All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
130. Maaf aku sering mengabaikanmu ...


__ADS_3

"Aku nggak sekejam itu. Aku nggak mungkin membunuh darah dagingku sendiri. Meski pun aku hamil dari pria lain, aku akan tetap mempertahankan bayiku walau dia nggak diakui."


"Sejatinya bayi itu nggak berdosa melainkan orang tuanya.Justru aku akan merawatnya dengan penuh cinta serta kasih sayang meski aku dilabeli dengan julukan seorang pela*cur sekaligus wanita ja*lang."


"Maafkan aku jika hubungan kita berakhir seperti ini."


Semua ucapan yang terlontar dari bibir gadis itu terasa masih terngiang-ngiang di telinga Tara. Sekaligus membuat hatinya mencelos juga tertohok.


Pelukan serta sentuhan lembut dari gadis itu sebelum meninggalkanya seolah masih terasa.


Sebuah pelukan hangat seketika membuanya tersenyum. Memejamkan mata sekaligus menahan suaranya saat ingin menyebut nama El.


Ia sadar, saat ini yang memeluknya bukanlah El melainkan sang istri.


"Dian," ucapnya setengah berbisik lalu mengelus kedua tangan sang istri yang melingkar kini di perutnya.


"Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Dian.


"Nggak ada, hanya memandangi gedung-gedung di luar sana," bohongnya seraya berbalik berhadapan dengan Dian.


"Oh." Dian hanya ber oh ria. "Tara, aku punya kabar bahagia," bisik Dian.


"Aku sudah tahu meski kamu nggak mengatakannya."


"Apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


Dian merogoh tasnya lalu memberinya foto USG calon bayi mereka. Tara mengambil foto USG itu lalu tersenyum.


Mengecup kening Dian lalu mendekapnya erat. Jauh dalam sudut hatinya ada perasaan bahagia. karena ia akan segera menjadi seorang ayah.


Ia tidak menyangka jika Dian akan hamil secepat itu.


"Maaf, aku sering mengabaikanmu," sesalnya.


Dian hanya mengangguk sembari mengelus punggung tegap suaminya itu.


"Tara, El peka banget ya. Padahal tadi aku hanya mengeluh nggak nafsu makan, mual juga pusing. Dia langsung menebak jika aku sedang hamil," tutur Dian.


"Apa kamu lupa jika dia itu seorang calon dokter?" balas Tara. "Apa dia mengajakmu ke rumah sakit tadi?"


"Iya," jawab Dian singkat.


.


.


.


Malam harinya ...


Kai meringis sambil mengusap perutnya yang terasa begitu nyeri sekaligus merasakan mual.


"Lord ..." gumamnya lalu melirik El yang sedang berada di pantry menata makanan di atas meja.

__ADS_1


"Sayang ... tolong bawakan segelas air," pintanya.


"Sebentar ya, Sayang," sahut El dengan seulas senyum.


Tak lama berselang ia menghampiri Kai yang sedang duduk di sofa santai menghadap dinding kaca.


Seketika keningnya berkerut tipis, sesaat setelah duduk di samping Kai.


"Sayang, apa kamu baik baik saja?" tanyanya seraya mengelus wajah Kai. "Kamu berkeringat."


"Aku baik baik saja," jawab Kai lalu meraih gelas yang masih dipegang olah El. "Sayang, aku ke kamar dulu ya."


El hanya mengangguk lalu kembali ke arah pantry.


Sementara Kai, ia langsung ke kamar lalu meraih obatnya dari dalam laci meja nakas. Setelah meminum obatnya, ia langsung membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.


"Sayang, besok kita akan menempuh perjalanan yang cukup lama," gumamnya.


Selang beberapa menit kemudian ia pun bangkit dari tempat tidurnya lalu menuju pantry menghampiri El.


"Sayang, ayo kita makan," tawar El setelah Kai mendekat.


"Yuk," sahut Kai lalu duduk di kursi sembari memandangi El yang sedang menyendok kan makanan di piringnya. "Sayang."


"Hmm." El langsung menatapnya sambil tersenyum. "Ada apa?"


"Setelah kita menikah, kita harus memiliki ART," usul Kai.


"Tapi Sayang, nanti kamu bakal repot soalnya kamu akan semakin sibuk di semester selanjutnya," kata Kai.


El tampak berpikir. "Iya juga ya."


"Di kota X, kita akan tinggal di mansion saja," tegas Kai.


"Mansion?" timpal El disertai kerutan tipis di kening.


"Iya ... tempat aku di besarkan sebelum papa membangun perusahaan di kota ini. Jika kita tinggal di mansion, kamu nggak akan repot, soalnya di sana sudah ada ART kepercayaan mama," jelas Kai.


"Aku ikut kamu saja Sayang. Jika menurutmu itu yang terbaik," kata El lalu tersenyum.


"So, kamu setuju kan jika kita tinggal di mansion setelah pulang dari Jerman," tanya Kai ingin memastikan.


"Iya," jawab El.


Setelah itu, keduanya melanjutkan makan malam hingga selesai.


*******


Keduanya kini sedang berada di walk in closet.


Senyum Kai terus mengembang memandangi El yang sedang memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper.


"Sayang ..."

__ADS_1


"Hmm ..."


"Apa kamu yang menyiapkan semua pakaian ini untukku? Kok bisa pas gitu ya? Termasuk semua dalaman ini?" tanya El lalu terkekeh.


"Mama yang menyiapkan semuanya untukmu. Kata mama, supaya kamu nggak repot bawa pakaian jika ke sini," jawab Kai.


"Gitu ya," balas El sambil manggut manggut.


"Sayang, saking sayangnya mama padamu dia sudah menganggapmu seperti putrinya sendiri. Aku jadi teringat saat mama nggak menegurku selama berminggu lamanya. Karena kecewa sekaligus marah padaku. Semuanya karena kesalahan fatal yang aku perbuat padamu," tutur Kai.


El bergeming menatapnya. "Maaf ..." ucap El dengan lirih lalu ikut duduk di sofa.


Kai menggelengkan kepala kemudian membawanya masuk ke dalam pelukannya.


"Harusnya aku yang minta maaf," bisik Kai.


"Semuanya sudah berlalu, Sayang," balas El. "Oh ya, Sayang tadi siang sebelum ke kantor, aku mengajak Dian ke dokter kandungan."


"Lalu?"


"Dian dan Tara sebentar lagi bakal jadi ibu dan ayah," jelas El dengan sembringah.


"Beneran?" tanya Kai.


"Hmm ..."


"Wah, nggak nyangka ya, cepat juga benihnya tumbuh," ucap Kai lalu terkekeh. "Tapi kenapa benihku nggak tumbuh secepat itu ya? Padahal malam itu semuanya aku tumpahkan di rahimmu."


"Sayang, sebanyak apa pun benih yang kamu tumpahkan di rahimku jika sper*ma dan sel telur nggak bertemu, nggak bakalan hamil," jelas El sembari mengelus rahangnya.


"Oh, begitu ya," bisik Kai.


"Hmm." El hanya terkekeh. "Mau bagaimana lagi, Sayang. Kita bisa mencobanya lagi setelah menikah."


El kembali memeluknya dengan gemas. "Sudah ah ... ayo kita tidur. Lagian aku juga sudah mengantuk."


"Baiklah," bisik Kai lalu melonggarkan pelukannya.


Keduanya kembali ke kamar. Mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur.


"Sayang kemarilah," pinta Kai mengisyaratkan supaya El tidur di atas tubuhnya.


Gadis itu hanya menurut. Saking nyamannya ia berbaring di atas tubuh besar Kau, ditambah lagi dengan elusan lembut di punggungnya, perlahan membuat mata gadis itu mulai terpejam.


"Sayang, kamu nggak akan macam macam kan, padaku," bisik El.


"Nggak Sayang, tidurlah. Aku hanya ingin kamu seperti ini," bisik Kai balik.


Tak ada jawaban dari El melainkan hela nafas yang terhembus teratur.


"Have a nice dream, Sayang. Semoga kamu nggak akan bosan berada di di dalam pesawat selama berjam-jam. Bahkan akan memakan waktu hampir satu hari," bisik Kai lagi lalu mengecup puncak kepala wanitanya itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2