All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
120. Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini ...?


__ADS_3

Tara menatap istrinya yang sedang bersedekap dada sambil tersenyum mengejek menatap wajah kesalnya.


"Sejak tadi aku membangunkanmu tapi kamu hanya bergeming!" kata Dian dengan ketus. "Ini sudah siang loh apa kamu nggak ngantor?"


Tara menundukkan wajahnya. Sedetik kemudian ia memijat pangkal hidungnya karena merasakan pusing.


"Aku tuh ya, heran banget sama kamu. Setiap malam kamu pasti minum. Jika kamu punya masalah harusnya kamu share sama aku. Bukan lari ke minuman," tegas Dian. "Apa kamu akan seperti ini terus?"


Tara tetap bergeming sambil tertunduk mendengar ucapan istrinya yang terdengar kesal.


Karena tidak ingin berdebat, ia mengucapkan satu kata, 'MAAF.'


"Maaf," ucapnya dengan lirih lalu meninggalkan Dian di kamar itu.


Dengan perasaan dongkol, Dian hanya mampu mendengus kesal.


Sedangkan Tara, ketika menatap arloji yang masih melingkar di pergelangan tangannya, hanya mampu menepuk jidatnya.


"Astaga! Susah jam satu siang?" gumamnya. Ia segera masuk ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Beberapa menit kemudian ia sudah tampak rapi. Dengan perasaan bersalah ia menghampiri Dian yang sedang duduk santai sambil menonton TV.


"Dian," sapanya lalu duduk disampingnya. "Maaf, jika aku selalu merepotkanmu bahkan terkesan mengabaikan dirimu."


"Kamu sering mengucapkan kata maaf, tapi kamu tetap mengulanginya," sindir Dian. "Lalu aku harus bagaimana padamu Tara? Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini? Jika memang kamu punya masalah, kamu bisa share denganku bukan dengan menenggak minuman alkohol itu!"


"Maaf ..." Lagi-lagi hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya.


Keduanya kini sama-sama bergeming yang terdengar hanya suara TV.


"Dian, aku ke ruang kerjaku dulu barangkali ada email yang masuk," ucapnya membuka suara.


"Baiklah, setelah itu cepatlah turun. Aku akan menyiapkan makan siang," kata Dian.


"Hmm ..."


.


.


.


Universitas X ...


Tok ... tok ... tok ...


Candra langsung mendongak ke arah pintu yang diketuk. Ia pun menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Kai ..." sebutnya setelah Kai membuka pintu.


"Kelihatanya kamu lagi sibuk ya?" tanya Kai lalu mendaratkan bokongnya di sofa.


"Nggak juga. Hanya memeriksa data-data mahasiswa," jawab Candra. "Karena terlalu sibuk ngurus perusahaan malah kerjaan di sini yang numpuk. Sukurnya ada Satria yang bisa di andalkan. Jika tidak, bisa botak aku."


Kai langsung terbahak mendengar ucapan teman kecilnya itu.


"Oh ya, aku ingin melihat datanya El. Bisa tolong carikan nggak," pinta Kai.

__ADS_1


"Sebentar aku carikan," kata Candra lalu mencari map gadis itu di rak khusus.


Sambil menunggu, Kai mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan Candra. Tak lama kemudian Candra menghampirinya lalu memberikan map yang ia minta.


Kai mengulas senyum ketika membaca berkas yang terdapat di map itu.


"Harus aku akui, kamu memang wanita yang cerdas, sayang. Pantasan saja kamu sanggup mengambil mata kuliah tambahan hanya untuk mempercepat kelulusanmu."


Senyumnya terus terukir ketika menatap foto culun gadis itu.


"Benar-benar nekat. Gemas banget jika mengingat moment ketika di mall itu."


"Oh ya, Kai. Kamu nggak ngantor?"


"Nggak, soalnya aku tiba di kota ini tengah malam tadi. Aku masih lelah," jelasnya. "Sebenarnya sangat melelahkan harus bolak-balik. Tapi demi El aku nggak masalah," lanjutnya lalu meletakkan map yang di pegangnya ke atas meja. "Lagian ada Richard yang bisa ku andalkan."


Candra hanya manggut-manggut mendengar penjelasan temannya itu.


Mereka lanjut berbincang seputar proyek yang saat ini masih berjalan. Kai bahkan berharap dalam dua tahun kedepan rumah sakit itu sudah rampung total.


.


.


.


Malam harinya ...


"Ini sudah jam tujuh malam. Tapi kok, El belum menghubungiku?" ucap lirih Kai sekaligus merasa khawatir. "Bahkan ponselnya pun nggak aktif."


Saat ia begitu mengkhawatirkan gadis itu, ia bisa bernafas lega karena tak lama berselang El menghubunginya.


"Sayang, kenapa baru menelfon sekarang?" omelnya.


El langsung terkekeh mendengar omelan pria blasteran itu.


"Yaelah, posesif banget sih Om. Baru juga telat sebentar sudah mengomel," ledek El. "Aku baru selesai, Sayang. Ya sudah jemput aku sekarang ya."


"Baiklah, aku berangkat sekarang," balas Kai.


Begitu sambungan telepon terputus, El mulai mengemasi bukunya lalu memasukkan ke dalam ransel.


"Lun, kami duluan ya," kata teman-temannya yang sedang melewati bangkunya.


"Ok guys, hati-hati ya," balasnya sembari menghela nafas. "Oh God, lelah banget, aku serasa ingin rebahan saja."


Sambil menunggu, El meletakkan kepalanya di atas meja dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.


"God, ngantuk banget," keluhnya lalu memejamkan matanya.


Tiga puluh menit berlalu ...


Kai kembali menghubunginya setelah berada di depan pintu gerbang kampus. Namun El tak menjawab.


"Kok nggak di jawab?" Kai kembali menghubunginya namun tetap tak di jawab.


Mau tidak mau Kai memakai masker dan topi lalu keluar dari mobilnya menuju loby kampus.

__ADS_1


Ia pun bertanya pada salah satu mahasiswa yang baru saja turun.


"Maaf, apa kamu mengenal El? Eeee ... maksudku, Culun," tanya Kai.


"Oh Culun, keknya dia masih di kelas," jawab mahasiswa itu.


"Kelasnya di lantai berapa ya?" tanya Kai lagi.


"Di lantai tiga, kelas nomer lima, Bro" jelas mahasiswa itu lagi.


"Ok, terima kasih ya," ucap Kai.


"Sama-sama."


Dengan langkah panjang, Kai mengayunkan langkahnya menapaki anak tangga hingga sampai di lantai tiga lalu mencari kelas gadis itu.


Sesaat setelah berada di ambang pintu kelas, Kai menggelengkan kepalanya.


"Bisa-bisanya dia tertidur di sini. Seperti nggak ada takutnya saja mana sendiri lagi," gumam Kai lalu menghampiri wanitanya itu.


"Sayang ..." Kai duduk di sisinya seraya mengelus kepalanya dengan sayang lalu kembali memanggilnya, "Sayang, bangun."


Merasa seperti ada yang memanggil, El perlahan membuka matanya seraya berucap lirih, "Sayang."


Ia lalu menegakkan badan kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Kai.


"Sayang, rasanya aku pengen segera rebahan saja. Entah mengapa aku capek banget," bisiknya.


"Ya sudah, sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Kai lalu meraih ranselnya.


El mengangguk pelan lalu beranjak dari kursi sembari menggenggam jemari Kai meninggalkan kelasnya. Keduanya terus mengayunkan langkah menuju mobil.


"Sayang, mendekatlah sebentar aku butuh pelukanmu sejenak," pinta El.


Tanpa pikir panjang Kai hanya menurut kemudian langsung memeluknya.


"Sayang, jangan terlalu memaksakan otakmu," bisik Kai.


"Nggak sayang, entahlah hari ini aku merasa sangat lelah," sahutnya lalu melerai pelukannya.


Sebelum melajukan mobilnya, Kai terlebih dulu memesan makanan untuk makan malam mereka berdua. Setelah itu, ia pun mulai melajukan kendaraannya ke arah apartement.


*****


Sesaat setelah berada di apartemen, El langsung melangkah cepat menaiki tangga menuju kamar.


Begitu berada di dalam kamar, ia melanjutkan langkah menuju kamar mandi lalu membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian setelah mengenakan pakaian, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Haaaa ... nyamannya," gumamnya lalu memejamkan matanya.


Tak lama berselang Kai menghampirinya. "Sayang, aku sudah memesan makanan. Jangan tidur dulu ya soalnya kamu belum makan."


"Nanti saja, aku ngantuk banget," sahutnya. "Berbaringlah, biarkan aku tidur sebentar saja sambil memelukmu," pintanya.


Kai mengulas senyum menuruti keinginan wanitanya. Mengecup kening dan bibir kemudian membawanya masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tidurlah," bisik Kai.


...----------------...


__ADS_2