
El tampak sedang menunggu seseorang di ruang tamu apartemennya.
"Daniel mana sih? Katanya mau datang siang ini? Tapi kok belum muncul juga batang hidungnya."
Baru saja El ingin menghubungi pria bermata sipit itu, pintu unitnya sudah terbuka.
"El, maaf sudah membuatmu menunggu. Tadi aku sekalian singgah beli makan siang," jelasnya.
"Nggak apa-apa, Dan. Makasih ya, kamu malah repot-repot beli makan siang. Ya sudah, aku siapkan dulu makanannya. Setelah makan aku ingin bicara."
"Hmm."
"Dan, ayo kita makan dulu," panggilnya sesaat setelah selesai menata makanan.
Daniel hanya mengangguk lalu menghampiri meja makan. Tidak ada pembicaraan selama keduanya menyantap makan siang hingga selesai.
"Dan, mau aku buatkan kopi? Hitung-hitung sebagai teman ngobrol kita," tawarnya dengan seulas senyum.
"Boleh deh El."
Sepuluh menit kemudian ...
Kini keduanya sedang duduk saling bersisian sambil meneguk kopi buatan gadis itu.
"El, kamu bilang ingin mengatakan sesuatu."
"Hmm. Aku ingin memasukkan surat lamaran kerja di kantor mu sebagai OG atau CS. Aku butuh kerjaan, Dan. Aku nggak mau jadi bartender lagi. Apa di perusahaan tempatmu bekerja masih menerima lowongan OG atau CS?" tanyanya penuh harap.
Daniel mengerutkan alisnya.
"Kenapa harus OG atau CS? Sebaiknya kamu jadi sekretarisku saja," saran Daniel.
El menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum.
"Nggak Dan, seseorang jika ingin sukses harus memulainya dari nol. Nggak dengan cara instan. Jika aku langsung menjadi sekretaris, itu akan menimbulkan tanda tanya dari karyawan senior di sana. Apalagi aku hanya lulusan SMA. Meskipun aku pernah kuliah dan hampir lulus, tapi tetap saja aku bukan sarjana melainkan hanya ex mahasiswi," papar El dengan wajah sendu.
Selain cantik dan smart ternyata pemikirannya sangat dewasa.
"Ok, tapi aku harus bicara dulu pada Tara. Takutnya dia nggak bolehin." Daniel keceplosan.
El mengerutkan alisnya.
"Maksudmu? Tara nggak bolehin?"
Daniel langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Duh kenapa aku keceplosan sih.
"Nggak apa-apa, El." Daniel meneguk kopinya.
"Oh ya, Dan. Kamu kan, asisten pribadi dan orang kepercayaan dari CEO perusahaan itu. Kamu pasti tahu persis bagaimana wajahnya seperti apa?"
Daniel langsung tersedak kopinya.
"Uhuk .... uhuk ... uhuk ..."
"Dan, kamu nggak apa-apa?" tanyanya lalu mengelus punggungnya.
CEO nya Tara El. B.A.M. itu inisial namanya. Bima Argantara Mulia.
Daniel hanya bisa membatin.
"Aku baik-baik saja, El."
"Syukurlah, kamu membuatku panik saja."
"Besok datanglah ke kantor dan bawa berkas lamaran kerjamu," saran Daniel lalu meneguk sisa kopinya.
"Aku sudah siapkan, Dan. Kamu tinggal bawa saja ke kantor. Aku akan menunggu info dan kabar dari kantormu saja," cetus El lalu meraih map berkas lamaran kerjanya di bawah laptop.
"Ya sudah, sini berkasnya aku bawa ke kantor. Kamu tinggal tunggu kabar dari HRD saja.
"Thanks ya, Dan. Aku janji deh, jika aku dapat gaji pertama, aku bakal traktir kamu," ucap El lalu memeluk Daniel sambil terkekeh.
"Iya bawel." Daniel mengacak rambutnya.
****
Malam harinya...
__ADS_1
Setelah selesai mandi, El berjalan ke walk in closet dan memilih mini dress ketat selutut tanpa lengan berwarna hitam untuk dikenakannya malam ini.
Rencananya El akan ke Bronze bersama Lois sekaligus ingin bertemu dengan partner kerjanya di club itu.
"My Dear. Kita bertemu lagi malam ini. I really miss you Dear." El menatap dirinya di depan kaca besar ruangan itu.
Setelah memoles wajahnya dengan bedak padat, eyeliner, maskara dan terakhir lipstik warna nude El tampak mengulas senyum.
Merasa sudah tidak ada yang kurang, El menyemprot parfum beraroma mawar favoritnya.
Sesaat setelah berada di lantai dasar, ia tampak menunggu Lois.
"My baby, maaf kamu aku anggurin dulu ya. Nanti saat aku kerja dan masuk kuliah, kita pasti bareng lagi," ucap El sambil menatap motor kesayangannya lewat layar ponselnya.
"Malam ini, aku ingin puas-puas nongkrong dengan partner kerjaku di club' itu. Sudah lama banget sejak bertemu di hotel prodeo itu," gumamnya.
Tin ... tin ... tin ...
Terdengar suara klakson mobil. El langsung tersenyum menatap mobil temannya itu.
"El, apa itu kamu? Cantik bange," puji Logis.
"Menurut mu?" sahutnya sesaat setelah duduk di kursi mobil. "Ayo jalan. Aku sudah nggak sabar ingin bertemu dengan partner kerjaku."
"Ok Dear. Kita meluncur sekarang."
.
.
.
Setibanya di Bronze Bar....
Sebelum memasuki club, El menatap logo club malam itu. Tempat pertama kali ia mencari nafkah di tempat itu.
"Nico, Varo, Siska, Hamdan aku ingin memeluk kalian semua," lirih El.
"El, ayo kita menari sepuasnya," ajak Lois.
El hanya terkekeh. "Kamu duluan saja Lois. Aku ingin menyapa partnerku dulu."
Sebelum melangkah, El menghela nafasnya.
Begitu masuk ke dalam club, ia sedikit merasakan pusing, mungkin karena efek cahaya dan dentuman musik yang menggema di seluruh ruangan itu.
"Ini karena aku sudah lama nggak menginjakkan kakiku di tempat ini," gumamnya lalu menghampiri Nico yang sedang meracik minuman.
Tanpa basa basi El masuk ke pantry bartender lalu menepuk bahu Nico.
Nico langsung berbalik dan memperhatikan El dari bawah hingga ke atas.
"El?!! Oh my God, ini benar-benar kamu?" pekik Nico lalu memeluknya.
"Hmm. Empat hari yang lalu.
"Kenapa rambutmu sependek ini? Aku lebih suka jika rambutmu panjang."
"Tidak apa-apa, Nic. Aku sengaja. Hitung-hitung buang sial." Ia terkekeh.
Nico ikut terkekeh mendengar ucapan gadis itu.
"Oh ya, Nic, aku titip tasku sebentar. Aku ingin menemui Hamdan dulu."
"Ok El."
Sesaat setelah berada di ruang kerja Hamdan, ia langsung menyapa.
"Hamdan ..."
"Kapan kamu keluar dari tempat itu El? Kenapa nggak menghubungi kami," tanyanya lalu memeluk gadis itu sesaat setelah ia mendekat.
El hanya mengulas senyum lalu duduk di sofa.
"Aku nggak sempat, Dan. Lagian aku nggak pegang ponsel saat itu. Tara dan Daniel lah yang menjemputku. Apa Siska sudah datang, Dan?" tanya El.
"Aku kurang tahu El. Mungkin sebentar lagi. By the way, kenapa rambutmu sependek ini?Bagusan panjang tahu," protesnya.
"Biar sialnya hilang?" sahutnya lalu terkekeh.
__ADS_1
Setelah puas berbincang dengan Hamdan. Ia pun keluar dari ruangan itu.
saat akan melangkah, ia terlonjak kaget menatap Kai yang sedang menghampirinya dan terus menatapnya.
Ada apa si bastard ini menatap ku? Sejak kapan dia ada di sini?
"Wow, wow, wow ... who is this?" kata Kai masih menatap El dari ujung kaki hingga ujung kepala.
El bergeming lalu memutar bola matanya malas bahkan tak menghiraukan ucapan Kai.
"Minggir!!! Aku mau lewat," ketusnya lalu mendorong bahu Kai.
Bukannya minggir, Kai malah memeluk pinggang gadis itu dan merapatkan dadanya lalu mengendus lehernya dalam-dalam kemudian memejamkan matanya.
"Aku nggak bisa melupakan wangi parfummu." bisik Kai dan terus mengendus leher jenjangnya.
El meronta bahkan memberontak saat Kai semakin mendekapnya erat dan terus mengendus lehernya.
"Let me go bastard!!!" geram El sambil memukul dada bidang nan liat Kai.
"Apa?!! Melepasmu? No .... aku tidak akan melepaskanmu. Aku ingin kamu menjadi milikku malam ini," ungkapnya lalu menatap mata El dalam-dalam.
Lagi-lagi El bergeming saat manik hazel Kai bersitatap dengan manik hitamnya. Kai mengulas senyum lalu mengelus bibir tipisnya. Sedetik kemudian El tersadar dan kembali meronta.
Karena merasa sudah terdesak, ia menubrukkan lututnya dengan cukup keras ke aset berharga pria blasteran itu.
Sontak saja ulahnya itu membuat Kai melepasnya lalu mengerang kesakitan.
"Aarrgghh ... sh*it!!" umpat Kai mengerang kesakitan sambil memegang aset berharganya dengan posisi berlutut.
Dengan senyum sinis, El langsung berlari kecil ke arah hiruk pikuk lantai dance dan ikut bergabung bersama Lois.
Ia langsung terbahak dengan ulahnya sendiri. Namun sedikit merasa aneh saat menatap bola mata indah Kai. Ia seolah tak bisa berkutik. Saat mengingat Kai memeluk dan mengendus lehernya ia malah merasa jijik.
El dan Lois terus saja bergoyang dengan lincahnya mengikuti alunan musik di club' malam itu.
Rasain!! Biarin aset berharganya nggak bisa on lagi. Cih ... dasar bastard, player, menjijikkan.
"Lois ... kamu lanjut saja, aku mau pulang duluan," kata El sambil berteriak.
Namun Lois seolah tidak merespon karena suara musik yang cukup mendominasi. Mau tidak mau El meninggalkanya.
El menghampiri meja bar lalu meminta tasnya.
"Nic, tolong berikan tasku. Aku mau pulang. Oh ya, aku akan menghubungimu nanti." Ia meraih tasnya dari tangan Nico.
Nico hanya mengangguk lalu tersenyum.
Dengan langkah kecil ia meninggalkan club' malam tersebut. Ia terus saja terbahak sambil berjalan hingga ia tak sengaja menubruk seseorang.
Gara-gara dia, jadi gagal rencanaku untuk nongkrong dengan teman-temanku.
"El ... hati-hati, hampir saja kamu jatuh," bisik Tara sambil memeluknya.
"Sayang ... kamu duluan ya," pintanya kepada Clara yang masih berdiri di sampingnya.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya, sayang," sahut Clara lalu mengecup bibir Tara.
Setelah itu Clara pun masuk ke dalam club' malam tersebut.
"Waaah ... Tara, pacarmu cantik banget. Kenapa sih nggak sekalian kenalin sama aku? Kamu ini gimana sih?! Kan kami bisa berteman," ucap El sembringah.
"Ck ... nggak penting tahu," decih Tara lalu tersenyum menatap El.
"El, kalau bisa ... aku ingin kamu sering berpakaian seperti ini. Terlihat anggun banget. Oh ya, kamu sama siapa ke sini, El?" tanyanya sedikit khawatir.
"Sama Lois. Tapi aku mau pulang duluan. Soalnya di dalam ada kai," jawab El dan kembali terbahak mengingat ulahnya tadi.
"Biar aku antar," tawarnya lalu merangkul pinggang El.
"Pacarmu gimana? Bagaimana jika dia mencarimu?"
"Cih ... biarkan aja. Aku antar kamu dulu," tegasnya tidak ingin dibantah.
Mau tidak mau El hanya menurut.
.
.
__ADS_1
.