
"El! Apa itu kamu?" tanya dokter Syakila ketika gadis itu masuk ke ruangannya bersama Dian.
"Menurutmu? Jelaslah ini aku. Memangnya hantu? jawabnya lalu terkekeh.
"Ya ampun, setelah tiga tahun akhirnya kita bertemu lagi."
"Oh ya, Sya, ini temanku Dian istri Pak Bima Argantara Mulia."
"Wah, satu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda Nyonya," kata dokter Syakila dengan seulas senyum lalu mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, Dok," balas Dian lalu menyambut uluran tangan dokter Syakila.
"Ngomong ngomong, ada yang bisa aku bantu El?" tanya Syakila.
"Ya," jawab El lalu melirik Dian. "Dian, aku sengaja membawamu kemari karena aku yakin kamu lagi hamil," kata El to the poin
"Benarkah?" Dian seolah tak percaya.
"Hmm." El mengulas senyum sembari mengangguk.
"Nyonya, untuk memastikannya, sebaiknya tes dulu menggunakan alat tespek kehamilan," saran dokter Syakila lalu memberikan Dian alat tespek itu sekaligus menyuruhnya ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Dian kembali menghampiri El dan Syakila.
"Bagaimana dengan hasilnya?" tanya El sesaat setelah dian menghampirinya dan Syakila.
Dian langsung tersenyum lebar seraya memberikan tespek itu pada El.
"Dua garis merah, Dian!!" pekik El lalu memeluknya. "Selamat ya," bisik El.
"Selamat ya, Nyonya Bima," ucap Syakila lalu mengajak calon ibu muda itu ke bed pasien.
Ketika alat mulai ditempelkan ke perutnya, ketiganya mengarahkan pandang ke monitor USG.
Dian tak kuasa menahan air matanya saat menatap monitor USG. Di mana emrio yang masih sebesar biji kacang kini bersemayam di rahimnya.
Bahagia, itulah kini yang ia rasakan.
"El, terima kasih," ucapnya dengan lirih.
"Tara pasti senang mendengar kabar bahagia ini. Sebentar lagi kalian akan menjadi ibu dan ayah," balas El lalu membantu Dian turun dari bed pasien.
Menghampiri meja kemudian duduk berhadapan dengan Syakila.
__ADS_1
"Nyonya Bima, jika di hitung sejak terakhir kali Anda haid, usia kandungan Anda sudah berusia lima minggu," jelas Syakila. "Oh ya, saya akan resepkan beberapa obat untuk Anda."
"Sya, berikan pelayanan yang terbaik buat temanku ini ya," timpal El.
"Ok," sahut Syakila sembari mengangkat jempolnya.
Setelah meresepkan obat, tak lupa Syakila memberikan foto USG Dian.
"Sya, kami pamit ya," izin El.
"Ok."
"Dian, sebaiknya kamu tunggu aku di mobil saja ya," saran El sesaat setelah keduanya berada di luar ruangan praktek dokter Syakila. "Biar aku saja yang menebus obatnya di apotik. Wah, tokcer juga ya si Tara, baru sebulan lebih kalian menikah kamu sudah berisi," kelakar El lalu tertawa.
"Apaan sih, El?" sahut Dian malu-malu. "Ya sudah, aku tunggu kamu di mobil ya."
El hanya mengangguk kemudian mengayunkan langkah menuju apotik. Setelah menebus obat, ia kembali melanjutkan langkah sambil menghitung langkah kakinya sambil tersenyum.
Namun tiba-tiba ...
Bruuk ...!!
Langkahnya seketika terhenti kemudian mendongak. "Tara," ucapnya lirih lalu mundur satu langkah ke belakang. "Sedang apa kamu di sini?"
"Apa sekarang kamu jadi penguntit? Membuntutiku dan Dian hingga ke dokter kandungan pula," sindir El tak kalah sinis.
"Jangan bilang kamu sedang hamil dan ingin menggugurkan janinmu. Karena takut ketahuan oleh Kai jika kamu sedang hamil dari pria lain," tuduh Tara. "Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu juga sudah menggugurkan benih Kai saat itu."
Tuduhan tak berdasar yang terlontar dari bibir Tara barusan, seketika membuat dada El terasa dihimpit bongkahan batu besar. Hatinya terasa seperti dihunus dengan belati tajam.
Sakit namun tak berdarah. Menarik nafas dalam dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-paru.
"God, kuatkan diriku." El memegang dada mendekati Tara sekaligus mengikis jarak diantara mereka. Menatap dalam maniknya.
"Aku nggak sekejam itu. Aku nggak mungkin membunuh darah dagingku sendiri. Meski pun aku hamil dari pria lain, aku akan tetap mempertahankan bayiku walau dia nggak diakui."
"Sejatinya bayi itu nggak berdosa melainkan orang tuanya," kata El dengan nada dingin. "Justru aku akan merawatnya dengan penuh cinta serta kasih sayang meski aku dilabeli dengan julukan seorang pela*cur sekaligus wanita ja*lang."
"Silakan periksa ke semua rumah sakit, jika perlu ke seluruh penjuru negeri ini," tantang El.
Ia memejamkan matanya sejenak sembari menarik nafas. Bahkan menelan ludah saja terasa begitu susah baginya. Hatinya begitu sakit.
Tara bergeming mendengar penuturan gadis itu. Bahkan tak mampu berkata-kata karena merasa lidahnya keluh. Menatap wajah El dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"By the way, selamat untukmu. Karena kamu bakal menjadi seorang ayah. Saat ini Dian sedang mengandung anakmu," tutur El.
"Tara, aku sangat mengenal dirimu. Kamu pria yang baik serta penyayang. Cukup hanya Kai yang menjadi pria brengsek dan jangan kamu. Kamu mengerti kan apa arti dari ucapanku," ucap El dengan lirih.
Tangannya seketika terangkat mengelus rahang tegas Tara kemudian memeluknya lalu berbisik, "Maafkan aku jika hubungan kita berakhir seperti ini."
Setelah itu El mengurai pelukannya kemudian meninggalkan Tara yang masih terpaku di tempat.
"El," ucapnya nyaris tak terdengar dengan mata berkaca-kaca. Meraba tubuhnya seolah masih merasakan pelukan hangat dari gadis itu.
Ia berbalik menatap punggung gadis itu yang kini sudah menjauh.
.
.
.
Di perjalanan menuju kantor Kai, El meminta Dian mengantarnya terlebih dulu ke salah satu restoran untuk membeli makanan.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di kantor Kai.
"Dian, terima kasih ya. Ingat, jaga kesehatanmu serta perbanyak makan buah. Jangan lupa minum susu juga obatnya dengan teratur," pesan El.
"Baiklah, Bu dokter," ucap Dian lalu terkekeh.
"Ya sudah aku masuk dulu. Sampaikan salamku pada om dan tante ya. Maaf nggak sempat mampir soalnya ada urusan mendadak," kata El lalu menutup pintu mobil.
Setelah memastikan mobil Dian menjauh, ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju pintu otomatis kantor.
"Tara, semoga dengan hadirnya malaikat kecil di rahim istrimu, kamu akan berubah. Semakin mencintai Dian seperti kamu mencintaiku saat itu."
Sesaat setelah berada di dalam lift, El mengulas senyum mengingat momen di mana ia dan Kai berada dalam satu lift yang sama ketika berada di kantor Candra.
"My Bastard. Walau pun kamu bastard namun akhirnya kamu juga yang membuat hatiku melunak, membuat jantungku berdebar serta mampu meluluhkan hatiku dengan caramu," ucap El setengah berbisik. "Sayang, aku mencintaimu."
Tak lama berselang pintu lift terbuka. Dengan senyum manis ia segera melangkah keluar lalu menuju ke arah ruangan Kai.
Alisnya seketika bertaut saat mendapati pintu ruangan kerja Kai tak tertutup rapat. Karena penasaran, ia mendorong pelan pintu itu.
"Saaa ..." ucapannya seketika tertahan saat mendapati Kai sedang di peluk erat oleh seorang gadis.
...----------------...
__ADS_1