All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
170.


__ADS_3

Satu minggu kemudian ...


Tok ... tok ... tok ...


Kai mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk. Ia mengulas senyum ketika Daniel menghampirinya.


"Daniel?" sebutnya lalu beranjak dari kursi kerjanya.


"Kai, apa aku mengganggu," tanyanya.


"Nggak ... sepertinya kamu ingin menyampaikan sesuatu. Dan, sebelumnya selamat ya untukmu dan Vira," ucap Kai sembari menepuk pundaknya.


"Thanks ya, Kai. Oh ya, jangan lupa hadir besok. Apalagi kamu sang pemilik hotel tersebut," kata Daniel mengingatkannya.


"Pasti .... aku pasti akan hadir, apalagi mempelainya temannya El," sahut Kai lalu tersenyum. "By the way, ada apa?" lanjutnya bertanya.


"Malam ini aku ingin mengajakmu ke pesta bujang di B.A Pub," tawar Daniel.


"Tapi aku bukan bujang lagi Daniel. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," kata Kai.


"Come on, Bro. Hanya malam ini saja. Lagian kita nggak ngapa-ngapain hanya merayakan saja," tawar Daniel lagi.


Kai menggelengkan kepala mengisyaratkan jika ia menolak. Ia merasa lebih baik menghabiskan waktu bersama istrinya daripada harus merayakan pesta bujang Daniel.


Mendapat penolakan dari Kai, Daniel mendesah kecewa.


"Baiklah nggak masalah. Tapi aku berharap kamu hadir di resepsi pernikahan ku besok," harapnya.


"Baiklah ... anyway, apa kamu juga mengundang El?" tanya Kai pura-pura tak tahu.


"Dia yang terutama, apalagi Vira sangat menginginkan kehadirannya. Kamu tahu sendiri kan, mereka berdua seperti apa," jelas Daniel lalu tersenyum.


"Aku kangen banget padanya," lirih Kai membayangkan wajah istrinya itu.


Daniel terkekeh. "Sadar Bro, dia istri orang, apalagi saat ini dia sedang hamil. Lagian kamu juga sudah punya istri dan akan menjadi seorang ayah," kata Daniel lalu meninju kecil lengannya.


Orang itu adalah aku dan dan istriku adalah El sendiri, bahkan anak yang ada dalam kandungannya sekarang adalah anakku.


Kai tersenyum. "Hmm ... kamu benar. Begitu sulit bagiku melupakan dirinya," aku Kai. "Sudahlah, ini sudah jam makan siang, mau makan bareng denganku nggak?" tawar Kai.


"Boleh deh," sahut Daniel.


"Ya sudah, kita ke restoran xxx saja ya. Kamu duluan saja sebentar lagi aku menyusul," cetus Kai.


"Ok." Daniel kemudian meninggalkan Kai.


*******


Restoran xxxx ....


Daniel dan Kai kembali terlibat obrolan santai.


"Kai."


"Hmm."


"Bagaimana dengan perkembangan kesehatanmu?" tanya Daniel.


"As you see now. Aku baik-baik saja," bohong Kai.


Bukan tanpa alasan, sewaktu-waktu, Daniel bisa saja mengatakan pada El. Walaupun kini yang mereka tahu ia dan El bukanlah pasangan suami istri. Padahal saat ini Kai masih berjuang melawan penyakitnya itu.


"Syukurlah, aku ikut merasa lega," ucap Daniel.


Tak lama berselang, ponsel Kai bergetar. Tahu jika yang menghubunginya adalah El, ia meminta izin sebentar.


"Dan, aku ke toilet sebentar ya," izinnya dan segera beranjak dari tempat duduknya menuju toilet.


Merasa sudah aman, ia langsung menggeser tombol hijau.


"Sayang, apa kamu masih di rumah sakit?" tanyanya.


"Nggak, aku dan Lois dalam perjalanan menuju restoran ..."


"Restoran xxxx?" sela Kai lalu terkekeh.


"Kok tahu?"


"Kebetulan aku dan Daniel sedang makan siang di sini. So ... aku tunggu kalian di meja nomor enam ya," kata Kai.


"Hmm," jawab El singkat.


Setelah itu, ia memutuskan panggilan. Begitu panggilan terputus, Kai kembali lagi ke meja dan melanjutkan makannya.


Sambil menunggu tiba-tiba seseorang menyapanya dengan menepuk pundaknya.


"Kai, Daniel ... woaah kebetulan sekali," sapa pria itu yang tak lain adalah Candra.


"Hei, Bro ... kapan kamu kemari? Kenapa nggak menghubungiku?" balas Kai.


"Kemarin, aku dapat undangan dari sang calon mempelai," jelas Candra sambil meninju kecil lengan Daniel. "Anyway congrats ya, Bro," ucap Candra.


"Thanks, Candra. Kamu kapan menyusul? Setelah Tara, Kai, El, aku then kamu kapan?" cecar Daniel padanya.


"I don't know, tapi doakan saja supaya aku bertemu jodoh di sini," jawabnya dengan seulas senyum.


Lima belas menit berlalu ...


Dari jarak yang tak terlalu jauh, El tampak melambaikan tangannya pada Kai dengan senyum manis.


"El, kamu apa-apaan sih? Gimana jika kalian ketahuan," kesal Lois.


"Dear, tenang saja. Aku punya seribu satu cara," celetuknya sambil cengengesan. "Ayo kita samperin pria-pria ganteng itu," godanya.


Lois hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Hallo ... kebetulan banget ketemu kalian di sini," sapa El dengan seulas senyum. "Candra ..." El mengulas senyum padanya.


"El, kok nggak bareng Mike," tanya Kai.


"Dia masih ada pasien," jawab El seraya menggenggam jemari suaminya di bawah meja. "Oh ya, Candra. Kenalin ini temanku Lois," kata El.


"Candra," ucapanya.


"Lois .."


Tik ....


Daniel menjentikkan jarinya lalu tersenyum penuh arti menatap Candra dan Lois bergantian.


"Kebetulan banget, El membawa Lois ke sini."


"Why?" El dan Lois merasa heran.


"Candra jodohmu kini ada di depan mata," celetuk Daniel.


"Pppfff .... hahahaha ..." tawa El langsung terdengar sambil menggoyangkan jari telunjuknya karena sependapat dengan Daniel.


"Aku setuju," ucap El dengan cepat. "Lois dan Candra sama-sama jomblo, so ... tidak ada salahnya kita jodohin saja mereka berdua," celetuk El.


"Ish ... Eeeeel ..." Lois menyipitkan matanya lalu menoyor kepalanya.


"Lois, aku rasa tidak ada salahnya kalian mencoba. Lagian Candra pria yang baik. Aku sudah lama mengenalnya bahkan sejak kecil," timpal Kai.


Sedangkan Candra sesekali ia melirik Lois. Bahkan sedikit tertarik pada gadis blasteran itu.


"Jika aku pribadi, no problem ... why not," sahutnya. "Masalahnya ... Lois mau tidak?" lanjutnya lalu menatap Lois yang tampak malu-malu.


"Ciieee ... ada yang salah tingkah nih," ledek El pada temannya itu.


"Ck ... apaan sih El," gemasnya.


Suasana di meja itu, tampak berwarna dengan kehadiran El dan Lois. Obrolan mereka terus berlanjut diselingi dengan menyantap makanan pesanan mereka.


Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam di restoran itu, El dan Lois terlebih dulu berpamitan.


Tak lama berselang Kai, Daniel dan Candra ikut menyusul setelah Kai membayar bil makanan mereka.


Sesaat setelah berada di luar restoran baik Candra maupun Daniel sama-sama berterima kasih pada Kai atas traktirannya.


Setelah itu mereka pun mulai meninggalkan restoran.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalamu'alaikum readers terkasih ... Author promosi novel baru lagi nih. Mohon dukungannya ya. πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜



Ini sedikit cuplikan bab pertamanya πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜˜


Azzura tampak termenung menatap nanar ibunya yang sedang terbaring lemah di bed pasien.


Tangannya tak lepas terus menggenggam jemari ibunya yang tampak sedang tertidur dengan selang yang masih terpasang di hidungnya.


"Ya Allah ... aku harus bagaimana? Di mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya operasi ibuku, termasuk perawatannya untuk kemo selanjutnya," lirihnya.


Air matanya mulai menetes memikirkan nasibnya dan ibunya.


"Gajiku sebagai barista nggak akan cukup untuk membiayai pengobatan ibu," isaknya dengan menatap wajah ibunya. "Bahkan uang pensiunan ibu dan almarhum ayah pun nggak bisa mencukupi," ucapnya dengan tersengal-sengal.


Zu melepas genggaman tangan ibunya, lalu mengecup kening wanita yang begitu ia sayangi itu.


"Bu, aku berangkat kerja dulu ya. Aku akan berusaha mencari pinjaman untuk biaya pengobatan ibu. Apapun itu, ibu harus sembuh supaya kita bisa bersama lagi," lirihnya.


Setelah itu Zu meninggalkan ibunya yang masih terbaring lemah dengan mata yang terus terpejam.


Dengan langkah gontai, Zu melangkah lunglai sambil memikirkan cara untuk mendapatkan pinjaman.


"Apa sebaiknya aku meminjam uang pada Nyonya saja ya? Walaupun harus menyicil membayarnya tidak masalah," desisnya.


Asik dengan pikirannya tiba-tiba ....


Bruuukk ....


Ia menabrak seseorang dan langkahnya terhenti lalu ia pun mendongak.


"Ah ... maaf Dok, saya nggak sengaja," sesalnya sambil menunduk lalu mengatupkan kedua tangannya di dada.


Sang dokter hanya mengulas senyum.


"Nggak apa-apa. Lain kali kalau jalan jangan melamun," pesan pak dokter lalu mengulas senyum.


Zu hanya mengangguk lalu berlalu meninggalkan pak dokter, menuju ke arah motornya di parkir.


*******


Sesaat setelah tiba di Cafe tempatnya bekerja, Zu menarik nafasnya dalam-dalam.


"Zu, semangat," ucapnya sambil mengangkat tangannya menyimbolkan semangat.


Ia pun melangkahkan kakinya memasuki cafe itu lalu langsung menyapa temannya yang lebih dulu tiba darinya.


"Zu, kok kamu telat?" tanya Nanda sahabatnya.


"Aku mampir ke rumah sakit sebentar menjenguk ibuku," jawab Zu dengan seulas senyum.


"Bagaimana keadaan tante sekarang?"


Zu menghela nafas. "Ibu harus dioperasi, Nanda. Makanya saat ini aku lagi bingung cari pinjaman. Kamu tahu kan, biaya operasi kanker itu sangat mahal, belum lagi jika harus menjalani kemoterapi," jelas Zu dengan raut wajah sedih.


"Yang sabar ya, Zu. Nanti kami akan coba bantu dengan kumpul-kumpul uang," usul Nanda sambil mengelus punggung sahabatnya itu.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Nanda," ucapnya.


Keduanya kembali bekerja melayani pembeli yang sedang memesan minuman. Setiap hari cafe itu selalu ramai dikunjungi.


Setelah membuat minuman pesanan seseorang, Zu pun memanggil nama pemesan, namun sang pemesan tak kunjung menghampiri meja bartender cafe.


"Nan, ini yang mesan, orangnya mana sih?" tanya Zu. "Dari tadi aku panggil, orangnya tak kunjung kemari," kesalnya.


"Oh itu, gadis blasteran yang sedang duduk di sana," tunjuk Nanda mengarahkan telunjuknya ke arah gadis yang sedang memainkan ponselnya.


"Ngeselin banget sih? Nungguin sebentar saja nggak bisa," gerutunya lalu menghampiri Laura kekasih dari putra pemilik cafe tempatnya bekerja.


"Maaf ... permisi, Nona. Ini minuman pesanan Anda," ucap Zu lalu meletakkan cup minuman coklat pesanannya.


"Lama banget sih loe!" bentaknya dengan menatap tajam pada Zu.


"Maaf Nona Laura," ucap Zu mengalah.


"Segampang itu loe minta maaf, huh!! Apa kamu nggak tahu siapa aku?" bentaknya lagi dengan percaya diri.


"Tahu Nona Laura. Anda kekasihnya tuan Close," jawab Zu.


"Bukan cuma kekasih, tapi bakal jadi istrinya sekaligus calon menantu keluarga besar Kheil Brandon," ucapnya menyombongkan diri.


Zu hanya mengangguk.


"Huh! Ngeselin banget! Jika kamu bukan kekasihnya Close, aku pasti sudah memakimu," gerutu Zu dalam hatinya lalu meninggalkan gadis blasteran itu.


********


Sore harinya ....


Dengan perasaan getir, Zu memberanikan diri melangkah ke arah ruang kerja sang nyonya besar.


Sebelum mengetuk pintu, ia menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan perasaanya yang sedang getir lalu mengetuk pintu.


"Masuk," ucap suara dari dalam ruangan.


"Selamat sore Nyonya," sapa Zu dengan seulas senyum.


"Ah, Zu. Sore juga. Kemari lah," pinta sang Nyonya.


Zu mengangguk lalu duduk di kursi berhadapan dengan Nyonya Liodra.


"Ada apa, Zu?" tanya Nyonya Liodra dengan seulas senyum.


"Nyonya, saya ke sini ingin meminta bantuan Anda. Maksud saya .... eeemm ... saya ..."


Zu tampak ragu ingin mengutarakan niatnya.


"Katakan lah, jangan ragu," kata Nyonya Liodra.


"Nyonya, saya boleh nggak meminjam sejumlah uang pada Anda?" tanya Zu lalu menundukkan kepalanya.


"Meminjam uang? Tapi untuk apa Zu?" tanya Nyonya Liodra dengan alis yang saling bertaut.


"Untuk biaya operasi dan perawatan kemoterapi ibu saya, Nyonya. Ibu saya sakit kanker," lirihnya masih sambil menundukkan kepalanya. "Saya akan menyicil pembayarannya meski saya selamanya akan bekerja untuk Nyonya," sambungnya.


Senyum penuh arti terbit dari bibir tipis wanita cantik paruh baya itu.


"Zu, saya tidak akan meminjamkan kamu uang. Tapi saya akan membiayai semua perawatan ibumu selama dirawat. Tapi ada syaratnya," Nyonya Liodra menggantung ucapannya.


Zu langsung mendongak menatap sang Nyonya.


"Apa syaratnya, Nyonya? Saya akan menerima syarat itu demi melihat ibu saya bisa sembuh lagi," ucap Azzura.


"Menikahlah dengan putraku, Close, maka semua biaya pengobatan ibumu akan saya tanggung," tawar Nyonya Liodra.


Zu sangat terkejut dengan syarat yang di ajukan oleh Nyonya Liodra. Bukan tanpa alasan, dia tahu benar siapa Close. Pria angkuh, arogan, suka seenaknya terlebih ia sudah memiliki kekasih.


Azzura tampak menimbang-nimbang. Di satu sisi ia merasa takut namun di satu sisi lain ia sangat membutuhkan uang demi biaya operasi dan pengobatan lanjutan ibunya.


Namun demi kesembuhan ibunya, ia menerima syarat itu dengan terpaksa, walau sudah tahu resikonya seperti apa nantinya.


"Baik lah Nyonya, saya akan menerima syarat dari Anda," lirihnya. "Nyonya, izinkan saya tetap bekerja di cafe ini," pinta Zu dengan perasaan getir.


"Maafkan saya Zu. Semua ini saya lakukan karena saya tidak menyukai Close terus berhubungan dengan Laura. Entah mengapa saya tidak menyukai gadis itu," batin Nyonya Liodra. Ia merasa bersalah pada gadis itu.


"Baik lah, jika hanya itu yang kamu inginkan," kata Nyonya Liodra.


Setelah itu, Zu berpamitan meninggalkan ruangan bu Liodra.


"Ya Allah ... Aku harus bagaimana? Sejak zaman kuliah, Close sangat membenciku bahkan tak segan-segan menghinaku. Apalagi jika dia tahu, wanita yang akan menjadi istrinya itu adalah aku dan bukan Nona Laura," lirihnya.


Zu terus melangkah hingga sampai di parkiran. Baru saja ia akan mengenakan helmnya, pria yang baru saja ada di benaknya itu melewatinya dengan tatapan benci. Entahlah apa yang membuat Close membencinya.


Hatinya semakin mencelos menatap punggung tegap putra sulung majikannya itu. Lagi-lagi ia menghela nafas kasar.


"Demi kesembuhan ibu, aku akan sekuat tenaga menghadapinya dengan lapang dada," lirihnya.


Ia pun menyalakan mesin motornya meninggalkan cafe itu menuju taman kota untuk sekedar menghibur dirinya.


******


Sesaat setelah berada di taman kota, Zu duduk bersandar di salah satu bangku taman. Ia mendongak, menatap langit yang mulai menggelap. Air matanya kembali menetes mengingat ibunya.


"Bu ... ibu harus sembuh. Jika ibu sembuh, aku janji akan mengajak ibu jalan-jalan ke puncak. Kita akan bernostalgia lagi mengenang semua kenangan kita dan ayah saat beliau masih hidup," lirihnya. "Bertahan lah bu. Jangan tinggalkan aku. Jika ibu meninggalkanku lalu aku sama siapa lagi nantinya," ucapnya dengan suara bergetar di sertai kristal bening yang jatuh dari kelopak matanya.


...----------------...


Mohon dukungannya ya, readers terkasih dengan meninggalkan rate, vote, like, gift dan meramaikan kolom komentar.


Maaf author memaksa. Tanpa dukungan dari readers terkasih, siapalah author recehan seperti aku. Happy reading πŸ™πŸ˜ŠπŸ₯°πŸ˜˜


Tokoh : Azzura Zahra / Close Kheil Brandon / Arham Yoga Prasetya / Laura Moana / Nanda Ayunda / Farhan Anan Prasetya.

__ADS_1


__ADS_2