All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
19. Batal menemani El ....


__ADS_3

Seperti janji Lois tadi siang. Sang sahabat benar-benar datang menjenguknya. Ia pun menghampiri El yang tampak sedang termenung di dekat jendela kamar.


"El," tegurnya.


El menoleh ke arah sumber suara. "Lois .... kamu beneran datang menjenguk ku?" sahutnya.


"Ya. Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi siang," jawab Lois.


El menghela nafasnya dengan kasar lalu mengajak Lois ke rooftop. "Ayo kita ke rooftop, aku ingin merokok sebentar di atas. Tapi aku nggak punya rokok. Bolehkah kamu membelikannya untukku?" pintanya.


"Tentu saja boleh El. Tunggu sebentar. Aku hubungi OB dulu." Lois pun segera menghubungi salah satu OB yang sedang bertugas.


El mencepol rambutnya asal, lalu memakai masker yang telah Tara siapkan untuknya tadi sore.


"Lois, ayo kita ke rooftop," ajak El.


"Apa kamu yakin bisa naik ke atas?" tanya Lois sedikit khawatir.


"Lois, aku baik-baik saja, lukanya memang sedikit perih dan sakit tapi nggak masalah. Jangan khawatir, ayo ....." El kembali mengajaknya.


Keduanya pun, keluar dari kamar VIP tersebut kemudian naik ke rooftop rumah sakit. Sesaat setelah berada di rooftop, El langsung membuka maskernya.


Ia merentangkan kedua tangannya lalu menengadahkan kepalanya menghadap langit kemudian menghirup udara malam dalam-dalam. Tanpa terasa buliran bening di ujung matanya ikut lolos begitu saja.


Sebentar lagi aku akan merasakan udara bebas seperti ini.


Lois merasa heran melihat gelagat sang sahabat. Tidak lama kemudian, seorang OB menghampiri mereka berdua.


"Bu Dokter, ini pesanannya, Bu," kata OB lalu menyerahkan rokok dan korek pesanan Lois.


"Terima kasih ya," sahut Lois lalu memberikan uang tips kepada OB itu.


"El, ini obat mu." Lois terkekeh karena ia tahu benar El pecandu rokok.


El tersenyum tipis lalu meraih rokok dan korek api dari tangan Lois. Ia pun membuka bungkus rokok itu kemudian mengambil sebatang lalu membakar dan menyesapnya dalam-dalam.


Setelah itu, El pun menceritakan semua yang terjadi kepadanya. Di mana saja ia selama setahun terakhir. Termasuk kejadian barusan yang dialaminya sehingga menyebabkan ia harus di operasi dan di rawat di rumah sakit itu.


Sontak saja Lois langsung terkejut mendengar penjelasan darinya. Ia langsung memeluk sahabatnya itu.


"Lois, tolong rahasiakan semua ini dari Mike," pintanya dan kembali menyesap rokok yang ada di selah jarinya.


Lois hanya mengangguk dan merasa ikut prihatin terhadap El. Lois yang merasa penasaran akan sosok Tara. Akhirnya bertanya. "Lalu .... pria yang bersama mu tadi siang, siapa El? Apa hubungan kalian? Aku lihat dia sangat perhatian kepadamu."


"Tara .... aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa, kami hanya sekedar teman nggak lebih. Lagian aku nggak punya perasaan apapun padanya. Aku hanya merasa nyaman ketika bersamanya karena dia aku anggap seperti kakak ku sendiri," jelas El dengan jujur.


Lois hanya mengangguk. Dia tahu benar sifat sahabatnya itu. Jika ia mengatakan tidak memiliki perasaan, berarti itu benar adanya.


El kembali menyesap rokoknya hingga tuntas. Setelah itu, ia kembali memakai maskernya dan mengajak Lois kembali ke kamarnya.


.

__ADS_1


.


.


Sejak pulang dari rumah sakit. Tara langsung pulang ke apartemennya. Ponselnya pun di biarkan mati begitu saja.


Tara yang sejak tadi tertidur, tidak menyadari jika hari sudah malam. Mungkin karena efek minuman yang terus menerus ia teguk.


Tara merasa seperti ada suara yang berbisik di telinganya dan tangan nakal yang terus bermain, mengelus kemudian meraba dada telanjangnya serta ia merasa ada yang menindih tubuhnya.


Perlahan-lahan Tara membuka matanya. "Sayang ....." bisiknya.


"Dari mana saja kamu, hmm .... kenapa ponselmu di matikan? Aku mencarimu di kantor tapi kamu juga nggak ada di sana." Clara menatap wajah tampan kekasihnya itu.


Tara mengecup singkat bibir Clara lalu memeluknya. "Aku ada sedikit urusan di luar kantor, Sayang," bisiknya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Really?"


"Ya," bohong Tara.


Hening sejenak...


"Sayang, aku mandi dulu. Badanku terasa lengket dan bau minuman. Kamu bisa kan, menungguku sebentar," bisik Tara di telinga Clara yang masih betah berada di atas tubuhnya.


Clara bergeming namun sedetik kemudian ia malah melu*mat bibir Tara, mencium lalu mengecap lehernya dengan lembut dan terus mengelus juniornya yang mulai menegang.


Tara mulai mengerang dan menikmati elusan dan pijatan lembut Clara pada juniornya.


Tangannya pun tak tinggal diam. Ia mulai meremas dan memilin buah kenyal favoritnya.


Belum puas sampai di situ saja, ia melepas tautan bibir dan memainkan lidahnya di kedua buah ranum itu dan sesekali menye*sapnya bergantian.


Karena ulah nakalnya itu, Clara semakin menggila dan suara desa*hannya pun lolos begitu saja. Ia terus menggeliat seperti ulat bulu.


Namun saat Tara memejamkan matanya, wajah El langsung terbayang di benknya yang sedang terbaring di rumah sakit.


Oh damn!!!


Seketika itu juga Tara menghentikan aksi foreplaynya. Hasrat menggebu yang tadinya sudah berada di ubun-ubun seketika lenyap begitu saja.


Clara yang sudah polos tanpa sehelai benang, sejak tadi terus saja mende*sah tiada henti. Merasakan sesuatu di bawahnya terus berkedut.


Ia merasa sangat kesal, ketika Tara malah berhenti di tengah jalan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Sayang, maaf. Nggak untuk malam, ini," bisiknya lalu mengecup bibir kekasihnya itu.


Dengan santainya Tara meninggalkan Clara dan memilih masuk ke kamar mandi. Ia langsung menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


"Damn!!!" umpat Tara.


Ia malah membayangkan wajah El dan bermain solo karir di kamar mandi. Ia menjadikan gadis itu sebagai fantasi objek pelampiasan hasratnya hingga mencapai puncak kli*maks.

__ADS_1


Kata si Markonah, aduuuh srepetetetet πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Setelah mencapai puncak kli*maks, ia malah tersenyum puas.


Berbeda dengan Tara. Clara yang masih duduk di atas ranjang, malah terlihat begitu kesal dan jengkel. Ia semakin curiga jika Tara benar-benar memiliki wanita lain selain dirinya.


Seketika ia embali teringat akan ucapan Kai yang memprovokasinya. Ia jadi penasaran dan ingin tahu siapa gadis itu.


Tara yang sudah tampak segar, menghampiri Clara yang tampak melamun. "Ada apa, hmm," bisiknya lalu memeluk sang kekasih.


"Nggak apa-apa," sahutnya dengan wajah cemberut.


"Ya sudah. Tunggu sebentar, aku ingin mengenakan pakaian dulu," pinta Tara lalu masuk ke walk in closet.


Sesaat kemudian, ia kembali menghampiri Clara. Tadinya ia ingin menjenguk El, tapi karena ada Clara, akhirnya ia urungkan niatnya.


Aku akan meminta Daniel saja yang akan menemani El di rumah sakit.


"Sayang, aku mandi dulu," kata Clara lalu segera ke kamar mandi.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Tara meraih ponselnya lalu ke balkon kamar. Ia segera mengaktifkan ponselnya. Begitu ponselnya aktif, ia segera menghubungi Daniel.


Daniel yang baru saja selesai mandi, meraih ponselnya yang ada di atas ranjang.


"Tara? Tumben menelfon malam-malam begini."


"Ya Tara, ada apa?"


"Daniel, malam ini tolong temani El di rumah sakit Kota A, lantai dua kamar VIP. Aku nggak bisa ke sana soalnya ada Clara di sini. Nggak usah banyak tanya, lakukan saja seperti yang aku perintahkan," perintahnya seolah tidak ingin dibantah.


"Iya .... iya... kamu ini, seperti orang yang sedang selingkuh saja." Daniel terkekeh lalu memutuskan panggilan telfon.


Tara yang masih di berada balkon kamarnya ikut terkekeh mendengar ucapan Daniel.


"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Clara yang sedang menghampirinya.


"Iya. Daniel yang membuatku tertawa, Sayang," sahutnya.


"Oh ....." Clara hanya ber oh ria.


"Sayang, malam ini aku nginap di sini ya," sambungnya lalu memeluk Tara.


"Hmm. Tapi seperti biasa, aku akan ke club malam dulu. Apa kamu ingin ikut juga?" tanya Tara.


"Tidak masalah, aku malah senang." Clara melepas pelukannya.


Tara hanya pasrah mengikuti kemauan kekasihnya itu. Padahal malam ini, dia ingin sekali berada di sisi El dan ingin menemaninya.


Namun gara-gara kehadiran Clara, Tara batal menemani El. mau tidak mau ia terpaksa mengurungkan niatnya itu.


Masih ada waktu di lain hari.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2