All About El (Kesucian Yang Ternoda)

All About El (Kesucian Yang Ternoda)
165.


__ADS_3

Setibanya di penthouse ...


"Sayang, aku mandi dulu ya," kata El lalu memeluk manja suaminya.


Kai tersenyum penuh arti. "Mau mandi bareng nggak? Hitung-hitung mempercepat waktu," bisik Kai bahkan tangannya sudah mulai nakal.


'Nooo ..." El menahan tangan Kai yang kini berada di buah kenyalnya sambil terkekeh. "Dasar modus," ledeknya.


"Oh ... come on, Sayang sudah seminggu ini aku menahannya," bisik Kai lagi lalu membenamkan bibirnya di leher jenjang istrinya.


"Tidak sekarang. Nanti saja ya," bujuk El lalu mengecup bibir suaminya.


"Baiklah ... tapi janji dulu," pinta Kai dengan hela nafas ingin memastikan.


"Ya, i'm promise, My Bastard Man," ucap El dan kembali mengecup bibir dan pipi suaminya.


"Hmm ..." Kai mengalah dan ikut menyusul ke kamar lalu ke walk in closet.


"Sayang, kemarilah," pinta El dan Kai hanya menurut. Dengan seulas senyum ia membantu Kai melepas kemeja dan celana kerjanya.


"Terima kasih, Sayang," bisik Kai lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu dan triplets kita. Rasanya aku sudah nggak sabar ingin bertemu mereka, bermain dan adu tinju dengan kepalan tangan mungil mereka," papar Kai lalu mencium kening dan perut El.


El melonggarkan dekapan suaminya lalu menangkup wajahnya kemudian menatap manik hazel yang membuatnya selalu terpesona akan keindahan bola mata itu.


"Sayang, aku sangat ingin triplets kita memiliki bola mata indah seperti milikmu ini," bisik El lalu tersenyum.


Kai kembali memeluknya, mendekap erat lalu berbisik, "Mereka pasti akan memilikinya. Mandilah, jangan biarkan aku lama-lama seperti ini. Itu sama saja kamu memancing hasratku," goda Kai.


El langsung berdecak kesal lalu menggigit dadanya. Kai hanya bisa meringis lalu terkekeh merasa gemas, sebelum akhirnya ia membiarkan El ke kamar mandi.


Sepeninggal El, Kai melangkah ke arah kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya sambil menatap langit-langit kamar.


Benaknya kembali terbayang kejadian di swalayan tadi. "Tara ...mau kamu bawa ke mana El tadi?


Sebelum kejadian ...


Ketika Kai meninggalkan El dan membawa belanjaan mereka ke arah mobil, Kai tidak sengaja melihat Tara masuk ke arah swalayan di mana El masih berada di dalam.


"Tara ..." lirihnya dan merasa sedikit khawatir memikirkan istrinya yang masih berada di dalam swalayan.


Ia mempercepat langkahnya ke arah mobilnya dan menaruh begitu saja semua belanjaan yang dibawanya di kursi belakang mobil.


Ketika mendapati istrinya tidak sengaja menabrak Tara, ia semaki terlihat gusar. Bahkan ex sahabatnya itu merengkuh erat tubuh El seolah tidak ingin melepasnya.


Ia semakin merasa gelisah saat Tara, mulai memegang lengan istrinya dan memaksanya mengikuti langkahnya, meski El terlihat berontak.


"What the, fu*ck!!! Mau ngapain dia?!" umpat Kai sambil mengepalkan kedua tangannya lalu mengikuti ke mana Tara membawa istrinya. Ketika Tara membuka pintu mobilnya, Kai cepat-cepat menegurnya sekaligus menggagalkan rencana Tara membawa pergi istri nya itu.


"Sayang ..." sapaan lembut istrinya sekaligus membuyarkan lamunannya.


Kai perlahan mendudukkan dirinya lalu menatap El yang kini sudah terlihat segar dan memakai dress tanpa lengan sepaha.


"Come closer, Sayang ..." pinta Kai sambil menepuk pahanya mengisyaratkan jika ia ingin El duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, El menurut dan langsung duduk di pangkuannya kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"You are cute, Mamy triplets," bisik Kai lalu sambil menatap wajah istrinya lalu mencium bibirnya, turun ke tulang selangka dan berakhir di perut dengan ciuman bertubi-tubi merasa gemas.


"Stop it, Sayang," pinta El sambil terkekeh merasa geli. "Aku masak dulu. Kita pulang ke mansion malam saja ya," usul El.


"As you wan't, Sayang." Kai membiarkan El beranjak dari pangkuannya dan menuju pantry.


Sambil menunggu El memasak, ia memutuskan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu, ia memilih bersantai di rooftop sambil menikmati view dari atas ketinggian tempatnya berada, di mana langit kin tampaki sudah mulai menggelap.


"Tara ... aku hanya berharap kita kembali menjalin persahabatan seperti dulu. Aku juga berharap anak-anak kita nantinya, bersahabat baik seperti kita," lirihnya penuh harap.


**********


Kediaman Tara dan Dian ...


Setelah gagal membawa El pergi bersamanya, Tara memutuskan ke apartemennya dan menenggak minuman keras seperti biasanya.


Setelah merasa dalam kondisi baik, ia terlebih dulu membersihkan dirinya dari sisa-sisa bau minuman sebelum memutuskan pulang ke kediamannya.


Dian yang sejak tadi memperhatikan suaminya, akhirnya mendekat dan duduk di sampingnya.


"Tara, ada apa? Aku perhatikan sejak tadi kamu terus melamun, bahkan tanpa henti terus merokok," cecar Dian.


Tara bergeming dan langsung mematikan api rokoknya yang masih menyala.


"Nggak apa-apa?" lirihnya. "Aku hanya sedikit pusing dengan masalah kantor," bohongnya


"Hmm ... oh ya, aku ke kamar Bara dulu," izinnya lalu beranjak dari sofa menuju kamar putranya.


Dian hanya mengangguk dan membiarkannya saja. Ia hanya mampu menghela nafasnya dengan kasar dengan sikap suaminya itu


Selalu seperti itu, dingin dan kaku. Namun satu hal yang ia syukuri adalah, Tara tetap perhatian padanya dan juga putranya.


"Ya Tuhan, kapan dia akan benar-benar mencintaiku seperti dia mencintai El. Bahkan hanya sebulan saja lagi usia pernikahan kami genap satu tahun," lirih Dian merasa sedih.


Sementara Tara yang kini berada di kamar Bara, menatap lekat wajah putranya itu dengan senyum lalu memegang jemari mungilnya.


Seketika ia teringat El. "Bara, jika anaknya aunty El cowok, papa ingin kalian jadi sahabat tapi jangan seperti papa dan si pria bajingan itu. Cukup hanya papa yang mengalami sakitnya tidak bisa memiliki orang yang papa cintai hanya karena sahabat sendiri yang menjadi pengkhianat," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


"Dian ... maafkan aku. Kamu turut menjadi korban keegoisanku. Entah sampai kapan? Sepertinya aku butuh waktu yang lama untuk bisa melupakan El," desisnya sambil menatap Bara, buah cintanya dan Dian. Bayi mungil itu terlihat masih tertidur dengan nyenyaknya.


**********


Kembali ke El dan Kai.


Setelah berkutat dengan alat tempur dapur, El terlihat sedang menata makanan yang telah di masaknya di atas nampan dan memilih menyusul ke rooftop.


Dengan langkah perlahan dan hati-hati, El menapaki anak tangga menuju rooftop. Sesaat setelah sampai di rooftop, ia mengulas senyum menatap suaminya yang sedang berdiri di pagar pembatas kaca sambil menikmati keindahan kota A yang sudah menggelap.


Dari setiap bangunan, tampak lampu-lampu mulai menyala dan mulai menyinari setiap sudut bangunan kota. Belum lagi jalan yang mulai dipadati oleh mobil.


Setelah meletakkan nampan yang berisi makanan di atas meja, El menghampiri suaminya lalu memeluknya dari belakang. Sontak saja ulahnya itu membuat Kai langsung tersenyum dan membuat hatinya menghangat.

__ADS_1


"Sayang ..." lirihnya lalu mengelus lengan yang melingkar di perutnya.


"Lagi mikirin apa sih?" tanya El.


"Nggak ada, Sayang hanya memikirkan masa depan kita dan anak-anak," jawabnya lalu berbalik menghadap El.


"Hmmm ... ayo kita makan dulu. Aku sudah membawa makanannya ke sini," kata El.


"Terima kasih, Sayang," ucap Kai.


"Sama-sama. Aku hanya membuat steak daging dan salad untukmu pria bule," canda El lalu terkekeh.


Ada saja istilah ia yang ia sematkan untukku.


Kai tersenyum gemas lalu menautkan jemarinya menuju meja.


"Sayang."


"Hmm."


"Kita seperti menikmati dinner romantis," kata Kai.


El terkekeh. "Dinner romantis ala kita berdua," balas El.


Keduanya tertawa lucu sambil menikmati hidangan makanan yang tersaji.


********


Tiga puluh menit kemudian, setelah selesai makan, Kai dan El masih betah berada di rooftop sambil bersantai.


"Sayang ..." El membuka suara.


"Ada apa?"


"Dian memintaku ke rumahnya besok," kata El.


Kai mengernyit dan seakan tidak rela. Apalagi mengingat kejadian barusan. Ia takut jika Tara akan berbuat nekat.


"Boleh saja, Sayang. But honestly i'm a little worried to you," aku-nya.


"Dia nggak akan berani macam-macam jika di rumahnya apalagi ada Dian dan baby Bara," jelas El sekaligus menyakinkannya.


"Baiklah," sahut Kai mengizinkannya.


Beberapa jam kemudian tepatnya pukul 21.00, Kai dan El meninggalkan penthouse dan kembali ke mansion.


.


.


.


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2