharap sang CEO berada di ruangannya karena ada hal penting yang akan ia bahas mengenai pembangunan rumah sakit yang sedang berjalan.
Setelah mengetuk pintu ruang kerja teman kecilnya itu lalu membuka pintu, alisnya saling bertaut karena sang empunya ruangan tidak berada di tempat melainkan ruangan itu terlihat sepi dan rapi.
"Ke mana Kai? Apa dia sudah pulang? Atau lagi jemput El makan siang?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Sedetik kemudian matanya terarah ke atas meja yang terdapat frame foto. Ia pun meraih frame foto itu lalu menatapnya lekat kemudian tersenyum.
"Sejak awal aku sudah curiga, jika wajah cantik ini sengaja dibuat seculun mungkin. Kai, aku salut padamu, usahamu untuk menemukan gadis misterius ini akhirnya berhasil," gumam Candra.
Tak lama berselang, Richard masuk ke ruangan itu lalu menghampiri Candra.
"Pak Candra?!" sapanya.
"Richard, apa Kai keluar makan siang?" tanyanya.
"Tidak Pak. Tuan masih berada di Jerman dan masih ada urusan bisnis," bohong Richard. "Mungkin dua tiga hari lagi, beliau akan kembali."
Candra hanya mengangguk lalu meletakkan kembali frame foto yang di pegangnya tadi.
"Oh ya Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, ikutlah denganku untuk memantau proyek yang sedang di bangun di jln xxxx. Nanti kamu bisa kirim laporannya pada Kai," tegas Candra .
"Baik Pak," sahut Richard lalu menunduk takjim.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja," ajak Candra.
"Baik, Pak."
*
*
*
"Daniel aku ingin, kamu retas sistem keamanan perusahaan Kai, sejak semalam aku nggak bisa menembus bahkan laptopku hampir saja error," kesal Tara.
"Jika kamu saja nggak bisa meretas sistem keamanannya dan tidak bisa menembus aksesnya apalagi aku. Itu sama saja bohong," timpal Daniel dengan santai.
"Lagian untuk apa sih Tara? Sudah lah ... lagian Kai sudah nggak pernah mengganggumu, buktinya dia memutuskan semua hubungan kerjasama kalian berdua dan sudah nggak pernah mengusikmu. Aku jadi heran deh sama kamu," omel Daniel.
__ADS_1
Tara menatap tajam asisstennya itu. "Jadi sekarang kamu pun mulai berpihak pada pria brengsek itu huh!!" geramnya.
"Aku nggak berpihak pada siapapun Tara. Honestly ... dulu aku juga begitu kesal dan sangat membenci Kai. Tapi sekarang sudah nggak lagi. Apalagi dia benar-benar bertanggung jawab pada El," jelas Daniel.
Tara tersenyum sinis mendengar ucapan asistennya itu lalu menyesap rokoknya dalam-dalam.
"Bertanggung jawab? I don't think so," desis Tara dengan sinis.
"Your mean?" tanya Daniel dengan heran.
"Apa kamu nggak mengecek medsos mu?" Tara balik bertanya.
"Ha. ha. ha ... sepertinya kamu masih penasaran seputar kehidupan Kai. Aku mengira kamu sudah memblokirnya dari pertemanan kalian," sindir Daniel dibarengi dengan tawanya.
Tara menghembus asap rokoknya dengan kasar dan merasa jengkel mendengar ucapan Daniel. Merasa percuma berbicara dengan pria bermata sipit itu, tanpa banyak bicara ia langsung meninggalkannya.
Sepeninggal Tara, Daniel juga merasa penasaran. Benaknya di penuhi oleh berbagai macam pertanyaan. Sebenarnya apa yang terjadi.
Ia pun meraih ponselnya yang berada di atas meja kerjanya lalu membuka medsosnya.
"What?!!!" pekik Daniel menatap foto-foto yang di unggah oleh Kai bahkan men-tag beberapa akun.
Daniel bertanya-tanya dan menatap foto itu bahkan yang paling mencuri perhatiannya adalah foto El dan Mike yang tampak begitu serasi bahkan El terlihat memeluknya.
"By the way, El cantik banget dengan balutan gaun pengantinnya. Apa benar El menikah dengan dokter Mike? Lalu Kai? This is confusing."
Ia kembali menscroll layar ponselnya hingga ia kembali terkejut saat menatap foto tangan yang saling menggenggam dengan jari manis yang dilingkari cincin bermata berlian yang baru saja masuk ke berandanya.
"Dikirim 10 menit yang lal?" desis Daniel menatap penasaran foto yang diupload oleh Kai barusan. "Siapa gadis yang bersama Kai? Apa Valerie? Siska, atau Clara?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Jika itu El, nggak mungkin karena terlihat jelas El dan Mike ...." ia tidak melanjutkan ucapannya melainkan semakin bingung.
Daniel kembali bertanya-tanya, seingatnya Kai dan El menjalin hubungan serius. Tidak mungkin Kai semudah itu melepas El, ditambah lagi sejak dulu ia begitu terobsesi pada gadis itu. Namun karena tak kunjung mendapat jawaban, ia kembali bersandar di kursi kerjanya.
*
*
*
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang selama kurang lebih 15 jam 45 menit, akhirnya Kai dan El tiba juga di bandara kota A, kurang 15 menit menghampiri jam 11 malam
Sambil menunggu Alex menjemput mereka berdua, tampak El yang sedang mabuk udara hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil memeluknya.
__ADS_1
Kai hanya terkekeh, seraya mengelus punggungnya dengan sayang dan sesekali mengecup keningnya.
"Sayang ... kepalaku sakit banget. Aku heran deh sama kamu, kok bisa tahan menempuh perjalanan jauh ditambah lagi suara pesawat yang sangat mengganggu. Tapi kamu biasa-biasa saja," lirihnya.
"Aku sudah terbiasa sayang, bahkan sejak kecil," timpalnya lalu membenamkan dagunya di puncak kepalanya.
Tak lama berselang, Alex buru-buru menghampiri keduanya.
"Tuan, Nona El. Maaf saya telat," sesalnya.
"Nggak apa-apa Alex," sahut Kai. "Sayang, ayo. Atau mau aku gendong," tawarnya namun El menggeleng.
Dan mempercepat langkahnya dengan tidak sabaran menuju mobil. Yang ada di benaknya ingin segera tiba di penthouse dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah dan ingin remuk.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, El langsung merebahkan kepalanya di pangkuan suaminya lalu memejamkan matanya.
"Alex, nanti singgah sebentar di salah satu restoran untuk membeli makanan ya," pinta Kai.
"Baik, Tuan. Apa Nona El baik-baik saja?" tanya Alex.
"Iya. Dia hanya mabuk udara. Kamu tahu sendiri kan, Kota A dan Jerman itu jauh. Nggak seperti kota A ke kota X yang hanya butuh 1 jam 30 menit saja," jelas Kai seraya mengelus rambut keriting El.
Alex hanya mengangguk lalu tersenyum.
Di sepanjang perjalanan, Kai terus mengelus kepala istrinya dan sesekali mengelus jemarinya.
"Kasian banget, terlihat sekali jika ia begitu kelelahan. Haduuuhhhh jika begini, sepertinya aku bakal puasa dulu. Nggak mungkin aku memaksanya," gumam Kai.
Satu jam kemudian, mereka pun sampai di parkiran, setelah sebelumnya Alex terlebih dahulu membeli makanan.
"Lex, tolong kamu ikut sebentar ya. Soalnya aku butuh bantuanmu," pinta Kai
"Baik Tuan," sahut Alex lalu menenteng paper bag milik El dan satunya berisi makanan. Sedangkan Kai, ia memilih menggendong istrinya daripada harus membangunkannya.
*
*
*
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1