
Setelah selesai menyantap makan siang mereka masing-masing, El dan Candra bersantai sejenak.
Karena merasa penasaran, akhirnya Candra bertanya pada El.
"Lun, ada urusan apa sih, kamu ke kantor Dukcapil tadi?"
"Urus KTP. Soalnya aku mau melamar kerja. Kerja apa pun boleh yang penting halal. Hitung-hitung buat bayar kontrakan rumah tiap bulan dan biaya hidup aku."
Candra mengerutkan keningnya lalu mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.
"Aku bisa bekerja apa saja. Jadi cleaning service, waiter, petugas pembersih jalanan bahkan jadi pembantu pun aku mau kok," jujurnya tanpa rasa malu.
"Wah ..... kamu tipe cewek pekerja keras juga ternyata."
"Mau bagaimana lagi, Candra. Hidup itu keras dan penuh perjuangan. Jika nggak kerja nggak bisa makan, nggak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Makanya kerja apapun aku kerjakannyang penting halal."
Lagi-lagi Candra dibuat kagum dengan pola pikir dan semangat gadis itu yang mau bekerja apapun tanpa rasa malu.
"Jujur saja, aku ini orang susah dan jauh-jauh datang dari kampung untuk merubah nasibku menjadi lebih baik," ungkap El meyakinkan Candra padahal apa yang El utarakan tidak semuanya benar.
El menghela nafasnya sejenak.
"Selain itu, aku datang ke kota ini pun ingin melanjutkan kuliah. Makanya, masih ada waktu untuk mencari kerja sebelum mendaftar. Ibaratnya sambil kuliah nyambi kerja sambilan gitu," jelas El meyakinkan.
Candra hanya manggut-manggut mendengar penjelasan gadis itu. Namun tatapannya fokus pada wajah gadis itu. Entah mengapa sejak bertemu, ia begitu penasaran dengan sosoknya.
"Dia ini gadis yang cukup misterius. Di balik kaca mata tebalnya dan wajahnya yang di penuhi bintik-bintik coklat, sepertinya itu fake. Jika di lihat secara seksama dia memiliki kecantikan yang alami," gumamnya dalam hati.
"Lun, apa matamu memang minus parah? Soalnya kaca matamu cukup tebal?" selidik Candra.
"Iya, sejak kecil mataku memang minus. Kenapa terlihat aneh ya? Persis manusia planet kan?" kelakarnya lalu terkekeh.
"Sepertinya Candra cukup jeli menilai seseorang. Aku harus hati-hati. Jangan sampai aku ketahuan," batinnya.
"Udah ah. Ayo kita tinggalkan tempat ini. Aku sudah nggak tahan ingin merokok," ajaknya.
Candra hanya menurut lalu mengikuti langkah kaki gadis itu.
.
.
.
Kantor Kai Abraham ...
__ADS_1
Tampak Kai sedang berbicara cukup serius dengan seseorang lewat benda pipih miliknya.
Ia terlihat frustasi, sesekali mengusap wajahnya kasar. Setelah memutuskan panggilan telfon, ia menatap ke luar kaca dan kembali termenung.
"Sebenarnya ada di mana dirimu, El? Kenapa sulit sekali mencari jejakmu?" bisiknya lalu mengusap dagu dan rahangnya yang sudah brewokan.
Ia terus larut dengan pikirannya sendiri. Hingga ia tersadar karena seseorang memeluknya dari belakang.
Kai berbalik lalu menatap wanita yang sedang memeluknya.
"Siska? Ada angin apa yang membawamu kemari?" tanyanya lalu melepas kedua tangan gadis itu yang melingkar di perutnya.
"Aku merindukanmu Kai," kata Siska.
"Maaf, Siska. Kita nggak memiliki hubungan spesial melainkan hanya sebatas bed partner," tegas Kai.
"Tapi aku mencintaimu."
"Tapi aku nggak," jawab Kai cepat.
"Apa karena El?" tanya Siska pelan.
"Kamu sudah tahu jawabannya, Sis. So ... jangan pernah berharap padaku," tegasnya.
Siska hanya terpekur mendengar ucapan Kai. Ada rasa sakit dan kecewa di hatinya karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Tapi, aku hanya mencintaimu, Kai. Sebelumnya aku nggak pernah seperti ini. Apa sedikitpun nggak ada tempat buatku di hatimu?" tanyanya dengan suara bergetar.
Lagi-lagi Kai hanya bisa meminta maaf padanya. Siska hanya bisa menangis sekaligus kecewa mendengar ucapan maaf Kai.
.
.
.
.
Tanpa terasa sudah hampir sebulan El menetap di Kota X. El merasa sangat terbantu dengan identitasnya yang baru ketika memasukkan surat lamaran kerja di beberapa cafe dan restoran.
Selain itu, ia mulai sibuk mendaftar di tiga Universitas Negeri yang berbeda di kota itu. Dengan tekad dan semangat yang menggebu-gebu, ia seperti tak mengenal lelah.
Ada senyum kebahagiaan yang terus terukir di wajahnya, ada kebahagian karena rencananya saat ini berjalan mulus.
Ia juga telah membuat rekening yang baru dan telah memblokir rekening yang lama setelah tahu ternyata saldo di rekeningnya memiliki jumlah yang besar. Ia sempat berpikir jika uang itu adalah hasil dari penjualan rumahnya yang telah di transfer oleh Tara beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
El sudah menebak jika apartement mewah yang ia tempati di Kota A, bukanlah dibeli dengan menggunakan uang hasil jual rumahnya melainkan dibelikan oleh Tara.
Ia sempat berpikir, jika ia tidak memblokir rekeningnya, Tara pasti akan terus mentransfer sejumlah uang ke rekening itu.
*****
Saat ini, gadis itu sedang berada di kantin kampus untuk membeli sebotol air mineral. Setelah membeli air mineral ia pun berjalan pelan.
Langkahnya terhenti saat ia tidak sengaja melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang serius berbicara dengan seorang dosen di kampus tersebut.
"Candra? Apa dia dosen? Rektor atau pemilik Yayasan kampus?" bisiknya
Ide jahilnya langsung muncul. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memesan ojol. Ia terkekeh setelah memesan ojol yang di tujukan pada Candra.
"Aku ingin lihat ekspresi wajahnya seperti apa," bisiknya lalu tertawa.
Candra yang sedang serius berbincang dengan seorang dosen di kampus itu, terlihat menjeda pembicaraannya karena ponselnya bergetar.
Tak lama setelah membaca pesan, Candra terlihat berpamitan lalu menghampiri mobilnya yang tidak jauh dari area parkir.
"Aku sudah menduganya. sudah menebak. Mana ada ojol setampan itu, berwajah bule dan punya ponsel semahal ponselnya," gumamnya sambil cengengesan merasa lucu.
"Sekali-kali kerjain pria tampan nggak apa-apa kali ya," Ucapnya lalu meneguk air mineralnya.
Sesaat setelah berada di halte, ia pun duduk sambil menunggu bis sambil memainkan ponselnya.
Selang beberapa menit kemudian, bis yang ditunggunya pun berhenti tepat di depannya. Ia pun langsung menaiki bis itu.
Baru saja bokongnya mendarat di kursi bis, tak lama kemudian ponselnya bergetar. Ia langsung tertawa saat menatap layar ponselnya.
"Ya hallo, Candra."
"Aku sudah di depan rumahmu," kata Candra.
"Aku cancel saja, kamunya lama lagian aku buru-buru tadi," alasannya.
"Kamu gimana sih!" kesal Candra.
"Maaf, nanti aku gantirugi deh uangnya." El melipat bibirnya menahan tawa.
"Ya sudah, nggak apa-apa."
Setelah itu Candra memutuskan panggilan.
"Cih, anak ini aneh-aneh saja. Sudahlah aku bela-belain pulang ambil motor, malah di cancel pula. Uangnya nggak seberapa sih, tapi sudah menyita waktuku," omel Candra lalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
...----------------...