
Subuh dini hari ketika El membuka mata, Keningnya seketika berkerut tipis.
"Kok gelap? Perasaan semalam aku nggak matiin lampu deh? Apa mati lampu?" gumamnya sembari mendudukkan dirinya.
Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya lalu menuju pintu kamar. Ia tak menyadari jika Kai sedang tidur di ranjang itu.
Ketika membuka pintu, keningnya kembali berkerut. "Kok di sini lampunya nyala. Apa lampu di kamar bolamnya putus ya?"
Tak ingin ambil pusing, El lanjut menuruni tangga menuju pantry. Setelah meneguk air ia kembali ke ruang santai lalu membuka laptopnya.
"Sudah jam tiga subuh? Haisssh, alamat nggak bisa tidur lagi ini sampai pagi. Syukurnya nanti aku kuliah siang hingga sore," gumamnya.
Ia melanjutkan langkahnya menghampiri pintu yang terhubung ke teras balkon.
"Sayang, kapan sih kamu pulang? Aku kangen banget. Bahkan seharian ini kamu nggak menghubungi ku sama sekali," keluhnya sesaat setelah berada di teras balkon.
El menghela nafas lalu mendongak menatap langit, dinginnya udara subuh seakan tak berarti baginya.
"Sayang, sedang apa kamu di sini? Apa nggak dingin?" bisik Kai lalu memeluknya.
"My Bastard," ucapnya lirih nyaris tak terdengar. Seketika matanya berkaca-kaca lalu berbalik berbalik menatap Kai. "Kapan kamu tiba? Kenapa nggak mengabariku? Tahukah kamu aku sangat merindukanmu."
Sudut bibir Kai langsung melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman. Hatinya langsung menghangat mendengar ucapan calon istrinya itu.
"Semalam tapi kamu sudah tidur," bisik Kai lalu mengecup kening dan bibirnya "Bukan kamu saja yang menahan rindu tapi aku juga. Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Baik, Sayang. Nggak ada yang sulit karena materinya sudah pernah aku pelajari semuanya. Maaf, dalam beberapa bulan kedepan waktuku akan tersita dengan banyaknya aktivitasku di kampus," jelas El sembari menatap lekat manik hazel Kai.
"Nggak masalah, Sayang yang penting kuliahmu lancar," imbuhnya. "Sayang, aku sudah mengurus semua berkas-berkas kita sekaligus untuk mempermudah proses pernikahan kita di Jerman nanti."
"Apa kamu sesemangat itu ingin menikahiku?" tanya El dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Bahkan sangat berambisi ingin memilikimu seutuhnya," sahut Kai cepat.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku? Atau hanya simpati saja?" tanya El seraya menangkup wajah Kai.
"Cintaku tulus untukmu, Sayang. Bukan karena simpati. Aku ingin kamu menjadi yang pertama dan terakhir bagiku," jawab Kai lalu semakin mendekapnya erat.
El bergeming, memejamkan matanya merasakan hangatnya dekapan prianya lalu semakin menempelkan wajahnya ke ceruk leher Kai.
"Sayang," bisik Kai.
"Biarkan seperti ini dulu sebentar," balas El.
Senyum Kai kembali terbit di wajah tampannya.
"Apa dekapan om om mesum ini sangat membuatmu nyaman sekarang?" ledek Kai lalu terkekeh.
"Hmm ... bahkan sangat nyaman," bisik El dengan senyum tipis.
"Sayang, sebaiknya kita kembali ke kamar saja, di sini semakin dingin," ajak Kai.
"Gendong," pinta El dengan manja.
"Ok ... as you want," bisik Kai. El langsung terkekeh mendengar ucapan Kai.
"Aku hanya bercanda, Sayang," kata El lalu melepas pelukannya. Menggenggam jemari Kai sekaligus mengajaknya naik ke kamar.
Sesaat setelah berada di kamar, El bertanya, "Sayang apa besok kamu ngantor?"
"Sepertinya nggak, Sayang. Aku lelah, lagian ada Richard yang akan menghandle semuanya," jelas Kai.
"Ya sudah sebaiknya kita tidur ya," cetus El lalu membenamkan wajahnya di dada Kai.
__ADS_1
.
.
.
Jauh dari kota X ....
Tara masih betah berada di mini barnya. Mengarahkan mata ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukkan jam empat dini hari.
"Apa aku nggak salah lihat? Itu arti aku sudah cukup lama berada di sini," ucapnya lirih lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian memilih tidur di kamar tamu.
"Sial!! Kenapa aku sampai khilaf menyentuh Dian. Bahkan aku berfantasi dengan .... arrghhh ... i'ts crazy!!"
Tara menatap langit-langit kamar. "Kenapa aku nggak bisa melupakannya? Kenapa hubungan kita harus berakhir seperti ini? Kenapa kamu memilih pria brengsek itu?"
Serentetan pertanyaan itu kini memenuhi benaknya dengan tangan mengepal. Kesal, marah sekaligus kecewa.
Lelah dengan pikirannya, akhirnya rasa kantuk mulai menyerang. Selang beberapa menit kemudian ia tertidur. Membawa banyak pertanyaan di benak sekaligus diselimuti emosi.
Sementara Dian yang baru saja turun dari kamar, tampak mengerutkan kening mendapati kamar tamu terbuka. Karena penasaran ia pun masuk ke kamar itu.
Ia langsung menjepit hidungnya karena aroma minuman yang menyeruak dari tubuh suaminya.
"Kenapa sih, kamu tuh tiap malam pasti minum?" kesal Dian sembari menatap lekat wajah suaminya. "Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini?"
Dian menggelengkan kepalanya lalu keluar dari kamar itu. Sesaat setelah berada di pantry, ia tampak termenung.
"Apa kamu menikahiku hanya karena terpaksa? Jika memang kamu nggak menyukaiku kenapa kamu nggak berterus terang saja, Kenapa harus menerimaku?"
...----------------...
__ADS_1